I'M Lord Vampire

I'M Lord Vampire
26. Sebuah Buku Diary



Saat ini Alex terlihat serius membaca buku, sudah ada tumpukan buku di atas meja yamg ada di depan Alex, semua itu adalah buku yang sudah dibaca oleh Alex.


Ada sekitar 100 buku yang sudah Alex baca selama 3 jam.


Semua buku itu bukanlah buku tipis, melainkan buku tebal, bahkan ada beberapa buku yang memiliki 700 halaman yang sudah Alex baca.


Saat sedang membaca, Alex mendengar suara langkah kaki dari arah tangga.


Alex mencium bau seseorang yang dikenalnya, yaitu Sean.


"Sean, apakah ada masalah?"


Alex bertanya sambil membaca bukunya.


"Aku hanya khawatir, kau disini selama 3 jam, aku takut kau mati karena kehabisan oksigen"


Alex hanya memasang wajah datarnya.


"Apa kau menyumpahiku untuk mati, Sean?" tanya Alex kesal.


Sean hanya diam dan mendekati salah satu lemari buku, dia mengambil beberapa buku dan berjalan menghampiri Alex, dan duduk di kursi samping Alex.


"Apa kau tidak lapar?" tanya Sean kepada Alex.


"Sedikit… oh ya Sean, bisakah aku mencicipi darahmu?"


Alex memasang wajah memohonnya.


"Tidak!" ucap Sean tegas.


Sean yang awalnya duduk di dekat Alex, langsung menjauh, dan jarak mereka terhalangi oleh 2 kursi.


Untuk beberapa saat Alex mencium bau darah segar, saat melirik ke arah Sean, Alex melihat Sean sedang membersihkan luka di lengannya.


Sean terluka karena tergores kursi saat akan pindah tempat duduk.


"Sean kau baik-baik saja?" Alex melirik Sean khawatir.


"Ya, ini hanya tergores" jawab Sean dingin.


Alex yang mencium bau darah milik Sean semakin lapar, dan memutuskan untuk memanggil Mofsi.


"Mofsi keluarlah!" teriak Alex.


Mofsi keluar dari dimensi buatan Alex dan berdiri tepat di samping Alex dalam wujud manusianya.


"Master!"


Saat Mofsi akan memeluk Alex, Alex lebih dulu mendorong Mofsi sampai terjatuh.


"Ubah dirimu menjadi seorang perempuan terlebih dahulu, baru kau bisa memelukku sepuasnya"


Mofsi menuruti permintaan Alex, dan berubah menjadi seorang gadis 12 tahun dengan rambut berwarna putih, ditambah telinga dan ekor serigala yang juga berwarna putih, dan juga kulit putih bersih.


"Master!"


Setelah berubah, Mofsi langsung memeluk Alex.


Di sisi lain, Sean menatap Alex tak percaya.


"Alex, aku tak percaya kau seorang lolic…"


Bak!


Belum sempat Sean melanjutkan kalimatnya, Alex sudah melempari Sean dengan salah satu buku tebal yang ada di mejanya.


"Apa yang kau bicarakan?!" tanya Alex sambil berteriak.


"Memangnya kenapa? Bukankah kau juga memiliki tunangan yang masih berusia 15 tahun?" tanya Sean kepada Alex.


"I-itu… itu karena aku terpaksa, Anna sendiri yang memintanya!" teriak Alex.


"Tetap saja, kau menerimanya!" teriak Sean.



Alex dan Sean terus berselisih. Sampai tak terasa 2 jam pun berlalu, dan perselisihan itu berhenti karena suara Mofsi.


"Apa aku boleh bertanya?"


Mofsi berbicara sambil mengangkat tangan kanannya.


"Apa yang ingin kau tanyakan Mofsi?"


"Master, kenapa tadi kau memanggilku?" tanya Mofsi.


"Ah, aku melupakan itu!" ucap Alex.


"Mofsi kemarilah, dan buka bajumu" lanjut Alex.


"Eh?" Mofsi yang mendengar itu wajahnya langsung memerah.


"O-oi Alex, apa yang ingin kau lakukan?!" Sean berteriak kepada Alex.


"Apa yang kau pikirkan sebenarnya Sean? Dan juga Mofsi, kenapa wajahmu memerah?" tanya Alex kesal.


"Lagipula aku hanya ingin meminum darahmu, Mofsi" lanjut Alex.


'O-oi, apa-apaan dengan wajah dan tatapan kecewa mu itu?!' teriak Alex di dalam hatinya.


"Kau kasar, Alex" ucap Sean.


"Hah?" Alex tak mengerti dengan ucapan Sean.


Alex kemudian menancapkan taringnya ke leher Mofsi, membuat Mofsi meringis kesakitan.


Setelah beberapa saat Alex meminum darah Mofsi, Alex mencabut taringnya.


"Terimakasih untuk makanannya Mofsi"


Alex tersenyum ke arah Mofsi, kemudian Mofsi berubah ke wujud serigalanya dan duduk di pangkuan Alex.


Alex mengelus bulu lembut milik Mofsi, membuat Mofsi terlelap ke alam mimpinya.


"Oh ya Sean, waktu di hutan aku bilang aku akan menjelaskan tentang perjanjian itu, kan?"


"Mm, ya, aku melupakan itu" ucap Sean.


Alex kemudian mengatakan semua yang terjadi di sana.


Tentang pertarungan Lord Regmus dengan Raja Iblis, sampai akhirnya perjanjian di buat untuk perdamaian.


Awalnya Alex hanya akan melakukan perjanjian antara Ras Vampire dan Ras Iblis.


Tapi setelah dipikirkan lagi, Alex memutuskan untuk keamanan Pack milik Sean juga.


Karena perjanjian itu juga akan menguntungkan untuk Sean dan Pack-nya.


Sean terkejut mendengar bahwa Alex sangat peduli dengan Pack-nya, bahkan sampai membuat perjanjian untuk tidak saling menghancurkan wilayah satu sama lain.


Waktu pun berlanjut dengan tenang di tempat itu.


~•~


Alex dan Sean yang sudah selesai membaca buku di perpustakaan itu memilih untuk kembali ke atas, karena sudah malam.


Entah berapa lama mereka keasikan membaca sampai lupa waktu.


Alex juga sudah mengembalikan Mofsi ke dimensi miliknya.


"Alex, apa kau membutuhkan tidur?" tanya Sean.


"Sebenarnya aku tidak membutuhkannya, tapi saat ini aku kelelahan, jadi aku ingin istirahat saja" ucap Alex.


"Kalau begitu ikuti aku" ucap Sean sambil berjalan menuju lantai dua.


"Ini kamar ku, dan kamarmu di sana"


Alex melihat ke arah pintu yang tak jauh dari tempatnya saat ini berdiri.


Setelah itu Sean masuk ke dalam kamarnya, dan Alex juga menuju kamarnya.


Cklak!


Alex terkejut melihat kamar itu yang sangat luas.


Setelah puas melihat kamar yang ditempatinya, Alex langsung melompat ke sebuah kasur berukuran King size.


"Sangat empuk… sudah lama aku tidak merasakan kasur seempuk ini" ucap Alex sambil memejamkan matanya.


Kemudian matanya tertuju ke sebuah laci meja berwarna hitam yang ada di samping kasurnya.


Alex kemudian membuka laci itu satu persatu, dan menemukan sebuah foto di sana.


"Foto siapa ini?"


'Anak berambut putih ini mirip Sean' pikir Alex.


Di Foto itu terlihat seorang pria tampan berambut hitam dengan mata emasnya dan tatapannya yang tajam, perawakannya yang tinggi membuatnya terlihat sempurna.


Lalu di sampingnya terlihat seorang wanita yang sangat cantik, rambut putih panjangnya yang di gerai membuatnya terlihat sangat anggun.


Di depan mereka berdua terlihat dua orang anak laki-laki, satu berusia sekitar 5 tahun, dan yang satunya lagi sekitar 8 tahun.


Anak yang berumur sekitar lima tahun itu terlihat seperti Sean, rambut putih, mata emas khas Serigala.


Lalu yang satunya lagi adalah seorang anak laki-laki berambut hitam, tapi di foto itu terlihat dia memanjangkan rambutnya, matanya juga berwarna emas, dan tatapannya tajam seperti pria yang ada di belakangnya.


"Apa ini keluarga Sean?"


Alex mencoba mancari lagi di dalam laci meja, siapa tahu ada yang lain yang bisa Alex ketahui tentang keluarga Sean.


"Apakah kamar ini dulunya milik Sean?"


Alex terus mencari di setiap sudut kamar itu.


Dan Alex kemudian menemukan sebuah buku diary di atas lemari.


Buku diary itu bertuliskan, Sean Zeaverlax.


"Ini buku diary milik Sean?"