I'M Lord Vampire

I'M Lord Vampire
87



Alex menahan rasa sakit ditubuhnya, darah masih terus mengalir dari perutnya.


"Ha~, Bukankah aku baru saja memperingati kalian sebelumnya? Tidak ada kesempatan kedua untuk kalian" ucap Alex menghela napasnya panjang.


Luka ditubuhnya sembuh ketika dia memfokuskan energinya untuk mengobati luka di perutnya.


Walaupun sudah sembuh, Alex masih bisa merasakan sakit di tempat sebelumnya dia terluka.


'Senjata Dewa benar-benar mengerikan' pikir Alex.


"Jika kalian masih ingin hidup, keluarlah dari barisan kalian sekarang" ucap Alex dengan penuh penekanan.


Beberapa Hunter terlihat langsung memisahkan diri, dan kebanyakan dari mereka adalah yang pernah mati ketika mereka bertarung dengan Alex sebelumnya.


Tentu saja bagi orang yang pernah mati sekali, mereka tidak ingin merasakan kematian untuk kedua kalinya.


Saat Alex akan membunuh semua Hunter di hadapannya, sebuah senjata lagi-lagi menembus tubuhnya.


Sebuah anak panah menembus paha kirinya, dua buah pedang menembus dadanya, sebuah tombak menembus perutnya kembali, dan sebuah rantai yang melilit tubuhnya.


'Segitu bencinya kah kalian pada kami sampai kalian ingin memusnahkan kami?' pikir Alex ketika melihat para Hunter itu menggunakan senjata Dewa hanya untuk membunuhnya.


Alex langsung mengeluarkan Jiwa Phoenix miliknya, dan 6 api berbeda warna berbentuk Phoenix mengelilingi tubuh Alex.


Seluruh Jiwa Phoenix itu menyatu, membentuk wujud Phoenix 6 warna, dan kemudian langsung masuk ke tubuh Alex.


Tubuh Alex mengeluarkan cahaya, dan energi tubuhnya sudah pulih sepenuhnya, semua senjata Dewa itu menghilang dari tubuh Alex, bahkan tidak ada luka sedikitpun di tubuhnya.


"Maaf saja, untuk kali ini aku tidak akan menahan diri!"


Sebuah rantai muncul mengelilingi Alex, dan saat para Hunter kembali menyerangnya, rantai itu menghalau semua serangan yang dilancarkan oleh para Hunter.


Alex mengambil semua senjata para Hunter, dan senjata itu mulai terbang di sekitar Alex.


Melambaikan tangannya ke arah depan, semua senjata itu langsung melesat dan menusuk para Hunter.


Beberapa pedang Alex kendalikan, dan pedang itu menembus dan membelah tubuh para Hunter itu.


Hutan sudah dipenuhi oleh noda merah dari darah para Hunter.


Setelah mereka mati, Alex langsung berbalik untuk pergi.


"Aku akan melepaskan kalian sesuai janjiku, dan beritahu atasan kalian, jika mereka berencana mengacaukan tempat ku, aku tidak akan segan untuk membunuh semua manusia di dunia ini" Alex melepaskan niat membunuhnya saat berbicara, setelah itu meninggalkan para Hunter yang selamat.


Mayat masih berserakan di hutan itu, tapi tidak ada yang berani untuk membersihkannya.


Bahkan para Hunter yang selamat langsung pergi dari sana tanpa pikir panjang.


"Dewa sialan, kenapa kau ingin aku menyatukan dua dunia yang sudah pasti tidak akan pernah bisa bersatu lagi!" gerutu Alex ketika mengingat Dewa Semesta yang memberinya misi untuk menyatukan dunia itu.


Kesabaran Alex sudah di ujung, bahkan para Penjaga Dimensi tidak bisa berbuat apapun ketika melihat aura gelap di sekeliling Alex.


Alex menarik napas panjang, lalu menghembuskannya.


Berbalik dan langsung pergi dari sana, Alex memilih kembali ke Kastil Kaisar Vampire.


Alex berteleport tepat di kamarnya dan juga Anna.


Terlihat Anna yang duduk di kasurnya dengan kepala menunduk.


"Ada apa, hm?" tanya Alex.


Anna yang mendengar suara Alex langsung mengangkat kepalanya dan menatap Alex yang berdiri di hadapannya.


Tanpa aba-aba, Anna langsung memeluk Alex, dan Alex langsung memeluk pinggang Anna.


"Aku pikir kau akan meninggalkan ku lagi" gumam Anna yang masih bisa di dengar oleh Alex.


"Bukankah aku sudah bilang jika aku tidak akan meninggalkan mu lagi" ucap Alex menenangkan Anna.


"Um" Anna hanya mengangguk, kepalanya bersandar di dada bidang Alex.


"Kapan semuanya selesai?" tanya Anna.


"Entahlah, kita sulit menebak apa yang manusia pikirkan, tapi aku akan menyelesaikan ini dengan cepat"


Tangan Alex yang sebelumnya berada di pinggang Anna beralih menyentuh pipi Anna, dan mengangkat wajah Anna agar menghadap wajahnya.


Alex menunduk dan mendekatkan wajahnya ke wajah Anna.


saat bibir mereka akan saling menyatu, seseorang mengganggu mereka.


Luke dan Nivia tidak menyangka jika mereka melihat adegan yang seharusnya tidak boleh mereka lihat.


Walaupun Alex dan Anna belum melakukan apapun.


"Bisakah kalian mengetuk pintu dulu?" tanya Anna dengan aura gelap mengelilinginya.


Bahkan Alex yang didekat Anna merasa merinding.


"E-eh, tapi Paman Sean mengatakan ini mendesak" ucap Nivia, sedangkan Luke yang sebelumnya datang bersama Nivia sudah pergi entah ke mana.


'Kak Luke! Kenapa malah meninggalkan ku?!' batin Nivia kesal.


Alex yang mendengar jika ada pesan dari Sean yang mendesak langsung mendekati Nivia.


"Apa pesannya?" tanya Alex.


Nivia tidak merespon pertanyaan Alex, hanya menatap wajahnya dengan mulut sedikit terbuka.


"Ekhem! Ingat, dia itu Ayahmu, hubungan Ayah dan anak itu dilarang" ucap Anna menyadarkan Nivia.


"Eh, Ibu! Apa Ibu tidak tau jika seorang Ayah adalah cinta pertama dari anak perempuannya?!" ucap Nivia tanpa sadar, dan setelah sadar, Nivia langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


Wajah Nivia memerah malu karena membicarakan hal yang memalukan.


"Oh, berarti kau menyukai Ayahmu sendiri? Bahkan awal kalian bertemu, anak perempuan ku ini meneriaki Ayahnya sendiri" ucap Anna dengan nada menggoda.


Nivia yang mendengar itu membuat wajahnya semakin memerah.


"Ibu! jangan menggodaku!"


Alex yang melihat pertengkaran kecil antara anak dan ibu hanya bisa tersenyum, hatinya terasa hangat.


Tanpa sadar Alex mengangkat tangannya dan mengusap pucuk kepala Nivia pelan.


Nivia yang diperlakukan seperti refleks mendorong Alex menjauh.


'Menggodanya sedikit tidak apa-apa kan?' batin Alex.


'Alex ingat umurmu! Kau masih suka jail padahal kau sudah tua' -Nithael.


Alex menghiraukan perkataan Nithael, lalu menundukkan kepalanya dengan ekspresi wajah sedih.


Nivia yang melihat itu menjadi panik, sedangkan Alex sudah berbalik dan sekarang sedang memeluk Anna.


"Alex, sejak kapan kau jail seperti ini, bahkan menggoda anakmu sendiri" gumam Anna yang hanya bisa didengar oleh Alex dan Anna.


"Aku juga tidak tau" gumam Alex.


"Ayah! Sudah cukup! Paman Sean ingin segera bertemu denganmu, katanya ini mendesak!"


Alex kemudian melepaskan pelukannya dari Anna, dan berbalik menghadap Nivia.


"Bukankah dia bisa melakukan telepati denganku? Kenapa mengirim pesan padamu?" tanya Alex bingung.


Deg!


Alex merasakan tiba-tiba dadanya menjadi sakit.


"Alex!" panggil Anna dan langsung memeluk Alex.


"Aku tak apa"


"Kau yakin?" tanya Anna khawatir.


"Ya, ada sesuatu yang terjadi di dunia manusia, aku harus pergi sekarang" ucap Alex.


"Baiklah, berhati-hatilah, jika ada apa-apa kabari aku" ucap Anna, dan Alex hanya mengangguk.


"Aku ikut" ucap seseorang tiba-tiba saat Alex akan pergi.


"Zach, ada apa?" tanya Anna.


"Tidak ada, aku hanya ingin ikut dengan Ayah" ucap Zach.


'Karena entah kenapa perasaanku tidak enak' batin Zach.


"Baiklah, ayo" ucap Alex langsung menghilang dari sana, diikuti oleh Zach yang menyusul Alex.