
Alex saat ini sedang termenung memikirkan sesuatu di atap Mansion Sean.
Gelapnya malam dan dinginnya angin menerpa tubuh Alex, hanya diterangi oleh cahaya bulan dan bintang di langit.
Penglihatannya tidak terganggu walaupun di sekitarnya sangat gelap.
Alex kemudian memunculkan sebuah layar transparan di hadapannya, menampilkan sebuah video percakapan para pemimpin negara.
Mereka semua membahas tentang apa yang harus mereka lakukan, semua senjata canggih yang mereka miliki tidak mempan untuk membunuh Alex.
Video itu terus berputar samal Alex tersenyum ketika melihat kesepakatan mereka.
"Kalian masih berpikir untuk melawan ku? Bahkan jika kau mengirim Dewa sekalipun itu tidak akan bisa membunuhku" gumam Alex.
Para perwakilan Hunter menolak usulan para pemimpin negara, mereka berpikir jika segel yang bisa menyegel keturunan Dewa bisa dihancurkan oleh Alex dengan mudah, maka tidak ada senjata lain yang bisa menyegel bahkan membunuhnya.
Apalagi kebanyakan tentara yang kembali dari perang melawan Alex sampai mengalami gangguan mental karena mereka pernah merasakan sekali yang namanya kematian, dan mereka tidak ingin kematian setragis itu, dan kebanyakan dari tentara memilih keluar, karena sudah dipastikan jika mereka melawan lagi Alex, mereka akan benar-benar mati.
Tidak sedikit juga yang setuju jika mereka harus menuruti permintaan Alex, dengan menyatukan Dimensi manusia dan Dimensi non-manusia.
Kebanyakan dari yang setuju pernah ditolong oleh non-manusia, dan mereka sangat menentang perang antara kedua belah pihak.
Bahkan mereka mengatakan jika terus seperti itu, mereka lebih memilih untuk tinggal bersama dengan non-manusia di Dimensi mereka.
Dan yang setuju lebih dari 75% populasi manusia.
Alex bahkan tidak habis pikir dengan para pemimpin negara, karena mereka rela tidak tidur selama 4 hari untuk mencapai kesepakatan.
Semua Video yang Alex lihat itu adalah live langsung dengan menggunakan mata dan telinga dari orang-orang yang sebelumnya terikat kontrak dengannya.
"Heh! Kau pikir aku akan menyetujui persyaratan yang hanya akan menguntungkan kalian? Jika mau, aku bisa menghancurkan Dunia ini dengan mudah, tapi aku tidak melakukannya karena aku lahir di dimensi kalian ini" ucap Alex membagi suaranya ke tempat para pemimpin negara berada.
Semua yang Alex lakukan membuat mereka terkejut.
"Kalian tau? Aku juga tidak mungkin melakukan ini jika bukan Dewa Semesta sendiri yang memerintahkannya padaku" ucap Alex.
Dan Alex langsung muncul di tempat para pemimpin negara, sebuah singgasana muncul, dan Alex duduk di atasnya.
Kemunculan Alex membuat semua yang ada di ruangan itu waspada.
"Aku tidak memiliki niatan untuk menyerang makhluk seperti kalian, kecuali jika kalian yang menyerang ku duluan" ucap Alex
"Uhuk! Anda bilang jika Anda mengenal Dewa Semesta?" tanya pemimpin negara 1.
"Ya"
"Apa kata-kata Anda bisa dipercaya?" tanya pemimpin negara 2.
"Kau pikir aku bercanda jika menyangkut dengan Dewa Semesta? Tubuhku bisa langsung hancur jika aku bermain-main dengan identitasnya" ucap Alex sedikit menaikkan nada bicaranya.
Ruangan itu tiba-tiba hening.
"Kenapa tidak melakukan vote dengan warga negara kalian saja? Bukankah itu lebih baik?" tanya Alex.
Alex kemudian memunculkan layar transparan, dan itu hanya akan terlihat olehnya, dan mengotak-atik layar itu, sampai ada notifikasi di seluruh dunia.
Vote tentang setuju dan tidak setuju dengan menyatukan kembali Dimensi manusia dan Dimensi para non-manusia, sedangkan mereka yang tidak memiliki ponsel akan melihat sebuah layar transparan melayang di hadapan mereka.
Semua menjadi memanas ketika lebih banyak yang mem-vote setuju, dan terjadi perang di media sosial.
Semua berhenti ketika Alex memblokir media sosial, membuat orang-orang tidak bisa lagi menggunakan seluruh media sosial bahkan web sekalipun.
Beberapa saat kemudian Alex mengembalikan semuanya seperti semula, dan ada tambahan kata-kata di sana.
[Tolong berbicara lebih sopan, jangan spam, dan tidak boleh mengatai orang lain]
seperti itu kata-katanya.
Walau masih banyak yang berkata kasar, semua tulisan mereka dihilangkan, dan hanya kosong saja.
'Ini lebih baik, aku benar-benar merindukan Anna saat ini' pikir Alex.
"Kalau begitu, sampai jumpa lagi, aku akan menunggu surat perjanjian dari kalian"
Setelah mengucapkan itu, Alex langsung berteleport ke Kastil Kaisar Vampire, dan ketika melihat Anna, Alex langsung memeluknya.
"Alex?!" teriak Anna yang terkejut.
Tanpa aba-aba, Alex langsung mengangkat tubuh Anna bridal style, dan membawanya memasuki kamar mereka, setelahnya… kalian pikirkan saja apa yang terjadi.
...~•~•~•~...
Pagi harinya Alex dikejutkan dengan keberadaan banyak manusia yang berada di luar Penghalang, dan juga sudah ada para Penjaga Dimensi yang menjaga di sana.
Alex bahkan merasakan aura milik Dewa, yang membuat Alex heran.
'Apa mereka ingin berperang lagi? Mereka tidak lelah?' pikir Alex menghela napasnya.
Alex langsung menggunakan pakaiannya, dan pergi ke perbatasan, meninggalkan Anna yang masih terlelap tidur.
"Apa yang terjadi di sini?" tanya Alex.
"Entahlah, kami juga tidak tahu, kami langsung kemari karena merasakan aura Dewa" ucap Jein.
"Satu hal yang pasti, mereka hanya ingin mendeklarasikan perang, apalagi dengan senjata Dewa yang mereka miliki" ucap Rui.
"Ini benar-benar kacau, jika perang pecah, hanya ada akhir dunia apalagi mereka menggunakan senjata Dewa" ucap Zill dengan seringaian yang menghiasi wajahnya.
"Ucapan dan ekspresi milikmu benar-benar berlawanan" ucap Rui meledek Zill, dan Zill hanya mengacuhkannya.
Alex mulai melangkah keluar, dan langsung dihadiahi oleh tombak yang menembus perutnya, membuat Alex memuntahkan darah.
"Alex!" teriak para Penjaga Dimensi ketika melihat sebuah tombak yang menembus perut Alex.
"Jadi begini rasanya terkena senjata Dewa? Benar-benar menyakitkan" ucap Alex tersenyum saat perutnya terlihat berlubang ketika mencabut tombak itu.
"Oh, bukankah ini salah satu tombak milik Dewa Petir?"
Alex mengetahui itu karena dia pernah diperlihatkan semua senjata yang dimiliki oleh para Dewa oleh Dewa Semesta, selain dia dilatih, Dewa Semesta juga mengajarkan Alex tentang semua Dewa.
Regenerasi yang Alex miliki menjadi lambat karena kekuatan Dewa yang ada di dalam tombak itu.
Para Hunter mulai menunjukkan wajah angkuh ketika melihat jika Alex bisa dilukai oleh senjata Dewa.
"Wajah kalian benar-benar membuatku marah" ucap Alex, dan sedetik kemudian seperempat Hunter mati dengan kepala yang terpisah dari tubuhnya.
'Energi ku menjadi tidak stabil' pikir Alex.
Alex berencana membunuh para Hunter dibarisan depan saja, tapi kekuatannya lepas kendali dan membuatnya membunuh seperempatnya.
"Energi ku belum pulih, dan sekarang menjadi kacau karena senjata Dewa itu" gumam Alex dengan ekspresi yang sulit diartikan.