I'M Lord Vampire

I'M Lord Vampire
58



Kediaman Valcon…


Brak!


Sean, Sent, Fero, dan yang lainnya yang sedang berada di rumah Fero langsung melirik kearah pintu yang di dorong keras.


Pelakunya adalah Alex.


"Alex, bisakah kau mengetuk pintu dulu sebelum masuk? Bukannya malah merusaknya" ucap Fero.


"Aku melakukannya karena aku harus pergi lagi" ucap Alex.


"Apa hubungannya!" teriak Fero.


"Alex, apa yang terjadi?" tanya Sean.


"Para Hunter sudah bergerak, aku ingin kalian menjaga otangtua dan Kakakku" ucap Alex.


"Apa kau bermaksud untuk menghentikan mereka?" tanya Sean.


"Ya, tidak ada cara lain, dimensi ini memang sudah diperkuat, tapi aku tidak tahu akan bertahan sampai kapan jika para Hunter terus-menerus mencoba untuk menerobos masuk"


"Aku akan ikut denganmu" ucap Sean.


"Tidak, Sean lebih baik kau tingkatkan kekuatan milikmu, mungkin nanti aku memang membutuhkan bantuan" ucap Alex.


"Tapi…"


"Sean, kau adalah seorang Alpha. Kau harus melindungi semua pengikut mu, jika aku membutuhkan bantuan aku pasti akan menghubungi mu" ucap Alex, kemudian menghilang dari pandangan semua yang 6di rumah Fero.


Beberapa saat setelah Alex menghilang. Roland, Lexa, dan Gabriel tiba di rumah Fero.


"Eh, dimana Alex?" tanya Lexa sambil mengedarkan pandangannya.


"Alex baru saja pergi" ucap Sean.


"Anak itu! Pergi tanpa berpamitan kepada orangtuanya!" ucap Lexa kesal.


Lexa kemudian berjalan keluar rumah.


"Tunggu, Alex mengatakan jika kalian akan tinggal di sini untuk sementara waktu" ucap Sean.


"Apa kami akan tinggal di sini?" tanya Lexa.


"Bukan di sini, tapi di Mansion milik ku" ucap Sean.


"Berarti kami harus kembali ke sana?" tanya Lexa.


"Hah?" Sean bingung dengan pertanyaan Lexa.


"Tadi Alex menggunakan teleportasi untuk membawa kami ke Mansion milik mu" ucap Gabriel.


"Oh"


Sean kemudian menghampiri Lasilia yang sedang duduk di sofa dan mengobrol dengan Yuna.


"Lasilia, apa kau ingin tetap di sini atau kembali denganku ke Mansion?" tanya Sean kepada Lasilia.


"Aku di sini saja" ucap Lasilia.


Sean hanya mengangguk, dan kemudian pergi ke Mansionnya. Roland, Lexa, dan Gabriel hanya mengikuti Sean dari belakang.


Di sisi lain…


Alex muncul di perbatasan antar dimensi.


Dari kejauhan, Alex bisa melihat ada sekitar 3000 Hunter yang menuju perbatasan antar dimensi.


"Bagaimana caraku untuk menghentikan mereka? Terlalu banyak Hunter" gumam Alex.


Diantara para Hunter, ada beberapa orang yang melihat jika ada seseorang yang berdiri di perbatasan antar dimensi.


dan mereka langsung memberitahu ketua mereka, dan kemudian mereka berjalan cepat ke perbatasan.


"Sepertinya mereka sudah melihatku" ucap Alex.


Alex melihat jika pergerakan para Hunter semakin cepat, dan mereka memegang senjata mereka yang awalnya disimpan di tas mereka.


Para Hunter berhenti tepat beberapa ratus meter dihadapan Alex.


""Lord Vampire!"" teriak beberapa Hunter yang mengetahui Alex.


"Kenapa ada Lord Vampire di sini?" Ketua Hunter terkejut.


"Apa kau ketua Hunter?" tanya Alex.


"Ya, itu aku" ucap ketua Hunter.


"Lebih baik kalian pergi dari sini" ucap Alex.


"kami sudah ada di sini, untuk apa kami pergi?!" tanya ketua Hunter, sambil menatap tajam Alex.


"Walaupun kalian menyerang, kalian tidak akan bisa menyentuhku" ucap Alex.


"Kau terlalu percaya diri, senjata yang kami miliki bisa membunuhmu dengan cepat" ucap ketua Hunter.


"Renz, aku membutuhkan wujudmu" gumam Alex.


'gunakan saja'


Wujud Alex berubah, rambut hitamnya berubah menjadi putih panjang selutut, tanduk di dahinya, dan sepasang sayap yang berbeda warna.


Ada sebuah tanda yang muncul di dahi Alex, itu berbentuk sepasang sayap berwarna emas.


"Tanda itu…" ketua Hunter terkejut dengan perubahan Alex, dan tanda yang muncul di dahi Alex.


"Ketua, apa kau mengetahui tanda di dahinya?" tanya salah satu Hunter.


"Ya, itu adalah tanda dari Penjaga Dimensi" ucap ketua Hunter.


"Jika Penjaga Dimensi ada di sini, hanya ada satu yang akan terjadi pada kita… yaitu kematian" ucap ketua Hunter.


Para Hunter manjadi ketakutan setelah mendengar ucapan ketua Hunter.


"Pergilah, aku tidak ingin membunuh siapapun saat ini" ucap Alex.


Alex langsung mengeluarkan aura miliknya, dan menekan para Hunter.


'Alex, kekuatan Jiwa Phoenix milikmu belum bangkit sepenuhnya' Renz bertelepati dengan Alex.


'Apa maksudmu' tanya Alex kepada Renz.


'Saat ini kau sudah menguasai kekuatan Jiwa Phoenix putih dan silver, tapi kau belum menguasai semuanya, dan saat ini pengendalianmu juga belum sampai tahap sempurna, jika kau bisa menyempurnakan pengendalian mu maka kau akan memiliki aura yang lebih besar'


'Jadi, apa maksudmu?'


'Gunakan para Hunter itu sebagai media latihan mu'


'Kau ingin aku menjadi pembunuh?'


'Hei, kau memiliki Jiwa Phoenix putih, kau bisa memulihkan mereka'


'Itu namanya penyiksaan, apa kau seorang psikopat?'


'aku bukan psikopat, tapi aku menyukai teriakan orang-orang yang kesakitan'


Alex hanya bisa memasang ekspresi datar ketika mendengar ucapan Renz, dan langsung memutus telepatinya.


'Kepribadiannya sudah menyimpang' pikir Alex sambil menghela napasnya.


"Kalian semua pergilah, selama aku yang menjaga dimensi ini, tidak ada seorangpun yang bisa masuk atau keluar dari sini!" teriak Alex.


"Kau pikir kami akan pergi dari sini? Siapapun kau, kami akan tetap melawanmu! Kami para Hunter sudah melampaui batasan manusia!" teriak ketua Hunter.


Alex hanya menghela napasnya pelan.


Tiba-tiba para Penjaga Dimensi lain muncul di samping Alex.


"Kalian di sini?" tanya Alex kepada para Penjaga Dimensi.


"Tugas kami adalah melindungi dimensi ini, bagaimana mungkin kami tidak di sini?" tanya Vivi.


para Hunter langsung terdiam ketika melihat para Penjaga Dimensi lainnya juga muncul.


"Alex, berhati-hatilah" ucap Caine.


"Eh, memangnya kenapa?" tanya Alex bingung.


"Jika kau membunuh seribu orang, kau akan menerima hukuman dari surga" ucap Caine.


"Hukuman surga?"


"Ya, ada tiga cara dari hukuman surga… yang pertama yaitu menerima api hukuman dari Dewa Api dan Dewa Matahari, yang kedua menerima sambaran petir dari Dewa Petir sepuluh kali, atau di penjara di Penjara Dewa selama sepuluh ribu tahun" ucap Caine.


"Kalau itu aku, aku akan memilih untuk dimasukkan ke Penjara Dewa saja. Tapi sayangnya, kami tidak akan pernah mendapatkan hukuman surga" ucap Rui.


"Kenapa?" tanya Alex.


"Kami para Penjaga Dimensi diberi kebebasan, seberapa banyak pun kami membunuh, kami tidak akan pernah menerima hukuman surga, karena kami sudah dianggap oleh para Dewa dan para Dewa juga yang memilih kami sebagai Penjaga Dimensi" ucap Zill.


"Sedangkan kau hanya dipilih oleh kami, dan belum ada Dewa yang memilihmu" ucap Jein.


"Kalian salah, Alex sudah memiliki dukungan dari Dewa" Renz tiba-tiba mengambil alih tubuh Alex.


"Renz?" tanya Caine.


"Ya, ini aku" ucap Renz.


"Apa maksudmu?" tanya Rui.


"Caine kau memiliki dukungan dan dipilih langsung oleh Dewa Dunia, Vyne oleh Dewa Api, Vivi oleh Dewi Cahaya, Jein oleh Dewa Pengetahuan, Rui oleh Dewi Air, Gilbert oleh Dewa Perang, Kayle oleh Dewi Alam, Kyale oleh Dewi Bulan, Zill oleh Dewa Kegelapan, dan Asra oleh Dewa Kematian. Sedangkan untuk Alex… Dewa Semesta sudah memilihnya" ucap Renz.


""Dewa… Semesta!"" ucap para Penjaga Dimensi, mereka sangat terkejut mendengar jika Alex sudah dipilih oleh Dewa Semesta, Dewa diantara para Dewa.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


~•~•~•~•~•~


Maaf jika tidak memuaskan kalian… atau ceritanya tidak nyambung dan berantakan