I'M Lord Vampire

I'M Lord Vampire
19. Sekolah



Di sebuah kamar berlatarkan abu, terlihat seorang pemuda yang sedang menggunakan baju sekolah SMA nya, dia terlihat sedang mengancingkan bajunya.


Karena belum terkancingkan semuanya, otot perutnya terlihat, dari luar pemuda itu memang terlihat kurus tapi saat melihat otot tubuhnya, itu akan berbeda.


Setelah merapikan bajunya, pemuda itu lalu mengikatkan ikat pinggangnya, dia membiarkan dua kancing baju bagian atas kemejanya terbuka.


Pemuda itu merapikan rambutnya dengan menggunakan tangannya, membiarkan rambut hitamnya sedikit berantakan.


"Saatnya kembali menjadi anak nakal, mungkin tidak masalah juga jika aku membiarkan wajah datarku"


Pemuda yang sedang bergumam itu adalah Alex.


Beberapa saat setelah Alex membereskan tasnya, muncul seorang wanita dan 2 orang pria dari belakang Alex.


"Alex…" seorang wanita dengan warna rambut hitamnya dan warna mata merah menyalanya memanggil Alex. Dia adalah Nithael.


Dan untuk dua lainnya, itu adalah Gazardiel dan Mofsi.


Untuk Mofsi, dia memiliki penampilan yang cukup menawan.


Dalan wujud manusianya, Mofsi memiliki tinggi badan 184 cm, kulit hampir seputih salju, rambut berwarna perak dan mata berwarna kuning keemasan.


'Ah, aku masih merasa agak aneh melihat Mofsi jadi manusia, wajahnya terlalu tidak nyata dan melihat matanya, itu terlihat seperti anjing yang meminta elusan' ucap Alex dalam batinnya, Alex hanya menghela napasnya saat melihat ke arah Mofsi.


"Master?" setelah mengatakan itu, Mofsi memiringkan kepalanya sedikit.


'Oh ayolah… itu sangat menggelikan jika ada seorang pria seusiamu menyebutmu master, jika itu seorang gadia mungkin tidak apa-apa!!! Arghh!' Alex hanya mengusap dadanya.


"Mofsi, bisakah memanggilku dengan sebutan Alex? Dan jangan pernah bertingkah seperti anak kecil, jika tidak… aku tidak akan pernah mengelusmu lagi" (maksudnya mengelus dalam wujud serigalanya)


"Ah! Baiklah"


Mofsi langsung memiliki ekspresi serius dan aura dewasanya langsung keluar.


"Mofsi, dalam wujud manusiamu, namamu adalah Rein Stanhart. Jadi, jangan sampai salah sebut nama"


Mofsi hanya menganggukan kepalanya.


Oh ya, Nithael, Gazardiel, dan Rein (Mofsi) ikut bersekolah dengan Alex, itu juga dipaksa oleh Alex.


~•~


Alex pov


Akhirnya sampai juga di sekolah.


Oh iya, aku sudah lama pergi dan tidak terasa aku pergi selama hampir setengah tahun.


Dan sekarang aku masuk sekolah lagi pada semester genap.


Kelasku juga sudah dipindahkan, dulu kelasku berada di kelas X-A-6, sekarang aku ada di kelas X-A-2.


Nithael, Gazardiel, dan Mofsi yang sekarang sudah pindah nama menjadi Rein, mereka bertiga juga sekelas denganku.


Dan setelah kami memasuki kelas…


"Psst! Lihat mereka, kenapa bisa memiliki wajah tampan dan cantik seperti itu?" seorang gadis berambut hitam pendek berbisik kepada teman sebangkunya.


"Apa mereka operasi plastik"


"Sial…"


"Mereka berdua mengecat rambutnya ya?" ditujukan kepada Gazardiel dan Rein.


Ada juga yang…


"Oh, mereka terlihat seperti karakter yang keluar dari anime"


"Baiklah semuanya, bisakah diam sebentar selama mereka memperkenalkan diri?"


Guru yang mengantar kami ke kelas berbicara, ruangan kelas langsung hening.


Guru itu adalah seorang pria berusia 26 tahun, salah satu guru BK di sekolah, dan terkenal diantara para siswi karena memiliki wajah yang tampan.


"Alex, perkenalkanlah dirimu terlebih dahulu"


Alex pov end


Alex maju selanglah ke depan lalu memperkenalkan dirinya.


"Namaku Alexander Laksan, kalian bisa memanggilku Alex"


Setelah itu, Alex mundur kembali lalu dilanjutkan perkenalan dari Nithael, Rein, lalu Gazardiel.


"Mm… namaku Rein Stanhart, kalian bisa memanggilku Rein, salam kenal" Rein sedikit membungkukkan tubuhnya, setelah itu tersenyum, senyumannya di sambut oleh teriakan para wanita di kelas itu.


"Aku Gazardiel Paschar, terserah mau memanggilku apapun" ucap Gazardiel dingin.


"Baiklah, apakah ada yang ingin ditanyakan?"


Setelah guru mengatakan itu, beberapa langsung mengangkat tangan.


Lalu guru menunjuk salah satu murid.


"Apakah warna mata kalian itu asli?"


Mereka berempat mengangguk secara bersamaan.


"Warna mata kami ini memang sudah begini dari lahir, itu karena turunan dari orang tua kami masing-masing"


Nithael berbicara, mewakilkan Alex, Rein dan Gazardiel.


Lalu ada lagi yang bertanya.


"Nithael, apakah kamu dan Gazardiel itu kembar? Atau hanya saudara?"


"Oh, kami kembar, hanya berbeda 15 menit saat lahir. Ia kan, Kak Diel"


Nithael mengucapkan kebohongannya, Gazardiel hanya mengangguk. Tapi, dalam pikirannya dia menggeleng karena Nithael sangat ahli dalam urusan berbohong, dan mengucapkannya dengan mudah.


"Gazardiel, Rein, apakah rambut kalian itu warnanya alami?" sekarang giliran sang guru yang bertanya.


"Ya, rambut kami warnanya alami, entah kenapa warnanya berbeda dari kebanyakan orang. Dan untuk Rein, dia blesteran Korea-Jepang dan juga memiliki darah keturunan Inggris, jadi dia memiliki struktur wajah yang sedikit berbeda"


Gazardiel berbicara panjang kali lebar, dan dia merasakan jantungnya seperti sedang marathon karena dia mengatakan kebohongan, tapi karena wajahnya dingin jadi tidak keluar ekspresi apapun dari wajahnya.


"Baiklah, kalian bisa duduk di bangku yang kosong" ucap guru.


Alex, Rein, Gazardiel, dan Nithael duduk di bangku kosong yang berada di paling belakang.


Alex memilih bangku paling belakang dekat dengan jendela yang langsung mengarah ke arah lapangan.


Dan pelajaran pun di mulai…


~•~


Di hari pertama mereka bersekolah, sudah menarik perhatian dari para siswa dan siswi di sekolah itu.


Paras mereka yang rupawan membuat mereka menjadi populer.


Saat istirahat pertama, di kelas X-A-2…


Barisan paling belakang terlihat sesak dengan para siswa yang mendekati Alex, Rein, Gazardiel, dan Nithael yang saat itu sedang membereskan buku pelajaran dari pelajaran sebelumnya.


Rein yang tidak terbiasa dengan pertanyaan yang dilontarkan para siswi langsung melesat ke arah Alex dan bersembunyi di samping Alex.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Alex kepada Rein.


"Itu" ucap Rein sambil menunjuk ke arah para siswi yang melihat ke arah mereka berdua.


"Lalu, kenapa kau bersembunyi di dekatku?" tanya Alex kembali"


Rein hanya terdiam.


"Kembalilah ke bangku mu, sebentar lagi bel masuk berbunyi, kalian juga"


Para siswi yang mendengar ucapan Alex yang dingin diikuti wajahnya yang datar membuat mereka hanya diam.


"Wah, sikapnya sangat dingin" bisik salah satu siswi.


"Aku menyukai sikap misteriusnya" bisik siswi lain.


Bisikan-bisikan itu terdengar oleh Alex yang memiliki pendengaran yang tajam, dan bisikan itu berlanjut sampai bel masuk berbunyi.


~Skip~


Saat istirahat makan siang, para siswa dan siswi masih seperti saat istirahat pertama.


Bahkan yang awalnya para siswi berkerumun di bangku Rein sekarang sebagian mereka mendekati bangku milik Alex.


Alex yang tidak terlalu menyukai keramaian itu memutuskan untuk pergi ke atap sekolah, membuat para siswi tadi terdiam melihat kepergian Alex.


Alex kemudian menaiki tangga untuk sampai ke atap, tak butuh waktu lama akhirnya Alex sampai di atap sekolah.