I'M Lord Vampire

I'M Lord Vampire
25. Perpustakaan Bawah Tanah



Setelah selesai makan dan membayar makanannya. Sean, dan Alex yang masih dalam wujud anak kecilnya pergi ke rumah Sean yang ada di dunia manusia.


"Sean, kau benar-benar memiliki rumah di sini?" tanya Alex kepada Sean.


"Ya"


Selama perjalanan, mereka berdua menjadi sorotan banyak orang.


Mereka menjadi sorotan karena Wajah Sean yang tampan dan keimutan Alex dalam wujud anak kecilnya.


Alex selalu memegang celana Sean karena tidak ingin tertinggal, dan Alex yang tidak bisa mengimbangi langkah lebar Sean hanya memegang erat celana Sean.


"Sean, bisakah kau berjalan sedikit pelan?" tanya Alex kepada Sean.


Sean hanya memandang Alex sebentar, lalu mempercepat langkahnya membuat Alex berlari kecil.


"Ugh, Sean aku bilang untuk memperlambat jalanmu, bukan mempercepat!" teriak Alex.


Alex kemudian menarik tangan Sean, dan membuat Sean hampir terjatuh kebelakang.


"Sean kau-"


Sebelum Alex sempat menyelesaikan perkataannya, tiga orang gadis mendekat.


"Permisi, apa dia adikmu?" ucap gadis ke-1.


Sean hanya terdiam, dan membuat suasananya canggung.


Dan pikiran jahil terlintas dipikiran Alex.


"Ayah" ucap Alex memasang wajah tak berdosa.


Sean terkejut dengan ucapan Alex, tiga orang gadis yang sebelumnya mendekati mereka pun terdiam.


""E-eh, dia anakmu?"" ketiga gadis tersebut bertanya bersamaan.


Sean hanya terdiam, dan menatap tajam ke arah Alex.


Alex yang melihat tatapan Sean hanya memasang wajah sedih, dan matanya berkaca-kaca.


Sean dan tiga gadis itu terkejut melihat Alex yang memasang wajah akan menangis.


"Ck-"


Sean menarik baju bagian belakang alex dan mengangkatnya ke atas dan mendudukkan Alex di pundaknya.


Alex terkejut dan langsung memegang erat rambut Sean.


Setelah itu Sean langsung pergi begitu saja meninggalkan tiga orang gadis itu dengan keheningan.


~•~


Di Mansion Sean



#(Itu patung yang di tengah anggap aja berbentuk Serigala berwarna putih)


Alex benar-benar terkejut melihat Mansion milik Sean.


"Woah! Ini benar-benar milikmu, Sean?" tanya Alex.


"Ya"


Sean kemudian menurunkan Alex.


Setelah diturunkan, Alex merubah wujudnya ke wujud manusia.


"Sean, apa pekerjaan mu di sini?" tanya Alex kembali.


"Aku memiliki sebuah restoran dan juga sebuah hotel" ucap Sean menjawab pertanyaan Alex.


"Apa?! Kau bercanda, kan?" teriak Alex.


Alex tidak percaya kata-kata Sean.


"Terserah kau saja, mau percaya atau tidak itu bukan urusanku!"


Sean kemudian berjalan memasuki Mansionnya, Alex yang melihat kepergian Sean langsung menyusulnya.


"Sean, apa kau memiliki perpustakaan di sini?" tanya Alex sambil melihat sekeliling Mansion milik Sean.


"Ada, di ruang bawah tanah"


"Di sana, kau tinggal tarik lilin itu, dan akan ada pintu di dinding samping meja" ucap Sean sambil menunjuk ke sebuah lilin yang ada di atas sebuah meja.


"Oh, baiklah"


Alex kemudian mendekati sebuah meja dan menarik lilin yang ada di atas meja itu.


Seketika dinding yang ada di samping meja bergerak dan sebuah pintu berwarna hitam terlihat dengan lingkaran putih terukir ditengahnya.


"Sean bagaimana cara membuka pintunya? Tidak ada gagang pintu yang terpasang"


"Kau lihat lingkaran berwarna putih kan? Kau hanya perlu mengalirkan energimu, pintu itu akan terbuka dengan sendirinya"


Alex langsung mengalirkan energinya ke arah lingkaran putih yang ada di pintu.


Seketika pintu terbuka, dan menampakkan deretan anak tangga.


Alex menuruni anak tangga itu, setelah beberapa saat terlihat deretan lemari buku lengkap dengan bukunya.



"Di sini mengandung banyak sekali energi"


Alex berjalan-jalan sebentar, di perpustakaan itu, dia hanya melihat buku ilmu pengetahuan.


"Apa di bawah lantai ini masih ada ruangan lain? Rasanya di bawah memiliki udara hampa karena saat berjalan langkah kakiku terdengar menggema"


Alex mencoba mencari tuas untuk ke lantai paling bawah. Dia menggunakan indera penciumannya yang tajam.


"Ah, ketemu!"


Alex melihat sebuah tali tergantung di sebuah lemari, dan Alex langsung menarik tali itu.


Drak! Krak!


Lantai disamping lemari itu terbuka dan terlihat kembali deretan anak tangga.


"Apakah tidak ada lift? Aku lelah berjalan"


Alex menghela napasnya sebelum menuruni anak tangga itu.



Saat sampai di lantai dasar, Alex kembali melihat lemari buku beserta bukunya, tapi tidak sebanyak yang ada dilantai atas.


Setelah melihat-lihat, Alex mengambil beberapa buku.


"Ras Hybrid, Lord Vampire Pertama, Kekuatan Kegelapan, Para Malaikat, dan...eh? Jiwa Phoenix!"


Alex melihat buku bersampul merah maroon, dan buku itu bertuliskan Jiwa Phoenix.


Alex kemudian membawa buku bersampul merah maroon itu dan buku lainnya disimpan ke tempat mereka semula.


Alex melihat sebuah kursi dan meja, dia duduk di kursi itu dan membaca buku yang dia ambil tadi.


Buku itu sangat tipis, tidak sampai 20 halaman karena masih banyak misteri tentang Jiwa Phoenix.


Alex membaca buku itu dengan tenang.


Jiwa Phoenix adalah sebuah roh burung Phoenix dari neraka, kekuatannya bisa menyamai kekuatan para Dewa.


Seseorang yang memiliki Jiwa Phoenix hanya akan terlahir 10.000 tahun sekali dan hanya ada 1 dari 1 triliun orang.


Pemilik Jiwa Phoenix terlahir sekitar 170.000 tahun yang lalu, mereka lahir bertepatan dengan kelahiran seorang Demigod untuk pertama kalinya.


Roh Phoenix di bagi menjadi beberapa macam, yaitu Phoenix Hitam, Phoenix Merah, Phoenix Biru, Phoenix Unggu, dan Phoenix Putih.


Phoenix Hitam memiliki kekuatan kegelapan, roh ini dapat mengendalikan bayangan dan api hitam, api yang tidak bisa padam walau di siram dengan air apapun, bahkan dengan air suci para Dewa sekalipun.


Phoenix Merah memiliki kekuatan pengendalian api neraka sekaligus roh penguasa neraka, api yang dikendalikan oleh roh Phoenix Merah hanya akan padam jika terkena air suci para Dewa, atau darah para Dewa.


Phoenix Biru memiliki kekuatan pengendalian energi dan api berwarna biru, api terpanas, bahkan api ini bisa menghanguskan sebuah kota besar dalam waktu 10 menit.


Phoenix Unggu memiliki kekuatan untuk menghasilkan racun, mau itu berbentuk cair, kabut ataupun padat (seperti obat), api unggu-nya tidak sepanas api yang dimiliki oleh roh Phoenix lainnya, hanya sedikit lebih panas dari api biasa.


Phoenix Putih memiliki kekuatan cahaya, dapat menyembuhkan penyakit apapun bahkan membangkitkan orang yang sudah mati, api berwarna putih yang dia miliki adalah api penyucian (biasanya di pakai oleh Malaikat Agung untuk menyucikan jiwa-jiwa orang yang sudah mati sebelum di masukkan ke Surga), kekuatannya yang terakhir adalah pengendalian darah, roh Phoenix Putih dapat mengendalikan darah lawannya dan membuat lawannya mati seketika dengan menghentikan aliran darahnya ataupun menghancurkan jantung lawannya.


Pemilik Jiwa Phoenix dilahirkan untuk menjaga keseimbangan dunia, karena kelahiran seorang Demigod yang memiliki kekuatan di atas rata-rata dan menyebabkan dunia manusia hampir hancur dan musnah.


Karena itulah pemilik Jiwa Phoenix terlahir.


Itulah yang dapat Alex ketahui tentang Jiwa Phoenix.