
Tok! Tok! Tok!
Alex mengetuk pintu kamar Sean sambil membawa buku diary di tangannya.
"Sean, buka pintunya!" teriak Alex.
Sean kemudian membukakan pintu kamarnya.
"Ada apa? Kenapa berteriak?" tanya Sean.
Alex kemudian mengangangkat buku yang ada di tangannya.
"Buku ini…milik ku?"
Sean langsung mengambil buku diary yang ada di tangan Alex.
"Di mana kau menemukan ini?" tanya Sean kepada Alex.
"Di atas lemari, di kamar ku" ucap Alex.
Sean melihat tajam ke arah Alex.
"Tenanglah, aku tidak membacanya"
'Hanya sedikit membacanya' batin Alex.
~•~
Sebelum Alex ke kamar Sean.
Di kamar yang di tempati oleh Alex.
Alex terlihat membuka diary milik Sean yang ditemukan olehnya.
~Lembar pertama…
~Hari ini, tepat tanggal 14 Januari xxxx
Hari ini adalah hari ulang tahunku ke-7. Ibuku memberikan buku ini sebagai hadiahnya. Aku sangat senang menulis, jadi Ibu memberikanku sebuah buku.
Alex kemudian membaca lembar berikutnya, dan menemukan sesuatu tentang keluarga Alex.
~14 Januari xxxx
Sekarang usiaku tepat 9 tahun. Tapi, aku tidak bisa merayakannya dengan Kakakku. Ayah bilang dia ada urusan di salah satu Pack yang ada di Timur. Ayah tidak memberitahukan nama Pack itu padaku. Semoga Kakak baik-baik saja di sana.
~9 Februari xxxx
Aku mendengar jika Kakakku dibunuh oleh Serigala dari Pack yang akan dia datangi.
Ayah dan Ibu juga memutuskan untuk pergi ke Pack itu.
~12 Februari xxxx
Paman Sent bilang Ayah dan Ibuku pergi untuk berperang dengan Pack dari Timur. Aku takut mereka kenapa-napa, semoga saja Moon Goddess melindungi kedua orang tuaku.
~20 April xxxx
Sudah 2 bulan berlalu, dan perang antara dua Pack. Tapi, kenapa…kenapa…
.
.
.
.
.
.
.
KENAPA ORANG TUAKU HARUS MATI!!!
Alex terkejut karena lembar sebelum kosong, dan ketika dia melihat tulisan di lembar selanjutnya yang dia buka, tulisan itu menggunakan… DARAH.
"Darah?"
Alex kemudian menutup buku itu dan berjalan menuju kamar Sean.
~•~
"Sean…" panggil Alex.
Sean masih tak bergeming saat Alex memanggil namanya.
"SEAN" teriak Alex tepat di telinga Sean, membuat Sean langsung menutup telinganya.
"Kenapa kau berteriak?!"
"Karena kau tidak menjawabku ketika aku memanggilmu!" Alex kembali berteriak.
"Maaf" ucap Sean sambil menundukkan kepalanya.
"Berapa usiamu ketika kau diangkat menjadi Alpha Pack-mu?" tanya Alex.
"Sekitar 9 tahun" ucap Sean.
"Begitu ya. Lalu, ke mana orang tuamu?" tanya Alex pura-pura tidak tahu.
"Mereka sudah meninggal, tapi mayat mereka tidak ditemukan"
Alex terkejut mendengar perkataan Sean.
"Saat itu juga, ketika berita kematian Alpha sebelumnya tersebar, aku langsung diangkat menjadi Alpha selanjutnya" ucap Sean.
"Kenapa tidak memilih orang lain dulu sebagai Alpha sementara?" tanya Alex.
"Waktu itu para Tetua ingin Paman Sent yang menjadi pengganti Alpha sebelumnya. Tapi, Paman sent menolaknya, dia bilang 'keturunan sang Alpha masih hidup, tidak ada orang lain yang bisa menggantikan keturunannya kecuali semua keturunannya sudah tidak ada', itulah yang Paman Sent bilang kepada para Tetua"
"Jadi karena itulah kau langsung diangkat menjadi Alpha dari Silver Moon Pack, menggantikan ayahmu?" tanya Alex.
"ya"
"Sean, apa kamar yang aku tempati itu dulunya kamar mu?" tanya AleKanepa a, itu memang kamar ku"
"Lalu kamar ini?"
"Kamar Kakak ku"
"Siapa nama Kakak mu?"
"Shion Zeaverlax"
"Lalu na…"
Sebelum menyelesaikan kata-katanya, Sean langsung memotong perkataan Alex.
"Kenapa kau banyak bertanya, Alex?!" tanya Sean kesal
"Aku hanya penasaran!" teriak Alex.
"Pffft! Hahahahaha!" Sean tertawa melihat reaksi Alex.
Alex yang melihat Sean tertawa hanya bisa tersenyum.
~•~
Di pagi hari, di dapur yang ada di Mansion Sean.
Alex terlihat sedang sibuk membuat sarapan.
"Aku hanya bisa membuat nasi goreng" gumam Alex.
Alex kemudian menaruh sarapan yang sudah di siapkan nya di atas meja makan.
"Sean cepat bangun, kita harus segera menemui Lord Regmus untuk membicarakan soal perjanjian dengan Raja Iblis!" Alex berteriak dari lantai satu.
Alex yang merasa tidak ada yang meresponnya memutuskan untuk langsung pergi ke kamar Sean.
Sesampainya di depan kamar Sean.
Bang!
Alex menendang pintu kamar Sean.
Sean yang terkejut langsung terjatuh dari atas kasurnya.
Gdubrak!
"Sean cepatlah!" teriak Alex.
"Ya, sebentar" ucap Sean yang masih dengan suara seraknya, khas orang yang baru bangun tidur.
Setelah itu Alex memutuskan untuk sarapan lebih dulu.
Beberapa menit kemudian, Sean keluar dari kamarnya dan berjalan menuju meja makan yang ada di lantai satu.
"Kenapa kau membangunkanku?" tanya Sean setelah duduk di kursinya.
"Hari ini Raja Iblis ingin membicarakan tentang perjanjian yang kita buat dengannya"
"Itu urusanmu, bukan urusanku" ucap Sean.
"Kalau itu bukan urusanmu, lalu apa yang ada di tangan mu itu?" tanya Alex sambil menunjuk tanda yang ada di tangan kiri Sean.
Sean tidak bisa menyangkal ucapan Alex.
~•~
Beberapa menit kemudian Alex dan Sean sudah sampai di Kastil Lord Regmus.
Alex sudah memakai jubah miliknya, sedangkan Sean memakai baju yang biasa dia pakai.
"Sean apa kau bisa mengganti pakaianmu?" tanya Lord Regmus kepada Sean.
Sean hanya diam dengan wajah datarnya.
"Pakai ini" ucap Alex sambil menyodorkan baju kepada Sean.
"Apa ini?"
"Pakai saja"
Sean hanya mengangguk dan memakai pakaian yang diberikan oleh Alex.
Baju yang di pakai oleh Sean terlihat sangat kontras dengan rambut putih miliknya.
"Ini terlalu pas dengan tubuhku" ucap Sean.
"Tapi itu sangat cocok untukmu" ucap Alex.
Lord Regmus hanya mengangguk menanggapi ucapan Alex.
Sean hanya bisa pasrah karena dia tidak membawa bajunya sendiri.
Setelah semuanya selesai, mereka bertiga pergi untuk menemui Raja Iblis.
Di sisi lain… di wilayah Iblis.
Raja Iblis terlihat sedang menyiapkan penyambutan untuk Lord Regmus, Alex dan Sean.
Karena ini pertama kalinya para Iblis menyambut tamu, mereka terlihat kelelahan, dan tidak tahu lagi apa yang harus di siapkan.
"Apa semuanya sudah selesai?" tanya Raja Iblis kepada bawahannya.
"Semuanya sudah selesai seperti apa yang Anda inginkan, Yang Mulia" ucap salah satu bawahan Raja Iblis yang ada di dekatnya.
"Bagaimana dengan mereka bertiga?" tanya Raja Iblis kembali.
"Lord Regmus, Tuan Alexander, dan Tuan Sean Zeaverlax sedang di perjalanan menuju kemari" ucap Jenderal Iblis yang ada di sana.
"Begitu ya… jika mereka sudah sampai, sambut mereka"
""BAIK!"" ucap seluruh Iblis serentak.
~•~
Setelah beberapa jam perjalanan, dengan berlari.
Lord Regmus, Alex dan Sean sudah berada di depan sebuah Kastil yang sangat besar, lebih besar dari Kastil milik Lord Regmus.
"Selamat datang, Raja Iblis sudah menunggu kalian di ruangannya" ucap Jenderal Iblis sambil membungkukkan tubuhnya.
Jenderal Iblis itu kemudian mengantar mereka bertiga ke ruangan Raja Iblis.