I'M Lord Vampire

I'M Lord Vampire
51. Bermain Game [4]



[Misi Individu : Sembuhkan Ratu Kerajaan An]


"Misi baru?" gumam Alex.


"Alex ada apa?" tanya Zen.


"Aku mendapatkan misi baru" ucap Alex.


"Misi individu?" tanya Zen.


"Ya… Zen, apa misi akan muncul di kondisi tertentu?" tanya Alex kepada Zen.


"Ya, beberapa misi datang di kondisi tertentu" ucap Zen.


"Begitu, ya" gumam Alex.


"Memangnya apa misi mu?" tanya Zen.


"Menyembuhkan Ratu Kerajaan An" ucap Alex.


"Yang aku tahu, ketika peperangan dulu, Ratu Kerajaan An ikut berperang, dan dia terluka sangat parah, membuatnya tak sadarkan diri selama tiga tahun" ucap Zen.


"Sudah selama itu, memangnya tidak ada yang bisa mengobatinya?" tanya Alex.


"Jika memang ada yang bisa mengobatinya, maka Ratu akan masih berdiri di samping Raja" ucap Zen kesal dengan pertanyaan Alex.


"Aku hanya bertanya" ucap Alex sambil membaringkan tubuhnya di atas kasur.


"Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Zen.


"Menyelesaikan semua misinya" ucap Alex.


"Bagaimana jika kita bersenang-senang dulu di sini…" ucap Zen.


"Bersenang-senang?" tanya Alex bingung.


"Ya"


"Kemana?" tanya Alex.


"Hehe, tentu saja… Rumah Bordir" ucap Zen.


"Hah!" Alex terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Zen.


"Memangnya kenapa?" tanya Zen.


"Aku bukan orang yang bersenang-senang di tempat seperti itu" ucap Alex.


"Kita di sana bukan hanya untuk bersenang-senang, tapi juga untuk mengumpulkan informasi" ucap Zen.


"Informasi? Bukankah ada sistem yang memberi informasi?" tanya Alex.


"Haha… sebenarnya, aku membuat sistem hanya untuk memberikan misi dan bonus dari misi atau hal yang kita lakukan, tapi aku tidak membuatnya untuk informasi tentang kondisi setiap Kerajaan" ucap Zen.


Alex kesal dengan apa yang dikatakan Zen.


"Bagaimana bisa kau membuat game tidak dengan informasi apapun!" ucap Alex kesal.


"Aku membuat game untuk bersenang-senang, bukan hanya untuk memainkannya saja" ucap Zen.


"Lebih baik kita kembali saja, bukankah kita bermain terlalu lama?"


"Tenang saja, satu tahun di sini sama dengan satu menit di dunia nyata" ucap Zen.


"Kau memang merancang game ini untuk bersenang-senang" ucap Alex menatap datar ke arah Zen.


"Oh ya, Pedang ku di dunia nyata juga bisa aku gunakan di sini" ucap Alex.


"Tentu saja bisa, karena aku merancang game ini sangat hati-hati, barang apapun dari dunia nyata bisa kita bawa kemari" ucap Zen.


"Apa di sini juga bisa menggunakan ponsel?" tanya Alex.


"Bisa saja, tapi aku tidak membawanya" ucap Zen.


"Bagaimana dengan hewan atau yang lainnya?" tanya Alex.


"Hanya benda mati yang bisa dibawa ke sini" ucap Zen.


'Hei, apa Mofsi masih ada di sana?' tanya Alex kepada Gazardiel dan yang lainnya.


'Tidak, ketika kau masuk ke dalam permainan, Mofsi tiba-tiba menghilang dari sini, mungkin dia terlempar ketika kau bermain' ucap Gazardiel.


'Baiklah, mungkin memang terlempar keluar' ucap Alex langsung memutus telepatinya.


Alex kemudian bangun dari posisi tidurnya, dan duduk di tepi kasur.


Tok! Tok! Tok!


Terdengar suara ketukan pintu.


"Siapa?" tanya Alex.


"Ada apa?" tanya Alex.


"Yang Mulia Kaisar ingin bertemu dengan anda" ucap Kasim Nam.


Alex kemudian berjalan ke arah pintu dan membukanya.


"Zen, kau juga harus ikut denganku" ucap Alex.


"Untuk apa aku ikut denganmu? aku tidak memiliki urusan dengan Kerajaan ini" ucap Zen.


"Kau tetap harus ikut denganku!" ucap Alex, kemudian menarik tangan Zen.


"Baiklah, tapi lepaskan tanganku!" ucap Zen.


Alex kemudian melepaskan tangan Zen.


Alex dan Zen kemudian pergi menemui Kaisar Kerajaan An.


Saat tiba di tempat Kaisar, Zen memberikan hormat, sedangkan Alex tetap berdiri.


'Alex, kau tidak akan memberi hormat kepada Kaisar Kerajaan An?' tanya Zen, bertelepati dengan Alex.


'Untuk apa aku melakukannya?' tanya Alex, sambil melirik ke arah Zen.


"Siapa namamu? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya" tanya Kaisar Kerajaan An kepada Zen.


"Nama hamba Zen, Yang Mulia" ucap Zen.


"Zen! Kau Pangeran ketiga Kerajaan Lian! Apa yang kau rencanakan di sini!" teriak Kaisar Kerajaan An.


"Ayahanda, aku yang membawanya kemari" ucap Alex.


"Kau tahukan, jika dia adalah Pangeran Kerajaan Lian!" ucap Kaisar Kerajaan An kepada Alex.


"Aku tahu Yang Mulia, aku akan bertanggung jawab jika dia mencoba untuk menyerang Kerajaan Lian" ucap Alex.


"Kau masih keras kepala seperti dulu" ucap Kaisar Kerajaan An.


"Ayahanda, Jika aku tidak keras kepala, aku tidak akan mencapai apa yang aku dapatkan saat ini" ucap Alex.


Kaisar Kerajaan An hanya melihat ke arah Alex.


"Baiklah, aku pegang kata-katamu, Putraku. Dan ada yang ingin aku tanyakan padamu" ucap Kaisar Kerajaan An.


"Apa yang ingin ayahanda tanyakan" ucap Alex.


"Ini tentang Putri Kasim Lan, Lan Shian. Kau bisa menyembuhkan racun di dalam tubuhnya, tapi racun itu belum ada penawarannya sama sekali" ucap Kaisar Kerajaan An.


"Ayahanda, sebenarnya aku tidak menghilangkan racun dari tubuh Putri Kasim Lan, tapi aku menyerapnya ke dalam tubuhku, jadi sekarang racun itu ada di dalam tubuhku" ucap Alex.


"Apa? Kenapa kau melakukan itu, itu sangat berbahaya!" ucap Kaisar Kerajaan An.


"Aku mengetahuinya, tapi jika tidak melakukannya, maka Putri Kasim Lan akan tiada, dan aku bisa menghambat penyebaran racunnya menggunakan energi di dalam tubuhku, jadi tidak akan terjadi apa-apa"ucap Alex.


"Tapi tetap saja, bagaimana jika terjadi sesuatu padamu" ucap Kaisar Kerajaan An.


"Ayahanda tidak perlu khawatir, yang harus dikhawatirkan sekarang adalah kondisi Ibunda Ratu" ucap Alex.


"Ha~, kau benar, kondisinya semakin buruk, aku tidak tahu apa yang harus dilakukan lagi" ucap Kaisar Kerajaan An.


"Ayahanda, bagaimana jika aku mencoba mengobati Ibunda Ratu" ucap Alex.


"Apa benar-benar bisa?" tanya Kaisar Kerajaan An.


"Jika tidak dicoba, maka tidak akan tahu" ucap Alex.


"Baiklah, kau bisa pergi menemuinya sekarang, aku akan menyuaulmu, karena banyak hal yang harus aku lakukan terlebih dahulu" ucap Kaisar Kerajaan An.


"Baik, ayahanda" ucap Alex, kemudian pergi menuju kamar Ratu Kerajaan An.


Di dalam perjalanan, Alex hanya menatap lurus ke depan.


"Alex, sebaiknya kau melihat-lihat pemandangan di Istana ini…" ucap Zen.


"Ini hanya permainan, Zen…" ucap Alex.


"Tapi, ini memang terlihat nyata" lanjut Alex.


Tiba-tiba Zen menggores tangan Alex, dan darah terlihat keluar dari luka itu.


"Apa yang kau rasakan?" tanya Zen.


"Ini sakit" ucap Alex dengan wajah datarnya.


"Kau bilang sakit, tapi kenapa memasang wajah datar milikmu?" tanya Zen, menatap Alex dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Memangnya apa yang harus aku perlihatkan? Wajah kesakitan ku?" tanya Alex masih menatap datar ke arah Zen.


Alex kemudian menyembuhkan lukanya, dan meneruskan langkahnya menuju tempat Ratu Kerajaan An.