I Became A Villain In A Novel

I Became A Villain In A Novel
Delapan puluh tujuh



Puing-puing runtuh ini benar-benar menghalangiku untuk melihat situasi yang ada, Genikos White juga tidak bisa di hubungi, sialan! Kenapa situasi menjadi kacau begini?


Ledakan-ledakan yang terus-menerus tanpa henti, mayat yang mengering dan di makan burung pemakai bangkai, ini sangat mengerikan!


Lagi pula dimana pertarungan itu? Mengapa sangat jauh, aku harus segera kembali pada Liona! Aku tahu lokasi ku saat ini sangat jauh dengan pertempuran, namun tetap saja aku harus melihatnya agar bisa pergi membawa Liona!


"Jangan kesana! Kembalilah seperti perintah Genikos White." Seseorang menarik ujung celanaku, pria itu masih hidup walau setengah tubuhnya terhimpit puing-puing.


"Aku akan membantumu!" Ujarku berniat mengangkat puing-puing yang menimpanya, namun dia menggelengkan kepalanya dengan lemah.


"Uhukk, jangan! Aku tahu kondisi tubuhku tidak memungkinkan, setengahnya sudah tidak berfungsi lagi, jadi kembalilah pada wanitamu, uhuk-" Dia memuntahkan darah dengan mata yang hampir terpejam.


Meskipun bertentangan dengan hati nuraniku, aku memang harus meninggalkannya! Benar, pria ini dalam kondisi yang tidak memungkinkan, dan dia juga sepertinya sudah putus asa dengan hidupnya.


"Aku mengerti." Aku bangkit dan berniat kembali pada Liona, meskipun pertarungannya lumayan jauh dari lokasiku, tetap saja efeknya sangat besar!


Duarr


Ada serangan pada tembok yang berada di dekatku, jika aku tidak menghindar kemungkinan kondisiku akan sama seperti pria yang sedang terbaring lemah itu!


Tidak, aku harus kembali pada Liona! Wanita itu pasti sedang menungguku saat ini.


"Menyingkir!" Aku merasa tubuhku melayang agak jauh dari sana, saat aku melihat ke arah belakang pria itu tersenyum dengan kekuatan sihir yang tersisa di tangan kanannya.


Tembok itu runtuh, pria yang menyelamatkanku benar-benar terkubur dalam puing-puing, aku terdiam kaku karena shock.


Tidak menyadari kalau tembok yang lainnya juga mulai runtuh satu persatu, untung saja aku hanya mengalami luka goresan di tangan akibat besi-besi yang menopang.


Aku memberikan penghormatan terakhir untuk pria itu, semoga arwahnya tenang dan dia bisa bereinkarnasi menjadi seorang yang bahagia.


***


"Liona!"


Aku melihat ke arah Sean, penampilannya seperti pengemis, pakaian compang-camping dan tubuh penuh dengan luka goresan kecil.


Apalagi lengannya yang berdarah cukup banyak, aku menghampirinya dengan khawatir. "Kau kenapa?" Tanyaku sambil melihat ke arah lukanya.


Dia menceritakan apa yang terjadi, katanya dia belum bisa melihat situasi pertarungan karena lokasi yang cukup jauh, namun bisa di pastikan kalau pertarungan ini sangat sengit seperti perang!


Jika di ingat lagi, dunia ini di pimpin dengan pemerintahan monarki, sering ada perebutan kekuasaan, tanah dan harapan saling menundukkan antar negara.


Memang pada dasarnya manusia tidak bisa puas dengan apa yang mereka miliki, di zaman modern juga sama, mereka berperang dalam ekonomi dan bisnis, atau merebutkan wilayah kekuasaan sama saja sebenarnya.


"Kenapa kau tidak melindungi tubuhmu sendiri bodoh? Sudah ku bilang untuk berhati-hati!" Ujarku sambil membersihkan darahnya, dia hanya tersenyum sambil memandangiku.


"Aku tidak bisa."


"Kenapa?"


"Jika aku menggunakan kekuatanku, mereka yang sedang berperang akan merasakan jejakku, kemungkinan besar aku akan menjadi incaran dan kau akan dalam bahaya."


"..." Kenapa kau sangat egois?


Namun tentu saja Sean tidak salah! Aku mengerti dia khawatir padaku, dan dia hanya memikirkan kesalamatannya dan keselamatanku.


Untungnya lukanya tidak terlalu dalam, dan itu sembuh hanya dalam beberapa menit saja, aku menyuruhnya mengganti pakaian gembelnya dengan yang baru, untung saja disini ada persediaan jubah putih.


"Aku lelah." Sean membaringkan kepalanya di pangkuanku, sebenarnya harusnya kami tidak santai-santai begini.


Namun apa boleh buat, disini ada penghalang yang menghalangi kita untuk berteleportasi, lagipula suara ledakan di atas teredam saat berada di bawah tanah.


Dan sepertinya di bawah tanah mengandung perlindungan sihir yang sangat kuat, bahkan goncangan dari ledakan tidak terasa disini, padahal kata Sean ledakannya sangat luar biasa meskipun dalam lokasi yang jauh.


Aku melirik Sean yang tatapannya melihatku dengan terkantuk-kantuk, aku mengusap kepalanya perlahan, "Tidur saja jika ada sesuatu aku akan membangunkanmu."


Setelah pria besar ini tertidur, aku membaca lagi buku yang tadi sempat tertunda, aku membacanya terus-menerus sambil tersenyum-senyum sendiri.


Ternyata pria itu sangat romantis, dan aku hampir membacanya sampai halaman terakhir, aku bahkan belum mengetahui siapa nama pria atau yang menulis buku ini.


Fyi: ini maksudnya hari ya, jadi kayak hari ke-697.


697 Evegenez


Hari ini adalah hari yang membahagiakan, akhirnya aku mengandung anak pertamaku dengannya, dia sangat bahagia ketika aku mengatakan kalau dia akan menjadi seorang ayah.


Dia menangis tersedu-sedu dan memelukku, rasanya sangat bahagia saat melihatnya seperti ini, Namun mungkin aku akan sangat jarang menulis lagi, karena aku harus menjaga kandunganku.


Tahun 1023


Aku lupa ini hari ke berapa, namun aku sangat bahagia ketika tahu bahwa anakku akan segera lahir, suamiku menjadi lebih waspada dan siaga, perutku menjadi sering berkontraksi.


Aku juga lebih sering merasakan tendangan kecil dari bayi yang ada di dalam perutku, dia sangat aktif bahkan suamiku benar-benar menantikannya.


Tahun 1025


Sedih sekali, bahkan aku hanya bisa merawat anak-anakku hanya sampai mereka berusia dua tahun, aku tidak bisa mengatakannya pada suamiku.


Energiku terkuras habis saat mengandung anak ini, iya benar aku mengandung lagi! Namun ku pikir ini harus perempuan, karena sihir dan energi benar-benar terus berkurang.


Aku baru menemukan sesuatu yang membuatku menderita, ternyata aku memang tidak bisa menikah dengan suamiku, takdirku sebenarnya sudah di putuskan, hanya saja aku memotong talinya.


Jika aku menikah dengan orang yang bukan seseorang yang di pilih pendeta, lalu melahirkan anak perempuan, mau tidak mau aku harus menukarkan nyawaku dengan nyawa bayiku.


Untuk bayiku, aku akan melindungimu apapun yang terjadi, meskipun harus dengan menukar nyawaku, aku tidak menyesal karena telah mengandungmu!


Ku harap saat kau lahir nanti, kau akan menjadi anak paling bahagia, menjadi anak yang berbakti pada ayah dan kakakmu, maaf mungkin aku tidak akan bisa melihat wajahmu.


Aku tahu kematianku sendiri, jika suatu hari kamu menemukan ini, ketahuilah bahwa aku sangat menyayangimu.


Dan untuk suamiku, aku benar-benar tidak mau berpisah denganmu, hanya saja aku harus menyelamatkan bayiku.


Untuk terakhir kalinya Glisteria Aquila, aku mencintaimu Afstira enkyri Asteria.


Deg


Entah kenapa suasana begitu sesak, Afstira adalah nama ayahku dan Glisteria adalah nama ibuku, namun dari dulu aku selalu enggan menanyakan tentang ibu pada ayah.


Aku tidak tahu, namun aku menangis tanpaku sadari saat ini.