
Kami menyetujui rencana itu, aku, Elios, Luther dan juga Arthur akan pergi terlebih dahulu melindung 12 orang yang tidak bisa bertarung dan kereta perlengkapan kami, bersama dengan 5 orang dari pasukan Tiger.
Semua orang masuk kembali ke Border gate, Yeti masih menunggu disana, kami berjalan dengan pelan sambil menuntun kuda menjauh dari para Yeti.
Entah kenapa kudaku meskipun tidak ada yang menunggangi dia ikut keluar dari border gate untuk melindungi diri, mungkin insting hewan?
Ku lihat Sean dan pasukannya berhadapan dengan Yeti, sedangkan kami buru-buru pergi dari sana untuk tiba terlebih dahulu pada pemukiman warga.
Di perjalanan kami hanya melawan monster salju yang tidak terlalu berbahaya, aku menebas rubah salju yang mendekati orang-orang yang diam di tengah tanpa berkedip.
Darah berceceran membuat warna salju lebih kontras, rasanya lengket dan kumal, aku benar-benar ingin mandi!
"Sebentar lagi kita akan sampai di pemukiman warga, tidak apa-apa untuk menaiki kuda sekarang." Titah salah satu dari pasukan Tiger.
Aku melihat ke arah dimana aku berpisah dengan Sean, rasanya sedikit khawatir karena mungkin Yeti akan berbahaya, namun merasakan hubungan kontrak yang tidak apa-apa aku bisa menghela nafas lega.
"Kau ada hubungan apa dengan pemimpin pasukan Tiger?" Tanya Elios berbisik.
"Tidak ada." Jawabku dengan datar.
Kami sampai di pemukiman warga lebih dulu, mereka menyambut kami dengan baik, para Alchemist sebelumnya telah memberi antiseptik untuk antisipasi.
Matahari sudah mulai tenggelam, meninggalkan sunset yang indah, sudah lama rasanya tidak melihat pemandangan sunset di sore hari, jika di kehidupanku dulu, aku akan menyeduh coklat panas dan bermain gitar sambil menikmati sunset sampai cahaya kuningnya menghilang.
"Entah kenapa aku merindukan Mavros, padahal disana tidak ada kenangan yang membahagiakan." Gumam Elios yang masih bisa ku dengar.
"Yah mungkin karena itu tempat lahir kita." Balasku sambil memandang Elios.
Sudah lewat beberapa jam namun pasukan Tiger masih belum ada disini, aku sebenarnya sangat khawatir, namun merasakan hubungan kontrak dia yang baik-baik saja aku bisa menghela nafas lega.
Entahlah kenapa aku bersikap seperti ini, padahal aku hanya mengenalnya dalam beberapa hari.
"Itu mereka." Teriak seseorang, ku lihat Sean yang membawa satu kepala Yeti tersenyum ke arahku, syukurlah kalau dia tidak terluka.
Semua orang mengerubungi Sean dan yang lainnya, aku, Elios, Luther dan Arthur hanya menatap dari belakang.
"Wow komandan, kau terlalu kuat untuk bisa mengalahkan Yeti." Ujar salah satu bahawan Sean.
"Itu karena aku dibantu oleh mereka, jika bukan karena mereka aku tidak bisa memenggal kepala yeti."
Semua orang menyambut dengan ceria dan helaan nafas lega, aku tidak ingin terpengaruh suasana yang entah kenapa membuatku bernostalgia.
"Aku akan mandi, sudah 10 hari tidak mandi rasanya tubuhku penuh dengan kotoran." Ujarku sambil mencium kedua ketiakku.
"Seorang lady tidak berperilaku seperti dirimu." Cibir Luther, aku menendang tulang keringnya dan dia mengutukku dengan penuh kebencian.
Aku hanya tertawa saja dan pamit, rasanya jika aku tidak mandi hari ini aku akan mati.
***
Kami hanya istirahat beberapa jam saja, dan langsung pergi dari pemukiman warga disana menuju daerah yang di isolasi.
Tidak terlalu jauh dan aku bisa melihat kuil yang sangat mirip dengan yang ada di mimpiku waktu itu.
Wilayah yang di isolasi ini lumayan luas, kami di tempatkan di rumah yang cukup besar dekat dengan bukit dan menara.
Tidak banyak waktu, malam itu aku langsung pergi ke salah satu rumah tempat orang-orang yang mengidap pneumonia berada.
Aku memakai sarung tangan karet dan juga masker hitam dari bahan kulit agar tidak terserang pneumonia.
"Ternyata hanya membaik sebagian." Ujarku sambil memeriksa pergelangan tangan salah satu pasien.
"Sebagian memang sudah membaik, namun sangat lama karena air minumnya yang mungkin telah terkontaminasi." Ujar seorang dokter yang mungkin sudah ada sejak lama.
"Apa? Bukannya di surat sudah di katakan bahwa tempat, makanan dan air harus bersih? Mengapa kalian memberikan air yang sudah terkontaminasi?" Tanyaku.
"Sumber air disini hanya ada satu, kami tidak ada pilihan lain." Dokter itu menjawab dengan rasa bersalah.
"Apakah tidak ada penyihir air?"
"Mereka meninggal menjadi abu, ada juga yang terjangit dan tidak bisa menggunakan banyak mana." Jelasnya sambil menatap orang-orang yang dirasa itu adalah penyihir air.
Aku menggunakan healer ku untuk orang-orang yang sudah lumayan sembuh agar mereka bisa membantu.
"Jelaskan pada pemimpin pasukan Tiger bahwa air disini bermasalah, menggunakan air dari penyihir air merupakan solusi sementara, kita harus memperbaiki kemurnian air sumur untuk jangka panjang." Titahku.
"Baik, kalau begitu saya permisi." Ujarnya.
Aku keluar dari sana, dokter, Alchemist dan juga Healer yang sudah senior mulai membagi beberapa tim.
Aku pun langsung beristirahat karena ini benar-benar melelahkan, di pikir lagi aku sangat emosi tadi, sialan diriku! Bagaimana bisa aku emosi demi kepuasan semata daripada menyelamatkan nyawaku.
Bisa saja aku yang memarahi dan berkata dingin pada Cecilia akan mengurangi waktuku hidup untuk segera di lenyapkan putra mahkota.
Dan sialnya lagi saat ini aku tidak berdaya dan hanya menatap kosong pada langit-langit.
Apalagi aku menyuruhnya berjalan tanpa menunggangi kuda, memang antara keegoisan dan kebodohan hanya berbeda tipis.
"Kau sudah mau istirahat?" Tanya Sean yang tiba-tiba berada di depanku, aku terkejut bagaimana kalau saat itu aku sedang berganti pakaian?
"Sialan kamu! Bagaimana jika tadi aku sedang mengganti pakaian atau berurusan dengan hal yang menyangkut perempuan?" Aku memelototi Sean dan menginjak kakinya.
"Aku hanya tinggal bertanggung jawab saja, datang ke rumah duke untuk melamar." Balasnya dengan nada menggoda.
Ku pikir dia punya kepribadian ganda! Terkadang dia akan melawak walaupun tidak lucu, kadang dia akan serius sampai tingkat menyeramkan atau terkadang akan menjadi orang yang sangat cuek.
"Apakah kau punya sejenis gangguan kejiwaan? Seperti DID?" Tanyaku dengan serius, dia memiringkan kepalanya dan menatapku.
"Apa itu DID?"
"Dissociative identity disorder, atau bisa di sebut orang yang memiliki lebih dari satu kepribadian." Jelasku dengan serius.
"..."
Aku masih memandangnya yang saat ini raut mukanya berubah menjadi hitam karena kesal.
"Aku hanya mempunyai satu kepribadian, hanya satu!" Katanya sambil menekankan kata satu.
Terkadang Sean sangat kekanak-kanakan, entah kenapa aku bisa menyimpulkannya begitu, bisa di bilang saat sedang berdua bersamaku sifatnya sangat berubah, ya meskipun ada saatnya dia serius namun kebanyakan dia akan bersikap seperti ini.
Rasanya cukup nyaman, dia juga berbicara informal padaku, dan karena hubungan kontrak mungkin perasaan ku menjadi jauh lebih akrab.
"Besok kami akan melihat sumur yang ada disini, airnya lumayan aneh." Katanya tiba-tiba sambil menidurkan kepalanya di pangkuanku.
"Yah, itu memang harus di cek! Airnya sudah benar-benar terkontaminasi dan ada semacam bau aneh." Ujarku menyisir rambutnya yang lembut.
Jangan lupa like ya gaiseu, untuk mendukung Thor biar lebih semangat dan buat ceritanya jadi lebih menarik, terimakasih♥️