I Became A Villain In A Novel

I Became A Villain In A Novel
Tiga puluh empat



Saat ini mereka telah berada di ibukota kekaisaran Ravnos, semua orang berpikir jika penguasa Ravnos adalah orang yang adil dan juga bijaksana, terlihat dari damai dan makmurnya ibukota.


"Sangat damai disini, suasananya juga nyaman dan orang-orang terlihat ramah tanpa membedakan status." Cecilia tersenyum dengan tulus.


Terkadang Liona berpikir, kalau Cecilia adalah orang yang mempunyai sisi tulus yang besar, namun kenapa dia munafik?


"Selamat datang di kekaisaran Ravnos." Seorang jendral besar dengan pakaian zirah berwarna perak tampak gagah.


Dia mempersilahkan pasukan berkuda itu masuk melewati gerbang kekaisaran, terlihat istana megah berwarna putih khas bangunan romawi kuno yang cantik.


Turun dari kuda, mereka di arahkan menuju ruang peristirahatan sebelum bertemu dengan kaisar Ravnos, semua orang terlihat sangat antusias.


"Benar-benar bergaya kuno, suasananya sangat damai dan sejuk." Luther tidak bisa tidak berdecak kagum melihat interior yang sangat indah.


Temboknya di ukir dengan cantik, ada lukisan dewa gaia, uranus, athanatos, ares, athena, zeus, ada juga lukisan perang melawan Golem dan Troll.


"Ada golem juga?" Tanya Liona.


"Iya, dalam sejarah kekaisaran Ravnos, para nenek moyang dan kaisar terdahulu pernah melawan Golem dan juga Troll." Sean menjelaskan.


"Bukannya Golem terbuat dari tanah atau batu yang di hidupkan?" Liona menatap Sean dan mengangkat kedua alisnya.


"Benar, dalam sejarah tercatat, orang-orang yang membuat Golem adalah pasukan tidak bernama, mereka menyerang kekaisaran secara acak entah dengan tujuan apa, namun karena Ravnos lebih kuat perang itu di menangkan oleh kami, meskipun jumlah kerugiannya sangat besar."


"Ini juga tercatat di dalam buku rahasia keluargaku, dikatakan bahwa pasukan tanpa nama ini sering melakukan hal gila hanya karena mereka bosan." Luther mengernyit dan menggeleng-gelengkan kepala tanpa bisa berkata-kata.


"Hanya karena bosan?"


"Itu benar, mereka menyerang kekaisaran atau rakyat tanpa alasan, mereka hanya bosan."


Liona tidak bisa berkata-kata, dengan alasan bosan mereka membunuh orang-orang tidak bersalah?


Jendral besar menyuruh mereka untuk beristirahat sebentar, dia akan menjemput mereka nanti untuk bertemu kaisar, tidak ada bantahan dan mereka hanya menurut.


***


Setelah kami beristirahat, jendral besar menjemput kami, entah kenapa aku sangat gugup, rasanya seperti akan bertemu dengan calon mertua.


Kedatangan kami di umumkan oleh penjaga pintu, setelah kaisar mempersilahkan masuk, kami dengan hormat memberi salam.


"Bangun."


Terlihat seorang pria paruh baya yang sangat tampan, wajahnya 2 point lebih mirip dengan Sean, kaisar memandang Sean dengan kelembutan.


Meskipun pangeran ke-empat tidak di kenal, namun dia adalah anak kesayangan kaisar.


"Semoga panjang umur untuk matahari kekaisaran." Salam kita serempak.


Kaisar mengangguk dan menyuruh kami untuk duduk di tempat yang sudah di sediakan.


"Saya sebagai kaisar Ravnos berterimakasih kepada kalian semua yang sudah menjadi sukarelawan untuk Ravnos."


Untuk rasa terimakasih Kaisar Erros William Ravnos memberikan masing-masing dari kami hadiah yang sangat berharga.


Itu adalah potongan permata lazuardi yang sangat langka, warna birunya yang indah memancarkan kilau cantik dan di penuhi dengan sihir, semua orang berterimakasih atas hadiah yang murah itu.


Kaisar Erros berkata bahwa lapis lazuli tidak terlalu penting karena dia punya banyak, rasanya hatiku berdarah tanpa alasan.


Pertemuan kami dengan kaisar hanya memerlukan waktu sebentar, karena dia kaisar yang sangat sibuk!


Elios, Luther dan Arthur mengajakku untuk berkeliling dan melihat bagian-bagian istana.


"A-apakah aku boleh ikut dengan kalian?" Cecilia tiba-tiba datang dan menghampiri kami, Luther dan Elios sudah berwajah dingin.


"Kenapa kau harus pergi bersama kami? Memangnya kau pikir kami akan bersedia di ikuti olehmu?" Ujar Arthur dengan sinis.


Dia benar-benar berbeda dari biasanya! Aku pernah mengeceknya, Cecilia tidak di kendalikan namun sifatnya sering berubah-ubah, seperti sekarang ini dia terlihat lebih jujur, itu membuat kami semua merasa ragu.


"Tidak!" Arthur langsung menolak dengan tegas, membuat Cecilia terkejut dengan mata yang berkaca-kaca.


"Maaf, maafkan aku! Aku tidak akan menggangu kalian lagi, aku, aku benar-benar minta maaf." Cecilia berlari dengan malu.


Kami saling pandang merasa bahwa mungkin Cecilia mempunyai kepribadian ganda, terkadang terlihat tulus terkadang benar-benar terlihat palsu.


Waktu itu dia juga meminta pertolongan dengan nada yang terdengar putus asa, aku benar-benar tidak mengerti ada apa dengan Cecilia.


Kami tidak mempedulikan dia lagi dan berkeliling dengan antusias, Sean di panggil oleh kaisar, entah untuk apa namun aku tidak peduli.


"Ruangan ini terlihat suram." Luther menunjuk salah satu ruangan yang tidak ada penjaganya, di lorong ini tidak ada orang sama sekali.


"Apakah kita harus masuk?"


"Bolehkah?"


"Bukannya tidak sopan?"


Argumen itu berhenti, dan kami semua memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan yang sangat suram karena penasaran.


Rasanya seperti uji nyali, bagaimana jika ruangan ini adalah tempat terlarang, atau bagaimana jika ruangan ini adalah tempat pribadi kaisar?


Namun karena penasaran, kami tidak mempedulikan itu dan masuk ke dalam ruangan yang tampak suram.


Ruangannya sangat gelap, dan ada suara geraman rendah yang samar, pintu tertutup dengan sendirinya.


Kami berjalan dengan berhati-hati, sampai pada sebuah kandang hitam yang besar dengan pola segel yang sangat kuat.


Tekanannya sangat berat, nafasku rasanya sesak, aku melihat ke arah Elios, Luther dan Arthur yang membungkuk karena lelah.


"Apa kita keluar saja?" Aku bertanya setelah melihat mereka yang lelah.


"Tidak, kita sudah ada disini." Luther menjawab dan mengelap keringat di dahinya.


Kami melihat kandang itu dengan hati-hati, cahaya yang awalnya redup menyala dengan samar, terlihat makhluk mitologi yang di segel sedang memperhatikan kami.


"Khimera?" Gumamku terkejut.


Elios, Luther dan Arthur menatapku, Khimera salah satu makhluk mitologi Yunani yang bertubuh campuran singa, kambing dan ular.


Kenapa makhluk mitologi ada disini? Apalagi ini di segel?


"Siapa kalian?" Tanyanya dengan suara yang lemah, kami tidak menjawab dan hanya menatapnya dengan terkejut.


"Kenapa kalian bisa ada disini?" Tanyanya lagi.


"Kami adalah tamu yang sedang berjalan-jalan di Ravnos, lalu melihat ruangan ini, karena penasaran kami masuk dan bertemu denganmu." Aku menjelaskan dengan singkat, dia terdiam.


"Kalau begitu kembalilah!" Ujarnya dengan suara yang rendah.


"Kenapa kau di segel?"


"Bukan urusanmu, akan lebih baik jika kau tidak mengetahuinya, aku tidak ingin membahayakan orang yang tidak bersalah."


Sebenarnya aku ingin terus disana dan bertanya banyak hal, namun dia benar, semakin aku mengetahui sesuatu semakin banyak bahaya yang mengancam nyawaku.


Luther mengajak kami untuk keluar, katanya tidak baik ikut campur dalam urusan negara orang lain.


Aku melihatnya sekali lagi, dia terlihat tersenyum, ah apakah itu hanya halusinasiku?