I Became A Villain In A Novel

I Became A Villain In A Novel
Empat puluh Empat



"Liona, sudah lama tidak bertemu."


Aku membuka mataku, melihat Falaina yang mengambang di angkasa dengan bebas, aku mengernyit karena tidak tahu alasan kenapa Falaina memanggilku.


"Kau bingung?" Suaranya yang magnetis menenangkanku, aku mengangguk dan duduk di atas rumput.


"Sudah lama tidak bertemu Liona, apa kabarmu selama ini?" Tanya Falaina lembut.


"Aku baik-baik saja selama ini, ada apa?" Aku menatap Falaina meminta penjelasan.


"Ether di kota empty sangat kotor, tumbuhan mati karena ether yang tidak bersih, kau bisa mensucikannya." Jelas Falaina.


Ether memang mempengaruhi energi di bumi, karena kota empty adalah kota yang sangat kosong, disana mungkin penuh dengan hawa aneh karena tidak di tempati.


"Baik, aku akan mencoba memurnikan Ether, lalu apakah ada hal lain yang ingin coba kau sampaikan?" Tanyaku menatap Falaina.


Dia tersenyum seolah mengatakan kalau aku ini sangat peka, tentu saja tidak mungkin dia memanggilku sembarangan dengan alasan rindu bukan?


"Benar, aku merasakan hawa syaitan disana, berhati-hatilah! Meskipun kekuatan syaitan lebih rendah dari bangsa iblis, namun ilusi dan kemampuan merasukinya luar biasa." Peringat Falaina.


Aku sudah memikirkan ini jauh-jauh hari, pasti serangan kerasukan tidak hanya di dekat pegunungan Xeros saja.


"Apakah ada cara untuk mengalahkan syaitan?" Tanyaku setelah berpikir cukup lama, aku sudah merasa sesak karena ether di tempat Falaina yang begitu bersih.


"Yah karena syaitan berbentuk seperti roh, mengalahkannya memang cukup rumit, kamu hanya perlu banisher dan kekuatan cahaya, serta membaca mantra kuno agar syaitan tidak bangkit kembali."


Dalam Alkitab, syaitan adalah makhluk kegelapan yang susah sekali mati, ibaratnya syaitan-syaitan yang berterbangan hanyalah bayangan tubuh utama.


Jadi meskipun syaitan terbunuh, itu akan hidup lagi jika yang di bunuh bukanlah tubuh utama, ini mirip dengan kloning tetapi juga berbeda.


"Mantra kuno seperti apa itu?"


"επιστρέψτε στην κόλαση και μην επιστρέψεις ποτέ, ingat artinya adalah kembali ke neraka dan jangan pernah kembali, ucapkan beserta artinya!"


"Baik." Aku mengangguk, Falaina mengirimku kembali, wajahku mungkin pucat karena terlalu lama berada di dalam ether Falaina.


Aku terbangun melihat raut wajah Alex, Xavier, Elios, Luther dan Arthur yang tidak baik.


"Kenapa?" Tanyaku, tenda kami memang besar, jadi Elios, Luther dan Arthur numpang di tenda kami karena tidak mau repot.


"Putra mahkota menunda jadwal keberangkatan dengan alasan Cecilia kelelahan dan butuh istirahat, ini benar-benar tidak seperti dirinya yang disiplin dan tidak membuang-buang waktu." Xavier mengernyit sebal.


Aku melongo tak percaya, memang dalam novel di sebutkan kalau Cecilia adalah prioritas utama putra mahkota, namun tidak ku sangka akan seekstrim ini.


"Jalang itu ingin menghambat kita, dasar tidak tahu malu." Arthur dengan sinis dan penampilan jijik mengumpat.


Aku hanya tersenyum tak berdaya dan para pria mengangguk membenarkan Arthur.


***


"Chris, mungkin semua orang tidak setuju kamu membuang waktu begini, kita berangkat saja, aku akan di benci nanti." Cecilia bergelayut di tangan Putra mahkota.


"Siapa yang berani membencimu? Aku akan membunuhnya untukmu! Jadi jangan terlalu khawatir dan istirahat saja." Ujar putra mahkota yang linglung.


Setelah putra mahkota keluar dia meminta Prasina datang, meminta semangkuk kecil dari darahnya.


Tidak banyak di ketahui kalau darah keturunan Poly adalah sumber yang ajaib, itu sangat tertutup rapat, bahkan pria itu saja tidak tahu.


Cecilia tahu kalau darah Prasina adalah sumber yang sangat ajaib, jadi dia terus meminta semangkuk darah untuk di ritualkan dan mempersembahkannya pada iblis.


"Apakah ilusi mu sangat kuat, sampai kapan putra mahkota akan selalu berada dalam ilusi?" Cecilia mengeryit, dia khawatir kalau efeknya bekerja cepat.


"Tentu saja, asalkan setiap bulan kau memberikan darah makhluk itu, dan menyerap sedikit vitalitasmu." Asap itu menjelaskan dengan santai.


Memang ini adalah konsekuensinya, jika Asap hitam terus menerus menyerap vitalitas Cecilia kemungkinan Cecilia akan lebih cepat tua dan kemungkinan yang terburuk adalah mati sebagai tulang kering.


Putra mahkota yang merasakan energi pekat dari kamar Cecilia mengeryit, meskipun dia di bayangi ilusi, namun jiwanya tidak terlalu di pengaruhi.


"Ada apa denganku?" Putra mahkota memegangi kepalanya dan bergegas menuju tenda Liona.


"Nona, bisakah kamu memeriksaku? Aku tidak tahu kenapa kepalaku pusing, dan aku tidak ingat apa yang terjadi." Putra mahkota tanpa permisi memasuki tenda.


Liona menyuruhnya duduk dan memberikan secangkir teh, semua orang yang ada disana saling berpandangan, menatap heran pada putra mahkota.


"Baik yang mulia." Karena Liona ingin membantu Putra mahkota, dia tidak banyak bicara.


Memegang denyut nadinya, energi Liona memasuki tubuh putra mahkota, benar saja dia ada dalam bayangan ilusi.


Saat akan memecahkan ilusi, energi yang besar menghantam tubuh Liona, Liona mundur dan memuntahkan seteguk darah merah.


Putra mahkota yang melihat itu hanya mengernyit dan pergi begitu saja, berniat menuju tenda Cecilia.


Uhuk uhuk


"Adik apakah kau tidak apa-apa?" Tanya Alex khawatir, Liona mengangguk dan berkata kalau dia baik-baik saja.


Serangan energi hitam sangat kuat, dan itu melukai jantungnya, untungnya ada tenebris yang memurnikan energi hitam itu menjadi energi Liona.


Keadaan tubuh Liona yang asalnya pucat pun sudah membaik sedikit demi sedikit.


"Hati-hati, tadi ada yang ingin memecahkan ilusiku, jangan biarkan putra mahkota dekat dengan siapapun, terus goda!" Asap hitam mengeryit.


Saat akan memperkuat ilusi, dia merasakan energi asing yang sangat suci masuk, namun karena pengguna tidak punya pengalaman dia bisa memukul balik dengan mudah.


Jika pengguna sudah ahli, maka putra mahkota akan segera terlepas dari ilusi dan Asap hitam itu mungkin akan segera menghilang dan menghadapi raja neraka.


"Siapa?" Cecilia menatap tajam dengan marah, dia berpikir kalau orang itu ingin mengacaukan rencananya, tidak ada pikiran kalau itu Liona, baginya Liona sangat lemah.


"Aku tidak tahu, di tubuhnya ada penghalang, kamu harus berhati-hati." Peringat Asap hitam itu kemudian menghilang setelah meminum darah Prasina.


Cecilia meraih benda yang ada di dekatnya dan melemparkannya dengan kejam, penampilannya yang biasanya lembut berubah menjadi mengerikan, bahkan Prasina yang masih ada di sana ketakutan.


"Jangan berkhianat padaku, atau kau akan benar-benar menyesalinya!" Desis Cecilia menatap tajam pada Prasina yang bergetar ketakutan.


"Baik, aku bersumpah aku tidak akan berkhianat." Ujar Prasina, dia merasa kalau Cecilia lebih menakutkan di bandingkan Liona.


Cecilia mempunyai semacam energi aneh yang menekan tubuhnya, jadi dia tidak berani menolak meskipun sangat menderita.


Sungguh kasihan, terkadang Prasina merasa menyesal karena sudah berkhianat pada Liona.


Karena ingin berguna di sisi Cecilia, Prasina membocorkan rahasianya, dia sudah tahu kalau Cecilia adalah seorang sage dari awal.


Prasina kira dia akan mendapat keuntungan, namun akhirnya hanya kerugian yang mengancam nyawanya, menyesal pun sudah terlambat.


Kalau dia tidak menurut, keluarga dan dirinya sendiri yang akan jadi taruhan, sungguh menyedihkan!