I Became A Villain In A Novel

I Became A Villain In A Novel
Empat puluh enam



Perlombaan di awali dengan pertandingan antara akademi Elefantas dan akademi Ravnos, festival akan diadakan di malam hari sedangkan perlombaan pada siang hari.


"Aku akan mengalahkanmu!" Teriak Aaron dari akademi Elefantas.


"Majulah." Robert, dari akademi Ravnos menjawab dengan santai.


Meskipun terlihat sengit, namun bisa di lihat kalau pertandingan itu di kuasai oleh Robert dari akademi Ravnos.


Perlombaan di bagi menjadi empat bagian, yaitu bagian pertarungan senjata, alkimia, menjinakkan monster atau pertandingan khusus banisher dan pertarungan sihir.


Diadakan dalam satu waktu, nomor urut Liona dalam pertarungan senjata yaitu 15 sedangkan dalam Alkimia 22.


Alkimia bisa dalam healer ataupun kedokteran, jadi Liona cukup santai saat ini.


Aaron membuat panah dari api, kecepatannya sangat luar biasa, sedangkan Robert membuat perisai untuk menghalau panah api.


"Kemampuan perisainya Robert hampir mendekati sempurna, dan panah api dari Aaron sangat kuat." Komentar Xavier.


"Sulit untuk menentukan keduanya, tapi mungkin yang berpotensi untuk menang adalah Aaron."


"Menurutku, Robert belum mengeluarkan semua kemampuannya jadi belum bisa di tentukan, lagipula celah dalam perisai Robert hampir sulit untuk di lihat."


"Benar-benar pertandingan seru, kekuatan mereka sama, tadi saja Aaron sempat terpojok sekarang sudah bisa mengimbangi."


Diskusi yang terdengar semakin ramai, bahkan ada yang membuat taruhan, apakah Aaron dari Elefantas yang akan menang atau Robert dari Ravnos?


"Menurutmu siapa yang akan menang?" Elios berbisik kepada Liona yang fokus memperhatikan pertarungan sambil mempelajarinya.


"Dari kekuatan memang Robert lebih unggul, namun dalam kecerdasan dan strategi, milik Aaron sangat luar biasa, jadi ku pikir mungkin Aaron yang akan jadi pemenang."


"Kau benar, meskipun kekuatan kita sangat luar biasa, tapi jika tidak memiliki strategi dan rencana yang matang maka itu akan sia-sia saja."


Robert di pukul telak, meskipun tidak terlalu parah namun menimbulkan sedikit luka pada perutnya.


Meskipun celahnya hampir tidak terlihat, namun pengendalian sihir api dari Aaron juga tidak kalah hebat.


"Apakah orang-orang dari elefantas memang sekuat ini?" Tanya Liona setelah mengamati pergerakan Aaron.


"Awalnya Elefantas adalah yang paling lemah dari empat kekaisaran, namun setelah putra mahkota Alston Colvin Elefantas menjadi kaisar, elefantas mengalami kemajuan."


"Oh berarti dia kaisar yang bijaksana dan kuat."


"Tentu, namun tidak ada yang mengetahui wajahnya, dikatakan kaisar Alston adalah yang paling muda dalam sejarah Elefantas, dan dia tidak punya permaisuri atau selir." Jelas Elios.


Memang serikat informasi selalu memberikan detail yang memuaskan, melihat pertarungan lagi, Robert mulai terpojok.


Peraturan dalam pertarungan adalah, keluar dari arena di nyatakan kalah, lalu jika terjatuh dalam hitungan sepuluh tidak bangun maka di nyatakan gugur.


"Aku tidak menyangka ternyata kau seorang sage." Ujar Erick, Liona yang sedang fokus melihat ke arah suara yang tampak akrab.


Erick Chamagela!


Mereka lebih dekat dari yang Liona bayangkan, seperti sudah mengenal sejak lama tanpa di ketahui olehnya.


Dalam Novel, Cecilia dan Erick pertama kali bertemu saat masuk Akademi, namun karena tidak ada kejadian khusus dan alur sempat berantakan jadi Liona tidak terlalu memikirkannya.


"Maaf aku tidak bisa memberitahu anda tuan Erick, identitas seorang sage harus di rahasiakan sebelum di umumkan."


Erick dan Cecilia mengobrol sangat akrab membuat putra mahkota yang berada di samping Cecilia merasa tidak nyaman.


Memang tontonan yang seru, namun Liona tidak ingin mengurusi!


"Bolehkah aku duduk disini?" Suara yang dalam membuat Liona dan yang lainnya melirik ke satu arah.


Seorang pria bersurai pirang dengan garis wajah yang tegas, tersenyum pada mereka, Alex dan Xavier menatapnya tidak suka, si kembar itu mempunyai firasat buruk tentang pria itu, bisa di pastikan kalau dia ingin mendekati adiknya!


"Ya tentu saja ini terbuka untuk umum." Balas Liona dengan acuh tak acuh, para pria meliriknya sambil memelototinya, dasar tidak peka!


"Apa?" Liona dengan wajah polos tidak tahu kenapa mereka sepertinya tidak suka pada pria tampan itu.


Sean yang ada di sebrang Liona menatap tajam pada pria bersurai pirang, dia berpikir kalau Liona akan di rebut darinya!


"Liona, jangan dekat-dekat dengan pria lain, kau hanya milikku oke." Telepati Sean dengan nada agak merengek.


Liona memutar bola matanya malas dan tidak menjawab, melihat ke arah panggung yang sudah ganti pemain.


Dari pertarungan itu, yang jadi juara adalah Aaron dari Elefantas, pertarungan selanjutnya sangat membosankan karena perbedaan kekuatan sangat jelas.


"Hey, apakah aku boleh memperkenalkan diri?" Pria itu bersuara.


"Kalian bisa memanggilku Al."


Mereka semua menatapnya dengan aneh, mungkin karena namanya terdiri dari 2 suku huruf, dia sepertinya benar-benar tidak berniat berkenalan.


"Jika tidak ingin berkenalan jangan memperkenalkan diri." Cibir Arthur.


"Membosankan sekali, kenapa mereka tidak seru?" Tanya Xavier yang sedang menguap.


Asap hitam tiba-tiba memenuhi seluruh panggung, orang yang akan kalah tiba-tiba menjadi berenergi dan menyerang lawannya dengan brutal.


Semua orang mengernyit aneh, pria itu hampir kalah dan dia tidak melakukan apa-apa, namun kenapa energinya meningkat begitu drastis?


"Sial itu kerasukan!" Teriak seseorang.


Lapangan seketika menjadi ricuh, orang-orang mulai waspada, asap hitam terus menerus keluar dari dalam tanah.


Pria yang kerasukan menggigit leher lawannya, wah benar-benar seperti adegan Film zombie.


Dalam beberapa detik lawan yang telah di gigit, menjadi kerasukan seperti dia, orang-orang dari setiap menara suci dan banisher membaca mantra-mantra suci.


Memang asap hitam sedikit berkurang, namun setelah itu asap yang lebih besar kembali menyerang, ini membuat beberapa orang kewalahan dan tertelan asap hitam.


Ironisnya, mereka berubah menjadi tumpukan tulang, sangat mengerikan!


"Liona ayo pergi dari sini!" Alex menarik tangan Liona, Liona melihat ke arah Cecilia yang berdiri tenang sambil tersenyum.


Apakah itu perbuatannya? Namun bagaimana bisa, kenapa dia melakukan ini?


Liona berhenti, dia tidak akan lari, nyawa ratusan orang di pertaruhkan disini, dia harus membantu.


"Kakak, kita juga harus membantu, aku tidak ingin menjadi pengecut dan kabur."


Liona teringat mantra dari Falaina, dia harus mencobanya, Alex menatap tidak percaya pada adiknya, namun kemudian menghela nafas karena adiknya tidak akan mudah untuk di bujuk.


"Percayalah kak, aku punya cara!" Liona menggenggam tangan Alex untuk percaya padanya.


Alex mengangguk dan mengajak Liona ke suatu tempat yang sepi, seorang banisher yang sedang bertarung di seret oleh Liona.


"Hey kau apa-apaan?" Tanyanya sambil menghempaskan tangan Liona.


"Kau seorang banisher?"


"Ya tentu, aku harus bertarung tidak bisa melarikan diri jadi jangan menyeretku."


"Tunggu." Liona memegang kain bajunya, pria itu berbalik dengan raut wajah yang seakan mengatakan, apa?


"Aku punya cara untuk mengatasinya, namun aku butuh seorang banisher." Pria itu menatap Liona dengan tidak percaya.


"Percayalah!" Akhirnya pria itu mengangguk dan pergi bersama Liona ke tempat yang cukup sepi.


Alex mengawasi Liona dan pria Banisher itu, Liona mulai membaca mantra yang di berikan oleh Falaina, sedangkan Banisher membantunya di samping.


"επιστρέψτε στην κόλαση και μην επιστρέψεις ποτέ, kembali ke neraka dan jangan pernah kembali." Liona terus membaca mantra itu berulang-ulang.


Tidak menyadari asap hitam atau syaitan itu kepanasan, mereka mencari sumber yang membuat syaitan menderita.


Para syaitan menatap Liona yang sedang berkomat-kamit dan di bantu dengan banisher.


Dengan marah, syaitan menyerang Liona menjadi gumpalan hitam yang pekat, Alex sangat panik dan banisher menjadi lebih fokus.


Syaitan merasuk ke dalam tubuh Liona. Liona jatuh pingsan membuat orang-orang khawatir.


Cecilia yang melihat itu menggertakan giginya karena kesal, dia bahagia karena ada syaitan namun rencana untuk memikat syaitan di gagalkan oleh wanita busuk Liona!


"Liona!"


"Liona! Kenapa kau tidak bangun."


Suara yang samar perlahan tidak terdengar oleh Liona, dia jatuh ke dalam kegelapan yang benar-benar gelap, membuat dadanya sangat sesak.


Tidak bisa berbicara, menangis, ataupun melihat, Liona terus meraba-raba kekosongan berharap akan menemui setitik cahaya.


"Nona."


"Te-te-neb-ris." Dengan susah payah Liona berbicara, dadanya sangat sesak dan dia kehausan, apakah akhirnya Liona akan mati?


"Jangan khawatir nona, murnikan para syaitan itu, aku akan membantumu disini."