I Became A Villain In A Novel

I Became A Villain In A Novel
Lima puluh dua



Setelah Liliyana mengatakan itu, Al menggendong Liona menjauh dari sana, untuk menghindari serangan para golem.


Di sisi lain para pasukan berjubah telah menunggu reaksi dari bubuk putih yang di taburkan Cecilia dan Prasina.


Sebenarnya mereka sudah lama meneliti hutan yang berada di kota empty, karena sangat jarang di masuki orang lain, dan juga mereka lebih sensitif terhadap energi kegelapan.


Mereka tahu kalau di hutan itu ada makhluk yang bahkan tidak bisa di bayangkan, jenis apanya itu tidak ada yang tahu karena tekanan energi gelapnya sangat kuat.


Mereka bisa mati atau mengeluarkan darah dari setiap lubang jika berjalan lebih jauh menuju tempat cerberus di tempatkan.


Para pasukan berjubah hitam pernah bereksperimen jika bubuk putih itu di taburkan dalam jumlah yang sedikit, selalu ada geraman kemarahan.


Sekarang saatnya mereka mencoba menaburkan dalam jumlah lebih banyak, namun tidak ada yang terjadi seolah-olah makhluk yang ada di hutan empty menghilang.


"Kenapa tidak ada reaksi sama sekali? Apakah kedua wanita itu menaburkan bubuknya dengan benar?" Pemimpin berjubah hitam mengernyit kesal.


"Saya memastikan kalau mereka telah menaburkan bubuknya dengan benar, mungkin ada masalah dengan makhluk yang ada di hutan empty."


"Bagaimana itu mungkin? Kita telah berdiam lama disini, bahkan mendirikan laboratorium untuk analisis, namun makhluk itu tidak pernah keluar dan hanya geraman rendah saja yang terdengar untuk memastikan kalau makhluk itu masih ada atau tidak."


"..."


Pasukan berjubah hitam kebingungan, ini tidak sesuai dengan rencana mereka, jika dewa tidak menghentikan waktu dan melalukan time loop, maka rencana mereka berhasil.


"Cerbe, bisakah kalian meruntuhkan para golem seperti saat pertama kali?" Tanya Liona menggunakan telepati.


"Tentu, namun kekuatan kami dalam wujud ini terbatas, kemungkinan setelah membuat para golem hancur kami akan tidur."


"Apakah tidak apa-apa?"


"Kau tenang saja, kami tidak akan mati atau terluka semudah itu."


Ketiga kepala cerberus mengaum dengan keras, tidak bisa di pastikan asal suaranya darimana, para pasukan berjubah hitam sangat bahagia.


Para golem yang sedang menyerang hancur, orang-orang berdiri dengan shock, sama seperti saat sebelumnya.


Namun sesuatu yang di tunggu-tunggu itu tidak kunjung hadir, tentu saja saat ini Cerberus sedang meringkuk di pelukan Liona tertidur!


"Suara makhluk apa itu?"


Tidak ada yang menjawab, di satu sisi Cecilia dan Prasina sangat panik, mereka di kendalikan oleh seseorang, sebenarnya jiwa mereka sadar, hanya saja tubuhnya seperti bukan miliknya.


Padahal Cecilia dan Prasina tidak mengenal orang-orang itu, namun orang-orang itu berhasil mengendalikan mereka berdua.


"Sial kita akan mundur!" Pemimpin berjubah menggertakan giginya, kemudian mundur bersama pasukannya.


Suasana menjadi sangat berantakan, banyak orang yang terluka, benar-benar malam yang sangat panjang.


***


Pagi hari yang sibuk...


Pertandingan di hentikan karena kejadian yang aneh selama beberapa hari berturut-turut, juara pertama dalam pertandingan ini adalah putra mahkota Christopher dan Cecilia.


Itu di lihat dari banyaknya poin kemenangan, karena hanya di jalankan setengahnya. Liona tidak menyangka mereka berdua akan menang dengan cara ini, memang seperti novel namun cara menangnya berbeda.


"Karena kejadian ini, kami memutuskan untuk menghentikan pertandingan sampai kota empty selesai di renovasi, saya sebagai ketua mohon maaf atas ketidaknyamanan ini."


Ketua penyelenggara terlihat sakit kepala, mungkin karena tanggung jawab insiden ini harus dia tanggung, wajahnya terlihat pucat dan kelelahan.


"Yah itu sudah tanggung jawabnya." Ujar Luther tiba-tiba.


"Apakah kita akan pulang? Padahal pertandingan baru berjalan setengahnya, namun tidak ku sangka banyak hal yang terjadi selama di kota empty." Arthur menghela nafas.


Cecilia tidak bertanggung jawab karena tidak adanya bukti dia telah melakukan sesuatu, namun hubungannya dengan putra mahkota menjadi semakin dekat.


Dia ingin menjadi kuat dan melindungi keluarganya, apalagi Liona baru saja mendengar ada orang-orang yang mengincar kotak pola naga Duke Asteria.


"Apakah hari ini kita akan pulang?" Liona menatap Elios yang sedang membenarkan tali sepatunya.


"Iya, tapi katanya harus terpisah. Entah apa yang di pikirkan akademi." Gumam Elios berdiri dan menepuk tangannya.


"Oh."


Tidak ada lagi percakapan di antara mereka, Liona fokus untuk membereskan barang-barangnya.


"Liona." Liliyana yang sudah menganggap Liona sebagai teman datang berkunjung.


Katanya Liona adalah teman yang paling tidak mementingkan jabatan ataupun status, mereka berdua merasa cocok.


Namun tetap saja Liona waspada terhadap pertemanan, karena pengkhianatan Prasina meninggalkan luka yang cukup dalam.


Meskipun terlihat baik-baik saja, sebenarnya ada rasa sesal dalam hatinya, Prasina adalah teman pertamanya di dunia ini!


"Aku cukup sedih harus berpisah dengan teman baruku, kau harus mengirimku surat dengan sihir paling cepat! Jangan lupa datang ke Pulchra, aku akan dengan senang hati membuat jamuan."


Liona hanya tersenyum dan mengangguk, Liliyana ini adalah tipe orang yang sangat dingin, namun setelah mengenalnya sebenarnya dia orang yang sangat hangat dan banyak bicara.


Bahkan terkadang perkatannya sama pedasnya dengan Arthur, bisa di katakan mereka berdua adalah perpaduan yang cocok antara tukang bully dan tukang hujat.


"Sial." Xavier tiba-tiba saja melemparkan barang ke arah dinding.


Alex berwajah masam dengan aura suram yang ada di sekitarnya.


Beberapa saat yang lalu, ayahnya mengirim surat menyatakan kalau kekaisaran mengirim surat lamaran untuk Liona.


Jika menolak itu akan dianggap sebagai pengkhianatan, sebenarnya kaisar sangat ingin mengikat Asteria, jadi dengan pernikahan ini pihak kekaisaran bisa tenang kalau Asteria tidak akan memberontak.


"Kakak kau kenapa?" Liona menghampiri Alex dan Xavier yang sedang marah.


"Kaisar menyuruhmu untuk menikah dengan bajingan itu, aku tidak sudi membiarkanmu menikah dengan pria seperti itu."


Tunggu!


Liona berpikir apakah mungkin eksekusi keluarga Asteria karena menolak lamaran dari pihak kekaisaran?


Tapi tidak mungkin, karena saat keluarganya di eksekusi, Liona sudah duluan di penggal putra mahkota.


"Kenapa dia harus menikah dengan putra mahkota?" Suara dingin yang membuat tubuh gemetar datang dari luar pintu.


Sean tidak sengaja mendengar percakapan itu, tidak mungkin dia membiarkan wanitanya menikah dengan pria lain selain dirinya!


"Apa maksudmu?" Alex dan Xavier menatap Sean dengan sengit, mereka tahu jika pria di depannya menyukai adik mereka yang berharga.


Meskipun Sean lebih baik dari putra mahkota dan pria yang lainnya, tapi tetap saja tidak mudah melepaskan adiknya untuk menikah dengan pria lain.


"Aku akan datang ke Mavros untuk melamar Liona."


"Apakah kau gila?" Alex berteriak terkejut, bagaimana mungkin dia membiarkan Sean melamar adiknya?


"Lalu bagaimana? Aku menyukainya, dan jika dia tidak memiliki tunangan yang setara atau lebih kuat dari kekaisaran kalian akan di anggap sebagai pengkhianat."


Semua orang terdiam, itu memang benar. Liona berpikir bukankah seharusnya Putra mahkota bertunangan dengan Cecilia?


"Bukannya harusnya Cecilia yang menjadi tunangan putra mahkota?" Tanya Liona kebingungan.


"Entah kenapa kaisar mengubah keputusan itu."


Ngomong-ngomong besok puasa ya. Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan, thor minta maaf ya kalau ada salah dalam setiap kata♥️