I Became A Villain In A Novel

I Became A Villain In A Novel
Empat puluh tiga



Tidak terasa hari keberangkatan ke kota empty telah tiba, Duke Asteria dengan enggan melepaskan anak-anaknya, Liona baru saja pulang dari Ravnos, sekarang sudah harus pergi kembali, untunglah ditemani Xavier dan juga Alex.


"Alex, Xavier, tolong lindungi adikmu dengan benar." Duke dengan tegas memerintahkan Alex dan Xavier.


"Baik ayah."


***


Aku berada di kereta kuda yang sama dengan Alex, Xavier dan Elios. Sedangkan Luther dan Arthur ada di kereta kuda belakang bersama Gressia dan Leila.


Yang aneh adalah marquess Leandro Santaloxylo ikut dalam perjalanan, katanya dia akan menjadi pelindung.


Karena melewati batas sihir pelindung, knight dan paladin di perbanyak untuk memudahkan perjalanan karena pasti banyak monster.


Kecepatan kereta kuda setara dengan mobil karena di lengkapi sihir, duduknya pun sangat nyaman.


Ku lihat putra mahkota dan Cecilia menaiki kuda berdampingan.


Tunggu!


Bukankah ini salah satu adegan yang ada di novel, apakah benar-benar berjalan ke alur asli?


"Aku baru menyadarinya sekarang, ternyata kau sangat cantik." Ujar putra mahkota.


"Apa? Benarkah? Suatu kehormatan bisa di puji oleh yang mulia." Cecilia dengan malu-malu tampak seperti menggoda putra mahkota.


"Kenapa kau terus berbicara formal padaku? Bukankah aku sudah bilang untuk bersikap apa adanya?"


"Ah maafkan aku Chris."


Putra mahkota tampak puas, aku tercengang dan tidak bisa berkutik, percakapan yang familiar ini, itu adalah salah satu scenario favorit ku di novel.


Dalam novel terlihat wanita suci dan prince charming yang romantis, namun kenapa setelah melihatnya langsung itu terasa menjijikan?


Hyaaaa


Kuda Cecilia meringik karena tiba-tiba ada yang melemparnya dengan batu, Cecilia terjatuh dari kudanya dan putra mahkota menangkapnya.


Oh my, lihat adegan menjijikan ini!


Aku jijik melihatnya! Bukan cemburu hanya saja mereka bertatapan lama sekali, memang mempesona, namun itu terlihat menjijikan, benar-benar adegan yang di jabarkan dalam novel.


Mengapa bisa seperti ini? Mengapa kembali ke alur aslinya?


Aku frustasi dan terus menatap mereka, Cecilia dengan malu-malu berterimakasih pada Putra mahkota.


Ah aku ingin mencekik author yang membuat adegan menjijikan ini, tolong aku ingin muntah!


"Kenapa kau terus menatap Putra mahkota dan Sage menara suci? Apakah kau iri?" Xavier melihat apa yang ku lihat.


Aku buru-buru menutup gorden kereta dan mengalihkan pandangan Xavier.


"Tidak, mereka hanya tampak eum, romantis." Elakku dengan senyum kaku, Elios menatapku seolah aktingku begitu buruk.


"Ah maksudku, mereka ternyata mempunyai hubungan yang baik, aku terkejut melihatnya."


Xavier menggosip, dari yang aku tahu dari mulut kakakku ini, katanya Kaisar dan menara suci akan menjalin hubungan.


Putra mahkota Christopher akan melamar secara resmi saat Cecilia lulus akademi, sekarang saja mereka sudah kelihatan dekat.


Ini persis yang berada di Novel, Liona mati saat dia berusia 22 tahun, jadi Liona mengganggu Cecilia selama 2 tahun.


Jika kisah mereka berjalan seperti yang ada di novel, kemungkinan aku akan mati dan keluargaku benar-benar akan di eksekusi.


Padahal aku tidak punya tebakan yang pasti, untunglah aku masih punya waktu 5 tahun, karena sebentar lagi aku akan berulang tahun yang ke-17 atau upacara kedewasaanku.


Ah atau kah putra mahkota terkena ilusi yang Cecilia berikan pada Sean waktu itu?


Sebenarnya aku tidak ingin mencampuri urusan orang lain, namun ini menyangkut diriku dan keluargaku serta aku dan Cecilia adalah musuh, mungkin aku harus membantu putra mahkota.


"Benar, putra mahkota yang biasanya acuk tak acuh, memikirkan kebahagiaan orang lain dan tersenyum lembut, itu sangat aneh." Xavier tampak berpikir.


"Awas orc." Teriak seseorang di luar, kereta berhenti dan para kuda mengamuk.


Aku keluar melihat tujuh orc yang menghadang kereta kami, padahal orc itu langka kenapa dia ada disini?


"Kenapa bisa ada orc? Bukannya orc biasanya ada di daerah pegunungan yang jarang di kunjungi?" Putra mahkota melihat ke arah mage istana.


"Maaf yang mulia, mungkin orc baru datang kesini, kami sudah mengeceknya dengan teliti, dan orc benar-benar tidak ada." Jelas mage istana.


Karena aku tidak ingin ikut campur, aku menyaksikan itu dari samping, meskipun isi cerita novel samar setelah aku masuk ke dunia ini, namun sebagian masih bisa ku ingat dengan jelas.


Seperti sekarang, harusnya yang melawan orc adalah putra mahkota dan Cecilia, orang-orang akan terpesona dengan kekuatan Cecilia.


"Liona, apakah kau sadar? Terkadang kau seperti penonton, seperti seseorang yang tidak terikat oleh aturan dunia ini." Elios melihat Liona dengan senyum malas.


"Hanya perasaanmu saja." Liona tidak bisa menahan degupan jantungnya, bukan jatuh cinta namun dia terkejut ternyata Elios lebih peka dari apa yang dia pikirkan.


"Ya, mungkin."


Putra mahkota mengayunkan pedangnya untuk membunuh orc, para knight dan juga paladin bersama-sama menyerang titik lemahnya.


"Jangan sampai terkena ingus orc." Teriak Cecilia, setelah ku amati dia menjadi semakin kuat.


Cecilia mengeluarkan panahnya dan menembak pantat orc, meskipun itu monster namun bentuknya seperti manusia, mengalahkannya tidak terlalu sulit.


Putra mahkota memotong gigi orc, orc itu marah! Orc semakin brutal, itu membuat beberapa orang kewalahan.


Beruntung Cecilia menembak dada Orc dengan panahnya, ujung panah berwarna hijau, jika aku tidak salah menebak harusnya itu racun pelumpuh otot.


Cecilia juga mengeluarkan sihir cahayanya yang sangat murni, karena Orc makhluk kegelapan cahaya sangat mempengaruhi kekuatan para Orc.


Akibat sihir cahaya dan panah yang di lumuri racun, Orc bisa dengan mudah di taklukan oleh Cecilia.


Lima Orc telah di taklukan Cecilia, dua yang lain terlihat marah, mungkin karena mereka saudara, salah satu Orc berlari ke arahku!


Sial!


Aku hanya ingin menonton, apa-apaan orc ini? Sangat menyebalkan!


"Liona awas!" Teriak Alex dan Xavier.


Aku menghindar dengan mudah, tubuhku ringan, jadi aku bisa loncat kesana kemari, aku menendang muka orc dan ingusnya mengenai ujung sepatuku.


Itu langsung memeleh, untung saja tidak mengenai kulit! Benar-benar ingus orc adalah racun korosif.


Aku mengubah kalungku menjadi pedang, spirit stone hadiah dari Xavier membantu meningkatkan kekuatan pedangku.


Orc itu benar-benar tidak berhenti mengejarku, aku menusuk pantat orc, orc itu menjerit kesakitan, Alex membantuku, dia menusuk jantung Orc dan Xavier menebas kepala Orc.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Alex khawatir, aku menggeleng dan berkata kalau aku sangat baik.


Darah Orc bertebaran di mana-mana mengeluarkan bau busuk, darah Orc juga sangat beracun, jika pedang tidak di lindungi mana, maka itu akan berkarat.


Semua orang terlihat memuji Cecilia, memang sih dia hebat tadi, namun tetap saja dia penganut ilmu hitam.


Seandainya aku tidak tahu sifat aslinya, mungkin aku akan mengaguminya juga.


Karena, semua Orc sudah di kalahkan, kami semua memutuskan untuk beristirahat tidak jauh dari tempat para Orc dibunuh, karena kehabisan tenaga.