
Pada akhirnya mereka hanya terdiam menatap bayangan hitam yang bisa berbicara, sedangkan Liona menyembuhkan Elios yang sudah sedikit membaik.
"Kenapa dia memanggilmu?" Luther dengan dingin menatap bayangan hitam yang sedang menggeliat.
"Apakah manusia begitu bodoh? Tentu saja untuk mengendalikan jiwanya dan menyerap darahnya untuk ku jadikan nutrisi."
"Kau sepertinya bukan bayangan hitam?" Sean mengamati dan bertanya dengan penuh kecurigaan.
Tampak bayangan hitam itu gugup, namun dia terus menerus menggeliat padahal sudah tidak panas.
"Jangan menggeliat! Kau menjijikan." Dengan kejam Sean mengeluarkan tekanan mana, membuat bayangan hitam itu terdiam ketakutan.
"Ja-jangan samakan aku dengan makhluk bodoh bayangan hitam, aku ini Gu." Dengan bangga bayangan hitam memperkenalkan dirinya.
"Kau seperti serangga!"
"Sialan! Aku ini cacing Gu! Aku berasal dari China kuno!" Gu menjelaskan dengan kesal dan singkat.
"China kuno? Dimana itu? Apakah di benua ini ada yang namanya China?" Arthur bertanya menatap dengan antusias pada Gu.
"..."
Sementara Liona terkejut, berpikir ada makhluk berasal dari alam yang sama dengannya, namun setelah berpikir dia juga pernah bertemu Kuchisake onna, Liona tidak terlalu terkejut.
Waktu perlahan berlalu, kesehatan Elios berangsur-angsur membaik, mereka menceritakan kenapa Elios bisa terkena guna-guna.
Sedangkan cacing Gu, Sean memberikannya kepada badan penelitian kekaisaran untuk menemukan petunjuk.
"Jadi maksudmu yang mengirim guna-guna ini adalah Cecilia?" Liona bertanya setelah mendengarkan dengan jelas kesimpulan Luther.
"Itu benar, dia mempunyai energi negatif dan hitam yang sangat pekat, namun tetap saja sihir cahaya yang begitu murni dan besarnya membuat orang tidak percaya dia dark mage."
Liona berfikir dia juga mempunyai sihir cahaya yang murni, hanya saja itu pemberian dan itu seimbang di dalam tubuhnya.
Tidak lagi membahas Cecilia, karena berurusan dengan dark mage cukup sulit apalagi yang mempunyai sihir cahaya, itu harus di selidiki lebih lanjut oleh menara suci, namun jika menara suci ada di belakangnya bagaimana?
"Kita hanya perlu mengawasinya saja, jika dia berbuat sesuatu kita akan bertindak, jika tidak jadilah pengamat." Ujar Elios yang saat ini sudah bertenaga.
***
Hari perpisahan dengan Ravnos telah tiba, Liona dan yang lainnya berpamitan pada kaisar, tatapan kaisar begitu aneh saat melihatnya.
"Ada apa dengan kaisar?" Liona berbisik ke arah Sean yang berdiri dengan tenang disisinya.
"Dia hanya ingin melihat calon menantunya." Sean berkata dengan nada menggoda, Liona hanya menatapnya dengan datar dan tak lagi peduli.
Melihat ke arah Cecilia yang saat ini tampak normal, hanya saja wajahnya terlihat lebih cantik dan kulitnya semulus porselen.
Cecilia menghampiri Liona dan teman-temannya, menyapa dengan menggoda pada Sean yang acuh tak acuh.
"Hai, aku akan memberikan kejutan pada kalian nanti, semoga kalian suka." Cecilia berbisik dengan senyum lembut seperti biasa.
Jika mereka belum tahu sifat aslinya yang begitu absurd, mungkin mereka akan terpesona dan menerima Cecilia dengan baik, karena lembut dan juga cantik.
"Mari berangkat." Teriak Sean.
Mereka pergi dari kekaisaran, diantar oleh jendral besar dan rakyat yang berterimakasih pada mereka atas sukarelawan nya menolong negara mereka.
"Aku akan rindu Ravnos." Luther berbisik.
Mereka semua mengangguk dan pergi dengan tenang tanpa ada hambatan, saat di hutan Black Forest pun sangat tenang, bahkan monster seperti lenyap begitu saja, membuat semua orang merasa aneh.
Perjalanan yang harusnya cukup memakan banyak waktu menjadi begitu singkat, karena tidak adanya monster yang menghadang.
Namun karena ingin cepat pulang, hal itu tidak terlalu di pedulikan.
Merpati pos datang dan hinggap di pundak Liona, Liona membukanya dan ternyata itu surat dari Xavier.
"Jangan pulang ke Mavros, situasi disini cukup berbahaya, aku sudah mengirim surat padamu berulang kali, namun kau tak pernah membalas, aku sangat khawatir."
Suratnya begitu singkat, ini membuat Liona merasa aneh, teringat pada 'hadiah' yang akan di berikan oleh Cecilia.
Namun sekarang dia sudah berada di luar hutan black forest, sebentar lagi akan tiba di ibukota Mavros.
Namun karena peringatan Xavier, dia tidak bisa lengah, hal ini tidak tertulis di novel karena alurnya benar-benar berubah, jadi dia tidak begitu yakin seberapa berbahayanya itu.
"Kami akan mengantar kalian sampai sini, kalian bisa pergi ke Mavros sendiri." Ujar Sean, semua orang tidak masalah karena perjalanan tidak begitu berbahaya.
Sean pamit kepada Liona yang sedang linglung, Liona hanya mengangguk dan mengingatkan Sean untuk hati-hati.
Turun dari kudanya, Liona berbisik pada Elios, Luther dan juga Arthur agar mereka berpisah dari pasukan.
Tidak ada yang peduli pada mereka, Liona menjelaskan situasi singkat yang di berikan oleh Xavier.
Mereka akan pergi dengan berpencar, agar tidak ketahuan dan juga bisa mengamati situasi disana.
Cecilia mengamati tingkah laku mereka, dia menyeringai dan berpura-pura tidak tahu, hanya terus mengobrol dengan orang yang berada di sampingnya.
Kilatan kejam melintas di matanya, rasanya Cecilia ingin tertawa dan memaki Liona dan teman-temannya karena begitu naif.
"Tunggu saja, kalian pikir bisa lolos dengan mudah? Bodoh sekali." Batin Cecilia dalam hati.
Karena sudah terpisah, Liona dan teman-temannya berjalan masing-masing.
Luther yang pergi ke arah timur selalu merasa di awasi seseorang, namun tidak ada jejak aura.
Beberapa orang berbaju hitam tiba-tiba muncul di hadapannya, para Assasin dengan tekanan mana kuat, membuat Luther memuntahkan seteguk darah.
"Siapa kalian?" Luther mengusap darah yang berada di sudut bibirnya.
Namun para Assasin itu tidak berbicara dan menyerang Luther secara langsung, pertarungan tak bisa di hindari.
Enam orang lawan satu orang, sudah jelas siapa yang kalah, Luther terbatuk-batuk dengan lemah, dia menatap ke-enam orang itu dengan dingin.
"Jadi kalian adalah 'hadiah' yang di kirim wanita sesat itu." Luther menyeringai.
Dia menggigit ibu jarinya dan membuat pola aneh dengan darahnya, bayangan gelap iblis di belakangnya terlihat.
Bayangan iblis itu memakan ke-enam Assasin yang ketakutan.
Karena mempunyai darah iblis, Luther bisa memanggil iblis dengan pola darah, meskipun bisa membunuh musuh dalam sekejap, namun kerugiannya sangat besar.
Tubuh Luther lemah, dan jatuh pingsan, beberapa orang dengan jubah putih muncul tiba-tiba.
"Benar-benar anak yang mempunyai darah iblis, ambil! Aku akan menelitinya nanti." Seorang pria tua berkata.
Luther yang sudah kehilangan kesadarannya tidak tahu bahwa saat ini tubuhnya di bawa ke tempat yang sangat berbahaya.
"Cecilia kerja bagus, tidak sia-sia aku membesarkanmu, kau tidak mengecewakan ku untuk menemukan bahan selanjutnya." Gumam pria tua itu dengan seringai kejam.
Wajahnya tampak beberapa point seperti Cecilia, namun pria tua ini terlihat lebih kejam.
Pray for Indramayu dan juga Makassar😭, stay safe ya teman-teman dimanapun kalian berada. It is truly a sad day, may we always be in God's protection😭♥️