I Became A Villain In A Novel

I Became A Villain In A Novel
Tujuh puluh enam



Beberapa orang mulai merasa ingin muntah saat membayangkan bahwa lumpur itu sebenarnya adalah kotoran cacing yang berbau busuk.


Sementara di gurun pasir, Cecilia benar-benar menunjukkan kehebatannya, dia menjadi sangat terlatih dan juga gesit.


Putra mahkota yang sempat tersadar juga mulai mendapatkan ilusi kembali, kali ini lebih kuat daripada sebelumnya.


Cecilia mendapatkan sesuatu yang sangat berharga yang berada di gurun pasir, skill tarungnya juga bertambah hebat karena sering bertarung melawan para monster gurun yang lebih ganas.


Dia benar-benar sudah melupakan Liona, ini seperti suatu hal yang patut di syukuri atau tidak, namun mungkin untuk sementara waktu Cecilia tidak akan repot-repot dengan Liona.


Lagipula jika di pikirkan lagi Liona tidak mempunyai salah apa-apa padanya, dirinya membenci Liona karena iri.


Apa yang di miliki Liona adalah sesuatu yang tidak di miliki Cecilia, mungkin suatu saat Cassia tidak akan berurusan lagi dengan Liona seperti yang di harapkan Cecilia.


"Junior, kemampuan mu benar-benar sangat hebat. Pantas saja kau di juluki sebagai sage menara suci, benar-benar mengagumkan." Seorang pria dengan senyum manis membuka maskernya.


"Terimakasih senior, tapi kemampuan saya masih jauh dari senior. Mohon bantuannya." Senyum Cecilia membuat beberapa pria terpesona, memang sih Cecilia sangat cantik dan juga dewasa!


Seminggu setelah kedatangannya di gurun pasir, Cecilia mendapatkan sesuatu yang sangat berharga! Itu adalah mutiara putih dari para monster gurun.


Perlu di ketahui, rata-rata monster kuat akan menghasilkan mutiara saat mereka mati, namun itu berwarna hitam, jarang sekali bahkan sangat langka jika monster menghasilkan mutiara berwarna putih.


Kemudian jika mutiara putih dari monster itu di campurkan dengan daun lembanyu, daun yang di berkahi para peri. Kemampuan orang yang memakannya akan meningkat, makanya Cecilia menjadi sangat kuat.


"Yah, tapi tetap saja kita harus berhati-hati! Selain para monster ganas, para suku yang ada di gurun juga sangat berbahaya, siapa tahu mereka akan tiba-tiba menyerang kita."


Cecilia hanya mengangguk, benar sih suku di gurun terkenal bar bar dan juga buas, selain waspada terhadap Monster mereka juga harus waspada terhadap orang suku.


Apalagi mereka mungkin lebih kuat dari orang-orang kekaisaran, karena sudah terbiasa membunuh monster gurun yang kuat sejak dini.


***


"Ayah, aku akan pergi ke gurun untuk menyusul Liona! Aku tidak percaya bajingan itu." Xavier mengerutkan keningnya merasa kesal.


Dia dan kembarannya Alex berniat cuti akademi dan juga cuti dari latihan menjadi Assasin dan juga Sniper untuk pergi menemani Liona, namun ayah mereka Duke Asteria tidak mengizinkannya.


Alex juga sedikit mengernyit, entah apa yang bajingan Sean dan juga ayahnya bicarakan, ayahnya ini menjadi semakin percaya dengan orang yang akan merebut adik perempuan mereka.


"Alex, Xavier! Liona butuh pengalaman, dia akan menjadi semakin dewasa dan berpemikiran luas dengan pengalaman."


Duke Asteria menghela nafas lelah, dia juga sebenarnya tidak mempercayai Sean. Namun dia tidak bisa terus mengurung Liona dan hanya memperlihatkan sesuatu yang indah pada anak perempuannya.


Dia juga perlu menunjukkan pada Liona kalau dunia itu sangat kejam dengan perjalanannya ke gurun. Takdir seorang yang bisa membuka kotak berpola naga sangat luas, dia tidak bisa terus mengekang anak perempuannya.


"Tapi ayah, Liona baru saja menyelesaikan debutante nya. Dia juga harus bersosialisasi dan mengikuti pergaulan kelas atas." Alex yang lebih tenang menatap Duke Asteria.


Alex dan Xavier terdiam mendengar ucapan ayahnya, Duke Asteria juga sangat mengkhawatirkan putrinya, namun dia adalah seorang pejuang!


Anaknya pasti mendapatkan garis keturunan prajurit yang siap mati kapan saja, termasuk Liona! Dan dia sebagai ayah hanya perlu mendukung putrinya, apapun yang akan dia lakukan asalkan itu yang terbaik menurutnya.


"Ayah juga sangat mengkhawatirkan Liona, tapi kalian harus percaya pada adik kalian. Dia adalah anak yang sangat kuat dengan potensi yang tidak terbatas."


Alex dan Xavier keluar dari ruangan Duke dengan lemas, mereka akan mengizinkan Sean membawa adiknya saat ini, namun awas saja bajingan Sean tidak akan mereka biarkan untuk bersenang-senang saat mengantar pulang adik perempuannya nanti.


***


Karena kuda dan orang-orang yang terluka sudah terlihat baik-baik saja, pasukan Liona dan yang lainnya melanjutkan perjalanan agar tidak membuang banyak waktu.


Mereka menghindari lumpur dengan jalan memutar, cacing raksasa itu sudah tidak terlihat seolah dia hilang tertelan bumi.


Mereka juga semakin berhati-hati dengan lingkungan, ada beberapa makhluk hidup yang tidak bisa mereka deteksi nafasnya.


Dan hutan ini sangat gelap, bisa saja sewaktu-waktu ada yang menyerang mereka tiba-tiba tanpa persiapan, jadi lebih baik waspada sejak awal.


Karena tidak ada sinar matahari dan suasana yang suram dan gelap, mereka tidak bisa menentukan waktu siang atau malam, mereka hanya bisa mengira-ngira.


"Lihat peta! Apakah perjalanan ini masih lama? Kenapa rasanya aku berputar-putar di satu titik." Jason si pria berkulit hitam manis itu mengernyit.


Dia sudah menyadarinya sejak awal, dalam tiga putaran ini mereka berjalan di tempat yang sama, Sean dan juga Dave sebenarnya menyadarinya, makanya mereka memasang pematok agar terlihat kalau mereka berada dalam jalan yang sama.


Sean mengeluarkan petanya dan menunjukkan letak mereka saat ini, terlihat sebuah lingkaran dengan pola zodiak di dalam peta.


Dave mengernyit merasa sesuatu ini sangat tidak asing. "Sialan! Kita berada di lingkaran setan." Makinya.


Pantas saja mereka selalu melewati tempat yang sama, itu di karenakan mereka berada di lingkaran setan! Jika pola nya tidak terpecahkan mereka akan terus menerus berada disana tanpa bisa keluar.


"Harusnya ada pola yang menjadi titik pusat dalam lingkaran ini." Ujar Liona melihat ke arah peta.


Dia dan Dave buru-buru berdiskusi, hanya mereka yang mempunyai pemikiran lebih maju dari pada yang lainnya karena pernah berada di dunia modern.


Sean yang melihat gadisnya berdekatan dengan pria lain di hadapannya merasa cemburu, namun dia tidak bisa egois! Lagi pula Liona dan Dave hanya mencoba memecahkan lingkaran setan.


"Bagaimana menurutmu?" Tanya Dave melihat ke arah Liona yang sedang berpikir.


"Menurutku polanya harus membentuk tanda zodiak ini, apakah kau sadar kita seperti melewati 12 celah tak berujung dari lingkaran setan ini?"


"Itu berarti pada setiap celah terdapat pola, mungkin untuk memecahkannya kita harus menemukan pecahan dari lambang zodiak kemudian menyatukannya?"


"Ya, menurutku begitu. Kita hanya harus menemukan dua belas pecahan lingkaran bergambar zodiak kemudian menyatukannya untuk keluar dari lingkaran setan."