I Became A Villain In A Novel

I Became A Villain In A Novel
Empat puluh sembilan



Karena Liliyana sudah membaik, aku meninggalkannya yang masih tidak sadarkan diri bersama Arthur, rasanya tubuhku sangat lemah.


Arthur membopongku sampai keluar, lalu Alex menggendongku, aku tidak memberontak karena memang sudah sangat lelah.


"Jangan memaksakan diri, aku tidak menyukainya." Xavier yang biasanya selalu tersenyum, cemberut saat melihatku.


Aku hanya tersenyum dan tertidur dalam pelukan Alex, rasanya sangat lelah, aku hanya ingin tidur untuk sebentar saja.


***


Kereta kuda yang tampak lusuh membawa beberapa barang, Liona yang berada di dalamnya merasa sangat pusing akibat ketidakseimbangan jalan.


"Ugh, bukannya aku berada di kamar?" Gumam Liona, dia melihat ke sekelilingnya, banyak perabotan bekas dan jerami.


Melihat ke arah atas kereta, itu pola untuk memblokir sihir agar tidak bisa di gunakan, sangat kuat! Bahkan Liona yang bisa mengendalikan sihir dalam pola, tidak bisa!


"Apa-apaan ini? Masa kakakku akan melakukan ini padaku?" Tidak ada kaca khusus di dalam kereta, hanya fentilasi kecil untuk masuknya oksigen agar bisa bernafas.


"Sial apakah aku di culik?" Liona mengumpat, saat dia ingin bangun tubuhnya sangat lemah.


Melihat ke arah tangannya, di pastikan kalau dia di bius dengan obat dosis tinggi, dalam novel Liona tidak pernah di culik, jadi dia tidak tahu apapun.


"Benar, aku hanya perlu menunggu kakakku menjemputku, setelah keluar dari sini aku bisa menggunakan sihir."


Namun setelah melihat tangan dan kakinya di rantai, harapan Liona pupus, itu adalah rantai sihir yang sangat kuat, tidak menyakitkan.


Namun jika memaksa menggunakan sihir, rantai akan semakin mengerat dan bisa menembus kulit.


"Sialan! Jika aku tahu siapa yang menculikku, aku akan menendangnya dan memukulnya menggunakan kursi."


Karena merasa sia-sia, Liona hanya berdiam diri mencoba untuk tenang, di sebelah kanannya ada roti dan juga air mineral, tanpa basa basi dia memakannya.


Tidak peduli itu racun atau bukan dia membawa obat dalam saku bajunya, jadi biarkan saja, asal perutnya kenyang!


Kereta berhenti, Liona yang sedang makan menatap seorang pria botak dengan wajah sangar yang sedang menunggu Liona selesai makan.


"Cepat!"


Pria botak itu menyeret rantai Liona, membuatnya meringis kesakitan, Liona memandang pria botak itu dingin, merasa ingin melapisi kepalanya dengan minyak lalu membakarnya!


"Sayang sekali gadis cantik ini tidak bisa kita jual, jika kita bisa menjadikannya pela*ur maka keuntungan yang kita dapatkan sangat besar." Pria yang lain memandang Liona dengan menyesal.


"Jaga ucapanmu bodoh!" Pria botak itu menendang tulang kering pria lainnya.


Mereka hanya menghela nafas dan menyeret Liona, karena tidak ada tujuan, Liona mengikuti mereka sampai ke sebuah gubuk yang tampak menyeramkan.


Pria botak mendorong Liona hingga pintu gubuk tertutup dengan keras.


"Selamat datang." Suara pria seksi dari dalam ruangan gelap terdengar menggema.


Liona yang tidak ingin melangkah, tiba-tiba saja merasa dia di kendalikan.


"Silahkan duduk Aletta ah atau bisa ku sebut sebagai Liona."


Deg


Jantung Liona berdegup sangat keras, dia hanya menatap tanpa berbicara, pria itu tersenyum dengan manis.


'Siapa pria ini? Mengapa dia tahu aku? Dan apa tujuannya menculikku?' batin Liona.


"Biar ku perkenalkan diriku dulu, aku adalah pemimpin menara suci Vilio Makrys Charleston, kau sudah tahu bukan?"


Liona terkejut dalam hatinya, namun wajahnya tetap datar, dia tidak tahu mengapa pemimpin dari menara suci menculiknya.


"Kenapa kau menculikku."


"Kenapa ya? Ah karena aku mempunyai kisah yang sangat menarik, apakah kau ingin tahu apa itu?" Liona diam menandakan bahwa dia setuju.


"Baiklah, dulu aku mempunyai murid yang sangat berbakat, dia mempunyai sihir suci yang sangat besar, namun dia adalah seorang budak.


Karena aku menyayanginya, aku menjadikan dia sebagai penerusku, namun sayangnya dia malah berkhianat dan menikah dengan wanita iblis.


Lalu setelah dia mengetahui kalau istrinya sedang mengandung, dia menjadi gila! Dia membanta seluruh orang yang berusaha menyakiti mereka.


Padahal harusnya dia bangga pada dirinya sendiri, karena jika wanita itu di biarkan hidup dia hanya akan menjadi bencana dunia.


Untung saja aku bisa berpindah jiwa, ketika dia membunuh ragaku, jiwaku menempati seorang rakyat jelata yang sangat tampan.


Kemudian aku berkelana dan membangun kembali menara suci, kau tahu apa yang lebih menguntungkan? Pria itu bunuh diri setelah membantai semua orang, karena hukuman dari dewa jiwanya berserakan.


Namun kekuatannya tidak, kekuatan itu jatuh padaku, sayangnya kekuatan suci itu tidak bisa ku gunakan. Lalu aku bertemu dengan pengendali sihir hitam.


Dia adalah gadis manis dan sangat cantik, aku menjadikannya bahan eksperimen, dan hasilnya bom itu luar biasa, dia adalah hasil eksperimen ku yang berhasil.


Kekuatan sucinya bisa di gunakan lebih mudah, dia adalah orang yang berbakat. Namun sayangnya wanita iblis dan muridku telah kembali dan aku tidak bisa melakukan apa-apa.


Kau tahu siapa mereka? Iya mereka adalah dirimu dan pangeran ke-empat Ravnos. Huh, sungguh menyebalkan padahal kau ada di depanku, tapi aku tidak bisa membunuhmu.


Namun meski begitu, bagaimana perasaanmu saat tahu bahwa pria yang kau cintai membunuhmu demi dunia yang tidak pernah menghargai kalian?"


Vilio mencengkram dagu Liona agar melihat ke arah matanya yang penuh dengan amarah, Liona melihatnya dengan dingin tanpa berniat menepisnya.


"Jika yang kau katakan itu benar, aku mempercayai Sean! Dia pasti punya alasan mengapa dia membunuhku di kehidupanku sebelumnya.


Kau ingin memecah belah kami? Kau pikir kepercayaan yang kamu jaga hanya sebatas ujung jari? Kau salah! Justru aku yang tidak percaya padamu!


Kau bilang aku adalah wanita iblis? Siapa sebenarnya yang iblis? Bukankah itu kau?"


Vilio menatap Liona sejenak dan tertawa terbahak-bahak, tawanya sangat menyeramkan, itu sangat kontras dengan wajahnya yang tampan.


"Ternyata aku sangat meremehkan kalian ya, heh."


Dia menyeringai, tatapan matanya sendu, Liona agak terkejut namun dia tidak peduli, pria itu hanya mengelus kepala Liona dengan tatapan lembut.


"Yah, maafkan aku, oh dan kau boleh pergi aku akan mengantarmu. Ngomong-ngomong ini adalah pertemuan kita, dan kau sangat cantik."


Liona hanya diam, Vilio membawa Liona menggunakan teleportasi, titik koordinatnya berada di samping kuil suci.


"Meskipun kita musuh tapi kau harus tahu bocah! Aku menyayangimu." Pria itu mengacak-acak rambut Liona dan melepaskan rantainya.


Dia pergi dengan senyuman, entah mengapa Liona merasakan sakit, bukan karena cerita Vilio! Tapi karena Vilio bilang bahwa dia menyayanginya.


"Liona!"


Sean memeluk Liona yang sedang menatap kekosongan, bau yang sangat familiar menyeruak ke dalam hidungnya.


Sean sangat panik saat aura Liona tiba-tiba menghilang, dia percaya Liona masih hidup karena dirinya tidak mati! Namun aura dan hubungan kontraknya tidak terasa, dan itu membuatnya ketakutan.


"Aku baik-baik saja." Liona menepuk punggung Sean yang tampak gemetar, setelah Liona mendengarkan cerita Vilio dia merasa kalau dia tidak bisa membenci Sean.


Entah kenapa perasaan yang di rasakan adalah rasa syukur, makanya dia bilang kalau jika Sean membunuhnya pasti mempunyai alasan.


"Sean." Panggil Liona dengan suara parau menahan tangis.


"Ya?"


"Entah kenapa aku sangat merindukanmu."


"Iya, aku juga. Aku juga sangat merindukanmu." Pelukan Sean menjadi semakin erat, mencium aroma Liona dengan rakus berharap bahwa Liona tidak akan lepas lagi.


Yang dia takutkan adalah Liona pergi untuk kesekian kalinya, Sean tidak ingin itu terjadi.


"Ugh, Sean lepas sialan kau membuatku sesak!" Liona mendorong Sean dan memelototinya, namun rona merah di pipinya terlihat sangat jelas.


Sean tersenyum dan mencium bibirnya, adegan yang sangat indah untuk sepasang pria dan wanita dengan latar bulan, tidak perlu di ungkapkan, namun mereka tahu kalau mereka saling mempunyai perasaan.


"Jika kau ingin pergi ajak aku oke?"


"Ya." Liona memeluk Sean dan membenamkan wajahnya pada dada bidang Sean.