I Became A Villain In A Novel

I Became A Villain In A Novel
Story from Sean



Sebelumnya di sarankan baca ini sambil nyetel lagu the one that got away, jujur aja sih kalo aku yang baca lagi feelnya kerasa banget. Selamat membaca!


Aku adalah seorang anak yang di jual menjadi budak akibat korban perang, suatu hari seorang pria tua membeliku dengan harga yang tidak wajar.


Dia mengatakan kalau aku mempunyai eksistensi besar dan berpotensi menjadi archmage terkuat di benua, awalnya aku tidak mempercayainya, namun kemudian dia menunjukkan kristal yang bisa mengukur manaku.


Ternyata aku terlahir dengan mana yang besar dan sihir cahaya yang luar biasa kuat, aku pun diangkat menjadi sage menara suci saat umurku 12 tahun.


Semua orang tidak menerimaku, karena identitasku yang seorang budak rendahan dari negara yang kalah.


Meskipun aku adalah seorang sage, aku di benci, di cemooh, bahkan terkadang aku akan di siksa dan dilempari kotoran, tidak pernah ada yang membelaku, suatu hari seseorang datang padaku.


"Apakah kau menangis?" Gadis kecil itu tersenyum dengan mata membentuk bulan sabit, sangat cantik! Pikirku.


Dia menyodorkan sapu tangan putihnya, namun aku menepisnya karena trauma dan menganggap semua orang itu palsu.


Dia tampak meringis, namun aku tidak peduli! Aku hanya ingin dia segera pergi dan meninggalkanku sendirian.


"Aku akan meninggalkan ini disini." Gadis itu meletakkan sapu tangannya pada batu yang tampak halus.


Aku melihatnya yang berjalan menjauh, rambut hitamnya berkibar, dia sangat anggun!


Beberapa tahun kemudian, aku bertemu lagi dengannya, dia menjadi korban penelitian bajing*n yang ada di menara suci.


Ternyata dia seorang budak, aku hanya melihatnya saja tanpa berniat membantunya sedikitpun.


"Tolong aku!" Ujarnya dengan parau.


Para bajing*n itu terus menendang kepala gadis yang dulu memberikan sapu tangannya padaku, melelehkan timah pada punggungnya lalu menaburkan garam pada lukanya.


"Berhenti!" Ujarku dengan dingin, mereka melihatku.


"Dia hanya budak rendahan, kenapa kami harus berhenti? Karena dia sudah jadi milik kami, sah saja bila kami ingin melakukan sesuatu padanya, bahkan jika harus membunuhnya."


Perkataannya benar-benar tidak manusiawi, menara suci bukan tempat yang benar-benar suci, mereka hanya terlihat suci di luar dan busuk di dalam, meskipun tidak semuanya.


"Aku akan mengambilnya, jadi berhenti menyiksanya!" Aku memerintahkan bajing*n itu dengan dingin.


Dia tidak bisa membantah karena aku seorang sage yang sudah bisa menggunakan sihirku dengan mahir.


"Terimakasih." Gadis itu menatapku dan perlahan matanya tertutup.


***


Sejak hari itu gadis berambut hitam sering mengikutiku tanpa ada bantahan dari siapapun.


"Tuan sage, apakah kau ingin camilan?" Tanya gadis itu dengan senyum manis.


"Tidak."


"Tuan sage, apakah ada yang bisa ku kerjakan?"


"Tidak, jangan mengangguku!"


"Tuan sage, aku bisa membantumu membersihkan rumah, membantumu mencuci piring, memasakkan makanan untukmu, jadi tolong jangan menyuruhku pergi."


"Diam, dan jangan berisik!"


"Tuan sage, aku mencintaimu."


Saat kata itu terucap aku tersadar kalau aku juga mencintainya, gadis yang memberikan sapu tangan putihnya.


Rasanya seperti gadis itu adalah hadiah dari dewa yang dia berikan atas kemalangan ku dulu.


"Aletta aku mencintaimu." Untuk pertama kalinya aku mengucapkan kata cinta padanya dengan tulus, dia tampak bahagia.


Kami menjalankan pernikahan tanpa di berkati oleh siapapun, guruku atau pria tua yang membeliku saat itu mengatakan bahwa semuanya terserah padaku.


Meskipun pernikahan kami tidak di berkati, namun aku percaya bahwa dewa telah memberikan berkatnya pada kami.


Namun hari yang bahagia itu tidak bertahan lama, aku baru mengetahui alasan mengapa Aletta di jadikan budak, itu karena dalam tubuhnya terdapat energi gelap yang sangat besar.


Suatu hari, energi gelapnya meluap-luap bagaikan ombak tsunami, tidak pernah berhenti dan Aletta kehilangan kewarasannya dengan membunuh banyak orang.


Atas perintah semua orang, terpaksa aku mengikatnya dengan segel rantai yang sangat kuat.


Yang bisa menstabilkan auranya dan kewarasannya hanya dengan energi cahayaku yang besar, namun cara itu tidak berhasil karena ternyata energi gelap Aletta lebih besar dari yang kuduga.


"Leon bunuh saja aku." Dia berteriak dengan putus asa, meskipun kewarasannya hilang, namun terkadang itu kembali.


"Bagaimana bisa aku membunuhmu?" Aku prustasi, antara memilih keegoisanku atau menyelamatkan orang-orang yang tidak ada hubungannya denganku.


"Jika begitu, aku akan membunuh orang yang tidak bersalah, anak-anak dan orang tua, jangan egois dan selamatkan benua." Dia masih berkata dengan lembut.


Kenapa ya? Padahal mereka tidak ada hubungannya dengan kehidupan kami, padahal mereka telah mengabaikan Aletta dan aku serta menyiksa kami, namun kenapa yang masih menderita terus menerus hanya kami berdua?


"Leon."


"Aku, aku akan melakukannya. Aletta maafkan aku, aku tidak bisa melindungimu. Padahal sudah berjanji akan terus melindungimu apapun yang terjadi, Aletta aku mencintaimu."


Aku mengangkat pedangku dan menusuk tepat di jantungnya, rasanya hatiku tertikam sesuatu, dia mati! Dan rohnya tersebar berkeping-keping. Alettaku mati dengan tanganku sendiri.


Meski begitu dia masih tersenyum dan berkata kalau dia sangat mencintaiku, aku menyegel kekuatan gelapnya dalam kotak kayu yang ku buat dengan ukiran naga.


Sejak saat itu aku baru mengetahui, ketika hari aku membunuhnya ternyata dia sudah tiga bulan mengandung anakku.


Aku menyalahkan dewa atas ketidakberdayaan ku, aku tidak hanya membunuh orang yang kucintai, bahkan aku membunuh seorang anak yang bahkan belum terlahir.


"Tuan sage tolong tenang, wanita sangat banyak. Budak itu tidak pantas denganmu." Sekretaris sialan itu benar-benar membawakan seorang wanita jalang!


Tanpa ragu aku membunuh mereka, aku menjadi orang yang dingin. Setiap hari aku bangun tanpa ada dia disisiku, rasanya sangat menyiksa.


Suatu hari saat sedang membereskan tempat tidurku, aku menemukan surat dengan hiasan cinta yang tampak kekanak-kanakan.


"Leon, aku mencintaimu sejak hari kau menangis saat itu. Rasanya tidak nyata aku bisa menikah denganmu.


Kau tahu, aku akan menjadi seorang ibu, apakah aku akan menjadi ibu yang baik? Meskipun belum terlihat namun rasanya ada detak kehidupan dalam perutku.


Aku ingin memberitahumu, namun kau terlalu sibuk, ah aku benar-benar bahagia! mungkin aku akan menjadi wanita paling bahagia di dunia.


Memiliki suami yang mencintaiku, dan sekarang aku akan menjadi seorang ibu, akan seperti apa rasanya jika anak ini lahir dan dia berteriak ayah dan ibu pada kita berdua?


Aku tidak sabar menantikan hari itu, Leon aku mencintaimu sampai rasanya mau menangis, Leon jika suatu hari aku pergi, ingatlah kalau aku selalu ada berdiri berdampingan denganmu apapun yang terjadi, Aku mencintaimu."


Aku meremas suratnya dan menangis, aku ingin bersamamu, hanya kamu tempatku kembali, namun mengapa takdir sangat kejam? Mengapa yang harus membunuhmu adalah aku?


Aku ingin mencekik diriku sendiri tanpa daya, aku membantai semua orang yang sudah menyiksa ku dan Aletta dulu.


Sampai pada akhirnya iblis hati menguasaiku dan hukuman dewa pun harus ku jalani, tapi aku bahagia ternyata aku bisa bertemu denganmu lagi.


Aletta, di kehidupan ini atau kedepannya aku akan melindungimu, aku benar-benar akan menyerahkan semuanya padamu. Aku sangat mencintaimu.