
Sejak subuh, murid akademi yang menjadi suka relawan telah berkumpul di alun-alun ibukota, hanya beberapa dokter, healer dan Alchemist saja yang ikut, karena ksatria Ravnos kuat jadi ksatria Mavros tidak di butuhkan.
Beberapa teman yang ku kenal juga ada disana, ada Luther, Arthur dan juga Elios? Tunggu, kenapa Elios ada disini?
Memperhatikan tatapan ku, Sean menjelaskan kalau Elios ahli strategi yang baik, jadi dia di bawa sebagai penyusun strategi.
Luther adalah seorang Alchemist dan Arthur adalah keturunan bangsa elf yang bisa menjaga vitalitas manusia, aku pun tidak tahu bagaimana Sean mengetahui kalau Arthur keturunan Elf, dia juga berjanji kalau dia tidak akan membeberkannya karena katanya bukan tukang gosip.
Kami berangkat menggunakan kuda dan barang-barang kami di simpan di dalam kereta agar lebih menghemat waktu dan tenaga.
Sebenarnya bisa terbang, hanya saja akan lebih cepat menguras mana dan akan buang-buang waktu di perjalanan karena banyak istirahat, bisa juga menggunakan susunan aray teleportasi namun masih dalam tahap pengembangan takutnya ada bagian tubuh yang tertinggal.
Ayahku sangat sedih karena harus mengirim putrinya ke daerah yang berbahaya, namun untuk meningkatkan pengalaman ku, aku tidak bisa melembut, kedua kakakku pun ingin ikut denganku namun katanya kekaisaran saat ini sangat membutuhkan pelindung.
"Kita akan berangkat sekarang!" Ujar sean dengan nada yang dingin, luar biasa auranya bahkan tidak sama.
Cecilia juga ikut, iya sih dia kan jenius healer dan mempunyai sihir cahaya, dan dia masih menatap Sean dengan mata yang berapi-api.
Cecilia tersenyum ke arahku, dan aku membalasnya dengan kaku, sejujurnya perkataan Cecilia masih sangat mengganggu, kenapa dia minta tolong padaku? Apa yang harus ku tolong? Dan ku lihat wajahnya sudah membaik.
"Aku terganggu dengan wanita yang terus menatapku itu, dia benar-benar membuatku tidak nyaman." Sean berkata dengan telepati.
"Dengarkan saja aku, nanti aku akan mengajarimu telepati." Ujarnya lagi, sedikit malu sebenarnya, aku selalu bangga pada diriku yang jenius, namun di hapadan sean aku merasa bahwa diriku ini sangat kurang.
"Wanita itu berbahaya, entah kenapa perasaanku begitu buruk, ada sesuatu di dalam tubuhnya semacam energi gelap yang tidak ku ketahui, namun tenebris masih lebih kuat dari hal itu.
Ku kira dia yang memberikan mu serangga aneh tempo lalu, jangan dekat-dekat dengannya bahkan baunya saja sudah membuatku mual, dan dia terus menatapku dengan mata yang berapi-api, anehnya dia mempunyai sihir cahaya yang begitu besar dan masih murni." Jelas Sean.
Aku mengangguk dalam diam, entah kenapa Cecilia yang ada disini seperti bukan Cecilia yang berada di novel, apakah ada sesuatu yang terlewat atau memang tidak tertulis?
Tidak memikirkannya lagi, kami terus berjalan tanpa henti, katanya kaki kuda sudah di lengkapi dengan peralatan sihir makanya larinya begitu cepat.
Para monster pun sudah di basmi sejak awal oleh pasukan Tiger, para healer, Alchemist dan dokter di tempatkan di tengah. Dalam perjalanan pun pria tua bijak pengikut Sean menjelaskan bagaimana situasi disana.
"Situasi disana semakin memburuk, kemarin kami mendapat kabar bahwa orang-orang yang terkena Sapios dan orang normal telah di pisahkan.
Namun anehnya meskipun telah di pisahkan, orang normal yang lain mengalami ciri-ciri akan terjadinya penyakit Sapios dan ini membuat kita semua bingung." Jelasnya.
Aku berfikir jika telah di pisah ruang, kenapa orang normal memiliki gejala terjadinya penyakit sapios?
Tunggu, dalam bahasa Yunani sapios berarti busuk, sedangkan Sakit pada dada, demam dan juga sakit kepala itu adalah dua penyakit yang berbeda, jika tidak salah itu adalah gejala saat seseorang mengalami pneumonia.
"Menurutku gejala itu dan penyakit sapios adalah penyakit yang berbeda." Ujarku.
"Jika benar begitu, mengapa setelah ruangan di pisahkan pun orang normal masih memiliki gejala seperti itu? Apakah mereka juga menghirup abu? Apakah pemisahan ruangan ini masih tetap tidak aman?" Tanyaku beruntun yang membuatnya tidak bisa berkutik.
"Kenapa nona bisa menyimpulkan bahwa itu pneumonia?" Tanya seorang dokter mulai berfikir.
"Pertama, gejalanya adalah sakit kepala, demam dan nyeri di bagian dada atau jantung, selain itu pasti mereka akan mengalami dehidrasi, kehilangan selera makan atau kulit menjadi lembab, mereka juga pasti sering batuk."
"Yang kau katakan itu memang benar. Di surat, mereka mengatakan gejala yang sama persis dengan apa yang kau sebutkan tadi." Ujar Sean.
"Benar, mengapa mereka masih mengalami gejala seperti itu? Itu di karena pneumonia adalah penyakit menular lewat air liur dari batuk atau bersin penderita." Jelasku menatap Sean.
"Jika benar begitu, kemungkinan besar orang-orang yang berada di ruangan itu semuanya telah terjangkit pneumonia." Sean berkata setelah berfikir.
"Komandan, kita harus melaporkan ini sesegera mungkin." Kata seorang Ksatria pasukan, dan Sean mengangguk setuju.
"Apalagi yang kau ketahui?" Sean menatapku dan semua orang mulai menatapku juga.
"Pneumonia di sebabkan oleh infeksi dari virus, bakteri ataupun jamur, kuman-kuman itu masuk ke dalam tubuh dan mengalahkan sistem kekebelan tubuh atau yang biasa kita sebut imun.
Menurut saya kebersihan mereka harus di jaga di mulai dari sampah, pola makan dan air minum. Pengobatannya pun bisa dengan cara pemberian antibiotik atau penisilin." Jelasku di sepanjang jalan.
"Apa yang kau katakan? Penisilin dan antibiotik adalah obat yang bahkan produksinya pun sangat langka, sedangkan kemungkinan yang terinfeksi banyak." Ujar seorang dokter.
Yang lain pun ikut berargumen karena masalah antibiotik dan juga penisilin, benar-benar kehidupan yang jauh dari peradaban, antibiotik saja sangat langka dan mahal.
"Apakah tidak bisa menggunakan pengobatan lain?" Tanya seseorang menatapku.
"Bisa, itu menggunakan terapi oksigen atau cairan Intravena. Secara alami orang yang menderita pneumonia akan mengalami dehidrasi dan nafsu makan, fungsi cairan Intravena untuk mengganti cairan yang hilang dan zat-zat makanan dari tubuh." Kataku.
Semua orang bisa bernafas dengan lega, karena cairan Intravena sangat umum dan produksinya pun bisa di katakan lebih banyak.
Segera ksatria mengirim surat dengan sihir paling cepat, mungkin untuk memberitahu cara penanganan dan juga perbedaan penyakitnya.
"Kerja bagus." Telepati sean yang membuatku tersenyum puas.
Entah kenapa aku merasakan punggungku panas saat ini, apakah hanya perasaanku saja? ku lihat ke belakang kalau Cecilia sedang menatapku dan tersenyum.
Aku mengernyit, sepertinya dia yang membuat punggungku panas mungkin dia berniat menusuk atau menggunakan sihirnya padaku.
"Kau sangat jenius." Pujinya dengan lembut, aku hanya berterimakasih dan tidak memperhatikan dia lagi.