I Became A Villain In A Novel

I Became A Villain In A Novel
Tiga puluh enam



Monster gurita telah di masukkan ke dalam wadah dan dikirim menggunakan lingkaran sihir teleport menuju lokasi pelabuhan, benar-benar praktis.


Liona dan Sean memutuskan untuk tidak kembali dan melanjutkan perjalanan melihat sunset, meskipun lelah karena melawan monster gurita, namun itu di bayar dengan pemandangan yang begitu indah.


Sang surya terbenam di upuk barat meninggalkan cahaya orangenya yang romantis.


"Belakangan ini aku sering menikmati sunset." Liona menatap matahari yang perlahan mulai tenggelam.


"Yah, pengalaman hari ini akan sangat berharga untukmu, aku tidak menyangka akan sangat dekat denganmu." Sean menatap Liona dengan sendu.


"Oh, lusa kau akan pulang ke Mavros, ku harap kau berhati-hati karena aku hanya akan mengatar kalian keluar dari hutan black forest." Lanjut Sean.


"Kenapa?"


"Ada beberapa pekerjaan, dan juga aku mendapat laporan di dekat wilayah gunung Xeros, warga setempat belakangan ini sering kerasukan dan menggigit orang yang waras.


Katanya ada roh jahat yang menguasai mereka, aku harus mengeceknya karena prajurit kita paling banyak berada disana." Sean menjelaskan dengan helaan nafas.


Sementara di sisi lain Cecilia kembali dengan tingkah palsu yang sangat memuakkan sedang berdebat dengan ketiga teman pria Liona.


"Ckck, kau tahu? Hidupmu itu tidak akan bertahan lama! Kau akan mati dan itu karena teman-temanmu, terutama Liona." Cecilia menyeringai sambil menunjuk Luther.


"Berisik jalang, dasar wanita ular, wajahmu sangat buruk dan itu membuat mata kami rusak, telinga kami berdengung karena suaramu seperti terompet rusak di tahun baru." Arthur mengeluarkan mulut pedasnya.


"Aku tidak peduli, yang ku tahu aku adalah wanita cantik dan suci, bahkan putra mahkota dan pemimpin Tiger akan tunduk di bawah kakiku." Cecilia memainkan kukunya dengan senyum sinis.


"Kau jangan kebanyakan delusi, jika delusi mu tidak tercapai kau akan menjadi wanita gila, ups aku lupa kau kan memang sudah gila." Balas Arthur sambil mengorek telinganya dengan raut muka yang menyebalkan.


Wajah Cecilia menjadi dingin, dia menatap tajam pada mereka bertiga dan menyeringai, kemudian pergi begitu saja tanpa permisi.


"Dia benar-benar mempunyai kepribadian ganda!" Luther menggelengkan kepalanya dengan miris


"Itu karena kebanyakan delusi, mungkin dia iri dan dengki pada Liona, makanya dia menjadikan Liona sebagai target." Arthur berkata dengan nada mencela.


Mereka berdua benar-benar menghujat Cecilia yang sifatnya tidak jelas dan tingkah laku yang absurd.


"Ugh." Ringisan Elios membuat mereka menghentikan hujatan untuk Cecilia.


Wajah Elios kembali pucat, batuknya di sertai dengan darah berwarna merah kecoklatan, seperti di racuni sesuatu.


"Elios kau baik-baik saja?" Arthur membopong Elios dengan khawatir, Luther memukul kepala Arthur dengan kesal.


"Dia tidak baik-baik saja bodoh! Kau tidak lihat wajahnya yang pucat seperti mayat?"


Mereka membawa Elios ke tempat istirahat dan membaringkannya, Arthur menyalurkan energi elf nya diam-diam, menjaga vitalitas tubuh Elios yang saat ini mulai melemah.


"Kirimkan surat pada Liona agar cepat kembali menggunakan merpati pos." Luther mengangguk dan mulai menulis.


Energi hitam pada tubuh Elios sangat pekat, bahkan Luther mengeryit dan memeriksa tubuh Elios.


"Sial! Jalang itu mengirimkan sesuatu pada Elios, karena daya tahan tubuhnya masih rendah." Luther berkata dengan dingin.


Sedangkan saat ini Cecilia sedang tertawa terbahak-bahak di dalam kamarnya, penampilan yang biasa lembut telah berubah menjadi sosok yang seperti iblis, matanya tidak punya sklera dan dia punya taring.


"Memang keuntunganku untuk datang ke Ravnos." Dia menjilati kuku jarinya yang panjang dan hitam, mengambil katak, kecoak dan tikus untuk di makan mentah-mentah.


Darah berceceran di baju dan lantai, namun dia masih tertawa dengan ngeri sembil menyedot darah tikus hingga kering.


Mata hitamnya yang seperti sadako bersinar berbahaya, namun kekuatan sucinya saling bertabrakan menyebabkan tubuhnya terpental.


"Sial, aku harus menyingkirkan kekuatan cahaya ini, benar-benar menyiksa." Umpatnya.


Cecilia menyerap energi yang keluar lewat celah-celah, sehingga menyebabkan dirinya bertransformasi menjadi bentuk yang mengerikan.


Meskipun dia bisa merubah wujudnya lagi menjadi wanita anggun dan cantik, namun dia harus minum darah serangga menjijikan dan dagingnya mentah-mentah, karena efek samping dari energi negatif yang di keluarkan khimera.


"Meskipun agak menyiksa, namun kekuatan ini benar-benar hebat."


Cecilia kembali terpental akibat kontraksi ketidakstabilan sihir cahaya dan gelapnya.


"Aku harus membuang sihir cahaya ini, benar-benar mengangguku." Cecilia terus bermonolog sendiri seperti wanita gila.


***


Liona yang mendapat surat dari Luther meminta Sean untuk kembali, katanya Cecilia mengirimkan sesuatu yang aneh pada Elios..


Meskipun Sean merasa dongkol, dia tidak bisa melarang Liona, mereka juga tidak bisa terbang saat ada di laut karena Atmosfer nya yang berbeda dengan daratan.


"Kenapa lambat sekali?" Liona sudah tidak sabar, dia benar-benar khawatir pada Elios.


Alurnya benar-benar berubah, Liona tidak tahu lagi masa depan akan seperti apa, sifat Cecilia yang menyimpang, dia yang menjadi jenius.


Apakah karena ceritanya berubah, orang-orang terdekatnya dalam bahaya? Pemikiran itu membuat Liona semakin tertekan.


Kapal pesiar sampai di pelabuhan, Liona terburu-buru turun, Sean memegang pergelangan tangannya agar Liona tidak menjadi impulsif.


"Tenanglah, sihir terbangmu cukup lambat, sekarang kau naik sapu terbangku." Sean mendudukan Liona di sapunya, Liona tidak membantah dan hanya diam


"Elios adalah pria kuat jangan khawatir." Sean menenangkan Liona dengan hati yang masam.


Pria mana yang tidak cemburu saat wanitanya mengkhawatirkan pria lain? Meskipun pria itu telah dianggap sebagai seorang kakak?


"Kenapa dengan wajahmu? Apakah kau sakit?" Liona menyadari perubahan ekspresi Sean yang masam.


"Tidak apa-apa, aku hanya cemburu kamu lebih mengkhawatirkan pria lain."


"..."


Mereka tiba di istana, Liona menarik tangan Sean menuju tempat Elios berada, Sean sedikit mengernyit namun dia tidak berkata apa-apa.


Brakk


"Elios." Liona membanting pintu kamar dan berteriak masuk, membuat beberapa orang melihat karena takut terjadi sesuatu.


"Liona, kau membuat semua orang kaget." Elios berkata dengan lemah di tempat tidurnya.


"Maaf, maaf." Ujar Liona sambil membungkuk kepada beberapa orang yang datang.


"Kenapa dia terkena guna-guna? Dan itu kelihatannya lebih kuat dari guna-guna yang dikirim pada Liona." Sean memeriksa Elios.


Liona mengalirkan sihir cahaya yang di terima dari pria tua di hutan kaktus, bisa dikatakan sekarang sihir cahaya dan sihir gelap Liona seimbang.


Bayangan hitam keluar dari tubuh Elios, itu bergerak-gerak di tanah seperti ulat karena kepanasan.


"Sialan manusia!" Umpat bayangan hitam.


"Dia bisa berbicara?" Beberapa orang di ruangan itu terkejut.


"Tentu saja, semakin kuat pemanggil, semakin kuat pula kita."