I Became A Villain In A Novel

I Became A Villain In A Novel
Dua puluh lima



Kami tiba di tepi hutan yang membatasi Ravnos dan Mavros, perjalanannya cukup aman karena pasukan Tiger yang terlatih jadi serangan monster tidak menghabiskan banyak waktu.


Rasanya otot pinggangku sakit, meskipun saraf motorikku lumayan bagus, namun jika berkuda terus menerus tanpa henti itu membuat pinggang dan punggungku sakit.


"Kita memerlukan dua hari untuk sampai ke Ravnos, hutan black forest sangat berbahaya harap semuanya berhati-hati." Sean memperingati kami.


Ku lihat semua pohon berwarna gelap, jalan di depan pun sangat gelap, bahkan sinar matahari yang merambat lewat daun hanya sedikit.


"Aku merinding." Ujar Arthur berbisik ke arahku.


"Baru pertama kali aku keluar dari Mavros." Bisik Luther.


"Aku sudah terbiasa keluar dari Mavros, hutan Black forest memang cukup berbahaya, karena monster disini lebih kuat dari monster biasanya." Ujar Elios menatap sekeliling.


Aku berfikir hutan Black forest ini mirip dengan hutan di kehidupan ku yang dulu, tepatnya hutan yang berada di barat daya Jerman.


Hutan ini pun mengingatkan ku pada kue yang selalu di hadiahkan oleh temanku dulu saat aku berulang tahun.


Grrr


Pasukan Tiger membuat kode untuk kami berhenti berkuda, kami memandang sekeliling yang gelap.


Terlihat beberapa pasang mata berwarna merah di setiap semak-semak yang ada, pasukan Tiger pun sudah bersiap mengeluarkan senjatanya.


Di dalam pasukan Tiger, banyak sekali magic user, mereka mengubah senjata mereka dalam sekejap mata, entah itu tombak, panah, pedang bahkan palu yang sejenis dengan palu Thor di kehidupanku dulu.


"Mereka luar biasa bukan?" Elios menatap takjub pada pasukan Tiger, meskipun Elios selalu terlihat sebal saat menatap Sean namun kekagumannya tidak bisa di sembunyikan.


"Iya, baru pertama kali aku melihat seorang magic user." Ujarku dengan takjub.


"Bukan hanya magic user, ku dengar pasukan Tiger mempunyai beberapa ahli berbakat, seperti seorang summoner, shaman, banisher, hunter, archer, sniper bahkan Assasin terkuat. Katanya jumlah pasukan Tiger sangat banyak dan tersebar di beberapa wilayah." Jelas Elios yang tak biasanya berbicara panjang lebar.


"Luar biasa." Ujarku dengan takjub, julukan pasukan terkuat di benua memang bukan hal omong kosong saja.


"Hati-hati, itu monster serigala bermata merah, cukup berbahaya dan jangan terkena air liurnya itu beracun." Ujar seorang ksatria pasukan.


Healer, dokter dan Alchemist yang tidak bisa bertarung di tempatkan di tengah, dan para pasukan Tiger bertarung di depan dengan serigala bermata merah.


Cecilia menggunakan kekuatan cahayanya untuk menghalau monster mendekat ke arah orang-orang yang tidak bisa bertarung.


Sedangkan aku hanya menonton pertunjukan action nyata di depanku dengan santai, entahlah aku percaya kalau Sean bisa membantai semuanya dalam sekejap.


Benar saja, pasukan serigala bermata merah mundur karena Sean yang langsung membunuh pemimpin mereka, tidak di kejar karena akan membuang cukup waktu.


"Pemimpin anda sangat luar biasa." Ujar Cecilia malu-malu berkata kepada Sean.


Aku melihatnya dengan jijik, Cecilia sangat berbeda jauh dengan yang ada di novel, Cecilia saat ini terlihat seperti seorang wanita penggoda.


Ku lihat sean hanya meliriknya saja lalu mengabaikannya, entah kenapa aku merasa ingin tertawa dengan kejam.


"Mengapa dia berperilaku begitu? Memalukan saja." Bisik Arthur kearahku, Luther dan Elios mengangguk membenarkan, mengapa mereka menjadi penggosip?


Terlihat Cecilia yang malu dan naik ke kudanya, orang-orang juga saling menatap namun tidak berbicara, biasalah jika tokoh utama membuat malu, orang-orang yang terpesona akan mengabaikannya seolah itu tidak pernah terjadi.


"Aku sudah menduganya dari lama." Ujar Luther tiba-tiba.


"Apa?" Tanya Arthur, sedangkan aku dan Elios mendengarkan apa yang akan di katakan Luther.


"Mata mereka buta, bisa-bisanya terpesona dengan wanita yang mirip dengan ulat bulu itu." Luther berkata dengan kejam.


Ppfft


Aku dan Elios tidak bisa menahan tawa dan terbahak-bahak membuat kami menjadi pusat perhatian, sialan Luther!


Bisa ku tebak pikirannya pasti, 'orang-orang itu bahkan tidak membantu melawan monster, tapi sekarang malah bisa tertawa dengan begitu keras' yah kira-kira isi pikirannya begitu.


"Luther sialan dasar satanso, jangan melawak!" Ujarku memelototinya.


"Sialan Liona! Aku ini prince charming bukan iblis! Lagipula aku tidak melawak, aku hanya berbicara fakta dengan sangat akurat." Balasnya menatapku dengan sinis.


Aku terkekeh geli dengan pelan, atau jika aku terkekeh dengan keras aku akan menjadi bahan omongan mereka yang merasa terganggu.


"Karena hari sudah mulai malam, kita akan beristirahat di depan sana. Disana ada tanah yang lumayan luas, kita akan memasang tenda disana." Ujar pria yang sebelah matanya terluka.


***


Tenda sudah selesai di pasang, kami menikmati makan malam dengan tenang, aku pamit terlebih dahulu untuk tidur benar-benar melelahkan.


"Liona."


"Liona."


Aku membuka mataku terkejut, tadi tanpa sengaja aku tertidur saat sudah sampai di tenda karena lelah, lalu mendengar suara yang tidak asing memanggilku.


"Falaina?"


"Kau sudah sampai." Katanya mengelus kepalaku dengan siripnya.


"Iya, kenapa kau memanggilku?" Tanyaku mendekat ke arah Falaina dan memeluknya.


"Datanglah ke kuil suci yang kau lihat di dalam mimpimu." Katanya dengan suara menenangkan.


"Kenapa kau tahu? Aku selalu berfikir bahwa mimpi itu aneh, apakah kau yang menunjukannya?" Tanyaku menatap Falaina yang ukurannya sangat besar.


"Iya, dewa athanatos memerintahkan ku untuk menunjukkan kuil suci itu, letaknya tidak jauh dengan tempat yang akan kamu tuju."


"Baiklah, tapi ada apa disana?" Dewa athanatos ternyata memang benar-benar ada fikirku.


"Kau akan tahu saat tiba nanti, saat ini kau harus bangun untuk melanjutkan perjalananmu. Hati-hatilah!" Falaina mendorong ku lagi seperti kejadian pertama kali.


Aku membuka mataku dan terkejut melihat Sean yang sedang tersenyum.


"Tidur nyenyak nona?" Sial, aku sangat malu saat ini!


"A-apa yang kau lakukan disini? Ini tempat seorang gadis." Ujarku dengan gugup sambil memalingkan mataku ke arah lain.


"Benarkah? Semalam aku terus berada disini." Ujar Sean dengan polos.


Aku memukulnya dan memelototinya, dia hanya terkekeh pelan dan bangkit, mengajakku untuk mencuci mukaku dan bersiap pergi dari hutan Black forest.


Untung saja tidak banyak orang di luar, hanya beberapa ksatria dari pasukan Tiger yang sedang membereskan tendanya.


Sean menyuruh salah satu bawahannya untuk membereskan tendaku, dan dia mengajakku untuk mengumpulkan embun yang ada di setiap daun.


"Kenapa kita mengumpulkan daun?" Tanyaku padanya yang dengan telaten mengumpulkan embun dalam satu wadah.


"Untukmu mencuci muka." Aku tidak bisa menahan kedutan, untuk apa ada penyihir air?


Merasakan pikiranku dia menjelaskan kalau air embun lebih segar dari air yang di hasilkan dengan sihir.


Selama aku dan Sean mengumpulkan air embun, pasukan Tiger membangunkan semua orang untuk bersiap-siap berangkat, tidak ada yang membantah dan mereka hanya menurut saja.


"Kita akan berkuda tanpa henti, jadi siapkan diri kalian. Istirahat semalam seharusnya cukup." Ujar Sean.


Kami semua menaiki kuda dan pergi dari sana, meskipun aku sudah cuci muka rasanya aneh kalau tidak mandi, ingin mengeluh pun tidak bisa, punya air namun tak bisa di pakai.