I Became A Villain In A Novel

I Became A Villain In A Novel
Empat puluh satu



Semuanya berjalan dengan rencana, menara suci tidak bisa menyentuh Luther sembarangan karena kemarin dia membuktikan bahwa dia bukanlah iblis.


Ya meskipun berbohong pada publik, namun untuk kebaikan itu di perlukan, lagi pula Luther tidak mencelakai manusia, dan darah iblisnya tidak terlalu kental.


Aku juga sudah kembali ke akademi, semuanya tampak normal, Prasina sudah di kembalikan pada Count, namun sebelumnya kami memutuskan untuk menghapus ingatan Prasina saat Sean datang.


Aku pindah asrama dan tidak sekamar lagi dengannya, Prasina sekarang sangat dekat dengan Cecilia, namun aku tidak peduli, aku tidak butuh teman pengkhianat.


"Kau tahu, putra mahkota di kabarkan sangat dekat dengan anak jenius itu, Cecilia." Seorang penggosip berbisik pada temannya, namun karena indra pendengaranku bagus aku mendengarnya dengan jelas.


"Aku tahu, kemarin mereka kencan. Setelah sage di umumkan putra mahkota menjadi dekat dengan Cecilia."


"Aku bangga dengannya, ternyata ada sage di akademi kita, betapa hebatnya itu."


Aku hanya mencibir, dia memang seorang sage yang mempunyai sihir cahaya murni, namun dia adalah wanita iblis yang berkamuflase.


Saat pengumuman sage, itu berjalan dengan baik, semua orang sangat terkejut karena Cecilia adalah sage.


Entah kenapa putra mahkota yang kelihatannya tidak peduli dengan Cecilia, sekarang malah menjadi dekat.


Oh atau itu kembali ke jalur novel? Kalau begitu bukankah aku harus lebih waspada?


"Apakah putra mahkota buta? Sepertinya dia menderita katarak." Arthur berbisik.


Aku hanya mengangguk saja dan membenarkan itu semua.


"Aku ingin membunuhnya, namun karena dia adalah seorang sage itu akan menjadi boomerang untukku." Luther menyipitkan matanya dan berbicara dengan dingin.


Sekarang Luther sudah baik-baik saja, meskipun ada beberapa orang yang takut padanya, namun ada juga orang yang menganggap itu semua hanya rumor.


"Kepada seluruh murid akademi Mavros, di harap kalian berkumpul di aula utama." Suara kepala akademi terdengar nyaring di kantin, itu memakai sihir yang mirip dengan microphone.


"Ayo pergi." Ajakku pada ketiga teman priaku, banyak yang melihatku seolah aku perempuan murahan, namun aku tidak peduli!


"Apakah kau merasa tidak nyaman berteman dengan kami?" Tanya Elios merangkul pundakku.


"Nyaman, aku tidak peduli berteman dengan siapapun asal itu tulus dan tidak berkhianat." Balasku melirik Prasina yang sedang bergandengan tangan dengan Cecilia.


Tampak dia sangat malu dan memelototiku, aku tidak peduli, lagipula aku sudah sangat puas melihatnya memohon dan menangis merangkak di bawah kakiku.


"Memang benar kita harus berhati-hati dalam memilih teman, atau kita akan bertemu dengan pengkhianat yang akan merugikan kita dan tidak tahu malu." Arthur dengan sinis dan tatapan jijik terang-terangan melihat Prasina.


"Apa maksudmu?" Prasina marah dan menarik kerah Arthur.


"Jangan menyentuhku! Dasar virus, atau aku akan tertular virus tak tahu diri dan tak tahu malu."


"Kau sialan!"


"Kau lebih sialan, lebih bajingan dan bau dugong, dasar pengkhianat! Jika aku jadi kau, aku akan mati saja di lubang buaya."


"Diam."


"Kenapa aku harus diam? Ini mulutku dan bukan mulutmu, dasar wanita idiot." Arthur terus menyerangnya dengan kata-kata yang menusuk.


Aku, Elios dan Luther hanya menonton keseruan ini, jika ada popcorn aku akan memakannya seperti sedang melihat bioskop versi siaran langsung.


"Sudahlah Arthur, yang namanya tak tahu diri meskipun kita sudah menyindirnya dia tidak akan pernah sadar, jangan buang-buang air liurmu, itu sangat berharga daripada idiot ini." Luther dengan jijik menghentikan Arthur.


Wajah Prasina merah padam, sangat marah! Aku benar-benar ingin tertawa sambil menggoyangkan pantatku di depan wajahnya.


"Prasina sudahlah, mereka orang jahat yang sesat, ku kira mereka tidak ingin berteman denganku karena aku punya kekuatan suci, makanya mereka takut karena menganut ilmu hitam." Ujar Cecilia sambil menggelengkan kepalanya.


"Dasar wanita busuk, kau sedang mengatai dirimu sendiri rupanya." Balasku dengan datar.


Kami tidak mempedulikannya lagi dan pergi sembari menabrak bahu Prasina, sungguh aku merasa kalau aku adalah seorang preman sekolah yang suka melabrak adik kelas tak tahu diri.


Di aula sudah banyak orang, aku berbaris menunggu kepala akademi mengumumkan sesuatu.


"Apakah sudah berkumpul semua?"


"Sudah."


"Jadi bagini, setiap akademi kekaisaran akan mengadakan festival dan lomba, kami pihak akademi sudah mencatat siapa yang akan ikut untuk berpartisipasi.


Tidak ada penolakan karena ini sudah di setujui oleh kaisar, aku berharap kalian bersungguh-sungguh mengikuti ini untuk membanggakan kekaisaran kita."


Kepala sekolah terus menyebutkan nama-nama yang akan ikut berpartisipasi, orang-orang yang di pilih cukup beragam.


Ada ahli bertarung, ahli bersembunyi, healer, Alchemist, summoner, shaman. Aku di pilih untuk bertarung dan healer, sebenarnya aku masuk ke elementalist.


Namun karena aku memilih low profile, jadi tidak ada yang tahu aku seorang elementalist, karena hanya aku satu-satunya elementalist yang berada di kekaisaran ini, elementalist terdahulu hilang entah kemana.


Dalam novel, festival dan lomba ini di adakan di kota empty, kota yang membatasi 4 kekaisaran, juara pertama adalah putra mahkota Mavros, tentu saja itu karena power pemeran utama.


Lalu juara kedua adalah sang heroine, Cecilia! Karena dia mempunyai sihir cahaya, Cecilia bisa mengalahkan lawannya dengan mudah.


Disinilah terjadi adegan romantis antara pemeran utama pria dan sang heroine.


"Aku tidak menyangka aku juga akan di pilih." Ujar Luther dengan bahagia.


"Tentu saja kami semua terpilih, karena kita adalah jenius abadi di akademi ini." Arthur dengan gaya aneh memamerkan dirinya sendiri.


Krik krik


Semua orang menatap Arthur dengan pandangan seperti melihat orang gila, ah aku tidak mengenal pria ini! Dia yang berbuat aku yang menanggung malu.


Meskipun sempat ada kasus Luther, namun kita di berikan penghargaan karena sudah membuat akademi dan kekaisaran bangga karena telah menolong Ravnos.


Tentu saja ada penghargaan untuk itu semua, jadi meskipun Arthur bertingkah gila dan kasus Luther, banyak orang yang kagum pada kami.


"Satu minggu lagi kalian akan berangkat ke kota empty, tidak memakai kuda hanya menggunakan kereta yang sudah di siapkan oleh kekaisaran, kalian boleh kembali."


Kami semua kembali dengan tertib, tampak Prasina bangga karena dia di pilih, iya sih dia kan seorang Banisher.


"Menjijikan sekali, seharusnya wanita idiot itu mengusir dirinya sendiri, dia kan makhluk jahat." Arthur dengan jijik berbicara keras.


"Kau iri padaku?" Kebanggaan Prasina langsung memudar begitu mendengar suara Arthur yang menyindirnya.


"Tidak, karena aku sang jenius juga terpilih, dan kamu tidak layak untuk jadi seseorang yang patut di iri kan."


Perdebatan itu di mulai lagi, aku hanya menghela nafas lelah dan menonton pertunjukkan antara temanku dan mantan temanku.