I Became A Villain In A Novel

I Became A Villain In A Novel
Tujuh puluh tujuh



Semua orang fokus mencari kedua belas celah yang berada dalam lingkaran setan, namun sudah memakan banyak waktu mereka tidak menemukan apa-apa.


Tidak bisa berpencar karena Bahaya di hutan ini tidak di ketahui, Sean menghela nafas lelah, dia menyuruh yang lainnya untuk beristirahat, persediaan makanan hampir habis dan perjalanan masih panjang.


"Sialan, apakah kita salah?" Dave mengumpat merasa kesal, sudah seteliti mungkin dia mencari potongan-potongan puzzle lambang zodiak, namun tetap saja tidak ada, mereka semua seolah mencari sesuatu dari ketiadaan.


Angin berhembus kencang dari segala arah, semua orang yang sedang beristirahat terbangun, bersiap diri untuk menyerang kapan saja bila bahaya datang.


Hi~hi~hi


Suara tertawa terdengar lembut di telinga setiap orang, suaranya seperti alunan musik rindu yang membawa kenangan.


Terlihat beberapa makhluk transparan dengan mata merah menyala menatap pasukan Sean, ada taring mencuat saat para makhluk transparan itu menyeringai.


"Apa-apaan itu?"


"Apakah mereka hantu?"


Dua orang yang berbicara itu tiba-tiba di serang para makhluk transparan, mereka sangat sensitif terhadap suara.


Wajahnya terkoyak, tubuhnya di cabik-cabik dengan taring makhluk transparan itu yang tajam, mata merahnya menyedot roh dari kedua pria itu.


Saat seseorang akan berteriak, Arthur segera menutup mulutnya, dia menyadari kalau makhluk-makhluk transparan itu sangat sensitif terhadap suara.


Liona mengambil sebuah bom yang dia berikan juga kepada Sean waktu itu, kemudian melemparkannya pada tempat yang lebih luas sehingga menimbulkan efek ledakan yang sangat besar.


Benar saja! Para makhluk transparan itu segera mengerubungi tempat ledakan, karena semua orang yang ada disana cerdas, mereka bisa mengerti kalau makhluk transparan itu sensitif terhadap suara.


Suasana menjadi lebih gelap dan mencekam, apalagi saat melihat kedua orang pria yang hanya tersisa tulangnya saja.


Semua orang perlahan merapatkan diri menuju tempat Sean berada, mereka tidak boleh mengeluarkan suara sekecil apapun, bahkan bernafas saja harus hati-hati.


Dave menyuruh Liona menggunakan bahasa isyarat untuk melemparkan bom-bom itu lagi ke tempat semula.


Karena tidak ada target, makhluk transparan hanya bisa berdiam kebingungan, Liona yang akan mengeluarkan bom tanpa sengaja kakinya menginjak ranting.


'sial' batinnya.


Semua orang melihat ke arah Liona yang berdiam kaku, para makhluk transparan juga sudah menatap Liona dengan mata merahnya.


Liona masih mempertahankan posisinya saat menginjak ranting dan dengan tergesa-gesa mengeluarkan bom dari dalam tasnya.


Dia melemparkan bom itu secepat mungkin, saat ledakan besar terjadi Liona buru-buru menyingkir dan berlari ke arah Sean.


Jantungnya berdegup kencang, merasa kalau dia sedang syuting film horor, saat berpindah tempat suara ranting itu teredam oleh ledakan.


Karena tidak tahu harus berbuat apa, mereka hanya diam dengan pasrah menunggu para makhluk transparan itu menghilang dengan sendirinya.


Mereka juga tidak bisa berbicara atau berdiskusi untuk mencari titik lemah para makhluk transparan, benar-benar ada di situasi yang sangat sulit.


Seorang gadis yang cukup pendiam, berinisiatif mengeluarkan energi cahayanya, meskipun lemah dan tidak sekuat Cecilia, namun dia masih bisa mengendalikan sihirnya itu.


Gadis itu merasa kalau makhluk transparan akan takut dengan cahaya, hutan ini sangat gelap dan juga lembab, pasti para makhluk transparan tidak pernah melihat cahaya.


Hi~


"Pergi! Atau aku akan membunuh kalian." Ujarnya, sembari menyodorkan cahayanya ke arah makhluk transparan.


Suara merdunya terdengar lagi, kali ini tampak lebih pilu dan menyakitkan, matanya yang awalnya berwarna merah menjadi biru.


Taringnya yang mencuat tergantikan dengan gigi biasa, mereka tertunduk lemah dan seketika berubah menjadi beberapa manusia namun dalam bentuk roh.


"Terimakasih." Ujar salah seorang pria berkulit gelap memakai sorban, dia tersenyum manis ke arah gadis itu.


Sean yang melihat itu menegang, pupilnya bergetar, beberapa orang yang termasuk dalam pasukan Tiger juga mengalami hal serupa.


Pria berkulit gelap itu melihat ke arah Sean yang sedang menatapnya dengan mata yang menyorotkan kesedihan dan kerinduan, pria itu tersenyum dan mendekat ke arah Sean dengan kakinya yang tidak lagi menapak pada tanah.


"Komandan, ternyata anda baik-baik saja."


Sean ingin memeluknya, namun pria itu tembus pandang. Dia terkekeh pelan, kemudian tersenyum dengan tulus, beberapa roh yang lain ikut mendekat, memberi salam pada Sean.


"Kami tidak menyangka akan bertemu dengan komandan disini, maaf karena sudah mencelakai sesama anggota." Mereka melihat ke arah tulang yang dagingnya telah tercabik-cabik.


Sorot menyesal terpatri pada mata biru mereka semua, Sean menggelengkan kepalanya merasa gagal menjadi ketua.


"Kami tidak punya banyak waktu komandan, terimakasih karena sudah membebaskan kami dari jerat jiwa yang membuat kami seperti ini."


"Ada satu hal yang harus kami beritahu, kalian tidak perlu mencari susunan apapun itu untuk keluar dari lingkaran setan, bawalah kristal kami dan pergi dari sini, setidaknya di akhir hidup ini kami akan tetap berguna."


Perlahan-lahan roh mereka semua yang ternyata adalah bawahan Sean dulu, berubah menjadi segumpal cahaya keemasan membentuk kunang-kunang yang menerangi hutan gelap itu.


Kristal biru bertebaran di bawah sana, pria berkulit gelap tersenyum tulus dan mengucapkan selamat tinggal pada Sean dan pasukan Tiger yang lain.


"Semoga beruntung." Suara serak dan berat itu menggema di hutan, Sean dan pasukan Tiger masih diam membisu, yang lainnya juga tidak berani mengambil kristal biru.


Mungkin ini pukulan berat bagi mereka semua, Sean masih menatap kosong ke depan berharap kalau temannya bisa kembali lagi berjuang bersamanya.


Liona yang melihat itu merasa iba, dia memeluk Sean yang diam-diam sedang menitikkan air matanya, untuk pertama kalinya Sean merasa gagal menjadi seorang pemimpin.


"Tidak apa-apa ini bukan salahmu." Ujar Liona sembari menepuk punggung Sean yang bergetar menahan tangis.


"Bahkan di akhir hayatnya hasin masih tetap membantu."


Sean menyuruh semua orang untuk mengumpulkan kristal biru itu, dia tidak bisa mengabaikan begitu saja pengabdian terakhir teman seperjuangannya.


Hasin, pria dari timur yang sangat menjunjung tinggi norma dan keadilan, telah gugur saat ini.


Pria itu adalah teman seperjuangannya Sean, pria pertama yang menjadi pengikut Sean saat mendirikan pasukan Tiger, pria yang siap kapan saja membela Sean dimanapun dan kapanpun.


Arti seorang teman bagi Sean adalah Hasin, arti seorang saudara bagi Sean adalah Hasin, bisa di lihat seberapa dekat mereka, tidak heran kalau saat ini pria itu merasa sangat kehilangan.


Sebelum pergi, mereka menyempatkan untuk menguburkan tulang yang telah tercabik dan upacara pembakaran untuk para roh yang telah tenang.


"Terimakasih dan maaf."