I Became A Villain In A Novel

I Became A Villain In A Novel
Tujuh puluh tiga



Di seberang hutan yang saat ini di lalui Liona dan teman-temannya adalah bekas pertambangan batu permata, namun karena serangan monster pertambangan itu menjadi terbengkalai.


Orang-orang tidak mau mengelola tambang itu, selain mempertaruhkan nyawa, biaya pertambangan juga sangat mahal. Dulu pertambangan ini di kelola oleh orang-orang pedalaman.


Srekk


Semua orang berhenti dan menatap ke semak-semak dengan waspada, monster seukuran simpanse keluar dengan taring mencuat keluar.


Awalnya hanya ada satu monster, namun kemudian monster yang lain datang dari semak-semak lain, Liona dan yang lainnya bersiap-siap untuk menyerang karena saat ini mereka sudah terkepung.


"Itu adalah para kako, monster yang menyerang secara gerombolan, sama seperti serigala." Teriak Edward.


Meskipun tidak pernah memburu monster, namun Edward bisa tahu dengan melihat ciri-cirinya, itu banyak di jelaskan dalam buku.


Para kako itu menjerit, lengkingannya sangat menganggu telinga, Sean dan beberapa orang yang sudah sering memburu monster mengumpat kesal melihat para kako yang muncul.


Tentu saja, para kako meskipun lemah namun mereka mempunyai kecerdasan tinggi dan juga cukup merepotkan karena menyerang secara bersamaan, para kako juga mempunyai suara yang lengkingannya setara dengan lumba-lumba.


"Mereka akan sangat merepotkan, lebih baik kita kabur." Ujar Dave, dia pernah melawan monster seperti ini sebelumnya, dan pasukannya rugi besar karena suara para kako benar-benar menghilangkan fokus.


"Itu lebih baik, namun mereka tidak akan semudah itu untuk melepaskan mangsanya." Leandro mengernyit, dia sudah siap menyerang kapan saja, kalau-kalau para monster itu mendekat.


"Kalau begitu tidak ada cara lain selain membunuh mereka." Sean mengangkat pedangnya.


Sean menyuruh untuk diam terlebih dahulu sebelum dia memberi aba-aba untuk menyerang, karena peka para kako itu juga bersiap untuk melawan Sean dan yang lainnya.


"Serang." Teriak Sean, semua orang mulai menyerang secara membabi buta, karena gerombolan, mereka agak kesusahan.


Brigitte menyerang para kako dengan tombak yang terbuat dari es, ternyata dia seorang penyihir element es, sedangkan Elios dan Edward membuat rencana agar tidak membuang banyak waktu.


"Ada sekitar tiga puluh kako, dan pasukan kita lebih banyak dari mereka, namun tetap saja itu merepotkan, bagaimana jika membagi beberapa ahli pedang dan penyihir untuk menyerang bersamaan?"


"Itu juga bisa, hanya saja jika penyihir dan ahli pedang tersebut hanya bisa fokus pada salah satu kako, kemungkinan mereka akan di serang dari belakang oleh gerombolannya yang lain."


"Bagaimana jika tiga ahli pedang membentuk segitiga saling memunggungi, kemudian para penyihir berada di tengah-tengah. Jadi satu ahli pedang akan fokus pada satu kako, dan penyihir bertugas sebagai penyerang jika ada kako yang menyerang diam-diam. Mereka juga tidak akan mudah di serang karena di belakangnya ada ahli pedang dan penyihir yang lain."


"Baiklah, kita akan menjalankan rencana itu." Edward mengangguk, Elios memang ahli strategi yang hebat, bahkan dia yang jarang memuji orang lain sangat mengapresiasi taktik Elios.


Elios berteriak memberitahu rencananya, dia tentu saja berada di barisan paling belakang, bukan tidak bisa bertarung, hanya dia harus mengamati mana yang kurang dari serangan semua orang.


Orang-orang mulai membentuk pola segitiga, di tengahnya terdapat tiga penyihir dengan kemampuan berbeda, Liona bersama dengan Jason dan salah seorang dari pasukan yang di bawa Dave.


Liona mengeluarkan pedangnya, Jason mengatakan jika Liona tidak harus menggunakan semua kekuatannya, yang penting serangannya gesit dan ringan.


"Baik." Liona mengangguk, setelah Jason memberi aba-aba, mereka mulai menyerang monster.


Para ahli yang tidak bisa bertarung mereka diam di belakang sambil memperhatikam sekeliling takut ada bahaya lain yang menyerang.


Liona menjadi fokus pada satu monster, para kako lemah namun mereka alot, sulit untuk di bunuh, benar-benar monster yang merepotkan!


"Fokus." Teriak Sean, melihat beberapa orang memegang kepalanya sakit karena pekikan para kako.


"Sialan mengapa suara mereka sangat tidak enak di dengar." Gerutu Liona sambil mencoba untuk fokus.


Liona memejamkan matanya sejenak, kemudian membukanya dia membawa sebuah kapas yang dia tinggalkan di dalam sakunya, dia menyumpalkan kapas pada telinganya agar tidak terlalu sakit saat mendengar pekikan.


"Sialan, aku akan memotong mulut kalian agar tidak berteriak!" Kata Liona, aura pedang berwarna merah keluar dari tubuh dan pedangnya.


Beberapa orang yang melihat itu terkejut, itu adalah kebangkitan seorang pedang aura, Liona tidak sadar, hanya saja dia menjadi lebih fokus, karena pendengarannya yang tajam dan matanya yang bisa melihat jelas dia sebenarnya bisa melihat gelombang suara, dan juga pendengarannya berbeda dari orang biasa.


"Kalian sangat berisik! Seharusnya kalian dengarkan suara kalian sendiri, begitu tidak enaknya sampai ingin muntah." Gerutu Liona.


Orang-orang juga tidak lagi memperhatikan Liona, mulai fokus pada para kako yang merasa krisis.


Liona bergerak dengan gesit, dia tidak menggunakan banyak kekuatan pada pedangnya seperti yang di katakan oleh Jason, gesit dan ringan tapi pasti.


Para kako juga sangat kewalahan menyerang Liona, setiap ada kako yang akan menyerang diam-diam para penyihir menyerangnya dengan sihir.


Benar-benar sangat kompak!


Kikkkk


Para kako kembali memekik dan menepuk-nepuk dadanya, mereka terlihat sangat marah karena para manusia ini sangat sulit untuk di kalahkan.


Para kako yang lain sudah banyak yang tumbang, ini membuat kako yang lain merasakan krisis besar di hatinya, namun kako yang paling besar tidak menyuruh mereka untuk berhenti.


"Ketua kita harus menyerang pemimpin para kako yang bersembunyi terlebih dahulu, agar kako yang lainnya berhenti." Saran bawahannya Sean.


Sean mengangguk, meskipun pemimpin pasukan kako tidak ikut turun tangan namun dia terus memperhatikan pertarungan itu.


Liona juga melihatnya, namun dia tidak bisa mendekat untuk membunuh karena para kako yang terus menerus menyerang.


Sean muncul di belakang pemimpin para kako, dengan refleks pemimpin para kako menghindar dengan gesit, dia menggeram keras, beraninya manusia lemah seperti Sean menyerangnya secara diam-diam.


"Manusia yang berani!" Katanya, Sean mengernyitkan dahinya, lagi-lagi monster yang bisa berbicara.


"Mati saja!" Teriak Sean.


Mereka mulai keluar dari kegelapan, para kako juga mulai kembali bersemangat, itu karena pemimpinnya sendiri yang turun tangan bertarung dengan manusia lemah.


Aura di tubuh Sean semakin berat, pemimpin para kako itu merasa jika dia tidak bisa bermain-main dengan manusia yang di hadapinya, ada aura agung dalam tubuhnya.


Para kako yang lainnya hanya merasa senang, tidak mengetahui apa yang sedang terjadi dengan pemimpinnya.


Liona melihat fokus para kako yang teralihkan menjadi bersemangat dan mengambil keuntungan diam-diam.


"Dasar para monster bodoh, jika sedang bertarung seharusnya mereka lebih fokus pada lawannya. Yah meskipun punya kecerdasan tetap saja mereka sangat bodoh di bandingkan dengan manusia."