
Setelah Sean menjelaskan tentang penyakit sapios aku mendapat surat dari akademi kalau kekaisaran Ravnos yang selalu tertutup mengundang para healer dan Alchemist berbakat untuk datang menjadi suka relawan.
Mungkin karena sudah tidak bisa di tangani, kekaisaran Ravnos yang misterius mulai membuka gerbangnya, mereka juga menawarkan perjanjian dengan beberapa kaisar kalau membantu Ravnos dalam menghadapi wabah penyakit sapios.
Perjanjiannya berupa batu energi yang akan di suplai setiap tahun, di jelaskan meskipun kekaisaran Ravnos sangat tertutup namun sumber daya alamnya begitu melimpah.
Meskipun cuacanya dingin, ada tempat khusus yang dibuat sihir untuk menumbuhkan rempah-rempah dalam jumlah banyak, bahkan kekaisaran lain tidak bisa membuat sihir semacam itu.
Di Ravnos juga banyak penyihir berbakat, terkadang ada pertukaran pelajar antar Ravnos dan Mavros, hanya saja pelajar dari Ravos lebih pendiam dan informasi sulit di gali.
"Kau sudah siap?" Tanya Xavier dengan ceria, aku mengangguk dan berjalan kearahnya.
Aku menggandeng tangan Xavier dan menghampiri Alex yang sudah bersiap dan melihat kearah kami.
Tidak banyak ksatria yang menjaga kami karena itu sangat menganggu, aku berjalan ke arah kereta di apit dua kakakku yang tampan.
Aku melihat ke arah jendela ruangan tempat Sean berada, dia melihatku dan melambaikan tangannya.
"Hati-hati." Suara Sean muncul di pikiranku, aku terkejut meskipun sihir teleportasi, sihir telepati itu umum namun penggunaannya sangat sulit.
Sihir teleportasi juga ada batasnya, tidak boleh lebih dari 1 kilometer karena akan menyebabkan bagian tubuh tertinggal dan mengakibatkan kematian, atau sihir telepati yang hanya bisa di lakukan saat orang yang menjadi lawan telepati masih terlihat oleh mata.
Sebenarnya seberapa hebat pangeran ke-empat Ravnos ini? Dia begitu misterius dan tidak bisa di tebak, meskipun kami terikat kontrak aku ataupun dia tidak bisa membaca pikiran masing-masing.
Aku naik kereta kuda di bantu oleh Alex, kereta yang terlihat kecil namun besar di dalam, sangat nyaman apalagi di lengkapi peralatan sihir yang memudahkan perjalanan dan tidak terjadi guncangan.
"Batu sihir mawar yang aku berikan warnanya menjadi lebih terang." Ujar Alex menatap bros atau batu sihir yang tergantung di dadaku.
"Iya karena terus menerus diisi oleh mana." Jawabku, ku lihat Alex menangguk puas dan mengelus kepalaku.
"Kau mau apa dariku? Aku belum pernah memberikanmu hadiah karena kamu tidak butuh apa-apa?" Tanya Xavier dengan raut muka iri.
"Kalau begitu aku ingin spirit stone." Ujarku setelah berfikir.
Batu sihir dan spirit stone berbeda fungsi, batu sihir untuk menetralkan mana, mengisi mana yang hampir habis dan sebagai pembantu saat menggunakan elemen, sedangkan spirit stone biasanya di gantung di pedang untuk menambah efektivitas bertarung.
"Aku akan memberikannya padamu nanti, aku akan mencarikan yang paling indah untukmu." Xavier berujar dengan percaya diri.
Kami mengobrol dengan hangat, hari ini aku akan menghabisan waktu bersama kedua kakakku. Ayahku tidak bisa ikut, itu di karenakan pekerjaannya yang menumpuk.
(Iya kyk tugas daring authorðŸ˜)
Kami sampai di depan salah satu toko penjual lampion, ku lihat di sepanjang jalan sangat ramai, rakyat jelata dan bangsawan menyatu tidak peduli akan identitas, tentu saja masih ada sebagian orang yang terlihat tinggi hati.
Alex membeli 3 lampion untuk kami gunakan, di dalamnya terdapat sumbu untuk di bakar berfungsi agar lampion terbang.
Sebelum berjalan ke tepi danau kami membeli sate, aromanis dan juga buah yang mirip apel namun rasanya sangat manis seperti di taburi lelehan madu.
"Alex kau disini?"
Kami bertiga berhenti berjalan dan berbalik, ku lihat pria tampan berambut merah dan mata yang selaras tersenyum penuh pesona.
"Ya, aku menemani adikku." Jawab Alex dengan nada datar.
Pria itu melihat ke arahku dan mencium punggung tanganku.
"Suatu kehormatan bertemu dengan anda, saya Leandro Santaloxylo." Ujarnya dengan tatapan yang seperti seorang playboy.
"Senang bertemu dengan anda tuan Marquees." Balasku dengan salam lady.
"Haha, saya lebih suka di panggil Leandro, tidak usah terlalu formal." Jawabnya, kesan pertamaku padanya adalah pria ini baik meskipun agak berbahaya.
Hanya saja dia di bodohkan oleh cinta, sayang sekali dia memiliki akhir yang tragis, padahal katanya banyak perempuan yang mengejar Leandro layaknya lalat, memang benar sih dia sangat tampan.
"Kalau begitu jangan sungkan juga padaku." Balasku sambil tersenyum, aku tidak ingin berbicara lagi sebisa mungkin dengan para tokoh utama.
Xavier merasakan kecanggunganku dan menyeretku dan Alex setelah memberikan salam perpisahan pada Leandro.
Kami menunggu dan duduk di bangku dekat danau menunggu sampai pukul 12 tiba, katanya waktu bintang jatuh tidak pernah berubah itu tepat pukul 12.
"Ternyata kedua tuan muda ada disini, oh dan siapa gadis cantik ini. Apakah ini nona muda yang terkenal itu?" Seorang pria berambut kuning menghampiri kami dan duduk tepat di depan kami tanpa permisi.
Aku dan kedua kakakku hanya menatapnya dengan datar, dia tertawa canggung dan mulai memperkenalkan diri.
"Jika anda tidak tahu, saya adalah Erick Chamagela, saya pemimpin perdagangan di kekaisaran."
Aku balas memperkenalkan diri dengan canggung, kenapa para pemeran utama kenal dengan kedua kakakku? Dan sepertinya mereka mempunyai hubungan yang baik, itu bahkan tidak di sebutkan dalam novel.
"Kakak kau ternyata mempunyai hubungan yang baik dengan Marquees Leandro dan Tuan Erick." Bisikku pada Alex.
"Iya kami tidak sengaja berhubungan." Balasnya acuh tak acuh.
Teng
Suara lonceng menggema di ikuti dengan kembang api cantik di atas langit, orang-orang mulai pergi ke tepi danau begitupun aku dan kedua kakakku.
Bintang jatuh mulai muncul, ku lihat betapa indahnya itu, semakin lama semakin banyak bintang yang terjatuh.
Kami semua mulai memejamkan mata dan berdoa untuk harapan, suasana menjadi hening membuat hatiku menjadi tenang, seakan aku benar-benar berhadapan dengan dewa untuk menyampaikan doa dan harapan ku.
Selesai berdoa, kami menyalakan api pada lampion yang telah kami beli tadi, menerbangkannya di bantu dengan sihir angin dari beberapa penyihir.
Sangat cantik, aku tersenyum melihatnya pantulan api dan bintang jatuh di danau sangat indah, angin menerpa menerbangkan helai rambutku.
Tidak terasa hampir setahun aku berada di dunia ini, sejujurnya aku merindukan orang tuaku di kehidupanku dulu, teman-temanku, handphone ku, lagu favorit ku dan segalanya.
Merasakan suasana hatiku, Alex memelukku dan mengelus rambutku, aku balas memeluknya dan memejamkan mata, ini pertama kalinya aku benar-benar bersyukur sudah berada disini.
Meskipun di kehidupan pertama ku semua orang baik, namun di kehidupan kali ini orang-orang yang berada di sekitarku tak kalah baiknya. Aku menyayangi mereka semua dengan tulus.
**Sebenernya Thor mau up chapter ini tu besok gaiseu, tapi gemes aja gtu pengen up sekarang wkwk😆
Ini karakter versi chibi nya
Liona**
**2. Sean
**3. Elios
Prasina**
**6. Luther
7. Arthur
Si kembar**
9. Putra mahkota
10. Cecilia**
11. Duke Asteria
Ini versi hot daddy nya
12. Leandro
Btw muka chibinya Leandro kok kyk orang abis begadang seminggu ya🤣
ini versi hotnya
13. Erick
Ini versi hotnya Erick
14. Kalo ini Author wkwk
Sekian gaiseu.
Sumber foto hot nya: Pinterest