I Became A Villain In A Novel

I Became A Villain In A Novel
Lima puluh enam



Harga penjualan terus meningkat, sorak sorai ramai orang-orang begitu menggema dalam ruangan itu, seolah uang bukanlah apa-apa di mata mereka.


"Ini adalah budak bangsawan yang sangat cantik dan tentu saja bernilai tinggi, bawa masuk." Perintah pembawa acara pelelangan.


Liona, Gressia, Leila, Prasina dan Cecilia di dorong dengan keras oleh orang-orang berjubah hitam, sebelumnya saat mereka sedang mengobrol, orang-orang berjubah hitam menyeretnya untuk ikut baris.


Karena tidak boleh ada luka, agar tidak mengurangi nilai jual, orang-orang itu memperlakukan Liona dan yang lainnya sedikit lebih lembut.


Liona melangkah ke panggung dengan pakaian yang robek karena di gunakan untuk menyumpal mulut bangsa elf dan dwarf, di ikuti Cecilia, Gressia, Prasina dan Leila.


"Sial! Mereka benar-benar berani menjual adikku?" Xavier menggertakan giginya menahan amarah, adiknya yang berharga sungguh di perlakukan seperti budak rendahan.


Para bangsawan mulai menawar dan perang harga, tentu saja orang-orang dari Mavros mengetahui Liona dan Cecilia. Liona adalah putri Duke Asteria, sedangkan Cecilia adalah seorang sage.


"Apakah rumah lelang ini gila? Mengapa menculik orang-orang berpengaruh?"


"Aku tidak akan mengikuti kesenangan atau kau akan langsung di bunuh begitu Duke tahu."


Hanya orang-orang dari Mavros saja yang tidak ikut menawar, tidak ada yang memperhatikan karena mereka hanya mementingkan diri mereka sendiri.


"Ugh entah kenapa aku jijik saat melihat wanita itu." Gumam Erick, dia melihat Cecilia yang berdiri tenang, meskipun pernah bertemu namun dia tidak pernah merasa sejijik ini.


"Kau juga merasakannya?" Marquees Leandro mengernyit dan melihat Cecilia yang kini menatap mereka berdua.


"Iya, rasanya aku telah melakukan hal konyol untuk dirinya, tapi aku tidak pernah berbicara langsung padanya."


"Aku pernah berbicara langsung, namun tidak pernah merasakan perasaan yang jijik seperti ini."


"..."


Jika Liona mengetahui pikiran mereka, dia akan mencibir! Tentu saja jijik, Cecilia adalah pengguna sihir sesat, dia juga yang membuat mereka berdua terbunuh dalam novel.


"10.000 gold." Al menawar dengan harga yang lumayan tinggi, perlu di ketahui 10 perak setara dengan 1 gold, lalu 1 perak setara dengan 10 koin tembaga.


Liona melihat siapa yang menawar dirinya dengan harga tinggi, meskipun memakai topeng Liona sangat mengenali seringai dan tatapan ini.


Al! Mengapa dia disini dan menawarnya?


"Sial bajingan itu, aku ingin membunuhnya!" Aura di sekitar Alex sangat suram, dia benar-benar marah saat adiknya di perjual belikan begitu.


"Kita akan mulai bergerak." Sean memberikan kode pada bawahannya agar mulai menyerang, tentu saja aksi Sean mengejutkan orang-orang.


"Hah pasukan Tiger?"


"Mengapa mereka menghancurkan pelelangan?"


"Astaga."


Bisikan-bisikan terdengar, meskipun begitu beberapa orang hanya terdiam seperti tikus mati karena tidak mau kehilangan nyawanya yang berharga.


"Apa-apaan ini?" Pembawa acara berteriak dengan ketakutan, dia menduga kalau salah satu budak yang terjual mungkin ada hubungannya dengan pasukan Tiger.


Atasan mereka mengatakan kalau mereka harus bersikap hormat pada orang-orang kuat, jangan menimbulkan masalah atau mereka akan mati.


Beberapa Assasin penjaga pelelangan keluar, bertarung dengan pasukan Tiger, tentu saja Al tidak ingin ketinggalan dan memberi kesempatan pada Sean untuk menjadi pangeran yang menyelamatkan tuan putri dari bahaya.


"Bantu mereka!" Alston diam-diam memberi perintah, para knight resmi kekaisaran tiba-tiba saja tiba, itu membuat beberapa orang menciutkan lehernya ketakutan.


Pertumpahan darah tidak bisa di hindari, karena serangan yang tiba-tiba, pihak pelelangan tidak mempersiapkan ini secara matang.


Lagi pula mereka begitu percaya diri terhadap kekuatan Assasin yang menjaga mereka, namun hal-hal bisa saja berubah.


Suara tepuk tangan dari pria yang memakai topeng kelinci menghentikan pertarungan itu, dia berjalan dengan anggun dan berwibawa.


"Ternyata bawahanku telah menyinggung orang-orang kuat." Dia tersenyum dengan elegan, meskipun pria yang memakai topeng kelinci itu tampak sangat feminin namun auranya terlihat kejam.


Cecilia yang melihat pria bertopeng kelinci itu seketika menjadi sangat bersemangat, Liona hanya diam mengamati.


Rasanya pernah bertemu di suatu tempat yang tidak asing, namun dia tida tahu kapan, dan perasaannya sangat familiar, seperti bertemu dengan kenalan lama?


Liona terkejut dengan pikirannya sendiri, dia menatap pria bertopeng kelinci itu lekat, merasa di tatap dengan tajam, pria bertopeng kelinci tersenyum ke arah Liona penuh makna.


"Saya adalah pemilik dari rumah lelang cat flower, padahal sudah ku ingatkan untuk tidak menculik orang sembarangan, tapi sepertinya mereka tidak mendengarkanku."


Meskipun nadanya sangat ramah, namun itu di penuhi dengan hawa dingin yang membuat orang menggigil ketakutan.


"Apakah anda Dave? Seorang yang sangat terkenal dengan kemampuan manipulasinya yang hebat?" Tanya Cecilia dengan binar di matanya.


(kok namanya kyk shampo ya🗿)


"Saya merasa terhormat Lady bisa mengenali saya." Dave mencium punggung tangan Cecilia.


"Namun bisakah pemimpin pasukan Tiger dan kaisar menghentikan serangan ini, pihak kami akan mengembalikan orang-orang anda dan juga memberikan kompensasi yang sesuai." Ujarnya sopan.


Dia melirik Liona yang hanya terdiam menatapnya, dia tersenyum, ternyata Aletta mempunyai orang-orang yang melindunginya, bisiknya dalam hati.


"Kami akan benar-benar mengirim kompensasi yang sesuai, dan memastikan orang-orang yang menculik ataupun menyiksa mereka akan mendapat ganjarannya."


Liona mengangguk ke arah Sean, dia juga berbisik untuk melepaskan dwarf dan elf.


Meskipun merasa rugi, tapi Dave menyetujui itu, karena itu adalah permintaan Aletta dia tidak bisa menolaknya!


Alston dan Sean memberi perintah pada pasukannya untuk mundur, para bangsawan juga tidak protes, lebih baik kehilangan target kesenangan daripada kehilangan nyawa.


"See you Aletta!"


Deg.


Jantung Liona berpacu dengan keras, dia melirik Dave yang saat ini sudah jauh menuju lorong yang sangat gelap di dalam rumah lelang itu.


Suaranya sangat dia kenal, sering dia dengar, perasaannya juga begitu familiar, namun Liona tidak begitu ingat siapa dia.


Alston menghampiri Liona berniat untuk mengajaknya ke Elefantas, namun bagaimana Alex dan Xavier membiarkan hal itu terjadi.


Sean sedari tadi sudah beraura suram, dia benar-benar tidak menyukai yandere gila seperti Alston!


"Apakah kau bersedia mengunjungi istanaku?" Tanya Alston beberapa meter jauhnya dari tempat Liona berada, tentu saja karena ada harimau yang menjaganya.


"Maaf tapi lain kali, dan aku benar-benar tidak menyangka kau ternyata seorang kaisar." Jawab Liona apa adanya.


Alston hanya tersenyum, dia sudah menduga jawaban ini, karena tidak mau memaksa, Alston hanya mengangguk.


Dia bisa menculik atau membiusnya, jadi tenang saja! Pikiran Alston membuat Liona merinding tiba-tiba.


'Apakah ada yang merencanakan hal buruk padaku?' gumamnya dalam hati.


"Kalau begitu aku akan kembali ke Elefantas, aku menunggumu disana Liona." Alston menghampiri Liona, meskipun ada Alex dan Xavier serta Sean yang menjaga, Alston masih tetap berjalan ke arah Liona.


Mencium punggung tangannya, dan berbalik pergi setelah Liona menyampaikan rasa terimakasih karena sudah ikut serta menyelamatkan mereka.


Tentu saja dengan bau kecemburuan yang sangat pekat di sampingnya.