I Became A Villain In A Novel

I Became A Villain In A Novel
Tujuh puluh delapan



Setelah di hitung dengan cermat, kristal biru itu ada dua belas dan bergambar zodiak, tanpa berpikir panjang mereka menyusun itu, beberapa saat kemudian seberkas cahaya menerangi hutan dalam beberapa detik.


Mereka semua kembali ke tempat dimana ada lumpur hidup, tanpa membuang banyak waktu mereka melanjutkan perjalanan.


Seperti biasa hutan kematian terlihat sunyi, gelap, suram dan juga lembab. Liona melirik ke segala arah merasa bahwa ada nafas asing namun tampak familiar.


"Keluarkan tanduk unicorn."


Liona terpenjat kaget saat mendengar suara cerberusnya, gadis itu selalu lupa kalau dia mempunyai anjing berkepala tiga.


"Sudah lama tidak mendengarmu." Cerbe diam-diam memutar bola matanya, majikan mana yang melupakan peliharaan terbaik seperti Cerberus?


"Jangan bercanda, kami serius! Keluarkan tanduk unicorn lalu panggilah, sesuatu yang ada di depan sana tidak bisa kalian hadapi."


"Bukannya ada kalian?"


"Kekuatan kami di batasi, apalagi ini hutan kematian, kami setara dengan anjing biasa."


"Ck, kalian sangat lemah."


"..."


Semua orang berhenti merasakan nafas asing yang membuat sesak itu, rasanya panas dan juga agak sedikit mengelurkan bau yang cukup aneh.


Liona diam-diam mengeluarkan tanduk unicorn, bersiap-siap untuk memanggil jika ada bahaya, namun karena merasa bahwa yang mempunyai nafas aneh itu tidak bergerak, mereka diam-diam melonggarkan kewaspadaannya.


Sepertinya makhluk yang tidak di ketahui itu tidak berniat menyerang mereka, jadi pasukan itu hanya berjalan dengan hati-hati.


Graumm


Suara geraman itu membuat mereka berhenti, perlahan mereka melihat ke arah belakang hanya untuk menemukan monster raksasa dengan tubuh coklat namun bentol-bentol dan kurapan.


Tubuhnya mengeluarkan bau khas orang yang tidak mandi setahun, ada banyak jamur yang tertempel di kulitnya, matanya hitam sempurna, di dahinya terdapat tanduk kecil dengan rambut ikal menjuntai panjang, kukunya panjang, hidungnya bengkok dan bibirnya sobek!


Liona segera memanggil unicorn dengan tanduknya, saat monster itu akan menyerang orang yang menjaga kereta di belakang, unicorn datang dan menendang wajah monster jelek itu dengan kakinya secara tiba-tiba setelah Liona panggil.


Unicorn itu sudah tahu apa yang akan terjadi, makanya dia bersiap kapanpun saat Liona memanggilnya.


"Dasar makhluk putih sialan! Aku harus membunuhmu." Ujar monster itu dengan geraman rendah menahan amarah.


"Makhluk jelek! Sampai kapanpun kau tidak akan pernah bisa menang melawan sesuatu yang suci sepertiku." Cibir sang unicorn.


"Monster buruk rupa itu tidak di ketahui namanya, namun dewa Hades pernah berkata kalau dia masih ada hubungannya dengan makhluk hibrida yang ada di neraka paling dalam." Ucap Cerberus dalam kepala Liona.


Karena sepertinya akan terjadi pertarungan hebat, pasukan itu segera menyingkir dari sana sejauh mungkin.


Perlahan unicorn putih itu berubah menjadi lebih besar, tanduknya yang berwarna-warni memunculkan rambut lebat yang indah dengan warna yang sama.


"Kau seharusnya berkaca diri, kau hanya makhluk buruk rupa dan jelek yang menantang utusan dewa Athanatos." Unicorn itu berkata dengan angkuh, membuat monster jelek merasa terhinakan.


"Tuanku yang agung."


Perlahan monster jelek itu berubah menjadi manusia yang sangat tampan, rambutnya yang awalnya ikal menjadi lurus panjang mempesona, kulitnya yang kurapan menjadi putih, bersih dan menawan.


Beberapa wanita yang ada disana bahkan sampai menutup mulutnya, berkata dalam hati apakah pria tampan ini adalah bentuk wujud makhluk jelek yang banyak penyakit kulitnya?


"Bentuk apapun yang di gunakan olehmu, tidak bisa di pungkiri kalau kau adalah makhluk keji yang bahkan di kutuk para dewa!"


Makhluk jelek yang bertransformasi menjadi pria tampan itu menggeram marah dengan sorot mata yang mencerminkan dendam dan kebencian.


Bukan tanpa alasan, awalnya dia adalah seorang pendamping dewa Hades bernama Tasa, namun suatu saat dia melihat makhluk hibrida, karena licik hibrida itu menggoda Tasa dan menawarkan kekuatan.


Karena rasa serakah yang muncul dalam hatinya, Tasa menerima penawaran menggoda itu dan menyetujui transaksi mereka.


Tasa harus menyembah Hibrida, dan membantunya keluar dari neraka paling dalam, namun usahanya itu sia-sia, dia di kutuk para dewa dan di buang ke dunia manusia, dan di segel di hutan kematian.


Tasa yang awalnya adalah pria tampan di kutuk menjadi makhluk buruk rupa, namun karena bercampur dengan kekuatan hibrida, kekutan Tasa tidak berkurang.


Bahkan kekuatannya saat di dunia manusia tidak di batasi seperti Cerberus, meskipun dia di segel tetaplah sangat kuat!


"Diam."


Tasa atau makhluk buruk rupa itu berlari ke arah unicorn yang diam mentapnya dengan tenang, Tasa mengeluarkan rantai yang terlihat mendidih.


Bahkan Liona dan yang lainnya bisa merasakan panas dari hawa yang di keluarkan rantai itu!


"Rantai itu di tempa selama 10.000 tahun di dalam neraka oleh Hibrida, dan dia memberikannya pada si jelek Tasa." Ada jejak nostalgia pada suara Cerbe, bagaimanapun mereka pernah hidup bersama!


Saat rantai mendidih itu akan menjerat kaki unicorn, unicorn itu pindah tempat dengan cepat, mengganti wujudnya menjadi seorang pria tampan bersurai putih panjang.


Tanduk unicorn yang berada di keningnya tampak sangat mempesona, di tambah penampilannya yang sangat tampan.


"Wah, aku tidak tahu kalau unicorn itu begitu tampan." Dalam situasi seperti ini Liona merona melihat dua pria tampan yang akan bertarung.


Yang satu terlihat seperti pria nakal urakan, sedangkan yang satunya lagi terlihat pria alim dan pendiam namun menawan.


Sean yang mendengarnya di samping melotot horor ke arah dua pria yang akan bertarung itu, meskipun mereka adalah makhluk jelek dan seekor hewan, tetap saja dia merasa cemburu!


"Kau hanya perlu melihatku." Sean memegang pundak Liona dan berbicara dengan sangat serius.


"..." Suasana yang tadinya menegang menjadi begitu canggung mendengar perkataan Sean, bahkan Makhluk jelek dan unicorn melihat aneh kearah Sean.


Unicorn yang melihat Tesa teralihkan oleh perkataan Sean mengeluarkan cambuk emasnya yang sudah bergetar dan mengarahkannya pada Tesa.


Karena mempunyai daya reflek tinggi, Tesa menghindari cambuk Unicorn itu dan menatapnya dengan marah.


"Dasar Reya sialan! Kau makhluk terkutuk yang menyerang diam-diam di belakang." Tesa menggerutu dengan marah, dia bahkan lupa makhluk terkutuk yang sebenarnya adalah dirinya sendiri.


"Kau pikir aku peduli?"


Merasa di remehkan, Tesa nampak mengejar-ngejar Reya dengan penuh nafsu, mereka tidak seperti orang yang bertarung saling membunuh, namun seperti anak kecil yang saling berebut permen.


Situasi ini tampak lucu, Liona dan yang lainnya hanya bisa berdiam diri, melihat Reya yang menghindar dan Tesa yang mengejar-ngejar.


Reya adalah nama unicorn itu, nama itu sangat spesial karena di berikan langsung oleh dewa Athanatos, makanya Tesa selalu tampak enggan saat memanggil namanya karena iri.


"Ayo bertarung denganku, kau pengecut!"