
Pasukan dari kekaisaran Mavros telah tiba di kota empty, pasukan dari tiga kekaisaran lain pun sudah tiba lebih awal.
Perjalanannya bisa di anggap mulus, meskipun sedikit ada halangan namun monster saat ini sangat sedikit, menurut badan penelitian monster, sekarang para monster telah memasuki masa hibernasi.
Masa di saat para monster tertidur, saat masa hibernasi, para monster sangat sulit di temukan karena itu adalah masa-masa paling lemah, jadi sangat mudah di bunuh.
"Meskipun kota empty tidak di tempati, namun ini selalu di bersihkan oleh orang-orang kekaisaran." Jelas Alex.
"Energi disini aneh sekali." Arthur mengernyit, memang orang-orang dari bangsa elf sangat peka dan sensitif.
Liona berniat memurnikan ether setelah beristirahat, itu benar-benar sangat tidak nyaman, namun karena memurnikan ether adalah sesuatu yang sangat langka dia tidak bisa sembarangan menunjukkannya.
"Kak, tengah malam kau harus mengantarku untuk memurnikan ether kota empty." Bisik Liona pada Alex.
Alex tampak terkejut, namun kemudian dia tersenyum dan mengelus kepala Liona, dalam pikirnnya Alex tidak usah terkejut karena Liona memang adiknya yang jenius.
***
Malam pun tiba, Liona beserta Alex dan Xavier berada di dekat bangunan sepi yang ada disana, Liona mulai mengeluarkan cahaya dari dalam tubuhnya.
Hawa aneh berwarna hitam menggumpal ke langit sedikit demi sedikit, membentuk bayangan hitam besar, Liona terus memejamkan matanya.
Cahaya berwarna orange mengelilingi tubuhnya, hawa aneh berwarna hitam itu sepenuhnya telah menghilang, Liona kehilangan keseimbangannya dan hampir terjatuh.
"Kau tidak apa-apa?" Alex menangkap Liona yang limbung, Liona menggeleng mengatakan kalau dia baik-baik saja.
Karena luas, energi yang di butuhkan untuk memurnikan ether sangat banyak, meskipun mempunyai mana tak terbatas, fisiknya masih manusia.
"Menarik." Seseorang dalam gelap, melihat Liona yang memurnikan ether, dia menyeringai dengan kerlipan di matanya.
"Aku menginginkannya, siapa gadis itu?" Gumamnya sambil terus memperhatikan Liona yang sedang memulihkan tenaganya.
"Dari Mavros ya."
Pria itu pergi dengan seringai di bibirnya, Liona melihat ke arah pria itu menghilang, mengernyit tidak yakin, sepertinya ada orang yang memperhatikannya, namun sekarang sudah tidak ada, Liona tidak banyak berfikir.
"Kau tidak perlu memaksakan dirimu sendiri, namun untunglah hawa di kota empty ini sudah lebih baik dari sebelumnya." Xavier menyentil kening Liona.
Alex memukul kepala Xavier dan memelototinya, Liona hanya tertawa geli.
Malam yang tidak bisa berkata-kata...
Pagi tiba, sebelum acara pembukaan, para peserta perwakilan setiap kekaisaran harus beribadah di kuil dekat kota empty.
Kuil itu sangat besar, karena menjadi tempat peribadatan umat dari setiap kekaisaran, meskipun dekat dengan kota empty, kuil itu sangat ramai.
Di katakan kalau kuil itu adalah kuil suci terbesar yang mewakili empat kekaisaran, makanya selalu ramai.
"Ini benar-benar indah." Beberapa orang berdecak kagum, saat menuju kuil tidak di perkenankan memakai sihir, jadi semua orang berjalan kaki dari kota empty.
Kardinal kuil menyambut para peserta dengan ramah bersama dengan sri paus yang berada di sisinya dengan agung.
Hawa suci muncul dari dalam dirinya, meskipun agak pendiam namun setiap melihatnya akan merasakan ketenangan yang luar biasa.
Para pengurus kuil mengantarkan setiap peserta untuk berdoa, tidak ada yang tidak berdecak kagum, kaca patri memantulkan sinar matahari pagi, itu membuat rambut beberapa orang bersinar terang.
Di depan altar ada patung dewa athanatos yang agung, mereka semua tunduk dan berdoa, bahkan ada yang sampai menangis.
Hanya Cecilia yang berpura-pura, dia merasa panas saat berada di kuil, itu karena terlalu banyak berhubungan dengan hal sesat.
"Sial, kenapa aku harus ikut, ini membuatku tidak nyaman." Gerutunya dengan kesal sambil menahan rasa panas.
Putra mahkota yang terkena ilusi terkadang merasa sadar dan terkadang terjebak kembali, dia sedang berusaha memecahkan ilusinya.
Mungkin jika sedikit lebih lama, dia bisa memecahkan ilusi yang dibuat oleh Cecilia, namun karena sembahyang telah selesai, semua peserta keluar dari ruang peribadatan.
Angin sepoi-sepoi menerbangkan rambut orang-orang, wajar ini adalah musim semi dan sebentar lagi akan terjadi musim panas, namun meskipun begitu, kuil benar-benar selalu sejuk.
Liona tersenyum dan melihat Sean yang sedang sibuk bersama pasukannya, dia benar-benar menyamar, namun karena hubungan kontrak Liona langsung mengenali.
"Aku merindukanmu." Sean bertelepati, itu membuat wajah Liona memerah tiba-tiba.
"Kau sakit?" Tanya Alex yang melihat Liona seperti tidak nyaman.
"Ah tidak." Dengan kaku Liona membalas, dia terkejut saat Alex bertanya, sangat memalukan pikirnya.
Tidak lagi berlama-lama mereka segera beranjak pergi dari kuil menuju lapangan tengah yang begitu besar di kota empty.
Panitia penyelenggara adalah dari setiap akademi kekaisaran, jadi itu akan sangat adil dan mereka bersumpah tidak akan memihak salah satu kekaisaran, yah ini cukup memuaskan.
"Selamat datang kepada semua peserta dari setiap kekaisaran, terimakasih sudah berpartisipasi dalam festival dan perlombaan yang di adakan setiap satu tahun sekali.
Saya benar-benar merasa terhormat bisa menjadi ketua untuk pelaksanaan, saya berharap perlombaan ini memperkuat hubungan setiap kekaisaran, dan pertemanan setiap peserta.
Tidak perlu berlama-lama, saya membuka festival dan perlombaan ini."
Tepuk tangan semangat memenuhi lapangan, mereka terlihat sangat antusias dan tidak sabar, selain karena hadiah festival dan perlombaan ini juga di jadikan ajang mencari jodoh.
"Kenapa mereka begitu bersemangat?" Tanya Liona.
"Tentu saja, selain membawa kehormatan pada kekaisaran hadiahnya cukup menarik, setiap peserta yang menjadi juara akan tercatat dalam sejarah kota empty dan bisa di baca oleh anak cucu kita nanti." Luther menjelaskan dengan antusias.
Liona kelihatannya tidak tertarik, yah itu karena dia sudah tahu yang akan menjadi juara adalah Cecilia dan putra mahkota.
"Lihat bukankah itu putri duke Asteria yang katanya sering berbuat jahat?" Seseorang berbisik dengan keras.
Orang-orang melihat ke arah Liona yang sedang terdiam tampak tidak peduli.
"Benar-benar murahan, katanya dia tidak punya teman wanita, makanya dia sering di kelilingi para pria, entah apa yang sudah di lakukan wanita itu." Bisik yang lainnya.
Liona memegang pelipisnya, entah siapa yang menyebarkan rumor itu, padahal dia tidak pernah membuat masalah dan selalu berperilaku baik.
"Aku ingin menarik mulut mereka sampai terlepas." Bisik Elios.
Liona memelototinya dengan horor, apakah Elios sudah gila?
Alex menatap tajam kepada orang-orang yang berbicara buruk tentang Liona, dia tidak bisa membuat masalah atau dia akan di diskualifikasi karena membuat masalah.
"Tidak usah di tanggapi, aku tidak terlalu peduli dengan tanggapan orang-orang yang hanya bisa menilai dari mulut orang lain." Ujar Liona dengan nada merendahkan.
Orang-orang yang berbisik itu terdiam dan menjauh dari sana dengan wajah malu.
Cecilia yang melihat itu menatap Liona dengan pandangan jijik, meskipun itu hanya sekilas namun benar-benar terlihat jelas.
Liona balik menatap dengan jijik, berpikir seharusnya Cecilia itu sadar diri, namun karena tahu sifat aslinya yang berpemikiran sempit maka lupakan saja.
"Apa-apaan jalang itu?" Luther menatap Cecilia dengan menghina.
"Tidak usah mengurusi wanita sesat itu, mari kita duduk." Balas Elios.
Mereka beranjak dari sana untuk menemukan tempat duduk dan menunggu nomor untuk lomba.
"Sage apanya, dia lebih cocok menjadi kotoran orc, bahkan kotoran orc lebih berharga dari dirinya sendiri." Arthur mencibir.
Sepertinya menghina Cecilia adalah hobby Arthur, setiap kata yang keluar darinya benar-benar kejam.
Liona memperhatikan Cecilia, seperti dalam novel dengan wajahnya yang seperti malaikat, dia dengan mudah berteman dengan orang-orang dari kekaisaran lain.