I Became A Villain In A Novel

I Became A Villain In A Novel
Dua puluh delapan



Kami di bagi menjadi tiga tim, tim pertama memeriksa orang-orang yang terjangkit penyakit Sapios, meskipun penyakit sapios ini berbahaya namun percepatan membusuknya lumayan lama.


Lalu tim kedua akan menjaga orang-orang yang terjangkit pneumonia, dan tim ketiga akan ikut bersama dengan komandan Tiger untuk mengecek lokasi sumur.


Aku tentu saja di pilih langsung untuk mengikuti Sean mengecek air sumur yang sudah terkontaminasi, sebenarnya aku ingin melihat kuil karena dari sini kuil bisa terlihat.


Tapi katanya ini adalah wilayah isolasi, jadi harus benar-benar steril maka bisa keluar.


"Apakah lokasi sumur jauh?" Tanyaku pada seorang pria paruh baya yang mengaku sebagai kepala desa.


"Tidak, setelah menuruni jalan kecil itu kita akan sampai pada sumur yang sudah lumayan tua, itu satu-satunya sumber mata air di desa kami." Jelasnya.


Setelah ku perhatikan dengan baik, ternyata kekaisaran ini benar-benar hangat, yang tertutup salju hanyalah wilayah luar, namun wilayah dalam cuacanya benar-benar normal, musim dingin disini hanya berlangsung seperti iklim subtropis lainnya.


"Apakah disini tidak ada penyihir air?" Tanyaku menatap pria paruh baya itu.


"Sayangnya tidak ada, rata-rata di desa hanya ada Penyihir angin dan penyihir tanah." Katanya dengan raut wajah menyesal.


"Lalu penyihir air yang terbaring atau yang sudah menjadi abu?"


"Itu penyihir yang dikirim ke wilayah kami, namun semuanya menjadi seperti ini, sangat di sesali." Jelasnya.


Aku hanya mengangguk dan tidak banyak berbicara lagi, di sepanjang jalan hanya terus berjalan dengan berhati-hati karena jalan ini sangat licin dan penuh dengan lumut.


"Hati-hati." Ujar sean memperingatiku sambil memegang tanganku agar tidak terjatuh.


"Firasatku buruk saat melihat sumur itu." Elios mengernyit dahinya dan berbisik ke arahku.


Ku pandangi sumur tua bobrok yang penuh dengan lumut dan ditutupi dengan penutup bambu yang sudah sangat rusak.


Lingkungan yang tidak higienis dan juga udara yang lembab, baunya juga cukup anyir membuat indra penciumanku tidak nyaman.


"Ambil sampel airnya." Ujar bahawan Sean memerintahkan pada tuan kepala desa.


Dia menimba air menggunakan ember yang terbuat dari kayu, segera bau anyir yang menyengat keluar lebih pekat.


"Huekk bau apa ini?" Ujar beberapa orang mulai menutup hidungnya dan menyemprotkan wewangian yang bahkan aku tidak tahu itu muncul darimana.


"Apakah ini selalu berbau seperti ini?" Tanya Sean mengeryit.


"Benar, kami tidak tahu penyebabnya apa. Badan peneliti kekaisaran sudah memeriksanya dan berkata bahwa air ini tidak apa-apa." Jelas tuan kepala desa.


Aku menyentuh airnya dan itu berlendir, aku melihat ke arah sumur dan mengamatinya dengan lekat menggunakan kemampuan mataku.


Terlihat ribuan cacing saling menyemprotkan cairan berwarna putih seperti cumi-cumi yang menyemprotkan tinta saling menggeliat, membuat bulu kudukku berdiri.


"Menjijikan." Ujarku menahan rasa mual dengan wajah yang mungkin sudah pucat pasi, aku secara singkat menjelaskan apa yang ku lihat tadi.


"Cacing? Bisakah itu menyemprotkan tinta seperti cumi-cumi?" Tanya Elios.


"Itu benar, cacingnya benar-benar banyak dan saling menggeliat, lalu menyemprotkan cairan putih sama seperti cumi-cumi." Jelasku yang masih menahan mual.


"Apakah itu sebabnya kenapa air ini berlendir dan berbau anyir?" Sean mengernyitkan dahi.


Tidak pernah terdengar cacing yang bisa menyemprotkan sesuatu dari dalam tubuhnya, bahkan dalam buku kuno tidak ada jenis seperti itu.


Beberapa pria sudah mulai menguras air sumur, mereka menggunakan masker kulit yang sudah di beri wewangian karena bau anyir yang sangat tidak enak.


Air yang mengandung lendir dan sedikit keruh itu telah di kuras, sehingga isi sumur benar-benar terlihat jelas.


Beberapa orang pamit untuk mengeluarkan isi makanannya, benar-benar pemandangan yang menggelikan, cacing-cacing itu masih menyemprotkan cairan putih meskipun air telah terkuras.


Aku menaburkan garam, membuat cacing itu semakin menggeliat, jumlahnya ribuan dan itu sangat menjijikan.


Ukurannya sebesar ibu jari laki-laki, dan panjangnya mungkin sekitar 30cm, mengeluarkan bau anyir yang semakin pekat, bahkan meskipun masker telah di beri wewangian bau anyirnya masih bisa tercium.


"Terus taburkan garam dan merica!" Ujarku sambil melihat ke arah orang-orang yang berhenti menaburkan garam.


Terdengar suara terbakar dari dalam sumur, cacing-cacing itu pun menggeliat dengan hebat bahkan itu membuat bulu kuduk kami semakin berdiri.


"Apa semuanya sudah mati?" Tanya Sean melihat ke arah kedalaman sumur yang baunya benar-benar aneh.


"Sudah komandan." Ujar seorang bahawan yang turun untuk melihat kondisi para cacing.


"Naiklah, aku akan membakarnya!" Ujar Sean, bawahan itu naik ke atas dan Sean langsung membakar mayat cacing menggunakan apinya.


Bau anyir sudah mulai menghilang, beberapa pria turun ke bawah untuk melihat apa yang terjadi di dalamnya.


"Komandan ada ribuan telur di bawah sini." Ujar pria yang turun ke dalam sumur.


Sean menangguk kemudian ikut turun untuk melihat telur-telur itu. Aku menatapnya dari atas, Sean mengambil sampel telur kemudian naik ke atas.


"Telurnya berwarna merah muda, sebesar telur semut." Kata Sean menunjukkan telur itu kepada kami.


"Aku akan membakar semuanya, siapa tahu ini akan menyebabkan bahaya, kita harus memusnahkan hal yang bisa mengamcam." Katanya.


Para pria yang berada di bawah sumur mulai naik kembali, dan Sean mengeluarkan apinya lagi untuk membakar ribuan telur.


Sebenarnya telur itu terkubur di bawah para cacing, makanya saat Sean membakar cacing, telur itu tidak ikut terbakar.


Sean memerintahkan semua orang untuk membersihkan daerah sumur itu, karena bisa saja itu menjadi sarang penyakit, sumurnya pun di bongkar dan harus di pindahkan.


Karena tidak ada penyihir air, para pekerja yang membuat sumur mengandalkan air yang ada di dalam tanah, dan para penyihir air pun membantu mengisi air agar cepat terisi.


Sebelumnya Sean sudah membawa sampel cacing dan telur yang berwarna merah muda untuk di teliti, dia akan mengirimkannya ke badan peneliti kekaisaran.


Meskipun identitasnya tersembunyi, namun karena sudah di ketahui bahwa dia pemimpin pasukan terkuat di benua tidak ada yang meragukannya.


"Kita harus melihat struktur tubuhnya dan cairan apa yang di semprotkan cacing itu, aku akan mengirim surat ke badan peneliti kekaisaran, dan kau disini mengawasi mereka mengerti?" Ujar Sean padaku, aku mengangguk dan membiarkan dia pergi.


"Benar-benar memiliki hubungan?" Tanya Elios yang entah kapan sudah berada di sampingku.


"Tidak." Aku menjawab dengan sengit.


"Santai saja Liona, jika tidak ada hubungan mengapa dia memberi otoritas padamu untuk mengawasi mereka?" Tanyanya dengan mata menggoda.


Sialan Elios! Sejak kapan pria dingin ini jadi tukang gosip seperti ini?


"Jangan terlalu lama bergaul dengan Luther dan Arthur, kau sepertinya tertular mulut halus mereka." Nasihat ku dengan serius, Elios berwajah gelap dan pergi meninggalkan ku, aku hanya tertawa dengan riang.