I Became A Villain In A Novel

I Became A Villain In A Novel
Tujuh puluh sembilan



Suasana di hutan kematian begitu aneh dan sangat absurd, Reya menghela nafas lelah! Dia sebenarnya tidak berniat membunuh Tesa, karena memang pria itu sangat alot.


Lagipula jika Reya membunuh Tesa, dia akan merasa sangat kesepian karena tidak ada partner bertarung yang lebih kuat dari Tesa.


"Biarkan mereka pergi, maka aku akan melayanimu untuk bertarung." Ujar Reya dengan tenang, menatap Tesa yang sedang menahan amarahnya.


"Kau bermimpi! Tanpa melepaskan mereka aku masih tetap bisa bertarung denganmu." Tesa mendengus malas, meskipun dia di kutuk namun dia tidak bodoh, makhluk putih itu hanya ingin menyelamatkan sekumpulan manusia bodoh!


"Kau tidak mengenali gadis itu?"


Tesa mengernyit, kemudian melihat ke arah Liona yang sedang menatap mereka berdua dengan mata antusias.


"Siapa? Gadis yang tampak bodoh itu?" Jika saja Liona mendengar apa yang di katakan oleh Tesa, dia akan mengutuk seribu kali dan mencincangnya menjadi daging panggang.


"Kau benar-benar tidak merasakannya?" Tesa mengernyit dan kembali menatap Liona lekat-lekat.


Tesa agak terkejut setelah menemukan kalau Liona itu sangat 'istimewa' pantas saja unicorn bau ini cepat datang saat gadis itu dalam bahaya.


"Aku akan melepaskan mereka, tapi kau harus bertarung denganku."


"Tidak masalah." Reya berkata dengan santai, lagipula mereka memang sangat sering bertarung bahkan sampai berbulan-bulan tentu saja yang kalah disini adalah Tesa!


Reya menghampiri Liona dan yang lainnya, mengatakan kalau mereka bisa pergi dari sini, pertarungannya akan sangat panjang jadi Reya yang akan menangani makhluk buruk rupa itu.


"Terimakasih, maaf sudah merepotkanmu."


Liona dan yang lainnya meninggalkan tempat itu, Reya hanya menghela nafas sampai Liona dan yang lainnya sudah tidak terlihat oleh matanya.


"Nah jelek mari kita bertarung."


***


Liona sebenarnya agak merasa tidak enak hati meninggalkan Reya yang susah-susah mengurus makhluk buruk rupa karena menyelamatkan mereka.


Tapi dia sadar kalau ingin terus berada disana dia akan melibatkan mereka semua, dan mereka hanya akan menjadi beban bagi Reya, Cerbe juga sudah mengingatkan kalau Tesa bukan lawan mereka semua, jika terus memaksa kemungkinan besar mereka akan menjadi tumpukan tulang disana.


"Apa yang harus kita lewati lagi?"


Dave membuka gulungan petanya, melihat kalau tidak ada jalan yang harus di lalui lagi, cukup lurus kemudian mereka akan tiba di gurun pasir.


"Aku kira akan sangat berbahaya, ternyata tidak sama sekali." Cetus salah satu kesatria dari pasukan Marquees Leandro.


Mereka semua berjalan lurus sambil berbincang-bincang, kewaspadaan mereka mengendur karena merasa sudah tidak ada bahaya, dalam peta juga tidak di tuliskan hal-hal yang akan menjadi rintangan di depan sana.


Sebuah cahaya kecil terlihat di ujung hutan, semua orang merasa gembira bisa keluar dari hutan kematian, meskipun ada dua orang yang menjadi korban, namun tetap saja beban yang menyesakkan seolah terangkat saat melihat sinar matahari lagi.


"Akhirnya kulitku bisa mendapatkan vitamin lagi." Ujar Arthur dengan raut wajah yang penuh dengan rasa terharu.


"Aku ingin bermandikan cahaya, kulitku terasa sangat kering dan juga keriput." Edward menambahkan dengan raut muka yang dibuat-buat.


Angin panas menerpa mereka semua, orang-orang yang tadinya merasa bahagia kini wajahnya masam dan tidak enak dilihat.


"Kenapa udaranya sangat tidak enak?" Elios melihat ke arah Liona yang dengan santai meminum sesuatu dari dalam tasnya.


Sebenarnya situasi ini sangat kacau, bisa-bisa mereka terkena flu karena kenaikan suhu yang drastis, awalnya suhu tubuh dingin kemudian tiba-tiba panas tentu saja itu berbahaya!


"Lebih baik berikan dulu potion agar semua orang tidak terkena flu." Luther menyarankan, para healer, Alchemist dan juga dokter mulai membagikan potion kekebalan tubuh.


Setelah semua orang meminum potion kekebalan tubuh, Sean mengajak mereka untuk segera pergi menuju markas pasukan Tiger yang ada di gurun.


Dari lokasinya, markas pasukan Tiger tidak begitu jauh!


"Hati-hati, bisa saja monster gurun datang kapan saja." Peringat Sean, sebenarnya tidak ada tanda-tanda adanya monster, namun katanya monster gurun selalu menyembunyikan nafasnya agar susah terdeteksi.


Mereka juga terkadang muncul tiba-tiba dari dalam tanah, makanya mereka harus selalu berwaspada jika berada di gurun.


Liona melihat ke segala arah merasa kalau gurun ini sangat mirip dengan gurun Sahara di dunia modern atau Padang pasir terbesar di dunia.


Sejauh mata memandang hanya terdapat pasir coklat panas dan juga bukit-bukit pasir, ada beberapa pohon kaktus dan pohon kurma?


Entahlah, Liona tidak begitu tahu namun biasanya pohon yang tumbuh di gurun adalah pohon kaktus dan kurma.


Juga terdapat beberapa piramida besar dan kecil, di kejauhan ada pelindung sihirnya juga disana, kemudian unta dan hewan-hewan gurun lainnya.


"Piramida itu tempat tinggal suku-suku gurun, keliatannya kecil dari sini, namun jika masuk kesana seperti kota pada umumnya." Jelas Sean.


Liona ingin melihat itu, dia berpikir apakah suasananya akan seperti kota pada peradaban mesir kuno? Dia sangat menantikannya.


"Namun, kita juga harus berhati-hati. Suku di padang pasir sangat kejam dan juga buas, bahkan diantaranya ada suku kanibal yang tersembunyi."


Arthur yang mendengar itu merinding tiba-tiba, dia merasa ada hawa tidak enak yang mengintai dirinya, lalu dia juga tidak bisa membayangkan kalau dia tertangkap dan di cincang kemudian di makan manusia.


"Kau kenapa?" Tanya Elios melihat wajah Arthur yang pucat.


"Aku hanya membayangkan kalau aku di culik suku kanibal, kemudian dagingku di cincang dan di makan mentah-mentah." Jawabnya merinding.


Edward mendelik merasa kalau Arthur sangat bodoh, "Dagingmu tidak enak, dan kau kurus kurang gizi, mereka tidak akan suka denganmu." Katanya dengan celaan yang terlihat jelas.


Semua orang tertawa dengan candaan mereka, yah tidak terlalu buruk di situasi tegang ini terdapat beberapa lelucon.


Siapa tahu setelah ini mereka tidak bisa saling bercanda gurau dan saling melemparkan lelucon bukan? Yang namanya gurun sangat berbahaya, tidak tahu kedepannya akan seperti apa.


"Sialan kamu! Berarti mereka akan menyukaimu dan kau akan di makan oleh suku kanibal itu."


Saat Arthur menyelesaikan ucapannya, Sean membuat isyarat untuk berhenti bergerak, ada orang-orang yang mengawasi mereka dari bukit pasir.


"Ada apa?" Tanya Liona.


Pasukan Tiger juga sudah siap siaga dengan bahaya yang akan menghampiri, mereka sudah terlatih sejak muda berada di gurun, pasti peka dengan sesuatu seperti ini.


"Ada beberapa orang yang mengawasi kita, jangan sampai lengah mereka sangat kuat." Bisik Sean pada Liona, sedangkan gadis itu hanya mengangguk mengerti.


Halo semua, terimakasih sudah membaca sejauh ini. Thor harap kalian memberikan kritik dan saran agar cerita Thor bisa lebih baik kedepannya.♥️