
Acara debutante Liona bisa dikatakan paling meriah, bahkan melebihi debutante putri kekaisaran, kaisar sendiri datang langsung ke rumah Duke karena mendengar kabar adanya kaisar Elefantas.
Sebenarnya Liona agak tidak nyaman dengan ini semua, banyak para lady dan bangsawan lain yang menggosipkannya, skandal waktu itu dengan putra mahkota kembali naik.
"Lady Asteria, saya tidak menyangka ternyata anda 'berteman' dengan orang-orang berpengaruh, ah bagaimana caranya saya bisa menjadi anda? Benar-benar membangkitkan rasa iri." Ujar seorang lady dari keluarga Marquess dengan ironi.
Liona tersenyum kesal, dia juga tidak tahu mengapa hal-hal berkembang ke arah seperti ini, jujur saja Liona tidak terlalu suka bergaul dengan wanita bukan karena dia wanita murahan! Namun karena kebanyakan wanita mulutnya tidak bisa di jaga.
"Karena Liona adalah orang yang sangat menyenangkan, dia bisa berteman dengan orang-orang berpengaruh, lagi pula Liona tidak pernah mencari perhatian, kami sendiri yang ingin berteman dengannya." Dave yang tiba-tiba muncul mengedipkan sebelah matanya pada Liona.
Saat ini wajahnya tanpa topeng kelinci, Dave benar-benar menarik perhatian para lady, wajahnya yang tampan membuat beberapa orang memerah karena malu.
Sean yang meliriknya dari samping mengerutkan kening, wanitanya benar-benar magnet, dia tidak menyukainya! Namun tidak bisa di ucapkan juga, punya mulut tapi tidak bisa berkata-kata.
Para lady itu berhenti menyindir dan terbatuk dengan malu, niatnya ingin mempermalukan Liona, namun malah diri sendiri yang menjadi memalukan.
"Saya Dave Jakes Fan Marley." Dave memberi salam bangsawan, beberapa orang berbisik, menyebutkan jika Duke Asteria sangat kuat, bahkan berkenalan dengan orang-orang yang punya pengaruh di benua.
Orang-orang merasa sangat iri, pada debutante putri dari Duke Asteria yang di hadiri orang-orang penting, kaisar Mavros, Kaisar Elefantas, pemimpin cat flower yang fenomenal, bahkan tunangannya sendiri pemimpin pasukan Tiger.
Mereka berbaris di kursi utama, Duke yang melihat itu merasa asam di hatinya, harusnya putri tercintanya yang menjadi tokoh utama, bukan para ngengat yang agak tampan itu.
"Pemimpin menara suci Vilio Makrys Charleston memasuki ruangan." Seluruh aula hening, bahkan kaisar Mavros sendiri berdiri.
Vilio memakai jubah putihnya dengan wajah suci tersenyum lembut ke arah Liona, Sean yang melihat itu hanya mengepalkan tangan dan membuang muka.
Sebenarnya Vilio sudah mengenalinya, namun dia tidak banyak bicara, Liona juga sangat terkejut, bahkan pemimpin menara suci datang ke pesta debutante nya? Benar-benar luar biasa.
"Selamat atas debutante mu." Vilio tersenyum dengan ramah, Sean mulai mengamatinya dengan waspada, pria tua tampan ini benar-benar berbahaya!
"Terimakasih." Liona menunduk hormat, Vilio menyuruh bawahannya membawakan sebuah kotak dan membukanya, terlihat batu safir berwarna biru seperti permata.
Sekali lihat saja sudah di pastikan bahwa itu sangat mahal dan mewah, batu safir itu juga termasuk barang yang sangat langka, bahkan Duke Asteria tidak bisa membelinya.
'Apakah aku harus menerimanya?' Liona bertanya pada Sean menggunakan telepati, meskipun itu hal kecil namun Sean terlihat bahagia karena wanitanya bertanya tentang pendapatnya.
'Iya, tidak ada apa-apa disana. Kau boleh menerimanya.' Liona mengambil batu safir itu dan berterimakasih.
Para tamu undangan tepuk tangan dengan meriah, berpikir untuk menjilat keluarga Asteria untuk bisa dekat dengan orang-orang penting, dasar bangsawan!
***
Duke Asteria mengumumkan secara resmi kalau Sean dan putrinya bertunangan, memang ada yang berbahagia dan tidak, Alston hanya menyeringai malas, ini pertunangan bukan pernikahan!
Jadi dia bisa merebutnya, jika terjadi perang maka perang saja, bagaimanapun Liona adalah miliknya, dan miliknya pasti akan kembali padanya.
Dalam musik pertama Sean dan Liona berdansa di tengah aula, itu pertunjukan yang sangat indah, Sean harus benar-benar waspada, banyak lalat yang terus berkeliaran di sekitar Liona.
"Kau cantik." Sean menatap mata Liona dengan lembut, mantanya hanya tertuju pada Liona.
"Aku memang cantik." Liona mengalihkan tatapannya, dia merasa malu. Sean membuat jantungnya berdebar dengan tidak beraturan.
"Yah kau memang sangat cantik, sampai membuat orang-orang tertarik padamu, rasanya aku ingin menculikmu dan mengurungmu di kamarku." Dengan suara dalam Sean berkata omong kosong.
Setelah berdansa satu lagu, para tamu mulai mengajak Liona berdansa, tapi bagaimana bisa Alex dan Xavier diam saja? Alex mengajak Liona berdansa bergiliran dengan Xavier.
"Kakak, disana ada Marquess Leandro dan Tuan Erick, sepertinya sedang menunggumu." Memang beberapa minggu ke belakang, entah apa yang terjadi Alex dan Xavier menjadi lebih dekat dengan Leandro dan Erick.
Untung saja mereka berdua tidak tertarik pada adiknya yang cantik, mereka dekat karena urusan bisnis keluarga dan beberapa pekerjaan rahasia.
"Mereka bisa menunggu, aku tidak bisa membiarkan adikku menjadi rebutan banyak pria aneh." Alex mulai melangkah dengan ringan, dansa ini membuat Liona sangat nyaman karena terkesan sederhana.
Liona berdansa dengan teman-temannya dan juga Dave, Alston juga berdansa dengannya, meskipun Sean cemburu namun dia tidak bisa apa-apa.
Bisa saja Sean mengibarkan bendera perang, namun Sean mempunyai firasat buruk tentang ini, Alston bukan orang yang gegabah, dia juga pasti tahu kekuatan pasukan Tiger.
Namun berkata terang-terangan akan merebut Liona di hadapannya, berarti dia mempunyai kepercayaan diri mengalahkan Sean, makanya Sean harus mempersiapkan ini dengan matang.
"Terimakasih." Liona menunduk dan mengangkat sedikit gaunnya untuk menghormati.
Alston mengambil rambut Liona yang berkibar dan menciumnya, itu benar-benar tindakan yang tidak sopan kepada lady yang sudah bertunangan.
Sean menggertakkan giginya dan mengepalkan tangannya, Liona menghindari itu dengan kaku, melirik ke arah orang-orang yang berbisik tentangnya.
"Anda berlebihan yang mulia." Liona menunduk, menahan emosinya, dia merasa di permalukan oleh Alston, padahal dia sudah bertunangan.
"Aku tidak suka kau berbicara formal, ku harap kau berbicara apa adanya seperti saat di kota empty."
"Saya tidak bisa melakukan itu."
"Yah pelan-pelan saja, bagaimanapun kau akan terbiasa menyebut namaku." Alston ingin mencium kening Liona, namun Sean menariknya ke samping menatap tajam Alston.
"Dia milikku! Jika kau berniat macam-macam padanya, aku akan membunuhmu." Sean menyipitkan matanya.
Liona agak linglung sejenak, apakah ini drama romance di film-film yang biasa di tontonnya? Liona merasa geli sendiri di hatinya.
Alston mengangkat kedua alisnya, kemudian menyeringai dan pergi dari aula setelah berpamitan pada Duke Asteria dan kaisar, tidak lupa mencium punggung tangan Liona.
Sean benar-benar butuh handsanitizer!
Pesta itu kembali seperti semula, meskipun banyak yang tidak nyaman karena kejadian tadi, namun masih banyak yang menikmatinya.
Liona juga harus memberi salam dan melayani bangsawan lain, berbeda dengan Sean yang sudah bergabung dengan Alex dan Xavier serta teman-temannya Liona.
"Ku dengar wilayah padang pasir semakin lama semakin parah." Erick melirik ke arah Sean.
"Yah itu benar, beberapa bawahanku melaporkan serangan monster menjadi dua kali lipat lebih banyak, dan pertarungan suku semakin menjadi-jadi."
"Ku pikir pasti ada alasannya mengapa para monster tidak berhenti menyerang, seharusnya jika monster itu melihat salah satu yang lainnya terbunuh, mereka akan ragu-ragu untuk menyerang." Ujar Alex.
"Ku pikir juga begitu, mereka seakan di kendalikan sesuatu." Dave muncul tiba-tiba dan mengerutkan kening.
Pembahasan pria memang tidak bisa di mengerti!