
Sejak Liona dalam keadaan koma, kediaman Duke Asteria terlihat sangat suram, sebenarnya tidak ada yang tahu tentang keadaan Liona, hanya saja itu bocor dalam beberapa hari, Duke saat ini sedang di pusingkan oleh orang-orang yang terus berdatangan ingin melihat kondisi Liona.
"Saya turut berduka cita atas keadaan yang menimpa Putri Liona, apakah saya boleh melihat keadaan Putri?" Tanya Duke Alatas.
Kekaisaran Mavros mempunyai empat keluarga Duke, dua keluarga Marquees, beberapa Count, Viscount dan Baron. Duke Asteria masih berhubungan darah dengan keluarga kekasiaran.
"Maaf, tapi saya khawatir anda tidak bisa melayat putri saya, dia sedang dalam masa pemulihan dan dokter keluarga mengatakan jika di ganggu oleh banyak orang maka pemulihannya akan lambat."
Meskipun memberikan alasan yang tidak masuk akal, sudah jelas jika Duke Asteria menolak Duke Alatas untuk mengunjungi putrinya yang hidupnya bergantung pada seutas benang.
"Ah, kalau begitu saya pamit. Maaf sudah mengganggu waktu Duke Asteria, saya telah menyiapkan sedikit ketulusan hati saya untuk putri, semoga dia cepat sembuh." Duke Alatas memberi sepasang kancing manset berwarna emas dan beberapa karangan bunga mawar biru.
"Terimakasih, anda terlalu sopan. Maaf tidak bisa mengizinkan anda untuk menjenguk putri saya." Duke Asteria menyuruh pelayan untuk membawa barang yang di berikan Duke Alatas.
Tidak ada alasan baginya untuk menolak, jika Duke Asteria menolak itu hanya akan menjadi aib bagi Duke Alatas, tidak baik untuk memicu perpecahan.
"Kalau begitu saya permisi."
Duke Asteria menyuruh sekretarisnya untuk mengantar Duke Alatas, dia memegang kepalanya pusing, entah siapa yang mengkhianati Asteria, ada banyak mata-mata yang di tempatkan pihak lain di rumahnya, dia terlalu lalai mengurusi para pekerja.
"Ayah aku sudah menyampaikan surat izin agar Liona tidak masuk akademi untuk beberapa waktu, kepala akademi juga memaklumi itu dan mendoakan agar Liona cepat sembuh." Alex datang tanpa mengetuk pintu.
"Ya itu bagus, ngomong-ngomong tatakrama bangsawanmu mulai mengendur, jangan berlatih menjadi mata-mata terus." Tegur Duke.
***
Sementara tempat jiwa Liona saat ini berada, dia di kejutkan dengan kedatangan Sean yang menunggangi unta berkepala jerapah, dia juga tidak sopan pada Asmodian dan Hades.
"Apakah kau sudah mati? Untung saja kita belum menikah, atau aku akan menjadi janda." Liona menatap Sean dengan polos, membuat Asmodian tertawa terbahak-bahak.
"Kenapa is- maksudku tunanganku mengatakan hal yang mengerikan seperti itu? Tentu saja aku tidak mati, aku tidak ingin membuatmu menjadi janda dan di incar banyak pria hidung belang."
Asmodian dan Hades yang mendengar perkataan Sean hanya menatapnya dengan jijik, apakah pria ini sudah di butakan oleh cinta? Mengapa perkataannya sangat menggelikan? Pikir mereka.
"Lalu untuk apa kau disini?" Liona kembali duduk di dekat gerbang neraka, meskipun panas tapi jiwanya bisa menyesuaikan, karena Asmodian mengatakan jiwanya di lindungi.
"Untuk menemuimu, aku sangat khawatir saat merasakan vitalitas mu yang melemah ternyata sedang bertemu dengan dewa Hades dan juga Asmodian."
Asmodian yang mendengar itu memelototi Sean, berani-beraninya menantu ini tidak sopan padanya! Kenapa memakai embel-embel dewa pada Hades, sedangkan Asmodian hanya di sebut namanya saja.
"Apakah kalian saling kenal?" Liona mengerutkan kening, apakah Sean juga kasus khusus seperti dirinya? Maksudnya anak dari Asmodian atau Hades?
"Bisa di katakan begitu, Pria ini pernah berkunjung kesini, namun karena beberapa hal dia di kembalikan. Kau akan tahu perlahan." Jelas Asmodian, Liona hanya mengangguk dia tidak terlalu suka mencampuri urusan orang lain.
"Lalu kapan aku akan bangun? Aku sangat bosan terus berada disini." Liona mengeluh, Asmodian mengelus kepala Liona dengan sayang, Sean menepisnya dengan kasar.
"Apakah kau mau jalan-jalan di neraka?" Tanya Sean seperti menyetujui saran dari Hades, Asmodian hanya mengangguk saja.
Apakah disini yang normal hanya diriku sendiri? Pikir Liona.
"Tidak, aku tidak tertarik dengan neraka!" Tegas Liona, dia tidak paham dengan orang-orang gelap ini, bagaimana bisa menyarankan seseorang untuk bermain di neraka?
"Kalau begitu apakah kau mau bermain di tempat tinggal bangsa iblis? Kehidupannya tidak jauh berbeda dengan manusia, kau juga akan cocok karena mempunyai elemen kegelapan." Saran Asmodian.
Ku pikir itu saran yang bagus daripada harus berjalan-jalan di neraka, pikir Liona lagi.
"Sean mari kita pergi!"
Liona menyeret Sean tanpa mempedulikan dua orang, yang satu sangat tampan sampai bisa berkata wah, dan yang satunya lagi pria tua yang sangat gagah.
"Apakah tidak apa-apa untuk kita berpenampilan seperti ini?" Tanya Liona, dia mendengar kalau bangsa iblis cukup sensitif dengan kehadiran manusia, dia tidak ingin dibuat repot.
"Tenang saja, kau mungkin hanya akan dianggap sebagai iblis tingkat tinggi, energi gelapmu sangat pekat, dan kau adalah 'anak' dari Asmodian, harusnya itu tidak ada masalah."
Sean mengaktifkan lingkaran teleportasi menuju tempat iblis tingkat rendah, katanya disana sangat seru. Bangsa iblis tingkat rendah lumayan bodoh, jadi akan sangat mudah untuk di tipu.
Liona mengalami kejut sesaat, dia mungkin tidak terlalu terbiasa dengan lingkaran teleportasi. Sean memegang tangannya dan mengajaknya menuju kasino iblis.
"Di dunia iblis juga ada kasino?" Liona melihat dengan takjub, saat pertama kali datang kesini dia tidak terlalu memperhatikan.
"Tentu saja, pada dasarnya bangsa iblis itu sangat rakus mereka sangat suka mengumpulkan emas dan berlian, jika ingin kaya lebih baik datang ke dunia bawah dan menipu para iblis bodoh."
Liona merasa ini alasan yang masuk akal, siapa yang tidak menginginkan kekayaan dan uang? Tentu saja tidak ada!
Saat di kehidupan dulu sebagai Aletta, dia di juluki sebagai tukang menimbun uang, meskipun hanya sebagai mahasiswa, namun dia bisa menghasilkan uang dari menjadi brand ambassador sebuah produk dan menggugahnya di media sosial.
"Kalau begitu mari kita menipu iblis bodoh itu, Haha Ahahaha." Tawa Liona membuat Sean merinding tanpa alasan, dia baru tahu ternyata Liona mempunyai sisi yang seperti ini.
Mereka masuk ke dalam kasino, Liona berdecak kagum, ternyata interiornya tidak berbeda jauh dengan kasino di dunianya dulu.
Mungkin penulis 'The Happiest Princess' tidak mempunyai ide untuk mengubah struktur dari sebuah kasino, ini juga cukup menguntungkan untuknya.
"Wah apakah itu permainan kartu Remi?" Liona menunjuk ke arah beberapa iblis buaya yang sedang bermain kartu.
"Apakah namanya remi? Yang ku tahu itu adalah kartu Queen and King."
Liona mengedutkan bibirnya, apakah penulis novel ini tidak bisa menciptakan sebuah kata yang lebih terlihat keren dari remi? Mengapa harus Queen and King?
Entahlah mengapa Liona yang malu, mungkin karena dia berada di dunia yang sama dengan penulis, terkadang dia lupa kalau dia masuk ke dalam dunia Novel.