
Aku merasa kalau guanya cukup aman, tanpa ragu aku membawa Sean masuk, sebenarnya aku cukup menyesal karena tidak membunuh salah satu dari mereka.
Bahkan aku lupa kalau aku mempunyai sihir yang kuat, memang jika dalam keadaan panik aku selalu merasa menjadi orang bodoh.
Tanpa banyak berpikir aku membasuh luka Sean dengan air yang ku hasilkan dari sihirku, lukanya cukup parah terutama yang berada di dadanya.
Untung saja wajah tampannya baik-baik saja, kalau tidak mungkin akan meninggalkan jejak.
"Hng."
Terdengar ringisan Sean, aku melihatnya mengerutkan kening dengan mata terpejam, aku mulai membaca mantra-mantra penyembuhan healer ku untuk luka-luka kecil dan mengoleskan ramuan yang cukup efektif untuk luka besar.
Mungkin karena terluka, tubuh Sean sangat panas, di situasi ini healer ku tidak cukup berguna untuk kondisi Sean, aku hanya bisa memberikannya obat yang selalu ku bawa dan juga mengompres dahinya.
"Liona." Suara seraknya memanggilku, aku melihatnya dan memegang tangannya, sebenarnya aku tidak tega melihatnya seperti ini.
Tapi siapa pria yang menyerang Sean tadi? Dalam novel tidak pernah ada keterangan tentang musuhnya pasukan Tiger, karena pasukan Tiger merupakan pasukan terkuat di Benua.
Meskipun aku sudah memutuskan untuk tidak mengikuti alur novel, namun tetap saja beberapa informasi sangat berguna di masa depan.
"Liona." Sean terus-menerus memanggil namaku, "Aku disini." Ujarku pelan, kurasakan genggaman tangannya lebih erat.
"Jangan pergi." Entah kenapa suaranya yang lirih membuat hatiku berdenyut sakit, aku memang tidak mengingat kehidupan pertamaku, namun memang selalu ada jejak nostalgia dalam hatiku.
"Aku tidak akan pergi."
Sean tertidur lelap dengan masih menggenggam tanganku, karena bosan aku memanggil Cerberus untuk berada disini menemaniku.
"Ck, dia pria lemah."
Aku melihat ke arah tiga kepala anjing yang tampak menghujat Sean, "Bukankah seharusnya kalian juga berkaca?" Cibirku, mereka tampak malu.
Tiba-tiba saja sinar terang menerangi tubuh peliharaan pemberian Dewa Hades itu, tiga bayi dengan rambut hitam melihatku dengan polos, sangat imut!
"Hmph, kekuatan kami hanya di batasi." Oh my god, suaranya bahkan sangat imut, bayi-bayi itu memakai baju polos kecil dengan pipi gembul yang benar-benar menggemaskan.
"Kyaa sangat imut." Tanpa sadar aku memeluk mereka bertiga, terlihat sangat mirip dengan ekspresi yang berbeda-beda.
"Hentikan, kau membuat kami merinding."
"Jika di neraka, kami akan berubah menjadi pria dewasa, karena disini kekutan kami di batasi, kami hanya bisa menampilkan wujud menjijikan ini."
Aku terkekeh pelan, mereka tampak seperti Sean dengan rambut hitamnya, tiba-tiba saja terlintas dalam benakku jika suatu saat aku mempunyai seorang anak.
Tanpa sadar pipiku merona merah, dan ketiga bayi itu menatapku dengan jijik, sialan! Bahkan berhayal pun rasanya sangat memalukan.
***
Karena menunggu Sean, Liona tertidur dengan ketiga bayi laki-laki yang berada di dekatnya, gambaran ini seperti seorang ibu yang sedang menidurkan anak-anaknya.
Sean terbangun dengan kepala berdenyut sakit, pria itu mengerutkan kening sejenak kemudian membuka matanya perlahan untuk menyesuaikan diri dengan cahaya matahari.
Melihat ke arah Liona tidur, Sean tampak terkejut apalagi ketika melihat tiga bayi polos yang ikut meringkuk di pelukan Liona!
"Berapa lama aku tidur? Apakah Liona melakukan tindakan aneh sehingga melahirkan kembar tiga yang mirip denganku?" Gumamnya pelan.
Tanpa sadar Sean mengulum senyumnya, dia berpikir tidak apa-apa jika wanitanya sangat agresif, dia menyukainya!
Sean menatap Liona dengan prihatin, berpikir dia mengurus dan melahirkan kembar tiga itu sendirian sambil menunggu dirinya bangun, sungguh kesalahpahaman yang sangat luar biasa!
"Kau sudah bangun?" Tanya Liona sambil mengucek kedua matanya dengan suara yang agak serak.
Liona memeriksa suhu tubuh Sean, kemudian mengangguk ketika panasnya sudah turun, luka-lukanya pun terlihat lebih membaik.
"Pasti sulit untukmu selama ini melahirkan dan membesarkan anak kita sendirian, aku benar-benar bukan pria yang bertanggung jawab."
Liona tampak terdiam membeku sejenak dengan mulut terbuka, dia mencoba mencerna apa yang di ucapkan pria itu tadi.
"Apa maksudmu? Dia adalah wujud dari Cerberus!"
"..."
"..."
Sean tampak agak malu sedangkan Liona memelototinya dengan kejam, "Jadi maksudmu, aku melakukan tindakan mesum yang membuatku hamil kemudian melahirkan anak tiga?"
"Maaf, aku terkejut." Sean lupa, kalau Liona bukanlah seorang wanita yang bertindak sembarangan, meskipun wanita itu menyukai wajah tampan, namun dia tidak akan melakukan tindakan yang tidak bermoral!
"Dasar pria, apa yang kau pikirkan?" Liona terus-menerus memukul Sean, sementara pria itu hanya meringis kesakitan.
Sedangkan ketiga bayi yang di salah pahami itu sedang menatap Liona dan Sean dengan tatapan datar.
"Pria memang berbahaya."
"Kau juga pria."
"Yah kecuali diriku."
Sean menghentikan Liona dan bayi-bayi itu yang berbicara terlalu keras, dia memberikan kode dengan jari telunjuknya berada di bibirnya untuk menyuruh mereka diam!
"Ada apa?" Bisik Liona yang juga merasakan keanehan, udaranya kemarin tidak seaneh ini.
"Ada makhluk hidup lain di dalam gua, Cerberus juga pasti merasakan itu."
Ketiga bayi kembar itu segera mengubah penampilannya menjadi Cerberus kecil dan melompat ke pangkuan Liona.
Memang mereka juga merasakan ada yang aneh di dalam, itu sangat berbahaya dan merupakan sesuatu yang kuat.
Tapi karena penasaran, Sean dan Liona memutuskan untuk masuk setelah membereskan barang-barangnya yang sedikit.
Sebenarnya Cerbe sudah menyuruh mereka untuk pergi dan jangan gegabah, namun namanya manusia semakin di larang semakin mau di lakukan.
Rasa penasaran terkadang membawa malapetaka.
"Liona, lebih baik kita pergi saja dari sini. Pria itu juga baru saja sembuh, tidak baik jika di dalam ada bahaya lagi."
Sean berpikir sejenak, dia akan melihatnya nanti dengan pasukannya setelah dirinya sembuh total, takutnya dia terluka lagi dan malah akan menyusahkan Liona.
"Lebih baik kita pergi saja, kita akan kembali nanti dengan pasukan untuk melihat ada apa disana." Liona juga mengangguk setuju, meskipun penasaran tapi keselamatan adalah nomor satu, dia hanya mencoba belajar dari pengalamannya yang lalu.
"Siapa yang mengganggu waktu tidurku?"
Suara seorang wanita disertai geraman yang menggema di gua membuat Sean dan juga Liona berhenti berjalan.
Mereka berbalik badan hanya untuk melihat medusa, perempuan berambut ular dengan wajah cantik dan juga tubuh ular menatap Sean dan Liona dengan marah.
"Lagi?"
Liona merasa jika takdirnya buruk, mengapa dia harus bertemu dengan medusa lagi?
"Manusia tak tahu diri! Beraninya kalian mengganggu waktu tidur ratu!" Ujar medusa dengan penuh amarah.
Sean memegang tangan Liona dan berlari dengan kencang, tidak lupa Liona melemparkan bom sebelum lari kencang bersama Sean.