
Mereka masuk ke dalam kuil dan melihat sekeliling, meskipun bangunan ini sederhana namun lantainya di buat dari batu marmer langka, tembok yang di gantungi lukisan dewa, dan tiang-tiang putih menambah kesan sejarah pada kuil ini.
"Aku akan langsung menuju altar untuk berdoa." Liona melihat kearah teman-temannya.
"Baik, jika kau sudah selesai temui kami di dekat tiang sebelah sana." Sean menunjuk ke arah tiang yang tak jauh dari tempat mereka berada, Liona mengangguk dan masuk ke dalam ruangan tempat untuk berdoa.
Sedangkan Sean, Elios, Luther dan Arthur melihat struktur bangunan kuil.
***
Aku melihat patung dewa athanatos di atas kuil, rambutnya panjang dan dia membawa semacam trisula.
Entah kenapa aku tiba-tiba ingin bersimpuh dan menangis, ku lihat sedikit orang yang berdoa sedang bersujud sambil menangis tersedu-sedu, apakah perasaannya sama dengan perasaanku?
Aku tidak tahu. Aku mencoba memejamkan mataku dan mulai berdoa, rasanya sejuk dan ethernya benar-benar murni, lebih murni dari tempat Falaina berada.
"Sudah datang." Suara lembut yang menghipnotis membuatku membuka mata, seorang pria yang sangat tinggi, memakai jubah putih namun wajahnya di samarkan cahaya terlihat di depanku.
Aku tidak bisa menatapnya terlalu lama, seolah jika aku terus menatapnya kesuciannya akan hilang, aku tidak mengerti perasaan apa ini, seolah aku ini kotor.
"Kemarilah anakku." Dia merentangkan kedua tangannya, aku menurutinya dan menghampirinya, suaranya mampu membuatku mengikuti perintahnya tanpa bisa berkutik.
Dia mendudukanku di atas pangkuannya, menyenderkan kepalaku ke dadanya yang hangat dan dia mengelus kepalaku dengan kelembutan.
"Kau ini apa?" Aku memejamkan mataku menikmati belaiannya yang nyaman.
"Menurutmu aku ini apa?"
"Dewa?"
"Kau bisa menyebutku begitu anakku." Dia mengelus kepalaku.
"Sejujurnya aku takut, aku takut keluargaku di eksekusi, aku takut mati, aku ingin melakukan sesuatu, namun aku tahu aku tak mampu, aku tahu batasan diriku, aku takut, aku harus apa?" Entahlah aku tiba-tiba mengeluarkan isi hatiku sambil menangis.
"Nak, kau tidak harus takut. Percaya pada dirimu sendiri untuk melakukan sesuatu, jangan jadikan tolak ukurmu sebagai batasan kemampuanmu.
Ibarat kamu belajar berenang, jika kamu tahu batasanmu, kamu hanya akan belajar di tempat yang rendah. Tidak usah pedulikan hasil akhirnya, yang penting kamu sudah berusaha keras untuk keluargamu, untuk orang yang kamu sayang."
Aku semakin menangis, benar jika aku mengukur kemampuanku, aku tidak akan berani mencoba belajar di tempat yang lebih dalam, tidak usah pedulikan hasil akhir karena aku sudah mencoba sekuat yang aku bisa.
"Terimakasih." Dia hanya tersenyum dan mengalirkan sesuatu yang sangat nyaman dalam belaiannya.
Terasa sesuatu yang hangat mengalir dari tangannya, mengenai kepalaku lalu ke jantungku dan letak hatiku.
Aku secara spontan membuka mataku, masih berada di tempat yang sama sedang bersimpuh, aku melihat ke arah patung yang entah kenapa terasa hidup.
"Berbahagialah anakku, ikuti takdirmu, karena ini adalah kehidupanmu." Suara lembut yang menghipnotis terdengar berbisik di telingaku.
Tanpa sadar aku menangis, bahkan aku tidak tahu kenapa, aku mengelap air mataku dan keluar dari ruangan berdoa.
Terlihat bahwa malam telah tiba, aku menghampiri Sean dan yang lainnya di tempat yang tadi kami janjikan.
"Sudah?" Elios melihat kearahku.
"Hm." Gumamku dengan tidak bertenaga.
"Kau menangis." Sean melihat mataku yang sembab.
Aku hanya berkata tidak apa-apa, dan mengajak mereka untuk pulang karena aku benar-benar lelah, padahal tidak ada yang aku lakukan.
***
Desa yang di isolasi malam ini sangat ramai, membuat kelima orang itu mengernyit heran, orang-orang berjalan dengan terburu-buru bahkan tanpa menyapa.
Arthur menarik salah satu warga yang sudah keluar dari ruang isolasi, bertanya kenapa ini sangat ramai.
"Kalian akan segera pergi dari sini, kami ingin berterimakasih karena sudah membantu kami dengan menyiapkan perayaan dan ucapan selamat tinggal." Ujar warga itu dengan binar bahagia.
Arthur melepaskan pegangan pada bajunya dan membiarkan dia pergi setelah mengucapkan terimakasih.
Sedangkan Elios, Luther dan Arthur akan melihat-lihat siapa tahu ada yang mau di bantu, karena mereka tidaklah lelah.
Sean pergi menuju pasukannya, di tengah perjalanan Sean bertemu dengan Cecilia yang sedang tersenyum kearahnya.
"Tuan pemimpin apakah anda menikmati hari ini?" Cecilia bertanya dengan nada lembut, Sean mengernyit dan berniat mengabaikannya.
Mana mungkin Cecilia membiarkan Sean pergi? Dia memegang tangannya dan memeluk Sean, otomatis Sean mendorongnya sampai terjatuh.
"Apa yang kau lakukan?" Sean melihat Cecilia yang jatuh dengan dingin, terlihat kilatan berbahaya pada matanya.
Sejujurnya Sean tidak menyukai orang yang menyentuhnya sembarangan, kecuali Liona. Apalagi ini yang menyentuhnya adalah wanita yang membuat krisis di hatinya.
"Ma-maaf, saya berperilaku seperti ini karena spontan, sa-saya sangat mengagumi anda dan tanpa sadar sa-saya.."
"Cukup, kau tidak perlu menjelaskan! Jangan berpikir bahwa aku adalah orang yang lembut, jika kau berperilaku seperti ini lagi, aku tak segan membunuhmu di tempat."
Cecilia tampak gemetar dengan raut ketakutan di wajahnya, awalnya dia pikir Sean adalah pria yang suka bermain wanita, dan dia berniat menggodanya, namun siapa sangka akan jadi seperti ini.
Cecilia mengepalkan kedua tangannya, dia tambah membenci Liona tanpa alasan.
"Kau bahkan merebut perhatian pemimpin? Dasar jalang." Cecilia bersumpah serapah.
Di satu sisi Liona tampak merinding, siapa yang menyumpah serapahiku sembarangan? Pikirnya.
Cecila kembali ke kamar tempatnya berada, mengeluarkan batu hitam yang tampak seperti kotoran kuda dan membaca mantra-mantra sesat.
Sebuah bayangan yang hitam terbentuk dari tanah, terlihat seperti jelly dan mempunyai kaki.
"Pergi pada wanita jalang itu, ganggu dia dan laporkan setiap detail apa yang jalang itu lakukan." Perintah Cecilia.
Bayangan hitam yang terbentuk dari jelly menurut, dan merayap menuju kamar Liona berada.
Saat ini Liona tengah tertidur pulas, bayangan hitam merayap pada kakinya seperti ular, Liona merasakan geli namun tidak terbangun.
Cahaya bersinar untuk beberapa detik di kamar Liona, tidak ada yang menyadarinya, hanya Sean yang mengernyit namun kemudian dia fokus lagi pada pekerjaannya.
Bayangan hitam itu terpental oleh cahaya begitu merayap, meleleh meninggalkan bau busuk.
Cecilia yang sedang tersenyum gila, merasakan lonjakan darah pada dadanya dan memuntahkan darah hitam.
Cecilia terlihat kaget dan urat di tangannya perlahan keluar.
"Sial." Umpatnya.
Sebenarnya bayangan hitam itu semacam guna-guna, namun karena Liona telah di beri berkat oleh dewa athanatos bayangan hitam tidak mampu untuk beraksi.
Akibatnya, bayangan hitam itu terpental dan mati, menyebabkan serangan balik pada Cecilia. Munculnya urat karena efek samping dari penggunaan bayangan hitam.
Itu akan terus menjalar ke seluruh tubuh seperti akar, dan akan bertahan sampai waktu matahari terbit sambil menahan nyeri yang luar biasa.
Karena terkejut oleh cahaya, Liona terbangun dan melihat lelehan hitam yang mengeluarkan bau busuk.
Dia keluar dan berlari berniat memanggil Luther untuk bertanya.
Elios, Luther dan Arthur yang sedang melihat-lihat desa berhenti saat Liona berlari sambil terengah-engah.
"Kalian, tunggu." Liona berkata sambil mengatur nafasnya yang berat.
"Kau kenapa?" Luther mengangkat kedua alisnya, dia berpikir tidak biasanya Liona seperti ini.
"Ada benda aneh di kamarku, cepat periksa apa itu." Liona menyeret Luther menuju kamarnya, Elios dan Arthur mengikutinya dari belakang.
Lelehan bayangan hitam masih ada, di kerumuni rayap.
"Apa itu?" Arthur menutup hidungnya karena bau busuk yang menyengat.
"Ini guna-guna, siapa yang mengirim benda sesat ini padamu?" Setelah Luther berkata, suasana menjadi hening, tidak terduga bahwa lelehan bayangan hitam itu guna-guna.