
Liona bersama dengan Arthur pergi dengan tergesa-gesa menuju tempat Elios berada, sedangkan Sean di tinggalkan begitu saja dengan menyedihkan
Sean menghela nafas tanpa daya dan menatap Liona yang perlahan menjauh dengan tatapan memanjakan.
"Maaf karena tidak bisa melindungimu, kehidupan ini aku akan terus bersamamu bahkan jika aku mati." Gumamnya dengan tatapan kosong.
Liona menghampiri Elios yang terbaring dengan lemas, memeriksa denyut nadinya dan suhu tubuhnya, Liona menggunakan healernya dan merapalkan doa.
Terlihat Elios jauh lebih baik dari tadi, tenaganya di pulihkan sedikit dan juga wajahnya tidak terlalu pucat.
"Kenapa bisa begini?" Liona menatap Elios yang sekarang sudah setengah duduk.
"Maaf aku tidak memberitahu kalian kemarin, aku tidak ingin membuat khawatir, tapi tetap saja aku malah membuat keributan." Elios berkata tanpa daya.
"Jadi kenapa? Biasanya kau tidak begitu kan?"
"Kemarin setelah melihat lelehan bayangan hitam, firasatku semakin kuat dan itu menyesakkan, aku tidak mengerti mengapa itu bisa terjadi, biasanya aku hanya mengalami pusing sekejap atau bahkan tidak sama sekali, namun hari ini berbeda, seolah mengatakan bahwa aku tidak boleh pulang ke Mavros." Elios menjelaskan.
Mereka merenung, memang firasat Elios tidak bisa di ragukan, bahkan firasatnya setingkat dengan para seer, terkadang Elios mendapat penglihatan masa lalu seseorang.
Tapi jika mereka tidak kembali ke Mavros, maka itu akan menyebabkan sensasi yang berlebihan, bisa jadi Mavros menuduh kalau Ravnos yang menculik atau mengancam mereka agar tidak kembali ke Mavros.
Pasti reputasi mereka telah menyebar, karena perdagangan Ravnos dan Mavros telah terjalin akibat bantuan sukarelawan dari Mavros.
"Menurutmu apa yang akan terjadi?" Luther bertanya sambil mengerutkan kening.
"Sesuatu yang mengecewakan dan itu benar-benar membahayakan untuk salah satu dari kita." Elios menjelaskan dan menatap teman-temannya yang sedang termenung.
Liona berpikir kalau itu pasti ada hubungannya dengan putra mahkota, bagaimana kalau novel kembali ke alur aslinya?
Maksudnya rencana eksekusi Duke atau pembunuhan dari Liona.
Liona merinding dan memegang lehernya tanpa sadar, dia sering memimpikan hal buruk kalau lehernya di penggal.
"Apakah ini ada hubungannya dengan wanita ular itu? Apakah kalian ingat waktu kita akan pergi ke kuil? Wanita itu berkata dia akan memberi hadiah pada kami." Arthur mengeluarkan pemikirannya.
"Yah mungkin benar, setelah wanita itu berkata aku merasakan firasat yang buruk, namun sekarang firasatnya begitu kuat. Kira-kira, apa maksud perkataannya itu?" Elios berpikir.
Mereka semua menerka-nerka apa yang akan terjadi, namun tetap saja jawabannya tidak jelas.
"Jangan memikirkan itu, aku akan membantu Elios agar staminanya tidak turun kembali, hari ini kita akan pergi ke kekaisaran Ravnos." Liona berkata dan memberi Elios ramuan yang dia buat.
Dia juga mengalirkan mananya lewat healer, kemampuan healer Liona semakin berkembang, meskipun hanya untuk luka ringan, namun itu benar-benar membantu dalam memulihkan tenaga.
"Terimakasih."
"Kita adalah saudara, jangan sopan!" Liona tersenyum, kemudian dia pamit untuk mengemasi barang-barangnya.
***
Aku pergi dari tempat Elios, sepanjang jalan aku terus memikirkan firasat Elios, itu benar-benar menggangguku, yang membuatku kesal adalah ketidakmampuanku untuk mengetahui apa hadiah yang akan di tunjukkan Cecilia.
"Sial." Aku mengumpat sepanjang jalan, bahkan sapaan para ksatria ku hiraukan.
Aku melirik ke arah bukit, terlihat Cecilia sedang beramah tamah pada penduduk desa dengan senyum lembutnya dan sikap sopannya.
Aku jadi ingat pria tua yang berada di hutan kaktus, kalau menara suci itu tidak sebaik apa yang terlihat oleh masyarakat.
"Liona." Cecilia melambaikan tangannya ke arahku dan tersenyum lembut, benar-benar teratai putih tanpa noda.
Aku mengabaikannya dan tidak melihatnya lagi, terdengar bisik-bisik yang membuat telingaku sakit setelah melihatku mengabaikan Cecilia, ingin ku sumpal rasanya mulut orang-orang yang hanya tau berkomentar saja.
"Kau lebih cepat kembali dari yang ku duga." Sean menundukkan kepalanya pada bahuku, terdengar helaan nafas berat.
"Kenapa?"
"Aku sangat malas bertemu dengan ayahku." Aku tertawa mendengarnya, Sean telah memberitahuku kalau dia pangeran ke-empat Ravnos, ya meskipun aku sudah tahu.
"Dia kan ayahmu." Aku menepuk punggungnya dengan ringan.
"Iya, namun pria tua itu sangat senang merepotkan ku." Sean berkata dengan penuh kebencian walaupun ada jejak kelembutan pada suaranya, aku hanya terkekeh geli dan duduk di tempat tidur sambil mengemasi barangku.
"Semalam perayaan sangat ramai, warga desa sangat berterimakasih kepada para sukarelawan, akhirnya mereka bisa pergi ke kuil untuk beribadah lagi." Ujar Sean yang membantuku mengemasi barang.
"Syukurlah kalau begitu. Lalu bagaimana dengan penyelidikan terkait dengan tumbal?" Aku bertanya tanpa menatapnya.
"Tidak ada perkembangan apapun yang terjadi, hanya saja ada suatu pergerakan yang aneh di dekat gunung xeros."
"Gunung xeros? Tempat tinggal para dwarf?" Aku menatap Sean dengan terkejut, perlu di ketahui kalau dwarf sangat membenci manusia namun keahlian tukangnya benar-benar luar biasa.
"Yah, meskipun kami tidak bisa masuk pemukiman dwarf karena ada sihir yang menyebabkan manusia tidak bisa masuk, namun di luar pegunungan xeros pasukan tiger masih banyak, tugasnya hanya memburu monster kemudian mengambil intinya untuk di jual."
"Benar-benar luar biasa? Aku tidak menyangka kau yang seperti ini bisa menjadi pasukan tiger yang tangguh." Aku mendelik ke arahnya.
"Tentu, priamu ini sangat hebat. Kau harus tahu itu!" Sean mengangkat dagunya dengan sombong.
"Cih, priamu?"
"Memang benar kan?" Sialan Sean, dia benar-benar membuatku malu. Entah kenapa wajahku panas.
***
Semua orang sudah berada di bukit, para warga mengantarkan kami dengan antusias dan penuh rasa terimakasih.
Rasanya ada kepuasan tersendiri bisa menyembuhkan orang yang sakit, namun tetap saja meresa tidak berdaya di hadapan trik iblis.
"Terimakasih sudah menolong kami, kami pasti akan selalu mengenang semua." Kepala desa tersenyum dan membungkuk.
Kami mengucapkan selamat tinggal dan berjalan ke arah barat laut di pimpin oleh Sean dengan gagah, menuju tempat kekaisaran Ravnos didirikan.
Aku gugup, ku lihat Elios yang sudah baikan sedang tersenyum dan Cecilia yang sedang bergurau ceria pada beberapa orang.
Saatnya pergi, ku harap semuanya berjalan dengan baik dan aku tidak akan berhubungan lagi dengan Cecilia.
Aku akan selalu mengingat desa kecil ini, kuil putih yang sederhana tempat pertemuan pertamaku dengan dewa athanatos, dan aku mungkin akan sangat merindukan Ravnos setelah pergi dari kekaisaran ini.
Ku harap suatu hari nanti aku akan kembali lagi kesini. Ah, aku benar-benar benci perpisahan!