
Tempat-tempat di desa saat ini sudah sangat bersih, karena mungkin akan menjadi sarang untuk penyakit jadi semuanya di bersihkan.
Sean juga sudah memberikan sampel cacing dan telurnya pada badan penelitian kekaisaran Ravnos, dan saat ini aku berada di ruang orang-orang yang terkena penyakit Sapios.
Ada yang mulai membusuk dan mengeluarkan bau bangkai, orang-orang yang bertugas di ruangan tempat penyakit sapios memakai baju sejenis APD.
Benar-benar mengenaskan, karena ruangan yang sempit, orang-orang yang sudah terinfeksi sapios tertidur dalam satu ruangan dan itu memakai tikar.
"Arthur coba lihat apakah vitalitasnya masih bisa di pertahankan?" Tanyaku pada Arthur yang sedang merawat pasien.
Pasien itu sepertinya sudah mencapai batas dalam pembusukan, bahkan tulang pun tak luput dari busuk, lebih kasihannya lagi mereka hidup dan tidak mati, merasakan sakitnya proses pembusukan kemudian menjadi abu sedikit demi sedikit.
"Tidak bisa, meskipun vitalitasnya di pertahankan, namun pembusukan tetap terjadi dan akhirnya hanya ada kematian." Jelasnya.
"Bagaimana menurutmu?" Tanyaku pada Luther yang sedari tadi diam saja.
"Aku tidak bisa mengatakannya disini!" Bisik Luther.
Kami pun keluar dan pergi memanggil Elios untuk berdiskusi, kami berempat masuk ke sebuah ruangan yang di gunakan untuk menyimpan obat.
Tidak ada siapa-siapa disini, dan aku memasang sihir kedap suara, mendengarkan penjelasan dari Luther.
"Sepertinya ini bukan penyakit." Ujar Luther.
"Apa maksudmu?" Arthur mengeryit tidak mengerti.
"Aku pernah membaca naskah kuno yang ada di dalam ruang rahasia keluargaku, ada catatan mengenai hal ini yang tidak di tulis di perpustakaan umum atau kekaisaran.
Di sebutkan bahwa ini adalah tumbal, ada seseorang yang meminta kepada iblis dari neraka paling dalam untuk meminta kemuliaan, mereka adalah anti athanatos, dan hanya menyembah iblis.
Namun bayaran dari permintaannya adalah manusia, di perpustakaan dan buku kuno tidak di jelaskan bagaimana penyakit ini teratasi namun sebenarnya adalah, bahwa tumbalnya telah cukup." Jelas Luther yang membuat kita semua terkejut.
Jika seperti itu kemungkinan besar kalau sapios tidak bisa di sembuhkan, kecuali kalau jumlah tumbalnya telah sesuai.
"Tapi siapa yang meminta hal ini?" Tanya Elios.
"Tidak di ketahui siapa, di naskah kuno juga di jelaskan kalau tumbal saja tidak cukup, katanya tumbal beberapa ratus tahun yang lalu tidak berhasil karena kurang satu bahan."
"Apa itu?"
"Kotak dari bahan kayu jati dengan ukiran pola naga." Luther berkata dengan berbisik.
Deg.
Jantungku berdetak dengan cepat, bukankah itu adalah kotak yang di perlihatkan oleh ayahku beberapa waktu yang lalu?
"Kotak?" Tanya Arthur.
"Iya, aku tidak tahu kotak apa itu, ada yang bilang kotak itu adalah milik Asteria." Luther menjawab sambil melihat ke arahku.
Aku terdiam, apakah yang melenyapkan seluruh keturunan Asteria adalah orang-orang yang menyembah iblis? Tapi bukankah yang menghukum mati ayah adalah putra mahkota yang sudah menjadi kaisar?
Apakah putra mahkota mempunyai hubungan dengan bangsa iblis? Tapi Luther mengatakan kalau putra mahkota hanya manusia normal.
"Yah tapi itu hanya sekedar rumor yang beredar di kalangan bangsawan, Duke Asteria juga tidak pernah mengkonfirmasi adanya kotak itu." Ujar Luther sambil mengangkat kedua bahunya.
"Apakah kau tahu sesuatu Liona?" Tanya Elios menatapku yang sedari tadi hanya menyimak saja.
"Aku tidak tahu apa-apa." Balasku sambil tersenyum ringan, meskipun aku percaya pada mereka namun ada kalanya suatu hal hanya boleh di simpan sendiri.
"Lalu kita harus bagaimana?" Tanya Arthur kembali ke topik.
"Aku akan mencoba berbicara dengan Sean tentang ini." Aku berkata.
Setelah berdiskusi kami tidak mengatakan apa-apa dan memilih untuk merawat orang-orang yang menderita pneumonia.
***
Ternyata apa yang di katakan Luther itu benar, sepertinya sapios adalah tumbal, aku sudah mendiskusikan ini dengan Sean, dia menyuruh bawahannya untuk memeriksa gerakan mencurigakan di setiap tempat di benua ini.
Karena pasukan Tiger ada di setiap kekaisaran, jadi itu tidak terlalu sulit baginya, hal ini pun tidak di ceritakan pada siapapun atau itu akan menjadi suatu hal yang sangat merepotkan.
Aku juga menceritakan tentang kotak itu kepada Sean, entah kenapa aku percaya padanya, mungkin karena hubungan kontrak?
"Ada wanita yang menunggumu di luar." Ujar Sean yang sedang berbaring malas di pangkuanku.
Aku bangkit dan itu membuat Sean kesal, dia hanya menyuruhku untuk cepat kembali.
Aku melihat Cecilia yang tersenyum berbahaya ke arahku, aku mengernyit dan menghampirinya.
"Ada apa?" Tanyaku dengan asing.
"Hanya ingin menyapa saja, ngomong-ngomong kau cukup mampu ya untuk memikat pemimpin Tiger, dasar jalang!" Ujarnya sambil tersenyum lembut.
Lihatlah ini, lily putih sudah menunjukkan ekor rubahnya yang bergoyang-goyang.
"Terserah saja." Ujarku dengan dingin, dia memegang pergelangan tanganku dan menusuknya dengan jarum, otomatis aku menepisnya karena rasa sakit di pergelangan tangan.
"Kyaa." Cecilia terjatuh dan itu sukses membuat semua orang menatap kami, ku lihat Elios, Luther dan Arthur menghampiriku.
"Kenapa kau seperti itu? Aku hanya meminta maaf saja padamu, saat itu aku benar-benar tidak sengaja." Katanya dengan derai air mata yang membuat orang-orang merasa iba.
"Nona, kenapa kau terus mempermasalahkan hal ini? Padahal itu sudah lewat cukup lama!" Ujar seorang pria yang tampak seumuran denganku.
"Ternyata dia memang tidak pernah berubah."
"Benar, makanya dulu aku tidak percaya saat gosip Putri duke Asteria telah berubah."
"Dasar pencari perhatian."
Semua orang mulai beropini dan menggunjingku, tapi aku tidak peduli, aku cukup yakin kalau Cecilia menusuk pergelangan tanganku dengan sesuatu.
Semua orang membopong Cecilia yang tampak lemah, dia berjalan ke arahku dan memegang tanganku dengan raut wajah memelas.
"Aku punya hadiah untuk kalian nanti." Katanya sambil menyeringai.
"A-aku benar-benar minta maaf Liona, jika kau tidak mau memaafkanku, tidak apa-apa aku akan terus berusaha agar kau memaafkanku." Dia berkata dengan keras, orang-orang mulai memperhatikan ku lagi dengan tatapan mencemooh.
Aku menghentikan Luther, Elios dan Arthur yang akan menghujat mereka, aku memandang Cecilia tajam, dia benar-benar berbeda dari naskah asli novel.
"Aku benar-benar mempunyai firasat buruk, entah apa yang akan di lakukan wanita sesat itu." Elios berkata sambil memandang tajam ke arah Cecila yang sudah berjalan lumayan jauh.
Dari awal memang Elios sangat tidak menyukai Cecilia, dia seperti rubah licik dan sifatnya benar-benar munafik.
"Dia benar-benar memiliki keterampilan akting yang bagus, bahkan orang-orang terpengaruh pada pertunjukkan dramanya." Cibir Artur.
"Dia sangat cocok menjadi pemeran opera sebagai perempuan yang hina." Bahkan ucapan Luther lebih pedas.
Terkadang aku heran, mengapa mulut mereka sangat halus dan kata yang di ucapkan benar-benar kejam.
"Sudahlah tidak usah di pedulikan." Ujarku sambil mengusap pergelangan tanganku yang sakit.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Elios khawatir.
"Tidak, hanya saja dia tadi menusukku dengan sesuatu aku yakin itu, dan sangat menyakitkan, tapi tidak ada luka di pergelangan tanganku dan di tangannya tidak ada jarum atau benda apapun." Jelasku sambil melihat pergelangan tangan.
"Wanita itu benar-benar berani melukaimu? Bisakah aku mencekiknya?" Luther berkata dengan kilatan kejam di matanya.
"Sudahlah, jangan di pedulikan, aku akan pergi ke kuil nanti. Apakah kalian akan ikut?" Tanyaku.
"Tentu saja!"