I Became A Villain In A Novel

I Became A Villain In A Novel
Delapan puluh lima



Apa ini? Kenapa aku bisa bertemu dengan Cecilia di gurun yang luas ini? Dia bersama dengan para senior dari Akademi, dan kita saling menatap dengan canggung.


"Wah dunia sangat sempit." Seperti biasa, Cecilia tersenyum dengan sangat lembut, namun aku merasakan auranya sangat berbeda tidak seperti biasanya, dia menjadi jauh lebih kuat!


"Adik junior Liona, kau sedang apa disini?" Aku tidak tahu namanya, namun dia cukup manis. "Aku cuti akademi untuk melatih skill tarungku."


Sebulan yang lalu, aku bertarung terus-menerus dengan monster gurun, meskipun aku tidak bisa mengalahkannya sendirian, namun gerakan pedangku sudah sangat sempurna.


Aku juga lebih memahami situasi, dan pergerakan lawan dengan mudah. Saat kami menghilang, ternyata Jason dan yang lainnya mengalami hal yang lebih sulit, untung saja kita bertemu lagi.


Dan ini harus ku syukuri, para roh elemenku terbangun dan jauh lebih kuat dari biasanya, mungkin itu efek dari bayangan naga atau karena aku terus-menerus bertarung tanpa menggunakan sihir untuk menguatkan tubuhku.


"Pergi saja bersama kami." Cecilia masih dengan senyum lembutnya menawariku, kadang aku merasa dia tulus namun juga penuh dengan tipu daya.


Yang lebih mengejutkannya, Cecilia membebaskan Putra Mahkota dari sihir hitamnya, pria itu menjadi jauh lebih baik sekarang!


Aku berpikir apakah Cecilia sudah bertaubat? Tentu saja pikiran itu hanya terlintas sebentar saja, karena saat ini dia menatap Sean dengan genit.


Seperti biasanya pria itu hanya mengabaikan tatapan menggoda Cecilia dan hanya melihat ke arahku, aku sangat ingin mencongkel matanya, namun itu tidak mungkin bukan? Karena dia seorang sage!


"Tidak, kami akan pergi sendiri. Lagipula Sean bukanlah seorang murid akademi dan aku juga disini bukanlah sebuah tugas." Ujarku, Cecilia memasang wajah kecewa.


"Kalau begitu aku tidak bisa memaksamu, semoga kamu akan baik-baik saja."


Setelahnya aku mengucapkan selamat tinggal dan pergi bersama Sean menggunakan teleportasi, namun aku melihat putra mahkota menatapku dengan sorot mata yang agak aneh?


"Haruskah kita pergi menemui Genikos White?" Sean melirikku dan mengangat sebelah alisnya, aku berpikir sejenak dan mengangguk setuju.


Genikos White adalah orang yang kami temui di gua medusa waktu itu, ternyata dia salah satu Jenderal suci negara lain, sejenis dengan Paladin namun juga bukan.


Dia selalu menemui kami untuk menanyakan tentang keberadaan Cerbe, namun karena anjing kecil itu belum juga terbangun, aku tidak bisa menyerahkannya.


Sebenarnya ini agak aneh, namun aura pria itu terasa mirip dengan sesuatu yang dekat namun jauh denganku, aku tidak tahu perasaan apa itu, sangat nyaman namun membuatku takut.


Terkadang dia juga menatapku dengan lembut, seolah dia sedang menatap anaknya? Dan cara bicara anehnya juga tidak pernah berubah, benar-benar pria yang mengkhawatirkan!


"Aneh sekali, jika kamu berdekatan dengannya aku tidak pernah merasa cemburu, berbeda jika kamu berada di dekat pria lain."


Aku agak terkejut, sejujurnya meskipun pria ini terlihat tidak masalah jika aku berdekatan dengan Elios, Luther, Arthur atau Edward namun aku bisa merasakan dari ikatan kontrak kalau dia sebenarnya cemburu.


Hanya saja pria itu tidak ingin membitasiku untuk bergaul dengan orang lain!


"Kalian disini?" Pria tampan itu menatapku sambil tersenyum, lalu melirik Sean dengan sedikit aura permusuhan?


"Yah, kami hanya melarikan diri."


Dia menyuruh kami untuk masuk ke dalam markas? Namun ini terlihat agak megah, berbeda dengan yang terakhir kali kita kunjungi.


Barisan pria berjubah putih menyambut kami dengan hormat, agak aneh karena disini sama sekali tidak ada wanita! Jujur saja, dari semua orang yang pernah ku temui di dunia ini, yang benar-benar misterius hanya pria ini.


"Boleh aku bertanya?"


Dia menatapku, kemudian tersenyum ramah seperti biasanya dan mengangguk. "Apakah tidak ada wanita disini? Ku pikir semuanya hanya ada laki-laki saja."


Aku mengernyit, memang sih setiap aku ada disini, orang-orang itu hanya menundukkan kepala atau membungkuk menghormati.


"Kenapa?"


"Karena kami harus selalu suci."


Maksudnya apa? Apakah wanita itu kotor? Sebenernya aku agak kesal saat dia bilang seperti ini.


"Kami bukan menganggap wanita kotor, hanya saja kami benar-benar tidak bisa berkontak dengan wanita."


"Lalu kenapa kau bisa berkontak denganku? Bukankah kau akan menjadi kotor, aku juga seorang wanita!"


Dia hanya tersenyum, sepertinya tidak berniat menjawab, benar-benar penuh teka-teki, aku merasa kesal jika rasa penasaranku tidak terjawab, namun aku juga tidak bisa memaksanya untuk mengatakannya padaku.


"Mungkin karena kamu adalah-"


Suara ledakan yang tiba-tiba membuatku tidak bisa mendengarkan apa yang dia katakan di kalimat akhir, saat aku akan bertanya kembali, seorang pria datang dan berbisik.


Raut wajahnya menjadi sangat serius, dan dia menyuruh kami untuk menunggu di bagian dalam bangunan ini.


"Ada apa? Apakah ada sesuatu?"


"Aku akan menjelaskannya nanti, jadi tolong jaga diri kalian baik-baik. Aku akan pergi dulu sebentar, jika situasi tidak memungkinkan tolong pergilah!"


Pria yang berbisik pada Genikos white menyuruh kami untuk mengikutinya dengan pandangan mata ke bawah.


Sean menarikku untuk berlari mengikuti langkah pria itu, ledakan-ledakan mulai terdengar dimana-mana, retakan-retakan panjang mulai menjalar di setiap tembok.


Lantai yang terbuat dari marmer mulai terpecah belah, dan bangunan ini bergoyang seperti terjadi gempa bumi.


Aku melihat ke arah jendela-jendela yang terpasang, banyak Wyvern yang mengelilingi bangunan ini di sertai dengan orang-orang berjubah hitam.


Prang


Sial! Kaca-kaca yang terpasang di jendela itu pecah, aku menutup mataku berharap ini bukan terakhir kali aku hidup.


Namun tidak ada yang terjadi, saat aku membuka mataku pria yang kami ikuti menjadi sebuah balon dan menghalangi aku dan Sean dari pecahan kaca.


Sean menarikku, dan dia menggendongku berlari dengan sangat cepat, saat aku melihat ke arah pria yang tadi, dia sedang menatapku dan tersenyum kemudian tubuhnya meledak.


Darah bercucuran dimana-mana dan itu membuatku mual, aku tidak bisa berpikir apa-apa hanya menatap dengan kosong.


"Tutup matamu, dan kita akan pergi."


"Kita akan selamat, jadi jangan lihat atau dengar apapun, aku akan selalu melindungimu dengan nyawaku."


Bisikan lembut Sean seperti sebuah nyanyian lagu tidur untukku, tanpa sadar semuanya gelap dan aku benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi.


Halo maaf kemarin sempat tidak up karena lagi ujian, untung saja sudah selesai dan author bisa up lagi, terimakasih karena sudah menunggu cerita ini, jika ada kritik dan saran silahkan beritahu ya♥️