I Became A Villain In A Novel

I Became A Villain In A Novel
Tiga puluh dua



Suasa hening yang masih berlangsung itu membuat ruangan menjadi dingin, apalagi Elios yang sudah menganggap Liona sebagai adiknya sendiri, dia berpikir siapa yang menyakiti Liona.


"Apa ini ada hubungannya dengan tumbal?" Arthur memecahkan keheningan.


"Sepertinya bukan, ini di panggil lewat mantra terlarang yang hampir punah." Luther menjelaskan dan bangkit dari posisi jongkok.


Sebenarnya Luther menduga seseorang, namun dia tidak membicarakannya karena mungkin akan membuat keributan, apalagi tidak ada pembuktian.


"Apakah itu wanita jelek yang terus menerus mencari perhatian, bau nya seperti mayat." Setelah mengucapkan itu Arthur menutup mulutnya rapat-rapat.


Liona melirik ke arah Arthur untuk diam, memang bangsa atau keturunan elf terlalu peka terhadap sesuatu, makanya Arthur bisa mencium bau yang bahkan seorang Luther masih tidak bisa mengidentifikasi.


"Maksudmu apa?" Elios menatap Arthur yang saat ini sudah kembali tenang seperti semula.


"Aku hanya asal bicara saja, yang punya permusuhan terhadap Liona hanya wanita jelek itu." Arthur menjelaskan setelah melihat raut wajah Luther yang memandangnya dengan curiga.


Setelah beberapa saat pasukan Tiger di panggil oleh Elios dan membawa Liona untuk memilih kamar baru, kamar yang di tempatinya sudah tidak steril dan mereka takut kejadian serupa terulang kembali.


Sementara Cecilia, dia sedang berjuang menahan rasa sakit akibat serangan balasan dan efek samping.


Jika ada yang melihatnya, mereka akan ketakutan dan memanggilnya monster. Urat-urat yang mencuat dan bergerak sendiri sangat mengerikan, itu menjalar ke seluruh tubuhnya tanpa henti.


Cecilia meringkuk di sudut kamar, dia sangat menyesal mengirim bayangan hitam untuk mengganggu dan mengawasi Liona, namun di satu sisi dia tambah benci Liona, sepertinya jalang itu punya perlindungan, pikirnya.


Seseorang melesat ke arah Cecilia yang saat ini sedang merintih, orang itu berjubah hitam dengan tudung yang menutupi seluruh wajahnya.


"Dasar tidak berguna!" Suara berat mengintrupsi Cecilia, mengangkat kepalanya dan bertemu dengan mata yang tidak mempunyai sklera.


*Fyi, sklera tuh putih mata.


"Tu-tuan, saya ce-ceroboh maafkan saya." Cecilia bergetar ketakutan melihat pria yang berada di depannya.


Pria berjubah itu hanya mendengus dan membaca mantra, tubuh Cecilia perlahan mulai terlihat lebih baik, walaupun masih muncul urat-urat, namun itu tidak terlalu menyeramkan.


"Jangan bermain-main, atau aku akan membunuhmu!" Pria itu mengancam sambil mengeluarkan tekanan mana yang berat.


Cecilia muntah darah kembali, darahnya berwarna hitam di penuhi dengan belatung, sangat menjijikan.


Pria berjubah melesat pergi dengan cepat, bahkan jejak auranya pun benar-benar menghilang, seolah pria itu tidak pernah datang.


"Terimakasih tuan." Cecilia bersujud meskipun pria berjubah sudah tidak ada lagi di depannya.


Sementara Liona, karena tidak ada kamar yang tersisa, dia di tempatkan di kamar Pemimpin pasukan, para ksatria seolah salah paham tentang hubungan mereka.


Sean tidak keberatan, dan Liona tidak terlalu peduli, asal dia bisa tidur dengan nyaman tanpa gangguan lagi.


***


Matahari telah muncul di ufuk timur, membawa sinarnya yang menyinari tanah ini. Semalam Liona tidur sangat nyenyak.


Dia membuka matanya dan melihat pria tampan disisinya, Liona mengamati wajah tampan Sean dengan intens tanpa melewatkan satu hal pun.


Bibir tipis yang merah kehitaman, wajah yang bahkan tidak terlihat pori-pori dan bulu-bulu halus, hidung yang bagai perosotan, bulu mata yang lentik bergetar.


"Sudah puas memandangiku?" Sean membuka setengah matanya dan tersenyum menggoda.


Liona hanya mengangguk tanpa merasa malu sedikitpun, meskipun di kehidupan sebelumnya dia sering melihat pria tampan bahkan tanpa pakaian atasan dan menampilan abs, dia tetap tidak terlalu tertarik.


"Setelah sampai di kekaisaran aku akan mengajakmu ke laut vathytera, waktu kau disini masih cukup lama." Ujar Sean.


"Apakah ada laut juga disini?"


"Tentu saja, namun sangat aneh karena bagian tengah laut membeku, bahkan badan peneliti kekaisaran tidak tahu alasannya." Sean menjelaskan.


Liona berpikir bahwa itu akan seru, jika ada di kehidupan dulu Liona akan bermain ski sambil menari di atas es.


"Kau senang?" Tanya Sean yang melihat binar antusias di mata Liona.


"Tentu saja, sudah lama aku tidak pergi ke laut." Ujar Liona tanpa sadar, Sean hanya tersenyum dan menatap Liona dengan lembut.


Disisi lain, Elios terus menerus muntah tanpa mengeluarkan isinya, wajahnya pucat dan tubuhnya lemah.


Jika firasatnya semakin kuat, maka reaksi yang terjadi pada tubuhnya semakin parah, meskipun kemampuannya sangat luar biasa, namun kelemahannya sangat fatal.


Setelah pergi dari kamar Liona, Elios sudah mulai merasakan lonjakan aneh di dadanya, namun dia tidak memberi tahu teman-temannya karena itu akan membuat mereka khawatir.


Namun tetap saja Elios masih mengkhawatirkan dan merepotkan mereka. Luther menyuruh Arthur untuk memberi tahu Liona.


Arthur berlari menuju arah kamar Sean, di perjalanan tanpa sengaja dia bertabrakan dengan Cecilia yang saat ini sudah tampak normal, meskipun wajahnya masih memerah.


"Sialan, jika kau punya mata gunakan jangan jadi pajangan!" Cecilia mengumpat dan melihat ke arah Arthur.


"Minggir kau menghalangi pandanganku, mataku telah ternodai kotoran seperti dirimu di pagi hari, sungguh sial aku bertemu denganmu." Arthur mulai mengeluarkan kata-kata pedasnya.


"Kau ini pria atau wanita? Apakah kau tidak malu berucap seperti itu kepada seorang wanita? Pria menggunakan otot bukan mulut." Cecilia masih berujar dengan nada lembut dan suara yang sopan sambil tersenyum.


"Untuk apa punya mulut jika tidak digunakan dasar bodoh! Jika punya otak, gunakan untuk berpikir bukan untuk jadi hiasan jelek yang tidak berarti, minggir! Dasar wanita munafik."


Arthur beranjak dari sana dengan pandangan jijik dan mendorong Cecilia dengan jari telunjuknya seolah Cecilia adalah kuman.


"Sialan! Awas saja kesombongan kalian tidak akan bertahan lama, aku akan menghancurkannya satu persatu." Gumam Cecilia dan pergi dari sana.


"Liona."


Tok tok.


"Liona."


Sean membuka pintu kamarnya dengan kesal, melihat Arthur yang sedang panik, meskipun Sean kesal melihat Liona yang banyak berteman dengan pria, namun Sean tidak bisa melarangnya bukan? Apalagi mereka sangat tulus.


"Ada apa?" Tanya Sean dengan raut wajah datar.


"Mana Liona?"


"Dia sedang berada di toilet, untuk apa kau kesini pagi-pagi dan mengganggu orang?" Sean berkata dengan sinis, kesal karena mengganggu waktunya dengan Liona.


"Reaksi Elios berlebihan, jadi minta Liona untuk segera memeriksa Elios." Arthur berujar dengan kesal karena Sean banyak bertanya.


"Kenapa dengan Elios?" Liona muncul di dekat pintu toilet sambil mengeringkan rambutnya yang basah.


Arthur segera menjelaskan apa yang terjadi pada Elios, tentu saja Liona khawatir, itu membuat Sean mengernyit tidak suka namun tidak bisa berkomentar.


Ini ada yang nyaranin mending pake pov nya author, jujur aja sih kalau thor lebih enak pake pov tokoh soalnya kalo pake pov author kyk susah aja gtu ngerangkai katanya, tapi thor masih belajar juga sih, jadi maaf ya kalo kata perkatanya terlihat berantakan, thor juga masih belajar menulis. Jadi kalo kalian punya kritik atau saran, boleh ya tulis di kolom komentar, itu juga bisa buat thor lebih mengembangkan cerita thor menjadi lebih baik, makasih♥️