I Became A Villain In A Novel

I Became A Villain In A Novel
Dua puluh enam



Di luar dugaan ternyata hutan Black forest tidak begitu menyeramkan, memang ada beberapa monster yang kuat, namun itu hanya beberapa.


Mungkin karena mereka mengamati saat Sean membunuh kepala pemimpin serigala bermata merah, para monster itu ketakutan dan tidak menyerang kami, itu benar-benar menghemat banyak waktu, sampai di luar hutan black forest pun dalam keadaan masih sore.


Kami semua menggunakan Border gate untuk sampai ke daerah Utara, Border gate adalah perbatasan yang di lindungi dengan sihir.


Jika tidak mendapatkan izin menggunakan border gate maka kita semua tidak bisa masuk ke kekaisaran Ravnos, Ravnos adalah satu-satunya kekaisaran yang mempunyai border gate.


Border gate berfungsi untuk menghilangkan jejak, makanya kekaisaran Ravnos sangat tersembunyi dan misterius.


Kami masuk ke Border gate, rasanya aneh seperti berada di dalam Lift dengan kecepatan tinggi, tidak mual.


"Ini adalah Ravos?" Tanya seseorang.


Kami semua mengamati Ravnos, ternyata hanya hamparan salju yang luas, namun itu tidak terlalu dingin dan langitnya pun sangat cerah.


Di Mavros tidak ada musim salju, bisa di katakan ini adalah pengalaman bersalju pertama setelah aku datang ke dunia ini.


Aku berbalik ke belakang, dan itu ternyata hutan Black forest, kita bisa melihat hutan yang luas dari dalam Border gate, sedangkan jika ada yang berada di hutan sama sekali tidak bisa melihat kami.


"Ayo pergi." Ujar sean, kami berjalan perlahan karena kuda tidak bisa berjalan cepat di atas hamparan salju.


Katanya ini berada di luar pelindung kekaisaran, monster pun banyak disini, wilayah yang di isolasi cukup jauh dari tempat kami berada.


Kami tidak akan langsung menemui kaisar, langsung pergi ke wilayah isolasi karena memang keadaan disana sudah cukup parah.


"Monster yang ada disini berbeda dengan monster yang berada di luar wilayah ravnos, di Ravnos hanya ada monster yang bertahan pada musim dingin saja." Jelas pria tua bijak.


Aku sebenarnya cukup penasaran dengan wajah asli pria itu, dalam novel di sebutkan bahwa dia sangat tampan!


"Apa itu yang mendekat kemari?" Tanya seorang dokter yang menatap jauh ke depan, kami semua memfokuskan mata untuk melihat sesuatu berwarna putih yang mendekat ke arah kami.


Tidak bisa di pastikan apa itu karena warnanya sama dengan hamparan salju, namun jika dilihat lebih jelas tubuhnya sangat besar sedang berlari seperti gorila.


"Sial, itu yeti!" Teriak Sean.


*Fyi, yeti itu sejenis primata besar yang menyerupai manusia yang menghuni wilayah pegunungan Himalaya di Nepal dan Tibet.


"Kenapa yeti ada disini? Bukankah itu hanya makhluk mitologi saja?" Tanya Elios menatap kaget.


"Kita bahkan pernah bertemu dengan Medusa Elios, apakah kau fikir Medusa bukan makhluk mitologi?" Ujarku dengan pelan.


"..."


Bukan hanya satu yeti, tapi ada tiga yang menuju ke arah kami. Penampilannya seperti gorila, dengan raut muka yang menyeramkan.


"Sial, berbalik dan lari!" Perintah Sean, meskipun kita akan melawan namun kekuatan Yeti sebagai makhluk mitologi sangat besar peluang menangnya satu banding satu.


"Kyaaaa." Cecilia menubruk kudaku, aku kehilangan keseimbangan dan terpental dari atas kuda yang terkejut.


Sungguh tidak bisa di percaya kalau aku bisa mengeluarkan jeritan yang lembut seperti itu, memalukan sekali.


Dasar bodoh Liona! Pikirkan saat ini kau sedang dalam bahaya, yeti sudah mendekat! Bukannya memikirkan jeritan geli yang membuat malu.


"Liona!" Sean turun dari kudanya dan membawaku terbang menuju kudanya, meskipun posisinya agak ambigu namun tidak ada waktu lagi.


Kami berlari ke arah hutan Black forest, melewati border gate. Sangat menegangkan!


Semua orang menghela nafas lega, dan melihat ke satu sisi yang sedang bergetar ketakutan.


Aku yakin bahwa dia sengaja melakukan itu, sebenarnya ada kebencian apa dirinya padaku, dia terlihat seperti lily putih yang tampak lemah namun menyembunyikan durinya begitu dalam.


"Tidak apa-apa Cecilia, Pasti nona Liona juga memaafkan mu karena itu ketidaksengajaan jadi jangan ketakutan begitu." Ujar salah seorang murid akademi, yang lain pun ikut menghibur Cecilia.


Aku menatap mereka dengan datar, aku disini yang hampir mati tapi kenapa kalian menghibur penyebab yang bisa membuatku mati?


"Kata siapa aku memaafkannya?" Aku berkata dengan dingin, terlihat semua orang memandangku terkejut.


"Dia tidak sengaja nona, kenapa kau mempermasalahkannya?" Tanya pria dengan bintik-bintik di wajahnya.


"Iya ketidaksengajaan itu hampir membuatku mati, jika Yeti mendekat kalian pasti akan meninggalkanku disana, jika tidak ada Komandan pasukan Tiger aku akan tertinggal dan mati disana, itu karena ketidaksengajaan dari dia." Ujarku emosi.


"Tapi kau kan selamat dan disini bersama kami." Ujar seorang wanita berambut maroon dengan sinis.


"Jika kau yang berada di posisi Liona bagaimana? Meskipun Liona selamat namun tidak bisa di pungkiri kalau dia bersalah! Dia yang menyebabkan Liona hampir mati, dasar bodoh!" Luther berkata dengan sinis pada wanita berambut Maroon.


"Dasar manusia yang tidak bisa membedakan mana yang benar dan salah." Arthur juga berkata dengan sinis.


"Mereka hanya bisa beropini tanpa memikirkan orang yang mengalaminya sendiri." Elios menatap semua orang yang menjelekanku dengan jijik.


"Kau.."


"Hentikan!" Ujar Cecilia, dia berdiri dengan raut muka bersalah menghampiriku.


"Liona, aku benar-benar tidak sengaja sungguh, aku benar-benar minta maaf padamu, jika kamu mau aku akan berjalan tanpa kuda."


"Kalau begitu lakukan!"


"Apa?"


"Kau bilang akan pergi tanpa memakai kuda kan? Jadi lakukan itu!" Ujarku dengan datar.


Semua orang memandangku, aku tidak peduli! Cecilia benar-benar menyebalkan, ku lihat raut mukanya berubah pucat pasi, mungkin dia tidak menyangka kalau aku akan berkata begitu.


Segera terdengar opini orang-orang yang menyebutku wanita kejam yang bahkan dengan gampangnya menyuruh temannya untuk berjalan tanpa kuda di tengah banyaknya monster mitologi.


"Cukup! jangan berdebat lagi, kau salah karena terburu-buru dan menyebabkan kecelakaan pada orang lain, padahal jarak kudamu dan kuda Liona yang ku lihat sangat luas, lain kali berhati-hati jangan ceroboh." Sean berkata dengan dingin, Cecila hanya mengangguk dan kembali ke kudanya.


"Kita tidak bisa diam disini saja tanpa ada solusi, keadaan disana sudah cukup parah, kita harus memikirkan strategi agar bisa terhindar dari Yeti tanpa bertarung." Ujar Sean setelah suasana menjadi tenang.


"Berapa kemungkinan kita bisa menang melawan 3 yeti sekaligus?" Tanya Elios.


"Jika di hitung dari peluang itu kemungkinan besar satu banding satu, meskipun Yeti kuat namun bisa saja menjadi lemah itu disebabkan kurangnya energi di alam, karena energi sekarang sudah tercampur oleh polusi dan tidak semurni peradaban para dewa." Jelas pria yang matanya terluka.


"Kalau begitu bagaimana kalau orang yang tidak bisa bertarung pergi duluan, dan kita mengalihkan perhatian Yeti? Hanya saja rencana ini ada celah yaitu bagaimana jika muncul monster lain, sedangkan yang bisa bertarung sedang melawan Yeti?" Kata Elios.


"Atau seluruh pasukan akan di bagi menjadi dua, orang-orang yang kemampuan bertarungnya kuat akan melawan Yeti, sedangkan yang tingkat kemampuan bertarungnya menengah pergi dengan para orang-orang yang tidak bisa bertarung.


Pasukan Tiger disini ada 30 orang, jumlah dokter, healer dan juga Alchemist ada 20 orang, dan yang bisa bertarung 8 orang.


Maka 25 orang terkuat di pasukan Tiger akan melawan yeti, sedangkan 5 sisanya akan melindungi yang tidak bisa bertarung.


25 orang sisa kalian pergilah terlebih dahulu dan tunggu kami tepat di perbatasan pemukiman warga, disana sudah di pasang sihir perlindungan tingkat tinggi." Jelas Sean.


"Tapi kau bilang kita harus menghindari pertarungan." Ucapku tidak setuju.


"Tidak ada cara lain lagi, sebisa mungkin kami hanya akan mengalihkan perhatian dan tidak bertarung, namun jika keadaan memaksa terpaksa kita harus membunuh yeti."