
"Tuan Sean mengapa kamu begitu tampan?" Cecilia bergelayut manja di tangan Sean yang kekar.
"Karena aku tercipta untukmu, Celia jujur saja kau adalah wanita tercantik yang pernah aku temui." Sean memeluk Cecilia dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Cecilia.
"Geli."
Kedua orang itu terus terkikik dan saling memanjakan, tatapan Sean yang lembut terus menatap Cecilia seperti dia adalah bunga paling langka di dunia.
"Celia, aku mencintaimu." Sean mencium bibir Cecilia dengan lembut, Cecilia mengalungkan tangannya pada leher Sean.
Liona yang melihat itu entah kenapa masam di hatinya, padahal dia tidak pernah menganggap Sean sebagai laki-laki.
"Tinggalkan bajingan itu Liona, dia tidak pantas untukmu! Bibirnya sudah ternodai virus kesesatan, kau layak menemukan yang lebih baik darinya." Elios merangkul Liona dan mengajaknya pergi untuk tidak melihat pemandangan yang menyakitkan itu.
"Dasar, laki-laki semuanya sama saja! Aku benar-benar membencinya." Liona terus-menerus memukul dinding sampai tangannya berdarah.
Banyak yang melihatnya namun tidak ada yang bersimpati, rumor tentang pemimpin pasukan Tiger melamar sage menara suci ramai sekali.
Putra mahkota bahkan mengajak duel pada pemimpin pasukan Tiger gara-gara Cecilia.
"Dasar pria brengsek." Liona terus memukul dinding, padahal tidak punya rasa, namun kenapa sesak?
"Hentikan!" Luther menarik tangan Liona dan memeluknya, menenangkannya.
"Sudahlah Liona, bajingan sepertinya tidak cocok untukmu, aku akan mencarikanmu pasangan yang lebih baik darinya."
Pasangan fenomenal Sean dan Cecilia menjadi topik terpanas di Mavros, setiap hari Sean akan mencari Cecilia dan berkencan, bahkan Sean mengacuhkan Liona dan bersikap dingin padanya.
"Sean, Sadar! Kau itu terpengaruh wanita jahat itu!" Liona menarik tangan Sean dengan keras, namun Sean menepisnya hingga Liona jatuh tersungkur.
"Jangan menyentuhku, kau membuatku jijik." Dengan tatapan yang menusuk, Sean berkata tanpa berpikir, itu sangat melukai Liona.
"Kau tahu Lady Asteria, aku sangat muak denganmu, aku membencimu! Entah kenapa aku benci sampai ke tulang-tulang. Jangan menggangguku dengan Cecilia, karena bahkan kau tidak layak mengelap ingusnya."
Sean meninggalkan Liona yang terkejut, Liona memandang Sean dengan penuh kebencian, Liona tahu Sean terpengaruh ilusi namun tetap saja dia tidak nyaman.
"Terserah! Kau tahu Sean kau adalah bajingan." Teriak Liona sambil menendang batu.
"Na."
"Ona."
"Liona."
(April mop:( thor geli ih ngetiknya)
Liona membuka matanya tampak wajah Sean menatapnya dengan khawatir, pipinya basah entah mengapa.
Sean sangat khawatir karena dari tadi Liona terus bergumam benci dan mengerang, benar-benar khawatir!
"Mengapa kau ada disini?" Tanya Liona yang sudah tersadar dan menatap Sean dengan tidak suka, mungkin karena mimpinya.
"Aku lelah, dan aku merindukanmu." Sean menundukkan kepalanya pada bahu Liona sambil menghela nafas lelah.
Liona tidak banyak bereaksi, dia menceritakan mimpinya pada Sean, tentang Sean yang di bayangi ilusi mencintai Cecilia.
"Tidak mungkin aku jatuh cinta padanya, dari awal sampai akhir aku milikmu dan kamu adalah milikku." Dengan tegas Sean mengklaim.
Liona merasakan getaran dalam hatinya, wajahnya memerah, Sean menatap Liona dengan bersungguh-sungguh, seolah ucapannya adalah sumpah yang bersifat mutlak.
"Ya-ya terserah, awas aku mau bersiap-siap." Liona mendorong Sean dengan awkward, Sean hanya tersenyum geli dan membiarkan Liona pergi.
Sementara Elios, Luther dan Arthur tengah berada di restoran terkenal ibukota, mereka seperti boy grup tampan.
"Aku mendengar kerajaan kecil di daerah kekuasaan Pulchra sangat aneh." Ujar Elios yang sedang memakan Cake stroberry.
"Ada apa memangnya?"
"Katanya banyak sekali orang waras yang kehilangan akal sehat setelah di gigit, jika Liona ada disini mungkin dia akan menyebutnya apa itu?"
"Zo, zo-zom..."
"Yah itu, katanya mereka seperti kerasukan, mereka akan mengigit orang-orang waras, sangat menyeramkan." Elios bergidik ngeri.
Kasus kerasukan sebenarnya sangat jarang, karena setiap orang pasti mempunyai sihir meskipun sangat lemah.
Jika ada yang kerasukan berarti, roh jahat itu sangat kuat. Makhluk kegelapan ada roh, syaitan dan iblis.
Roh adalah makhluk yang netral, berbeda dengan syaitan dan iblis mereka adalah musuh, padahal sama-sama makhluk kegelapan dan dari neraka, namun mereka sangat bermusuhan.
"Bukankah tuan Sean juga menyebutkan ini, tentang orang-orang yang kerasukan di daerah pegunungan Xeros, tempat para dwarf." Tanya Luther.
"Apakah itu kasus yang sama?"
"Entahlah."
Mereka tidak membahas itu lagi dan menikmati makanannya, mereka bukannya tidak tertarik hanya tidak peduli saja, soalnya itu bukan sesuatu yang bersangkutan dengan mereka atau Liona.
Di sisi lain, Cecilia di hadapkan dengan pria itu lagi, dia menyuruh Cecilia untuk memikat Syaitan agar berada di pihaknya dan bisa di jadikan uji coba.
Tentu saja jika saat pergi ke kota empty bisa menemukan hal itu, jika kasus orang-orang kerasukan tidak di temukan saat ke kota empty maka lupakan saja!
"Saya akan melakukan yang terbaik tuan." Cecilia bersujud berkali-kali di bawah kaki pria itu.
"Baiklah, jangan mengecewakan ku, aku percaya padamu. Sekarang kemarilah." Cecilia bangkit dan melakukan hal-hal tak bermoral dengan pria tampan alias monster tua.
Pria itu terus menyuruh Cecilia untuk melakukan ini dan itu, Cecilia tidak bisa menolak, karena sesuatu yang ada di dalam tubuhnya.
Mungkin semua orang akan kaget, namun Cecilia adalah percobaan pria itu yang berhasil tanpa efek samping.
Sebenarnya kehidupan Cecilia sangat menyedihkan, kesombongannya merupakan bentuk pertahanan, namun dia tidak tahu diri dan tidak tahu malu.
"Jangan menyentuh anak iblis itu, aku yang akan membawanya langsung." Kata pria itu dengan kilatan mata yang dingin.
"Baik tuan."
***
"Hey apakah Liona tidak rindu padaku?" Sean memeluk Liona yang sedang bersiap-siap dari belakang.
"Tidak! Dan lepaskan aku, kau menggangguku."
Sean tidak mendengarkan Liona dan terus memeluknya dari belakang.
"Apakah bawahanmu semua baik-baik saja?" Liona memecahkan keheningan ini, dia sangat canggung karena Sean terus memeluknya.
"Yah, semuanya baik-baik saja, namun kenapa Liona tidak menanyakan kabarku? Aku tidak baik-baik saja kau tahu?"
Liona hanya berdehem saja, Sean menghela nafas lelah karena sudah terbiasa di hiraukan oleh Liona.
"Aku mengikuti festival dan lomba di kota empty, aku akan menyamar agar tidak di ketahui."
"Apakah kau masuk akademi di Ravnos? Bukankah yang bisa mengikuti hanya dari akademi saja?" Liona membalikkan punggungnya, dia mengira sean akan melepaskannya, namun Sean malah memeluk Liona semakin erat.
"Apa yang tidak bisa di lakukan oleh pangeran?" Ujarnya dengan sombong, Liona hanya memutar bola mata malas dan membalas pelukan Sean.
Liona dan Sean terus mengobrol dalam posisi yang sedikit ambigu, sebenarnya Liona ingin tahu tentang Khimera, namun setelah di pikirkan sebaiknya dia tidak bertanya.
"Sebenarnya mimpi apa itu?" Gumam Liona yang teringat mimpinya tadi.
"Itu ilusi dari wanita itu, karena aku kontrak denganmu, aku tidak terpengaruh, sihir kegelapan aku dan Liona lebih besar darinya." Jelas Sean.
Sean mengumpat dalam hatinya, mengutuk Cecilia seribu kali karena berani memberinya ilusi, jika dia tidak kuat maka Sean hanya akan menjadi budak bodoh.
"Mengapa Cecilia melakukan itu? Padahal dia mempunyai sihir cahaya yang besar." Tanya Liona mengerutkan kening.
"Dia hanya pencuri saja dan mungkin dia mencintaiku, makanya memberikan ilusi padaku." Sean menggoda Liona.
"Oh." Liona mengerutkan bibir dan melepaskan pelukan Sean, Sean sangat menyebalkan!
Sebenarnya Sean ingin cepat membunuh Cecilia, namun itu hanya akan merugikannya, karena bisa saja orang itu langsung tahu dirinya.