I Became A Villain In A Novel

I Became A Villain In A Novel
Delapan puluh satu



Entah sejak kapan, aku dan Sean berpisah dengan yang lainnya. Ada badai pasir yang membuat kami berdua berteleportasi tanpa di ketahui.


"Apa yang harus kita lakukan?" Tanyaku menatap Sean, sedangkan pria itu membuat tanda di pasir dengan santai kemudian menatapku.


"Tenang saja, Jason sangat kuat dan ada bawahanku juga disana." Ujarnya, dia berjalan ke arahku dan membenarkan sorban serta maskerku.


Pria itu mengatakan kalau lokasinya saat ini sangat jauh dengan markas, badai pasir disini mempunyai daya magnet yang sangat tinggi, entah apa yang menyebabkannya namun itu bisa membuat perpindahan jarak yang cukup jauh.


Tidak ada monster disini, aku tidak tahu ini wilayah apa, yang ku tahu bahwa kita saat ini benar-benar jauh dari markas, kompas sihir juga tidak menunjukkan arah yang benar, itu terus berputar-putar tak tentu arah.


Kompas memang sudah di kembangkan disini, hanya saja jarang di gunakan karena masih bisa mendeteksi lokasi dengan jejak dan harganya pun sangat mahal!


"Ayo pergi!" Dia memegang tanganku, kuda kami terpisah saat badai, entah mereka masih hidup atau ada bersama Jason dan yang lainnya.


Sebenarnya yang ku takutkan adalah, Elios dan juga Arthur yang bisa saja terpisah dari orang-orang yang sudah berpengalaman di gurun.


Srett


Suara angin berdesir di sertai pasir dan orang-orang yang memakai pakaian tertutup dengan jubah mengelilingi kami.


Sean menjadi begitu waspada, dia melindungiku di belakang! Namun bukan itu yang ku inginkan, aku ingin berdiri berdampingan bersamanya.


"Jangan melindungiku."


"Tapi-"


"Aku ingin bersama denganmu, di sisimu untuk melawan bahaya, bukan untuk di lindungi." Sean terdiam kemudian kami saling membelakangi.


"Apakah ini pemimpin pasukan Tiger? Kebetulan sekali kita bertemu disini, apalagi kau sendiri! Ah tidak, dengan gadis yang kurasa sangat cantik."


Aku menajamkan pandanganku pada pria yang berbicara tadi, dia membuka penutup maskernya, bisa ku lihat wajahnya sangat tampan matanya menatapku dengan genit.


"Hm, kau tidak membawa bawahanmu ya? Benar-benar berkah, apalagi gadis itu mungkin bisa ku jadikan milikku." Dia tertawa, bahkan tawanya membuat bulu kudukku berdiri.


Di Gurun yang sepi ini hanya terdengar suara dan gemanya, Aku mengeratkan pegangan tanganku pada pedang yang tersampir di pinggang kiriku.


"Wah, wanita kuat ternyata, ini akan menjadi menarik." Aku ingin mengumpat dengan kasar, mengapa pria yang bahkan tidak ku kenal ini banyak sekali bicara.


'Mereka banyak dan kuat, mereka sudah terlatih di padang pasir jadi jika aku menyuruhmu untuk menggunakan sihir teleportasi maka cepat gunakan!' aku mendengar suara Sean dalam benakku.


'Lalu bagaimana denganmu?'


'Aku akan menahannya sendiri, ingat jika ada bahaya langsung gunakan sihirmu. Manamu itu tidak akan pernah habis!'


'Aku tidak mau!'


'Liona-'


'Jangan memaksaku.'


Aku mendengar Sean menghela nafas dari belakangku, mana mungkin aku bisa pergi sendiri meninggalkanya disini melawan bahaya?


"Kau hanya pengecut yang hanya bisa bertarung bersama-sama dengan orang lain." Ujar Sean, pria itu hanya terkekeh pelan tidak merasa tersinggung.


"Kau mencoba memprovokasiku? Namun aku tidak peduli, mau aku pengecut atau bukan yang penting kau mati." Dasar pria gila!


"Cepat serang, tunggu apalagi!"


Orang-orang yang mengelilingi kami mengangkat pedangnya, aku juga mengangkat pedangku untuk melawan mereka.


"Jangan sampai gadis itu lecet!" Perintah pria itu sambil bermain-main dengan Sean, aku tahu Sean sangat terpojok saat ini.


"Jika sedang bertarung jangan melihat ke arah lain Lady." Aku menggertakkan gigi dan mulai mengayunkan pedangku secara acak.


Meskipun begitu, tebasan pedangku sangat kuat, aku melawan tujuh pria dengan otot tubuh kekar dan berbadan besar.


Baru beberapa menit saja aku sudah kewalahan tidak mungkin aku bisa mengalahkan mereka semua sendirian seperti ini, aku melihat ke arah Sean yang sedang berjuang mati-matian.


"Sialan." Umpatku tanpa sadar, meskipun pria itu telah menyuruh orang-orang yang melawanku untuk tidak membuatku lecet, namun tetap saja mereka menggoreskan pedangnya pada bagian tubuhku.


Mereka tidak terlihat kesulitan saat melawanku, seperti sedang menguji anak kucing yang mencakar, dan itu benar-benar menyebalkan! Aku sangat tidak menyukai jika di remehkan.


"Menyerah saja dan ikut dengan tuan kita, kau akan mendapat kemuliaan lebih dari pada bersama dengan bajingan Tiger itu."


Aku menatap mereka dengan tajam, sialan memangnya aku barang yang bisa di over kesana kemari, aku sudah membuat tekad untuk membunuh mereka, meskipun satu orang itu tidak masalah!


"Wah, kau membuat kami takut Lady, tatapanmu seolah mengatakan kau akan membunuh kami semua." Lalu mereka tertawa terbahak-bahak.


Uhukk


Aku melihat ke arah Sean yang sedang berlutut muntah darah, aku mencoba untuk tidak panik namun tanganku sudah kapalan gara-gara mengayunkan pedang begitu lama.


"Wah dia akan mati."


Dasar orang gila! Namun saat ini mereka lengah karena memperhatikan Sean yang terus menerus batuk darah, ini adalah kesempatanku untuk melempar bom asap.


Diam-diam aku meletakkan pedangku pada sarungnya dan membawa bom asap dari tas kecilku, aku melemparkannya pada pria yang melawanku dan yang melawan Sean.


Karena kemampuan mataku yang bisa melihat apa saja, aku dengan cepat pergi ke arah Sean, aku mendengar beberapa umpatan dan suara batuk dari orang-orang itu.


Dengan menggunakan sihir teleportasi, aku membawa Sean entah kemana, namun yang pasti aku berharap untuk tidak bertemu bahaya saat perpindahan.


***


Sedangkan disisi lain...


"Dimana Liona dan bajingan itu?" Arthur entah sejak kapan sudah mengamuk karena kehilangan Liona.


Badai pasir tadi membuatnya berpisah dengan teman perempuannya itu, Elios juga cukup panik, meskipun ada Sean bisa saja bukan mereka menemui bahaya yang lain?


"Gadis itu akan baik-baik saja, ada tuan kami disana." Ujar bawahan Sean dengan santai, dia percaya dengan kemampuan tuannya jika ada monster.


"Bagimana jika ada bahaya lain?"


"Tenang saja, gurun sangat luas dan musuh Tuan kami tidak mungkin bertemu disini, lagipula Tuan bisa menemukan kami dengan mudah."


Saat Arthur akan mengamuk lagi, Elios menahannya untuk bersikap tenang dan percaya kalau Liona akan baik-baik saja.


"Baiklah aku akan percaya kali ini." Ujar Arthur tajam, jika Liona dan Edward ada disini mungkin mereka berdua akan meledek Arthur si pria konyol itu karena bersikap serius.


Sementara Liona, gadis itu telah berhasil membawa Sean teleportasi, entah dewa yang membantunya atau keberuntungannya begitu bagus, Liona menemukan gua di depannya.


Tanpa ragu dia masuk dengan memapah Sean yang lemah, tubuhnya terluka parah, memang sih seberapa kuat pun Sean jika di serang bersama dengan beberapa orang kuat tidak mungkin bisa selamat.


Dia tidak mati saja sudah merupakan sebuah keberuntungan, untung saja Liona tidak terluka terlalu parah karena para penjahat itu hanya bermain-main dengannya.