
Saat ini Liona benar-benar mengalami guncangan jiwa, dia menjadi lebih pendiam mencoba menerima perkataan Dave satu persatu, antara dia percaya dan tidak.
Dave menjelaskan jika sebenarnya Liona adalah Aletta, ya tentu saja itu membuatnya sangat bahagia karena rasa bersalahnya benar-benar sia-sia.
Namun yang membuat Liona terkejut adalah, ternyata dirinya dan Sean adalah pasangan di masa lalu, karena sihir kegelapan 'Aletta' sangat besar sampai bisa menghancurkan dunia, 'Aletta' menyuruh Leon atau Sean membunuhnya.
Harusnya Liona tidak bisa bereinkarnasi karena jiwanya yang terpecah belah, namun dewa berkehendak lain, salah satu jiwanya lahir di zaman modern dan jiwanya yang lain lahir sebagai putri dari Duke Asteria.
Yang lebih mengejutkan ternyata 'Aletta' di masa lalu, adalah putri pertama pendiri Asteria, Yohannes Asteria. Dia adalah bawahan dari Asmodian, menikah dengan seorang sanitess dari kerajaan yang sudah hancur dan lahirlah 'Aletta'
Jiwanya di berkati oleh Asmodian, dan 'Aletta' memiliki esensi darahnya, hanya saja 'Aletta' harus mati mengenaskan karena kekuatannya itu.
Sebelum mati, 'Aletta' menitipkan dua kekuatannya yang lemah pada Ariel, si pria tua yang bisa membaca masa lalu orang lain yang di temui Liona saat berada di hutan kaktus.
Dan Dave adalah pendamping jiwanya yang berada di dunia modern atas perintah dewa, sebenarnya dulunya Dave adalah seorang uskup agung yang bekerja dengan ibunya 'Aletta' di masa lalu.
Makanya dewa mempercayakan tugas ini pada Dave, Liona yang berada dalam novel memang mempunyai akhir tragis, karena jiwanya tidak lengkap, itu juga berkat pandangan dari Ariel, si pria tua.
"Ah kenapa rumit sekali?" Liona mengacak-acak rambutnya, dalam satu malam begitu banyak informasi yang dia dapatkan, siapa yang tidak terkejut, ternyata dia bukannya masuk ke dalam novel secara tidak sengaja namun itu sudah takdirnya.
Lagi pula jika di pikirkan, yang membaca novel 'The Happiest Princess' itu bukan hanya dia saja, namun mengapa yang di pilih untuk menjadi Liona adalah dirinya? Tidak mungkin dewa begitu bosan dan menarik jiwa random untuk menempati tubuh Liona yang kosong.
"Kau kenapa? Tidak biasanya seperti orang linglung dan menjadi lebih pendiam?" Tanya Luther yang menemani Liona di pelajaran Alchemist.
"Tidak, hanya saja aku merasa ini sungguh fantasi dan di luar akal manusia biasa, mengapa ini sangat rumit?"
"..." Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, Luther membatin.
Liona benar-benar tidak bisa fokus, katanya dia tidak bisa ingat kehidupannya dulu karena jiwanya yang terluka, tapi kemungkinan Sean tahu tentang hal ini!
"Benar aku harus menghubunginya!" Gumam Liona. "Luther, lanjutkan saja! Aku akan meminta izin untuk tidak masuk di pelajaran ini, ada sesuatu yang penting harus kulakukan." Liona berlari meninggalkan Luther yang tampak tidak peduli sama sekali.
Masuk ke kamarnya dan membuat surat dengan kertas sihir, Liona menggunakan air lemon dan mulai menulis, lalu surat itu dibacai mantra dan menghilang dari hadapan Liona.
Mantra pengiriman surat yang sudah lama hilang, Sean mengajarinya waktu itu, benar-benar praktis dan berguna, meskipun menghabiskan banyak mana, namun bagi Liona itu adalah hal yang sangat kecil.
Menunggu beberapa saat, Sean datang dan langsung memeluk Liona, Sean benar-benar di buat mabuk dengan aroma Liona yang sangat menenangkan.
"Kenapa kau memanggilku? Rindu hm?" Tanya Sean dengan suara yang agak serak, dia benar-benar kelelahan.
Setelah mengirim uang dan berlian pada Liona, Sean langsung terburu-buru pergi menuju Padang pasir, monster disana jauh lebih kuat dan brutal!
Lagi pula Sean bisa dengan bebas menemui Liona, itu karena hubungan kontrak, jadi sejauh apapun mereka, tempat Sean untuk pulang adalah Liona.
"Aku sudah tahu semuanya, kau tidak perlu mengelak." Liona tiba-tiba mendorong Sean dan menatap matanya dengan serius.
Rasa bersalah menyeruak pada hati Sean, wajahnya tiba-tiba menjadi sendu, Sean menghela nafas dan menatap Liona.
"Maaf sudah menyembunyikan ini, bukannya aku tidak percaya padamu, namun aku tidak tahu waktu yang pas untuk menyampaikan ini, aku takut kau akan membenciku dan menjauhiku, dan aku benar-benar merasa bersalah karena telah membunuhmu, maafkan aku."
Suara Sean terdengar bergetar, sebenarnya Liona tidak berniat menyalahkannya, lagi pula semua ini bukan salah Sean, apalagi Sean adalah suaminya dulu.
"Aku bersedia mengorbankan nyawaku saat ini, untuk menebus dosa dan kesalahanku, aku rela melakukan kontrak denganmu, bagaimana pun kau adalah ratuku, tuanku." Sean menunduk dan memegang tangan Liona, menciumnya.
Liona juga bukan orang yang implusif, dia hanya ingin mendengar penjelasan dari Sean, Liona tidak menyalahkannya! Ini semua adalah takdir.
"Aku mengerti." Liona mengangkat dagu Sean, menatap matanya yang berkaca-kaca menahan tangis, dia sebenarnya ingin tahu kehidupan dulunya, namun Sean sepertinya tidak mau membahasnya.
Ada kilatan luka di matanya, Liona juga tidak mau memaksanya, biarkan waktu yang perlahan memberitahunya!
"Aku mencintaimu." Liona dengan canggung berkata, Sean tampak terkejut namun kemudian tersenyum tulus.
Mencium bibir merah Liona yang dingin, di siang hari dua insan yang saling jujur sedang berciuman dengan romantis, perasaan Liona yang biasanya sesak pun menjadi jauh lebih baik.
"Aku juga mencintaimu, aku akan mempersembahkan hidupku untukmu, kau yang pertama dan terakhir, aku bersumpah hanya akan mencintaimu sampai aku mati." Kata Sean menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Liona.
Sean berniat untuk menciumnya lagi, meskipun ungkapan cinta Liona terdengar canggung, dia sangat bahagia!
Wajah mereka semakin dekat, Liona sudah menutup matanya begitupun dengan Sean yang memegang leher Liona agar lebih dekat dengannya.
Brakk
"Liona!"
Liona langsung mendorong Sean hingga terjatuh kemudian terbatuk ringan karena malu, wajah Sean sudah gelap dan bersembunyi secara terpaksa di bawah tempat tidur.
"Ada apa?" Tanya Liona dengan canggung, yang membuka kamarnya secara paksa adalah Edward! Lagi pula mengapa pria jenius ini masuk ke dalam kamar perempuan untuk mengacau?
"Ku dengar kau tidak masuk pelajaran Alchemist, aku kira kau sakit, ternyata baik-baik saja." Edward memindai Liona dari atas sampai bawah.
"Kau bolos?" Edward berteriak terkejut, Liona kira Edward adalah orang pendiam dan tidak suka berbicara, namun siapa sangka ternyata kepribadiannya sama dengan Arthur.
Hanya saja Edward lebih heboh dan cerewet, perkataannya pun lebih pedas. Sean yang bersembunyi di bawah tempat tidur merasa asam di hatinya, banyak lalat yang mendekat saat Sean tidak ada.
Kalau boleh egois, Sean hanya akan mengurung Liona di kamarnya agar dia tidak berhubungan dengan pria lain dan membuatnya cemburu, namun dia tidak bisa melakukan itu bukan?
Pray for Nanggala 402ðŸ˜