
Satu jam kemudian, pemimpin para kako berhasil Sean bunuh dengan apinya, Dave sedikit mengernyit merasakan api apa itu, namun dia tidak banyak bicara.
Para kako yang lainnya dengan mudah di kalahkan setelah melihat pemimpinnya mati, Luther mengambil sesuatu yang tampak mencolok dari dalam tubuh para kako.
Itu berwarna hitam sekilas seperti batu bara, namun jika di perhatikan benda itu berkilau seperti permata.
"Ini apa?" Tanya Luther sambil menyerahkan batu itu pada Sean yang menghampirinya, Sean mengamati benda itu dengan lekat, namun dia tidak menemukan petunjuk selain benda itu berkilauan.
"Kau mendapatkannya darimana?" Elios mendekat. "Ah aku mendapatkannya dari dalam tubuh salah satu kako, ku pikir itu mungkin benda yang sangat penting." Luther dengan santai menjelaskan.
Karena tidak menemukan petunjuk apa-apa, benda itu di bawa dengan hati-hati untuk penelitian, Liona merasa jika benda hitam itu sangat berharga, ada aura yang familiar tampak menguar dari dalam benda itu.
"Ayo pergi, akan semakin bahaya jika tetap disini. Bau darah akan memancing monster yang lainnya keluar."
Tidak lagi membuang waktu, mereka bergegas pergi dari sana, meskipun lelah dan beberapa orang kehabisan mana, namun perjalanan tetap di lanjutkan, untung saja banyak para healer dan batu sihir selalu ada bersama mereka.
Malam yang tidak bisa berkata-kata...
Karena matahari sudah muncul di ufuk timur, mereka memutuskan untuk istirahat, karena semalam sudah sangat lelah jadi mereka memilih tanah luas untuk di pasangi tenda.
Tidak akan terlalu berbahaya karena matahari sudah terbit, paling-paling para monster hanya akan mengamatai mereka dalam kegelapan.
Para monster disini biasanya tidak menyerang pada saat matahari terbit, itu pengetahuan baru yang di jelaskan oleh Dave, tidak ada yang tahu mengapa itu terjadi.
"Ugh aku sangat lelah, bisakah aku tidur sebentar?" Liona menguap, Sean mengangguk dan mengantarnya masuk ke dalam tenda, Sean menepuk punggungnya agar Liona lebih cepat tidur, dia juga ikut berbaring di sisi Liona.
"Tidur saja, aku akan membangunkanmu bila terjadi sesuatu." Sean berkata dengan lembut, dia mencium kening Liona dan mengecup bibirnya.
Setelah memastikan Liona tertidur Sean bergabung dengan yang lainnya, mereka tampak serius sambil mengamati peta yang benar-benar lengkap tentang benua.
"Kalian tampak serius, apakah ada sesuatu yang terjadi?" Sean duduk di samping Arthur yang makan jagung bakar.
"Apakah kau tahu daerah yang di tandai dengan tanda silang ini? Ku pikir melewati jalan ini lebih dekat menuju Padang pasir daripada jalan yang biasanya kita lewati." Dave menunjukkan petanya pada Sean.
Sean mengamati tanda itu sambil menyipitkan mata, mencoba mengingat sesuatu. "Memang lebih dekat lewat sana, namun itu adalah hutan kematian, banyak bahaya disana, bahkan bawahanku yang selamat hanya ada satu orang saja."
Mereka terdiam, memang terlihat lebih dekat namun resikonya sangat tinggi, Sean menjelaskan jika di hutan kematian terdapat rawa-rawa yang di penuhi gas beracun, lumpur yang bisa menghisap vitalitas makhluk hidup sampai kering, dan lain sebagainya.
"Bisakah kita lewat sana saja? Itu tidak akan membuang-buang waktu." Seperti biasa, Jason mengusulkan dengan raut wajah dingin yang menyebalkan.
Meskipun berbahaya, mereka tampak memikirkan rencana untuk pergi dengan melewati tanda silang berwarna merah tersebut.
"Kita akan bersama disana, apakah kau tahu apa yang di alami bawahanmu saat terbebas dari sana?" Elios melirik Sean.
"Dia hanya menjelaskan tempat-tempat disana, tidak benar-benar menjelaskan situasi apapun, bawahan itu langsung menjadi gila setelah mengatakan tempat-tempat itu, para dokter, healer dan Alchemist menyimpulkan bahwa dia terkena racun yang berjalan dengan lambat."
"..."
Sean bangkit dan masuk ke dalam tenda yang di tiduri Liona, meskipun mendapat tatapan mematikan dari beberapa orang Sean sama sekali tidak peduli, toh Liona akan menjadi istrinya, jika Alex dan Xavier serta Duke melihat ini di pastikan Sean hanya tinggal nama saja.
Berbaring di samping Liona, Sean memeluknya dan membiarkan Liona menenggelamkan wajahnya pada dada bidangnya, Sean mencium kepalanya dan membisikkan kata-kata lembut.
"Aku mencintaimu."
Liona yang terbangun tersenyum merasa hangat di hatinya, dia memeluk Sean sangat erat, perasaannya tidak bisa di deskripsikan, hanya saja itu menyenangkan.
***
Mereka istirahat sehari untuk memulihkan tenaga, besoknya pagi-pagi sekali semua orang sudah berkumpul, tidak ada yang kesiangan karena mereka sudah benar-benar di latih.
Para pria menjelaskan akan melewati tanda silang merah agar perjalanan ke padang pasir lebih dekat, tidak ada yang membantah karena mereka percaya pada kemampuannya sendiri.
"Apakah disana benar-benar berbahaya." Liona melirik ke arah Sean yang sedang menyuapinya. "Iya, agar menghemat waktu. Aku akan melindungimu dengan nyawaku, jadi kau tak perlu khawatir."
"..." Bukan begitu Liona hanya bertanya saja, terkadang Sean memang selalu berlebihan, dia tidak begitu lemah sampai harus di lindungi dengan nyawa seseorang. "Baiklah." Ujar Liona.
Sesudah sarapan, mereka menaiki kuda, para wanita tidak di biarkan berada di belakang pasukan kecuali orang-orang yang sudah terlatih.
Bukan menganggap para wanita lemah, hanya realistis saja, tenaga pria lebih besar daripada wanita, tentu saja para pria mempunyai kewajiban dan tanggung jawab melindungi wanita.
"Ternyata jalan menuju tanda silang merah lebih sepi dari yang kita duga." Leandro melihat sekeliling, agak aneh sebenarnya namun hal itu patut di syukuri.
Sebelum pergi, mereka meminum potion anti racun dari para Alchemist, melindungi tubuh agar tidak terlalu sering bersentuhan dengan udara, memakai masker dan juga pakaian yang lebih tertutup. Memang agak panas, tapi itu memang harus di lakukan.
Suasana semakin mencekam dan dingin, benar-benar tidak ada monster disana, udaranya juga tidak begitu mengenakan.
Mereka semua semakin meningkatkan kewaspadaan, meskipun tidak ada aura makhluk hidup, namun mereka merasakan seperti di awasi sesuatu dalam kegelapan.
Itu membuat beberapa orang gugup, melihat sekeliling hanya ada hutan yang begitu gelap, padahal mungkin waktu masih siang, namun matahari benar-benar tidak tembus lewat celah dedaunan.
Mereka hanya mengandalkan alat sihir yang berbentuk senter untuk melihat kegelapan, para kuda juga terlihat lebih berhati-hati. Bahkan Liona yang mendapat penglihatan super jelas, hanya melihat kegelapan tak berujung.
Klotak klotak.
Sean menyuruh pasukan itu berhenti dengan mengangkat kepalan tangannya, ada suara yang menuju ke arah mereka. Pasukan itu terlihat lebih waspada, mereka siap menyerang kapan saja.
Seekor kuda putih dengan tanduk berwarna-warni datang menghampiri, perawakannya gagah, dan wajahnya sangat sombong.
"Unicorn." Liona tercekat, ternyata unicorn benar-benar ada dan itu sangat indah.
"Manusia yang pintar, namun aku menyarankan agar kalian tidak berjalan lewat sini. Itu sangat berbahaya!" Meskipun sombong Unicorn itu menyarankan dengan tulus.
Hi, maaf ya baru up lagi. Hueehuee thor sibuk banget (Sebenernya so sibuk)😭 Tapi besok thor akan lebih rajin lagi deh, selamat membaca♥️