
Aku tidak lagi memikirkan Cerberus, dia pasti akan baik-baik saja, sekarang fokusku hanya pada orang-orang yang sedang memeriksa medusa yang sedang terkapar tak berdaya.
"Medusa itu di tekan oleh energi gelap yang sangat pekat." Gumam pria yang berada di sebelahku, aku sedikit mengernyit dan melihat ke arah Sean, namun sepertinya Sean tidak mendengarkan gumaman pria itu!
"Anak muda, kami akan pergi melihat. Apakah kalian akan kesana?"
Aku terpenjat kaget saat pria tampan yang menyebut kami anak muda itu berbicara, lalu melirik Sean yang juga sedang menatapku.
Karena takut di curigai, kami mengangguk saja dan pergi melihat medusa yang terkapar, toh medusa itu tidak akan bangun dan melihat kami lalu menggeram murka kan?
Saat kami berjalan, orang-orang disana melihat ke arah kami penasaran, ada beberapa orang yang berbisik mengenai pria yang berada di sampingku dan anggotanya yang memakai jubah putih bersih.
Memang sih, penampilan mereka sangat mencolok, bukankah sudah ku katakan kalau mereka seperti berjalan di Desa dan bukannya sedang di padang pasir.
"Apakah ada yang bisa menyembuhkan Medusa ini? Kita bisa bertanya makhluk apa yang membuatnya hampir mati?" Tanya pria dengan luka sayatan di matanya.
Tidak ada yang menjawab, karena memang luka Medusa itu sangat fatal, jika memang ada keajaiban yang bisa menyembuhkannya mungkin itu hanya Dewa saja!
"Sepertinya harapan kita untuk mengetahui monster itu harus pupus, tidak ada harapan untuk menyelamatkan medusa ini."
Aku diam-diam menghela nafas lega, meskipun memang itu hal yang mustahil namun tetap saja aku merasa cemas dan was-was jika ada orang yang bisa menyembuhkan medusa itu!
"Aku bisa mencobanya."
Seorang pria yang mempunyai rambut dan mata hitam datang dari arah kerumunan, wajahnya biasa saja namun terlihat cukup manis.
Dia seperti orang yang datang dari dunia modern, jujur saja aku belum pernah bertemu dengan orang yang mempunyai mata hitam legam dan rambut hitam, benar-benar langka!
Pria itu mendekati Medusa dan merapalkan mantra-mantra yang bahkan tidak ku ketahui artinya, itu bukan mantra healer!
Cough cough
Medusa itu terbatuk dan melihat sekeliling dengan kebingungan, aku dan Sean agak terkejut, kami mencoba mundur agar medusa itu tidak melihat ke arah kami.
"Hei, apakah kau tahu makhluk yang menyebabkan mu menjadi seperti ini." Medusa itu tampak berpikir sejenak, kemudian membelalakan matanya marah.
Tanpa sadar jantungku berdebar agak kencang, aku bersiap-siap untuk pergi menggunakan teleportasi dengan Sean, untung saja semua perhatian tertuju pada Medusa itu, bahkan pria yang melawan Sean tempo lalu tidak memperhatikan kami.
"Dia... Dia." Medusa itu melihat ke arah kami, mata kami bertatapan saling terkejut.
"Dia i..." Sebelum mengucapkan kalimatnya, Medusa itu meninggal seketika, dan pria unik yang tadi menyembuhkan medusa mengeluarkan batuk darah.
Mereka menjadi begitu ribut, aku dan Sean mundur dari kerumunan dan berniat untuk segera pergi, namun sebelum menggunakan teleportasi pria yang memakai jubah putih itu membuat lingkaran sihir dan membawa kami beserta anggotanya pergi dari sana.
Yang ku rasakan hanya perasaan mual dan asing, aku mengalami goncangan sesaat dan muntah seketika.
Sean menepuk punggungku beberapa kali, aku terus-menerus mengeluarkan cairan putih karena memang aku belum makan apa-apa sejak kemarin.
Pria itu memberikan ku segelas air yang tidak ku ketahui apa, namun tidak juga aku terima, Sean juga sudah bersikap waspada padanya!
"Ini bukan racun, air ini akan meredakanmu dari rasa mual yang berlebihan." Untuk kali ini, aku mencoba percaya padanya!
Benar saja, rasa mualku hilang seolah aku tidak pernah merasa begitu, kami menatap pria itu yang sedang menatap kami dengan tatapan tajam.
Deg.
Jatungku berpacu dengan cepat, aku melirik Sean yang wajahnya datar seperti biasanya, terkadang aku ingin tahu apa yang sedang di pikirkan kepalanya itu.
"Kenapa kami harus memberitahumu?" Nada yang sangat dingin yang tidak pernah ku dengar dari Sean, ekspresinya juga sangat menakutkan seolah dia adalah orang lain.
"Yah aku hanya bertanya saja, kalian bisa percaya pada kami. Kami tidak akan pernah menyakiti kalian, atau pun membawa Cerberus."
Aku saling berpandangan dengan Sean, maksudku kenapa kami harus memberitahunya? Disini hanya ada aku dan Sean, jika pria itu berbahaya, kami akan mengalami kesulitan.
"Aku tahu anak muda, apa yang kalian khawatirkan! Kami akan bersumpah atas nama dewa Athanatos di bawah pedang untuk tidak membocorkan rahasia apapun atau menyakiti kalian."
"Kalau begitu bersumpahlah." Pria itu melirik Sean, dan tersenyum kemudian bersumpah di ikuti oleh anggotanya yang lain.
Sumpah seperti itu memiliki arti yang penting, itu artinya mereka menyerahkan nyawa mereka kepada kami jika mereka membocorkan rahasia atau menyakiti kami.
"Jadi apakah kalian bisa memberitahuku?"
Aku menghela nafas lega dan menjelaskan kalau Cerberus adalah peliharaanku, kami terluka dan menyembuhkan diri di gua, namun karena ada kehidupan lain kami penasaran dan berniat melihatnya, namun ternyata itu medusa dan Cerbe menggunakan kekuatan menekannya agar Medusa itu lumpuh!
Pria itu mengangguk mengerti lalu menatap kami kembali dengan lebih serius, "Bisakah aku meminta bantuan kalian dan Cerberus?"
"Tidak bisa, setelah Cerbe menggunakan kekuatannya, dia tidak lagi menyahut panggilanku. Kemungkinan dia tertidur untuk memulihkan staminanya."
Pria itu tampak berpikir kemudian berdiskusi dengan anggota lainnya dengan bahasa asing yang tidak kami ketahui.
"Baiklah kalau begitu, kami akan mengantarkan kalian ke markas pasukan Tiger, tapi berjanjilah untuk membantu kami setelah Cerberus itu bangun."
Aku melihat ke arah Sean, dan pria itu mengangguk. Lalu kami membuat kesepakatan dengan itu, dan mereka mengantarkan kami kembali ke markas.
"Terimakasih."
Pria itu tersenyum dan mengangguk, "Hubungi kami jika dia sudah bangun, kalau begitu sampai jumpa."
Setelah mereka pergi, aku menghela nafas lega, entah karena berhasil kembali ke markas atau berhasil pergi dari orang-orang mencolok yang memakai jubah putih.
Orang tua yang di tugaskan Sean menjaga mansion berlari ke arah kami dengan tergesa-gesa.
"Kenapa anda disini?"
"Ada sedikit masalah yang menyebabkan aku dan tunanganku berpisah dari yang lainnya, namun untunglah kami bisa kembali."
Ngomong-ngomong sepertinya orang-orang berjubah putih itu bukanlah orang biasa, terbukti dari caranya menteleportasi kami sejauh itu dan mereka mengenal kami sebagai pasukan Tiger.
"Syukurlah, namun mereka belum kembali sampai saat ini."
Sean mengangguk dan berkata akan mencari jejak sihir mereka besok, pria itu akan mengobati lukanya dulu yang telah terbuka kembali.
"Istirahatlah, pasti kamu sangat lelah." Ujarnya, namun aku memutuskan untuk membantu Sean mengobati lukanya dulu.