
Seorang pria dengan kulit sawo matang keluar dari bukit pasir, setelah melihat Sean pria itu menyuruh yang lainnya untuk menurunkan senjata, Sean pun melakukan hal yang sama.
"Ternyata komandan pasukan Tiger, ku kira ada yang masuk ke wilayahku." Pria itu berbicara pada Sean menggunakan bahasa gurun.
"Yah, maafkan aku. Seharusnya aku membunyikan lonceng, namun aku lupa sesaat."
Pria itu melihat ke arah kami yang diam membisu, tiba-tiba seorang anak perempuan seusiaku berlari ke arah Sean dengan binar bahagia.
"Kak Sean, kau kembali ke gurun?" Bisa ku lihat matanya menatap suka pada Sean, sedangkan pria itu hanya tersenyum seperti biasa, yah dia orang yang ramah.
"Dalilah, ini tunanganku Liona." Sean menarikku dan memeluk pinggangku, ku lihat wajah gadis yang bernama Dalilah itu sedikit meredup, namun cerah sesaat kemudian.
"Oh sangat cantik, apa dia kuat?" Dia memindai seluruh tubuhku, dan itu membuatku sangat tidak nyaman, dan apaan nada mencela pada ucapannya itu?
"Dia sangat kuat." Sean berkata dengan bangga, Dalilah tersenyum masam mendengarnya, aku mendelik ke arah Sean, dasar pria yang tidak peka!
Lagi pula aku tidak menyukai orang yang menyukai milikku, memang rasa suka tidak bisa di kendalikan, namun tetap saja aku merasa tidak suka!
Pria yang tadi berbicara menyuruh Sean untuk segera masuk ke wilayahnya, markas Sean ada di wilayah pria itu dan mereka bekerja sama.
Ternyata pria yang mengajak Sean berbicara lebih awal adalah seorang kepala suku, katanya dia sangat kuat dan bisa nengalahkan monster gurun sendirian!
Lalu gadis yang bernama Dalilah itu adalah anak perempuannya dan dia terus-menerus mengajak Sean berbicara, dia benar-benar menyebalkan.
Daripada mendengarkan suara menyebalkan Dalilah, aku melihat ke arah penduduk yang berlalu-lalang, mereka semua memakai baju yang sama!
Suasananya seperti peradaban mesir kuno, ternyata ada kehidupan seperti ini di dalam piramida, katanya Piramida ini di bangun untuk menghalau monster, meskipun telah memakai sihir pelindung tetap saja harus ada perlindungan ekstra.
Lalu tidak ada atap Piramida, ini aneh sekali namun sangat menakjubkan. Kita bisa melihat langit dengan pola segitiga yang sangat besar.
"Ini adalah markasku." Sebuah rumah bergaya Mesir kuno yang cukup sederhana terpampang disana, tempat itu seperti terpencil, jarang ada penduduk disini.
Ada beberapa orang yang menyambut kami, pemimpin suku dan putrinya tidak ikut masuk ke dalam markas Sean, katanya ada perjanjian antara Sean dan pemimpin suku untuk tidak masuk ke tempat pribadi masing-masing.
Orang-orang yang menyambut kami adalah petugas yang di tinggalkan Sean untuk mengurus markas di gurun, mereka mengarahkan kita untuk mendapatkan kamar masing-masing.
Meskipun terlihat sederhana dari luar, tempat ini sangat besar di dalam, mungkin menggunakan sihir agar tidak terlalu mencolok.
Udara di dalam markas pasukan Tiger tidak terlalu panas, ada pendingin ruangan yang terbuat dari batu khusus di setiap dinding.
Kami akan mencari pengalaman mulai besok, jadi di haruskan untuk beristirahat, gurun sagatlah berbahaya jika terjadi sesuatu saat pertarungan bisa-bisa nyawa melayang.
"Selamat tidur." Sean manarikku dan mencium keningku lembut, aku hanya mengangguk dan membiarkannya pergi ke kamar yang berada disebelahku.
***
Pagi hari yang panas, mereka telah siap dengan pakaian yang sangat tertutup, itu adalah baju kesatria yang terbuat dari batu hitam khusus, sangat berat namun kuat.
Para wanita memakai baju yang di sesuaikan dengan fisik dan ukuran tubuh, jadi memakainya tidak terlalu merasa kesulitan.
Udara gurun sangat panas, bisa menyebabkan heat stroke, makanya baju ini di buat dengan serat batu khusus yang dingin, meskipun permukaannya tampak kasar namun dalamnya lembut dan sejuk.
"Aku rela memakai baju ini setiap hari." Edward entah bagaimana tampak agak konyol, bajunya lebih besar dari ukuran tubuhnya namun terlihat pas.
"Ini sangat dingin, namun berat." Ujar Elios, pria yang sedikit dingin itu diam-diam menikmati bajunya sama seperti Edward.
Beberapa orang tampak melihat mereka dengan pandangan seperti 'kau terlihat sangat norak, dasar orang kampung!' namun tampaknya mereka tidak begitu peduli.
Para kesatria membagikan beberapa kuda yang tampak gagah, bulunya hitam dan juga sepertinya sudah terlatih untuk bertarung di gurun.
Ada berbagai bekas luka pada tubuh kuda, namun itu terlihat sangat keren, dan sepertinya kuda-kuda itu bisa mengerti bahasa manusia!
"Ini adalah hewan yang bercampur dengan monster yang tidak menyerang, mereka bisa mengerti bahasa manusia namun tidak bisa berbicara." Jelas seorang penjaga kuda yang tampak terampil.
Meskipun hanya seorang penjaga kuda, pria itu sebenarnya adalah seorang legenda gurun, dia bertarung dengan monster siang dan malam tanpa kelelahan, namun karena umurnya sudah tua dia hanya menginginkan menjadi petugas penjaga kuda biasa.
Liona memilih kuda dengan luka yang berada di matanya, gadis itu menyentuhnya dengan prihatin, "apa sakit?" Katanya dengan suara bergetar.
Liona menaiki kuda dengan terampil, meskipun agak kesulitan karena bajunya, semua orang yang tidak terbiasa tampak sama mengalami kesulitan!
"Kami akan pergi, tolong jaga markas dengan baik." Sean melihat ke arah penjaga kuda tadi, sedangkan pria itu mengangguk mengerti dan menyuruhnya untuk tidak merasa khawatir.
Bukan apa-apa, sebenarnya Sean tidak terlalu mempercayai pemimpin suku, sudah di ketahui banyak orang kalau orang-orang gurun itu sangat licik.
Sudah dari kecil mereka di ajarkan belajar strategi karena harus melawan monster, dan kemampuannya itu juga di gunakan untuk mengelabui manusia.
Pasukan itu pergi dengan gagah, Sean hanya membawa orang-orang yang dirasa kuat untuk membantu dari pasukannya, sedangkan marquess Leandro membawa semua kesatria dari pasukannya untuk melatih skill bertarung.
Para penduduk gurun yang sedang berlalu-lalang di pagi hari ini menepi kala melihat pasukan Sean yang seperti akan berperang melewati mereka.
Bagi para penduduk biasa, orang-orang yang melawan monster sama dengan pahlawan, akomodasi sandang, papan dan pangan sangat sulit di gurun.
Saat akan bertransaksi dengan beberapa kekaisaran juga, pebisnis gurun harus menyewa tentara bayaran gurun untuk melawan monster, betapa sulitnya disini.
"Kita akan membagi pasukan menjadi tiga, orang-orang yang sudah berpengalaman akan di tempatkan di masing-masing pasukan." Ujar Sean.
Dia merasa jika semuanya berjalan pada satu arah tidak akan kondusif, mengingat pasukannya yang sangat banyak.
Beberapa orang setuju untuk itu, lagipula jika terus mengandalkan komandan pasukan Tiger sepertinya mereka hanya akan menjadi beban.
Di pasukan Sean ada Liona, Brigitte atau ice sugar, Jason, Elios, Arthur dan beberapa orang lainnya dari pasukan Marquess Leandro.
Sedangkan Dave, bersama Edward, Luther dan beberapa orang dari pasukannya sendiri dan beberapa orang kuat dari pasukan Tiger.
Sedangkan Marquess Leandro bersama dengan pasukan Tiger dan beberapa orang dari pasukannya sendiri dan beberapa orang dari pasukannya Dave.
Mereka akan pergi ke arah timur, barat daya dan juga selatan. Karena menurut informasi, monster lebih banyak berkembang biak disana.