I Became A Villain In A Novel

I Became A Villain In A Novel
Lima puluh delapan



Suasana di ruangan itu begitu mencekam, meskipun Sean adalah pemimpin pasukan Tiger yang di kenal pasukan terkuat di benua, namun urusan melamar tentu saja dia sangat gugup.


Liona yang melihat itu hanya diam mengelus Cerbe yang masih tertidur, karena kecil Cerbe bisa di sembunyikan dalam jubah.


"Baik, tapi aku harap kau memutuskan pertunangan ini setelah kaisar tidak tertarik pada Liona." Duke memberikan tatapan tajamnya pada Sean.


"Maaf, tapi aku serius! Liona bukan barang atau sesuatu yang bisa di buat seperti mainan." Sean menjawab dengan tegas, ada nada hormat dalam suaranya, bagaimanapun orang yang berada di depannya akan menjadi ayah mertuanya.


"..."


Di sisi lain, putra mahkota mengalami kejut sesaat, terkadang dia menjadi seperti penderita alzheimer, terkadang dia sangat sadar.


Efek halusinasi dari Cecilia berdampak besar pada tubuhnya, Liona berniat membantu putra mahkota, tapi karena kekaisaran ingin melamarnya, jadi pertolongan itu akan dia tunda.


"Aku kembali." Cecilia datang lewat jendela istana putra mahkota, dia sedikit linglung kemudian tersenyum cerah.


"Kau sudah kembali? Aku sangat merindukanmu." Putra mahkota datang menghampiri Cecilia dan memeluknya erat.


Dalam dekapan putra mahkota, Cecilia menyeringai, dia membaca mantra-mantra sesat seperti biasanya, itu menguatkan ilusi pada putra mahkota.


Pria yang bisa Cecilia jadikan tumpuan hanya putra mahkota, pemimpin pasukan Tiger tidak bisa di berikan ilusi, kecuali dia bekerjasama dengan Dave untuk memanipulasi Sean.


Sedangkan kaisar dari Elefantas dia terlalu sulit karena menderita ginofobia, tentu saja dia tahu, meskipun orang lain tidak menyadarinya, namun Cecilia atau bisa di sebut Cassia adalah seorang pengamat yang baik.


"Katanya kaisar ingin menjodohkanmu dengan putri Duke Asteria." Cecilia memeluk putra mahkota dan berkata dengan nada yang sangat manja.


"Huh berani? Aku akan menolaknya tentu saja, yang aku cintai hanya kamu seorang." Putra mahkota menyelipkan helai rambut pada kuping Cecilia.


Jika Liona mendengar pernyataan putra mahkota saat ini, bisa di pastikan dia akan segera menjauh karena itu terlalu menjijikan dan lagipula percakapannya seperti drama-drama yang memuakkan.


"Aku juga mencintaimu Chris, aku selalu memikirkan mu, aku takut kamu berpaling dariku."


"Kau jangan khawatir, tubuhku, hatiku, waktuku, semua yang ku punya hanya untukmu saja. Aku sangat mencintaimu sampai ke bulan."


(Iwh🤢)


***


"Aku akan mencari yang lain kalau begitu!" Duke Asteria marah, tentu saja! Bagaimana mungkin dia menyerahkan anak perempuannya pada bajingan seperti ini.


"Saya serius, saya juga bersumpah tidak akan mencari wanita lain, mempunyai wanita atau anak di luar, atau mengangkat seorang selir. Jadi izinkan saya untuk melamar Liona." Sean terlihat sangat serius.


Liona juga memandangnya terkejut, dia bisa merasakan ketulusan Sean lewat hubungan kontrak.


"Ayah, aku akan menerimanya." Liona berkata setelah memikirkan semuanya.


"Liona!"


"Adik!"


Duke dan kakak kembarnya memelototi Liona, apakah dia tidak tahu kalau laki-laki itu berbahaya, pikir mereka. Tentu saja Sean tersenyum merasa bahwa dia menang.


"Beri alasan kenapa kamu menerimanya?" Tanya Duke setelah menghela nafas.


"Dia rela memberikan nyawanya padaku karena hubungan kontrak, jika aku mati maka dia akan mati, dan jika dia mati aku akan terus hidup." Jelas Liona dengan sedikit perasaan nostalgia yang terasa hambar.


Suasana menjadi begitu hening, ternyata bajingan ini berkontrak dengan Liona hanya untuk melindunginya.


"Baiklah, aku menerimanya namun jika kau menyakitinya, Aku akan membunuhmu saat itu juga!" Peringat Duke, tentu saja Sean mengangguk dengan cepat dia tidak berniat untuk menyakiti Liona.


Sean memberikan cincin kepada Liona untuk mengikatnya, sebenarnya ketika wanita telah bertunangan pihak wanita harus tinggal bersama dengan pihak laki-laki.


Namun karena Liona belum melakukan upacara kedewasaan dan juga masih dibawah umur, dia tidak terlalu diwajibkan untuk tinggal bersama calon suaminya, dan Sean tidak memaksa Liona untuk tinggal bersamanya.


Entah karena percaya diri atau dia sudah tahu kalau Duke tidak punya pilihan, Sean telah membawa mahar untuk Liona dan Duke Asteria.


Meskipun pertunangan ini tidak di lakukan secara resmi, namun Liona dan Sean telah menandatangani dokumen pertungan.


Mereka akan secara resmi mengumumkan pertunangan ini setelah Liona mencapai usia kedewasaannya, tentu saja saat ini Sean harus datang menemui pihak kekaisaran untuk tidak memaksa Duke Asteria.


"Kalau begitu, saya akan menemui kaisar untuk membahas ini." Sean bangkit, meskipun Duke sedikit enggan namun dia harus menerimanya sebagai menantu.


"Ayah, aku ingin mencoba membuka kotak dengan pola naga." Ujar Liona tiba-tiba setelah Sean pergi dari sana.


Meskipun Duke terkejut, dia tersenyum dan mengajak Liona pergi ke ruang kerjanya. Alex dan Xavier otomatis mengikuti mereka, saudara kembar itu telah mencoba membukanya namun tidak bereaksi.


Duke menyuruh Liona, Alex dan Xavier untuk duduk menunggu, memerintahkan seorang pelayan untuk menuangkan secangkir teh pada anak-anaknya.


"Kau juga ingin mencoba membukanya?" Xavier bertanya, dia pikir Liona tidak terlalu tertarik dengan hal itu.


"Iya, kata ayah semua keturunan Asteria di perbolehkan untuk mencoba membukanya."


"Yah, siapa tahu kau berjodoh." Alex mengelus kepala Liona dengan sayang, adiknya benar-benar berharga untuknya.


Duke datang membawa kotak berpola naga, meskipun samar, terkadang pola naga itu terlihat selalu bereaksi jika berada di dekat Liona, mungkin benar-benar berjodoh.


"Ini, coba kau buka!" Duke menyerahkan kotak pola naga pada Liona, tentu saja Liona merasa gugup namun dia tetap harus membukanya.


Setelah menenangkan diri selama beberapa saat, Liona mulai membuka kotak pola naga itu secara perlahan, dan itu benar-benar terbuka! Membuat Duke, Alex dan Xavier terkejut.


Bayangan naga hitam keluar dari pola, langit di luar menjadi begitu gelap, namun tidak ada yang menyadari fenomena aneh ini karena setelah kotak di buka perisai tak terlihat mencuat ke langit, hanya Sean yang merasakan ini karena dia yang membuatnya.


Raungan naga menggelegar terdengar, berlari cepat ke arah langit, tanah Duchy bergerak cukup keras seperti terjadi gempa bumi.


Duchy: Tanah milik Duke


Duke, Alex dan Xavier menatap bayangan naga itu dengan takjub, sedangkan Liona memegang kepalanya, merasa begitu sakit.


Ada pecahan ingatan yang tidak di ketahui, namun itu terlihat samar, dan perasaannya begitu akrab, namun Liona merasa sedikit sesak.


"Aletta, aku mencintaimu!"


"Aletta maafkan aku!"


Suara-suara asing namun akrab berdengung dalam kepalanya, Duke dan kakak kembarnya tidak menyadari keanehan Liona karena terlalu terfokus pada bayangan naga di langit.


"Leon."


Bayangan naga tiba-tiba berbalik dan melesat dengan cepat masuk ke dalam tubuh Liona.


Liona yang tidak siap limbung sesaat kemudian jatuh pingsan.


"Liona!"