
Hari itu hujan lebat jatuh pada tanah yang kering, menyebabkan bau petrichor yang sangat menenangkan, meskipun sebagian besar orang tidak suka bau hujan, namun Liona sangat menyukainya.
"Kau baik-baik saja?" Elios menghampiri Liona dan memeluknya, Elios, Luther dan Arthur sempat terkejut melihat Liona emosi seperti itu, meskipun dia memang tipe orang yang meledak, namun tidak pernah mengancam seseorang ataupun merendahkan.
"Menurutmu?" Liona bertanya balik tanpa mempedulikan teman-temannya yang menghela nafas lelah, sedari tadi Liona hanya diam memandangi hujan, entah apa yang ada di pikirannya.
"Kenapa kau diam saja? Ini tidak seperti dirimu, ayolah!" Arthur merenggut dan mengguncang lengan Liona.
"Apakah menurut kalian aku keterlaluan? Tapi menurutku tidak, aku tidak bisa memaafkan orang yang sudah menjelekkan keluargaku, lagi pula ayah mengajariku dengan baik, dan mengapa aku harus di salahkan? Aku kan tidak menyukai putra mahkota, lagi pula kaisar sendiri yang terus tertarik padaku."
Liona bersungut-sungut, iya dia memang tidak merasa itu keterlaluan, mungkin bagi sebagian orang itu terlihat agak keterlaluan, karena Liona menggunakan kekuasaan dan kekerasan dalam akademi.
"Sudahlah jangan terus di pikirkan, kau hanya perlu memikirkan hal yang baik." Luther mengacak-acak rambut Liona.
"Aku hanya kesal, padahal aku tidak melakukan apa-apa, meskipun aku tidak terlalu peduli, namun mengapa mereka terus menerus membawa nama keluargaku dan ayahku?"
Tidak ada yang menjawab, dan Liona juga tidak mengharapkan jawaban apa-apa, dia hanya butuh hiburan karena suasana hatinya yang buruk!
"Ayo ke tempat latihan!" Ajak Liona, teman-temannya tersenyum, berpikir Liona lebih sedikit bersemangat.
Di lapangan banyak orang yang saling melirik, entah itu laki-laki atau perempuan membicarakan tentang kejadian tadi, sebenarnya Liona di panggil kepala akademi, hanya karena malas dia tidak datang!
"Sir Joseph!"
Pelatih pedang yang bernama Joseph itu berbalik melihat Liona yang memanggilnya, Joseph adalah orang yang konsisten, dia tidak pernah membedakan status sosial.
"Ah, kau sudah datang? Banyak yang bergosip tentangmu." Joseph tersenyum dan memberikan pedang kayu padanya.
Meskipun di perbolehkan menggunakan pedang asli, namun untuk latihan di khususkan menggunakan pedang kayu agar tidak terjadi kecelakaan saat sedang bentrok dengan lawan.
"Maafkan saya, apakah anda merasa tidak nyaman sir?"
"Tidak, aku hanya tertarik dengan bakat, tidak peduli apa yang terjadi, meskipun kau menari tarian hula-hula sambil memecahkan teko, aku tidak akan peduli."
"..."
Sir Joseph pergi setelah memberi beberapa instruksi pada Liona, kemampuan pedang Liona bisa di katakan sangat bagus, mungkin karena gen dari keluarganya juga, ingat Duke Asteria adalah seorang pedang aura!
Liona mulai mengukur jarak dan titik pokus pada ujung pedang, meskipun hanya sebatas pedang kayu, jika di gunakan dengan benar bahkan pohon jati pun bisa di tebas!
Suara sayatan pedang pada boneka jerami menarik perhatian beberapa orang, meskipun akhir-akhir ini latihan Liona agak kendor, namun kecepatan dan ketangkasannya membuat orang-orang itu kagum.
"Yah meskipun dia mempermalukan orang lain, namun kemampuan pedangnya memang luar biasa."
"Benar, bahkan ku pikir kemampuan pedang saudarnya Tuan muda Alex dan Tuan muda Xavier lebih lemah dari Liona."
"Jika sifatnya tidak buruk, aku akan berteman dengannya."
Liona tidak mendengarkan percakapan mereka, hanya terus menebas jerami dengan pedang kayunya, ada sedikit percikan api saat Liona mengayunkan pedang.
Beberapa saat kemudian Liona menghela nafas lelah, perasaannya jauh lebih baik, dia mengelap keringat dengan handuk dan mengambil sebotol air mineral yang sudah tersedia di lapangan.
Seorang pria berkacamata dan bersurai perak, menghampiri Liona, "Aku jarang memuji sesuatu, tapi gerakan mu sangat sempurna tidak ada celah, kau juga membuat gerakan sesimpel mungkin dan tidak terlalu berat, juga kau membuat orang lain terkecoh dengan gerakan mu."
"Aku Edward Marley, murid dari jurusan ilmu pengetahuan, kau bisa memanggilku Edward, hobbyku mengamati orang dan juga bereksperimen."
Edward Marley?
Liona mengernyitkan dahinya berpikir, nama ini sangat akrab dengannya, seperti pernah melihat di suatu tempat.
Ah!
Bukannya itu Edward Marley Ouranos? Seorang pria jenius yang di angkat menjadi perdana menteri saat dia berusia 22 Tahun, dia lulus dengan Cum Laude!
Edward di catat sebagai perdana menteri termuda dalam sejarah kekaisaran Mavros, di katakan bahwa gelar Ouranos di dapat karena kontribusinya menyelamatkan krisis kelaparan para knight yang bertarung dengan monster iblis di Padang Pasir.
Dalam novel Edward sangat membenci Liona yang bersikap tidak masuk akal dan tidak bermoral, sesekali Liona akan menghinanya makhluk rendahan yang miskin dan mengucapkan kata-kata yang menusuk.
Jadi saat Liona di penggal pun, Edward tidak terlalu peduli, menurutnya wanita seperti Liona pantas mati daripada hidup tidak ada gunanya.
"Oh kau orang jenius itu ternyata." Gumam Liona yang masih terdengar oleh Edward, dia sedikit tersipu, meskipun banyak yang memujinya jenius, namun tetap saja merasa malu.
"Ehem ehem, yah mungkin kau sudah tahu karena reputasiku yang sangat baik." Edward terbatuk.
Liona merasa sangat lucu, Edward ini menarik juga, pikirnya.
"Aku Liona." Liona tersenyum dan mengulurkan tangannya, Edward agak kaku saat melihat tangan Liona, dia pria yang bersih, melihat tangan Liona yang berkeringat akibat latihan pedang, Edward merasa tidak mau menyentuhnya karena itu tidak higienis.
"Apakah kau akan membiarkan tanganku menggantung di udara?" Liona menaikkan kedua alisnya, pria ini sangat aneh dia terus menatap tangannya tanpa mau menyambutnya.
Edward membalasnya dengan kaku, kemudian mengelapnya menggunakan sapu tangan putih yang berhiaskan burung merpati.
"Maaf, aku pria yang bersih." Ujar Edward, Liona hanya tersenyum maklum, apakah pria ini mysophobia? Pikirnya.
Elios, Luther dan Arthur menghampiri Liona yang sedang berbicara dengan pria lain, meskipun Liona jarang bergaul namun dia tipikal orang yang sangat ramah bila sudah menjadi teman.
"Wah Liona, lingkungan sosialmu ternyata ada peningkatan, bisa-bisanya pria ini berteman dengan wanita seperti dirimu." Arthur dengan polos melirik Liona.
Luther sudah menginjak kaki Arthur, mulut halus pria ini benar-benar harus di kendalikan! Jika tidak mungkin saja mereka akan mati karena ucapannya yang terlalu frontal.
Para pria itu tiba-tiba saja sudah menjadi sangat akrab, meskipun Edward adalah orang yang suka mengkritik namun dia pria yang cukup baik dan bisa menghargai orang lain.
"Bolehkan aku berteman dengan kalian? Kalian cukup menarik dan juga orang yang sangat baik." Ujar Edward tiba-tiba.
"Apakah kau yakin? Kita di cap sebagai orang-orang busuk." Tanya Arthur.
"Tentu saja, lagi pula aku tidak terlalu percaya dengan gosip! Aku hanya percaya dengan penilaian mataku sendiri."
Edward Marley Ouranos
Sumber: Pinterest