I Became A Villain In A Novel

I Became A Villain In A Novel
Tujuh puluh



Sementara Liona menyambut para tamu yang mengucapkan selamat atas debutante, para pria telah berpindah ke tempat yang lebih tertutup bisa di katakan ini adalah pembicaraan rahasia.


Semua yang ada disana juga berpikir kalau itu semua seperti di kendalikan, memang monster dari padang pasir lebih kuat dari monster biasanya, kekuatannya setingkat di bawah monster mitologi.


"Bawahanku sering menyelidiki Pulchra dan juga sekitar pegunungan Xeros akhir-akhir ini, setelah di pantau beberapa saat, ada gerakan aneh dengan suku di Padang pasir." Penjelasan singkat Sean membuat beberapa orang disana termenung.


Memang selalu ada beberapa informasi simpang siur dari penggosip di kasino, pasar gelap atau pun organisasi bawah tanah, seperti guild pembunuh dan guild informasi.


"Bawahanku juga melaporkan orang-orang berjubah hitam tampak terlihat beberapa kali di kota Empty, entah apa yang mereka lakukan, tapi di duga itu adalah pasukan tanpa nama, namun anehnya setelah di ikuti dengan teliti pun mereka selalu menghilang tiba-tiba tanpa jejak."


Penjelasan Dave membuat beberapa orang disana merasa tercerahkan, waktu itu mereka melawan Golem, karena Dave pernah berada di dunia modern, kemampuan analisisnya lumayan kuat.


"Ku pikir disana ada sesuatu, namun setelah para peserta dari setiap kekaisaran di pulangkan tampaknya orang-orang berjubah itu juga pergi, kami menemukan reruntuhkan laboratorium di pedalaman hutan sana, agak berbahaya dan cukup suram, namun tidak ada yang terjadi."


Kemampuan Dave memang harus diakui, bahkan Sean tidak bisa mendapatkan informasi sedetail itu, meskipun bawahannya tersebar luas di benua.


"Apakah ada sesuatu yang kau dapatkan?" Tanya Alex.


"Tidak banyak, hanya ada beberapa cairan berbau anyir dan juga darah kering, kemudian potongan kepala banteng dan rusa, aku tidak tahu mengapa mereka melakukan itu."


Para pria itu diam berpikir, memang pemikiran pria lebih rumit jika berkumpul, mereka hanya membahas sesuatu yang benar-benar membosankan.


"Apakah tujuan akademi mengirim orang ke Padang pasir untuk melumpuhkan monster?" Elios sedikit mengernyit, jika situasinya seperti itu, kemungkinan sangat berbahaya, akademi tidak perlu turun tangan, karena pengalaman para siswa lebih kurang di banding para knight dan paladin.


"Yah itu juga agak janggal, namun yang mengirim siswa bukan hanya Akademi Mavros saja, akademi di setiap kekaisaran mengirim beberapa murid senior." Balas Dave.


***


Liona agak repot saat menghadapi para lady yang terus mengajaknya bicara, Liona sudah tahu mereka ini tipikal orang-orang yang suka cari muka, ada teman-teman angkatannya yang suka membicarakan hal-hal buruk di belakang Liona, namun saat ini mereka menyanjung dengan raut bahagia.


"Saya ingin berbicara formal pada lady seperti saat di Akademi, ini membuat saya tidak nyaman, kita kan berteman." Salah seorang lady menutupi mulutnya dengan kipas.


"Bicara senyamanmu saja." Liona tersenyum datar, lagi pula dia tidak peduli tentang hal-hal kesopanan atau pun yang lain saat berbicara dengan teman sebaya.


Liona ingin segera pergi dari sini, senyum munafik mereka benar-benar tidak enak dilihat, dia mencari teman-temannya dan Sean kesana kemari, namun mereka tidak di temukan.


"Aku permisi dulu, silahkan nikmati perjamuannya." Liona pergi tanpa menunggu jawaban para lady, dia menggerutu kesal, Sean meninggalkannya, bagaimana jika ada pria tampan dan kuat mengajaknya bicara.


"Kau sedang mencari siapa?" Gressia dan Leila datang menghampiri Liona, meskipun mereka pernah mengobrol, namun semenjak kembali ke akademi tampaknya hubungan mereka menjadi canggung.


"Ah, aku mencari tunanganku dan teman-temanku." Liona tersenyum.


"Aku melihatnya masuk ke dalam ruangan itu beserta kedua kakakmu dan juga tuan dave, oh ya, ngomong-ngomong selamat atas debutante mu." Leila memberikan sebuah kotak kado.


Gressia juga menyerahkan hadiahnya, Liona hanya mengucapkan terimakasih dan permisi untuk pergi ke ruangan yang di tunjuk Gressia dan Leila.


Banyak hadiah yang dia terima, ayahnya memberikan pedang yang di buat langsung oleh dwarf, ternyata dwarf dan elf itu sudah di pulangkan setelah Liona masuk Akademi.


Pedang yang di buat dwarf mempunyai karakter yang elegan dan juga kuat, itu benar-benar senada dengan Liona jika dipakai, terlihat begitu cocok. Hanya saja pedang itu masih berada di ruangan Duke, Liona hanya melihatnya sekilas.


Brakk


"Astaga naga, kau ingin membuatku menderita penyakit jantung? Kau ini wanita kenapa tidak bisa anggun?" Gerutu Edward dengan kesal.


"Kau tidak tahu? Terkadang Liona mempunyai tenaga kuda, aku bahkan pernah mencurgainya sebagai laki-laki yang menyamar menjadi seorang perempuan." Arthur mencibir.


Liona mengerutkan bibirnya dan menendang tulang kering Arthur, benar-benar teman terkutuk, bagaimana bisa dia bertahan dengan teman bodoh seperti mereka.


"Aku mencari kalian." Liona duduk di sebelah Sean dan menyenderkan kepalanya, membuat Alex dan Xavier memelototi Sean.


"Kau sangat sibuk dengan para lady, kami tidak bisa mengganggumu yang terlihat bersenang-senang." Luther mengangkat bahunya tidak peduli.


"..." Hei bagaimana bisa aku bersenang-senang? Apakah kau tidak melihat wajahku yang tersiksa menghadapi pembicaraan bosan mereka? Batin Liona.


Ada beberapa keributan di ruangan itu, yang tadinya sangat serius setelah kedatangan Liona tampaknya menjadi lebih santai.


"Kau juga ikut ke padang pasir?" Dave tiba-tiba bertanya kepada Liona, Liona bahkan tidak mengerti, dia sudah menolak Sean waktu itu.


"Sepertinya tidak, ayah dan kedua kakakku tidak akan mengizinkanku."


"Itu benar, kami tidak akan mengizinkan adik kami yang berharga ke tempat berbahaya seperti itu, apalagi serangan monster menjadi dua kali lipat lebih banyak, dan mereka sangat kuat." Ujar Xavier.


"Tapi pengalaman langsung juga di butuhkan, maksudnya jika Liona terus berada disini, kemampuannya tidak akan meningkat."


"..."


Itu juga tampaknya benar, bahaya bisa muncul kapan saja, meskipun Liona sudah tidak terlalu peduli dengan alur novel, namun hal-hal bisa saja terjadi, bahkan mungkin lebih berbahaya.


Dia juga tidak bisa terus mengandalkan orang-orang di sekitarnya untuk terus melindunginya, Dave paling paham dengan kepribadian Liona, jadi dia menyarankan agar Liona cuti Akademi dan pergi ke padang pasir.


"Aku juga agak penasaran dengan perkembangan cacing kloun, dan orang-orang yang menyembah iblis dari neraka paling dalam." Ujar Liona setelah berpikir.


Alex dan Xavier terlihat tidak berdaya, adiknya ini jika sudah bertekad dia akan terus keras kepala, percuma saja jika melarangnya.


"Sean." Liona agak berbisik.


Sean mengangkat kedua alisnya, mengatakan ada apa dengan isyarat.


"Menunduk." Sean mengikutinya.


"Mengapa mereka bisa berhubungan dengan iblis di neraka paling dalam? Bukannya di jaga langsung oleh hades?"


"Sebenarnya yang ada di neraka paling dalam itu hibrida, makhluk yang bercampur antara bangsa iblis dan syaitan, meskipun agak lemah di banding Asmodian, dia sangat berambisi dan licik, kenapa mereka bisa berhubungan? Aku tidak tahu, mungkin ada sejenis lubang cacing yang mengarah ke neraka, cobalah bertanya pada Cerberusmu."


Deg


Liona agak linglung, bukan karena informasi tentang makhluk hibrida itu, dia baru sadar kalau sebenarnya dia mempunyai Cerberus!


Assalamualaikum, kalian nungguin aku enggak?😭