
Tubuh Liona berkontraksi dengan aneh, mungkin karena energi asing yang tiba-tiba masuk ke dalam dirinya.
Tubuhnya sangat panas dan keringat sangat deras, meskipun pingsan namun jiwanya sangat sadar, bayangan naga itu berkeliaran di dalam tubuhnya memaksa untuk menerimanya.
Bayangan para kiklops dan monster-monster legenda lain samar-samar masuk ke dalam memori ingatan Liona. Seluruh anggota tubuhnya menjadi kaku karena menahan rasa sakit.
"Dewa, seharusnya aku tidak membuatnya membuka kotak itu." Duke Asteria sangat panik, itu karena saat ini nafas Liona menjadi sangat lemah, dan tubuhnya sangat berat.
"Ayah pindahkan dulu Liona!" Meskipun Alex sangat panik dan khawatir, dia tetap harus berfikir rasional di saat ayahnya yang bucin anak terlihat panik dan tidak berfikir dengan baik.
Duke mengangguk, menyuruh Xavier memanggil yang lain untuk membantu mengangkat Liona, saat ini Liona luar biasa berat seperti besi baja berton-ton kilogram.
Karena tidak kuat mengangkat Liona sampai kamarnya, Duke memindahkan kasur ke ruang kerjanya, agar Liona lebih nyaman berbaring.
"Kenapa sangat berat?" Xavier meskipun dia khawatir masih tidak lupa untuk mengeluh.
"Mungkin karena bayangan naga itu yang membuatnya menjadi sangat berat." Alex mengelap keringatnya karena kelelahan.
Tubuh Liona tiba-tiba saja kejang-kejang, seperti terkena penyakit ayan, mulutnya mengeluarkan busa. Duke, Alex dan Xavier terlihat panik, mereka tidak tahu harus berbuat apa.
Tidak bisa memanggil dokter, Alchemist atau healer, itu karena keadaan Liona saat ini tidak bisa di ketahui khalayak umum, bahkan para pelayan yang membantu mengangkat Liona tidak di izinkan keluar dari ruangan, kecuali jika mereka ingin mendapat cap sebagai pengkhianat.
Nafas Liona menjadi sangat lemah, seperti bertaruh pada seutas benang, jika di perhatikan Liona bisa saja kehilangan nyawanya, nafasnya terputus-putus.
"Liona." Duke terus menggenggam tangan Liona, dia sangat panik dan juga menyesal, andai saja dia tidak mengizinkan Liona untuk membuka kotak itu jika keadaannya akan menjadi seperti ini.
Sementara Liona saat ini sedang bertemu dengan hades, tentu saja dengan cerberus yang tiba-tiba menemaninya memakai wujud aslinya.
"Kenapa aku menemuimu? Apakah aku mati?" Dengan polos Liona menatap hades.
Biasanya para jiwa yang akan meninggal tidak berani menatap langsung mata hades, namun Liona ini sangat berani! Tentu saja Liona hanya menganggapnya sebagai pria tua dengan tubuh kekar, jika hades mengetahui pikiran Liona mungkin sudah memukul kepalanya dengan senjata.
"Kau tidak mati, hanya saja hidupmu bergantung pada seutas benang, aku menarik jiwamu untuk melindungimu." Jelas hades, Liona hanya mengangguk dan terdiam tidak tahu harus berbuat apa.
"Apakah kau ingin berjalan-jalan di neraka? Banyak tempat yang layak di kunjungi, cerbe akan menemanimu." Ujar hades yang melihat sikap awkward Liona.
Tentu saja Liona mengedutkan bibir, tempat yang layak di kunjungi? Maksudnya lautan api yang sedang menyiksa jiwa-jiwa jahat, atau melihat berbagai penyiksaan lain seperti menikmati wahana taman mini?
"Tidak, lebih baik aku diam saja disini." Dengan datar Liona membalas, hades mengerutkan keningnya, berpikir jika Liona takut jiwanya terkena percikan api neraka.
"Jiwamu di lindungi, tempat-tempat di neraka sangat seru, jika kau berkeliling kau akan suka."
Liona tidak melanjutkan percakapan, dia sama sekali tidak tertarik dengan neraka, terkecuali jika dia mati!
"Anakku." Panggilan memekikkan dari pria tampan yang sedang lari terbirit-birit, Liona menoleh dan Asmodian tiba-tiba memeluknya, mengeluskan pipinya pada pipi Liona.
"Pipi anakku sangat lembut dan merah muda, tentu saja anakku sangat cantik." Asmodian memeluk Liona bagaikan guling hidup, Liona hanya berwajah datar, apakah dewa dunia bawah begitu tidak normal?
"Apa yang terjadi pada tubuhku?" Tanya Liona yang menahan pipi Asmodian agar tidak terus mengelus-ngeluskan pada pipinya, itu sangat risih!
Tentu saja Liona sedikit terkejut, tidak menyangka meskipun dia dan Falaina tidak bertemu, namun Falaina masih bisa membantunya.
"Lalu kenapa jiwaku ada disini?"
"Untuk melindungimu, jika jiwamu berada disini, kau tidak akan merasakan sakit hanya menunggu sampai tubuhmu membaik dan bisa memurnikan bayangan naga."
Liona hanya menganggukkan kepalanya mengerti, tentu saja membiarkan Asmodian terus memeluk, mencium dan mengeluskan pipinya pada pipi Liona.
Liona mengizinkan Asmodian seperti itu karena Asmodian adalah 'ayahnya' jika itu hades mungkin sudah Liona tendang dengan jurus tendangan pemecah telur karena dianggap sebagai pria mesum.
"Ugh apakah lama?" Tanya Liona pada Asmodian.
"Tergantung keadaan tubuhmu, jika penyesuaiannya lambat maka kau tidak akan cepat bangun, dan jika penyesuaian tubuhmu cepat, jiwamu akan ditarik kembali dengan sendirinya."
***
Sean yang merasakan vitalitas kehidupan Liona melemah sangat panik, namun mengingat dirinya masih hidup Sean mengurangi kekhwatirannya.
"Pasti sedang bertemu dengan Asmodian." Gumam Sean seraya melihat ke arah langit yang memancarkan sinar orangenya.
Dia bangkit dan menuju ke arah altar, menggigit ibu jarinya dan membuat suatu pola lingkaran aneh, seketika hawa kegelapan menyeruak menampar wajahnya.
Tubuh Sean limbung dan terjatuh pingsan, para bawahannya tanpa basa-basi mengangkat Sean menuju kamarnya, tidak tahu apa yang sedang dilakukan pemimpinnya, namun keadaan ini cukup sering terjadi.
Sebenarnya harusnya Sean sudah mati karena hukuman dari dewa dan tidak bisa bereinkarnasi, tapi karena melakukan perjanjian dengan Asmodian dia bisa hidup kembali.
Sebagai jaminan jiwanya terpecah setengahnya, dan setengahnya lagi berada di genggaman Asmodian.
Hilangnya sihir cahaya adalah pembayaran yang lain, makanya sekarang Sean lebih dominan memiliki sihir kegelapan. Namun jika sihirnya tidak di curi pria itu mungkin saja Sean akan mempunyai dua elemen yang berbeda.
Jiwa Sean tiba-tiba muncul di dunia iblis tingkat tinggi, banyak yang melihatnya namun setelah tahu dia Sean yang lainnya kembali ke aktifitas semula.
"Kau datang kesini untuk bertemu dengan Asmodian atau hades?" Tiba-tiba pria iblis yang melambangkan kekuasaan menghampiri Sean yang sedang mencari monster tunggangan yang seperti di alun-alun Mavros hari itu.
"Aku mencari istriku." Sean membalas dengan nada yang sangat datar.
"..."
Tidak ingin basa-basi, Sean menyeret seekor unta dengan kepala jerapah untuk mengantarnya ke tempat Asmodian, meskipun saat ini Liona harusnya tidak tahu tentang ini, namun cepat atau lambat suatu saat dia juga harus mengetahuinya.
Karena dalam sebuah hubungan harus ada rasa saling percaya dan jujur satu sama lain, untuk menghindari kesalahpahaman.
"Dimana Asmodian?" Tanya Sean pada penjaga gerbang iblis tingkat menengah.
"Dewa pergi ke tempat dewa hades, katanya anaknya sedang berkunjung." Jawab penjaga itu seadanya.
Sean berbalik arah dan memacu unta berkepala jerapah menuju tempat hades, neraka!